Kantin semakin riuh ketika dua primadona datang bersamaan. Beberapa teman seangkatan atau adik kelas bahkan kakak kelas meneriakkan nama Alkana dan Grizelle secara terang-terangan. Dua orang yang dipanggil membalas dengan senyuman maut andalan yang katanya meluluhlantakkan hati para penggemar. Suasana ramai sedikit berkurang ketika satu diantara mereka menyadari kehadiran Arthea di meja yang biasa empat orang cowok itu gunakan.
“Eh si Thea, tumben banget lo duduk di situ? Mau deket sama si Alkana juga?” Pertanyaan gila itu keluar dari mulut Raksa, cowok tidak tahu malu yang sering mendapat hukuman karena tidak mengerjakan tugas. Biar pun begitu ada saja siswi yang menyukai tipe cowok sepertinya. Entah gara-gara ia menjadi ketua tim basket sekolah atau tampangnya yang bisa dibilang memadahi untuk masuk sebagai standar kegantengan sekolah.
Mana mungkin tidak ada siswi yang tidak terpesoan dengan ketampanan laki-laki itu. Cowok blasteran yang memiliki kulit putih dan tinggi kurang lebih hampir seratus delapan puluh centimeter. Tingkahnya yang sering mengundang tawa pun menjadi poin plus, sayang kelebihannya itu tidak terletak pada nilai akademisnya. Ia sering remidi dan tidak mengerjakan tugas, alhasil lapangan yang menjadi teman setia ketika ia lupa untuk menuntaskan pekerjaaannya.
Di luar itu, tidak disangka ia menjadi ketua tim basket sekolah. Pemikiran tentang strategi dan cara bermainnya memang layak diacungi jempol. Berkatnya sekolah berhasil menyabet juara pertama di event sekolah tahun lalu. Selain itu, kejuaraan tim basket sekolah memang tidak kalah membanggakan, pergerakan demi pergerakan dan kemajuan menjadi nilai ukur bagi sekolah lain untuk mempertimbangkan bidang nonakademis sekolah itu.
Pertanyaan yang terlontar itu membuat sosok Arthea menjadi gadis yang disorot dengan tatapan seolah ditelanjangi. Namun, lagi dan lagi gadis itu tidak perduli. “Kenapa emang? Fasilitas sekolah juga.”
Raksa tersenyum canggung, ia mendekat dan duduk di depannya. “Ya nggak papa emang,” jawabnya. “Cuma lo satu-satunya cewek yang berani duduk di sini apalagi bekasnya si Archer.” Bisiknya yang hanya dapat di dengar mereka berdua.
“Bodoamat. Gue mau duduk di meja ini juga fine-fine aja, secara gue bayar.”
“Gue cuma ngasih tahu kok lo sewot?” Raksa merengut.
Tiga cowok yang masih berdiri dekat pintu masuk itu ikut mendekat begitu juga tiga gadis yang datang hampir bersamaan dengan mereka. “Al, ganti tempat duduk aja. Kasihan punya lo udah dikotorin,” satu orang gadis dengan rambut bergelombang panjang dan wajah tengilnya memberi saran.
Lain lagi, gadis berambut sebahu ikut bersuara, “betul tuh, Al. Lagi pun kasihan kalau lo kena penyakit!”
“Lo juga tuh, harusnya nggak usah makan di sini! b**o! Dasar cewek nggak tahu malu!” Rutuk Kirana kepada Arthea.
Arthea diam sembari terus meneruskan makannya. Sampai pada suapan yang entah ke berapa dia meletakkan sendoknya, “kalau lo mau duduk tinggal duduk, kursinya sisa.”
Tanpa menggubris teman-temannya, Archer menarik kursi di samping Arthea. “Lo semua tinggal duduk, dia bener kursinya sisa.”
Alkana dan Adhitya yang tadi diam juga langsung duduk. “Oke,” jawab keduanya.
“Terus kita duduk di mana dong?” Tanya Grizelle yang angkat suara. “Boleh nggak gabung di sini?”
Kirana dan Agni melotot, “Gri serius mau semeja sama tuh dakjal?” Tanyanya lirih.
Grizelle dengan senyum menenduhkan mengangguk pelan, “Arthea juga ngebolehin kok, iya kan Thea?”
Arthea mendesis, “terserah lo!”
“Lo mending pindah aja kenapa sih?”
“Beb, jangan gitu dong. Si ibu ini juga butuh asupan, ya nggak The?” Canda Adhit.
Alkana yang hanya diam akhirnya menimbrung, “lo bertiga udah punya daerah dan tempat duduk sendiri. Mending ke sana jangan ke sini. Ganggu.”
Kirana memanas, “kok dia dibolehin di sini? Oh … lo suka sama tuh cewek?”
“Apaan sih bahasan lo nggak masuk!”
Raksa melerai, “udah woi! Nggak malu dijadiin objek konten. Lihat!” Tunjuknya ke arah siswa lain yang sibuk memfoto dan memvideo tingkah mereka. “Sebentar lagi bakal masuk klub rumpi noh!” Katanya sekali lagi menunjukkan handphone yang sudah mulai ramai membicarkan mereka.
“Dih cewek banget sih lo, klub rumpi aja diikutin!” Sembur Agni tidak mau kalah.
“Terserah lo, awas gue mau pesen bakso. Lo bertiga ganggu gue tahu nggak! Jadi, orang tuh kayak si Thea tuh, diem nggak kebanyakan bacot!”
“Sialan! Apa kata lo!” Hampir saja keributan terjadi kalau bukan karena dua manusia dingin yang sama-sama menatap mereka tajam.
Arthea menggebrak meja keras, ia berdiri dengan tatapan mengintimidasi mengarah ke tiga orang yang sering mencari gara-gara dengannya. Tatapan dingin dan dalam itu membuat dua orang yang sudah tersulut emosi menatapnya takut-takut. “Sekali lagi lo buat keributan gini, gue tendang lo dari sekolah!”
Setelah mengatakan itu ia keluar dengan langkah lebar, meninggalkan beragam opini tentang dirinya yang semakin meluas. Pandangan tentang kecongkakkannya atau tentang keberanian dan aura kharismanya. Arthea tidak perduli, mau orang menganggapnya mati pun dia tidak akan terusik. Baginya, mengurus manusia bodoh yang hanya ingin menjatuhkannya sama saja memelihara anjing dengan ras terbodoh.
Kalau memang mereka hanya perduli dengan tampilan luar dari dirinya mengapa ia harus repot-repot menunjukkan sifat asli yang dirinya punya. Toh, tidak semua hal yang di luar sama dengan di dalam diri manusia. Bahkan, sekarang seruan don’t judge by the cover sudah semakin ramai. Mengapa ia harus takut terhadap penilaian orang? Selera orang, tingkat keirian orang lain, dan masalah orang lain terhadap kita tidak perlu menjadi beban pikiran bukan? Kita ya kita. Mungkinkah cara berpikir kini ada seninya?
Kantin dipenuhi suara bisik-bisik. Beberapa mendukung keputusan Arthea namun terlalu banyak yang menghujat. Kirana dan Agni mengulas senyum tipis, kalau semakin banyak orang yang membenci gadis itu maka semakin cepat penganggu sekaligus kutu di sekolah itu pergi. Yang mereka tidak tahu, gadis tangguh itu tidak mudah dikalahkan.
Mereka bertiga memutuskan untuk ke tempat duduk seperti biasa, meninggalkan idola dan laki-laki idaman yang selalu mereka banggakan: Alkana Desmon.
Kepergian mereka menjadi kelegaan bagi empat orang itu. “Gila emang ya, tuh cewek mulutya nglebihin lo.” Adhit yang sejak tadi lebih banyak diam mulai menyuarakan pikirannya.
“Lo juga udah tahu kali, si Arthea adalah spesies makhluk hidup yang paling nyebelin bagi sebagian cewek!” Raksa mengimbuhi.
Alkana mengangkat bahunya, “yang jelas gue nggak ada masalah apapun sama tuh anak cewek-cewek. Ribet banget elah. Sekalinya ngomong, busanya keluar semua.”
“Sialan lo! Gue lagi makan b*****t!” Raksa mengumpat, pasalnya pesanannya baru saja datang dan ketika ingin menyendok bakso, perkataan ketua osisnya itu membuatnya jijik.
“Halah lemah banget lo!” Adhit menyendok satu bakso besar tanpa ragu.
Archer masih menengok kepergian Arthea. Bibirnya berucap, “dia cantik.”
Alkana tersedak begitu mendengar penuturan Archer, “siapa yang cantik?”
Laki-laki itu tersadar dengan wajah sedikit terkejut. Ada apa dengannya? Apa dia mengigau? “Apa?”
Alkana mengernyit, “Apa? Lo bilang siapa tadi yang cantik?”
Archer diam. Tidak berselera untuk menjawab pertanyaan Alkana. “Mungkin maksud si Grizelle,” kata Raksa. “Beuh!! Tuh cewek emang cantinya kebangetan, selera lo tinggi juga bro!”
“Cantikan si Arthea kalau gue mah, dia pedes gitu kalau dilihat-lihat mantap juga kok!” Ujar Adhit.
“Nggak sekalian aja lo gebet nyet?”
“Nggak makasih. Gue masih sayang nyawa.”
…
Sesuai instruksi kepala sekolah tadi pagi, hari ini seluruh ketua ekstrakurikuler dikumpulkan di lapangan basket indoor. Ada beberapa hal yang akan menjadi poin pembicaraan. Hal tersebut menyangkut kerja sama dan kekompakan antarekstra agar menjaga kedamaian dan kerukunan.
Event-event yang akan digelar menjadi tugas masing-masing ekstra yang kemudian dibantu dengan ektra lain ketika melebihi kapasitas kemampuan anggotanya. Saling mensuport dan bukan untuk dijadikan ajang kompetisi di setiap ekstra yang kenyataannya masih dalam satu sekolah. Karena sebelumya terbukti selama beberapa waktu beberapa ekstra masih bersaing dan ingin saling mengungguli satu sama lain.
“Pak, biar gimana pun kita juga sudah melakukan budaya saling support sebelum bapak megingatkan hal ini. Salah satu ketua seni tari mengangkat tangan dan memberikan pendapatnya.
“Memang namun nyatanya tidak semua berpikir demikian. Oleh karena itu, tidak ada salahnya saya mengingatkan kembali. Kejadian masa lalu tidak boleh terulang. Kalian itu satu almamater, jangan menjatuhkan antar sesama ekstra. Kalau mau berkompitisi sudah bapak ajarkan tata cara pengajuannya. Sekolah memfasilitasi bagi siap yang berkontribusi,” Ujar Pak Hendra.
“Bapak harap sebagai generasi selanjutnya setelah serah terima jabatan dari kakak kelas kalian kemarin, kalian semua bisa turut membanggakan sekolah lewat prestasi. Kontribusi seperti ini yang akan membuat sekolah kita menjadi sekolah nomor satu dan akan terus menjadi sekolah favorit.”
“Bukan hanya ekstra di bilang non akademis, namun piala dari bidang akademis bapak harap menjadi motivasi kelian untuk terus berjuang mengharumkan nama sekolah dan untuk diri kalian sendiri. Yang kurang dibidang akademis coba gali kemampuan kalian dan kembangkan potensi yang kalian punya lewat bidang non akademis. Bapak percaya setiap anak memiliki kemampuannya sendiri.”
Rapat kecil yang dipimpin anggota Osis itu dibubarkan setelah penyampaian yang memakan waktu hampir satu jam. Beberapa dari mereka mendesah lega.
“Sial gue kira bakal ada apa-apa. Tahunya motivasi doang,” keluh Raksa.
Beni, si ketua klub music bersuara, “lagi pula bagus dapat motivasi langsung dari si kepsek. Biar lo tambah sadar kalau kegantengan gue yang pertama.”
“Sialan lo, Ben!”
Di sisi lain, Archer dan Alkana sama-sama mengusap d**a lega. Usai rapat itu mereka kembali ke ruangan osis, bergabung dengan anak-anak lain untuk rapat mengatur jalannya support system berdasarkan event yang sebentar lagi akan terlaksana. Berdiskusi tentang teknis tidak semudah yang dibayangkan. Mengatur beberapa alat pendukung yang kerap digunakan pun terkadang masih banyak kekurangan.
Berbicara tentang motivasi dan support system membuat Archer berpikir, bukankah motivasi terbesar ada dalam diri siswa masing-masing.