Beberapa jam sudah berlalu, pertemuan dengan klien sudah dilaksanakan. Setelah ini semua perintah perusahaan masih berada di bawah kendali Dina melalui sang suami yaitu Arzan.
"Tunggu!" panggil Arzan ketika Dea hendak memasuki lift. Ia mendekat ke arah sepupu istrinya dan meninggalkan Dina bersama asistennya. Dina yang semula ingin tahu mengapa Arzan memanggil Dea kini dirinya hanya menatap sekilas tanpa mau peduli berlebihan.
Dea yang namanya dipanggil segera berhenti dan menoleh menatap sosok pria yang menjadi masa lalunya itu berjalan cepat ke arahnya. Akan tetapi sayangnya Arzan tidak mengingat apa yang Dea ingat sejauh ini. Saat seseorang yang kita pedulikan ternyata berbanding terbalik dengan apa yang kita berikan padanya, sakit ... tapi tak bisa berhenti. Sosok yang masih setia menjadi bagian hidup dari masa lalu bukanlah orang biasa, melainkan orang istimewa yang terkubur oleh luka dan kenangan.
"K-kau ...." ucap Arzan terpotong sembari menatap lekad wajah Dea. Dengan satu tarikan nafas ia kembali melanjutkan ucapannya, "K-kau pernah bertemu denganku sebelumnya?"
Jleb!
Dea terkejut, bola matanya membulat. Kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain, Arzan menatapnya lekad berusaha mencari kebenaran akan jawabannya dibalik tatapan sosok wanita yang sedikit aneh baginya sejak hari pertama.
"A-apakah kau mengingat sesuatu yang tidak aku ketahui?" tanyanya lagi membuat Dea gugup. Kedua tangannya mengepal erat dan menarik nafas berat sesekali.
"A-apa yang kau katakan. Tentu kita pernah bertemu, kau suami kakak sepupuku ... mana mungkin aku tidak mengenalmu, begitu juga dengan sebaliknya." Dea berusaha menyembunyikan fakta dari Arzan, walaupun sebelumnya ia ingin sekali Arzan mengingat siapa dirinya, tetapi kini jalannya sudah terlanjur bebelok arah.
Mata Dea masih Arzan tatap lekat-lekat. Perlahan mendekat dan Dea mulai resah, sedetik kemudian setelah ia hanya berjarak satu cm dari wajah Dea ia mendongak dan melangkah mundur.
"Walaupun aku tidak mengingat sesuatu diantara kita, tapi aku merasa jika kita pernah bertemu. Dan jika pertemuan itu tidak seharusnya terjadi, maka aku berharap itu hanyalah mimpi bagi kita berdua." Ucapan Arzan membuat Dea mematung dan terdiam, dirinya hanya diam menatap punggung pria yang menjadi bagian masa lalunya itu menjauh darinya perlahan-lahan.
Tangannya mengepal erat, mulutnya tersenyum sedikit terbuka, matanya memanas berusaha menahan tangis. Setetes air mata lolos begitu saja bersamaan dengan ucapannya, "Mimpi? hah ... ya, bagimu itu hanya mimpi. Dan bagiku akan menjadi alasanmu menyesal suatu hari nanti.
Itulah hidup ... masa lalu, sekarang, dan masa depan. Semuanya tak bisa kita tebak, dan hanya satu kali kesematan setiap detiknya. Masa lalu adalah sesuatu yang tak akan pernah bisa kita ubah, masa depan adalah sesuatu teka-teki yang tak mampu dijamin siapapun ... dan masa sekarang adalah satu-satunya kesempatan.
Beberapa hal di kehidupan memang ditakdirkan untuk bersama, dengan demikian hal itu juga pasti ditakdirkan untuk berpisah. Bunga dan kumbang, pohon dan tanah, ikan dan air, bahkan romeo dan juliet. Mereka memiliki takdir yang memang menjadi miliknya, sesuatu yang belum pasti akan menjadi rugi jika terus memaksa untuk di kejar.
Jangan percaya kepada siapapun di kehidupan ini, faktanya hanya dirimu sendirilah yang akan selalu setia hingga akhir hayat. Sesuatu yang kau cintai dengan berlebih kelak akan menjadi pedang yang menembus ulu hatimu dan menyisakan penyesalan.
Di sekolah.
Beberapa anak berkerumun di tengan lorong kelas, seolah menontoni sesuatu di hadapan mereka. Dhafin yang melihatnya dengan kotak makan siang menatapnya penuh tanya. Anak itu berjalan sembari berusaha melihat keramaian di depannya.
"Kau harus minta maaf!" teriak anak laki-laki dengan raut wajah kesal.
Anak perempuan yang bertengkar dengannya itupun membantah tak kalah kesal, "Kau yang menabrakku tadi!" teriaknya kesal menahan tangis.
"Kau tidak tahu siapa aku? aku ketua kelas disini! jangan berani membantahku!" si anak laki-laki yang mengaku ketua kelas itu mengangkat tangannya hendak memukul teman wanitanya. Dan ternyata gerakan tangannya terhenti oleh Dhafin yang baru saja tiba.
"Kenapa kau memukul wanita! menjauhlah!" sergahnya kesal sembari mendorong anak bernama Samuel itu hingga terjatuh dan sikunya menghantam sudut kursi hingga memar.
Dhafin berbalik dan memeluk anak perempuan yang ternyata adalah Ara, dibelakangnya Samuel justru menangis karena sikunya terluka. Sedetik kemudian iya berdiri dan meraih tangan Dhafin kemudian menggigitnya sekuat tenaga hingga meninggalkan bekas.
"Ya! berani sekali kau!" teriak Dhafin tak kuasa menahan kekesalannya lagi, hingga pada akhirnya kedua anak itu saling berkelahi satu sama lain. Ara yang memperhatikannya tak bisa berkata-kata, ia merasa cemas karena perkelahian kedua temannnya itu.
Jam pulang sekolah.
Arzan duduk di hadapan wali kelas bersama seorang wanita yang berstatus ibu dari Samuel. Kedua anak mereka duduk di belakang sembari menunduk diam. Ya, akibat perkelahian tadi orang tua Dhafin dan Samuel dipanggil ke sekolah.
Terlihat Arzan membuang nafas berat dan menatap sudut atap ruang guru itu dengan raut wajah melemas. Baru kali pertama ia dipanggil oleh wali kelas karena anaknya berbuat ulah, dan bahkan di hari pertamanya sekolah.
"Dia yang memukulku terlebih dulu!" Suara Samuel menyahut kesal dari belakang sembari menyalahkan Dhafin.
"Kau yang membuat ulah terlebih dulu!" teriak Dhafin kesal karena Samuel tidak mau mengakui kesalahannya. Wali kelas tiba-tiba membuka suara dan membuat semua orang terbungkam, "Diam. Biarkan Ibu berbicara dengan orang tua kalian."
Arzan meringis canggung dan berkata dengan nada lembut, "Mereka masih anak-anak, perselisihan bisa saja terjadi. Hanya sebatas beda pendapat saja ...."
"Apa yang Anda katakan Pak, anak Bapak jelas-jelas melakukan kekerasan!" sahut ibu Samuel merasa kesal, dan kini yang bedebat bukanlah anak mereka. Melainkan orang tuanya sendiri.
Arzan memalingkan wajahnya kesal dan bergumam, "Pantas saja anaknya besar kepala!"
"Sudah-sudah jangan berdebat seperti anak kecil." Guru itu menyindir kedua wali muridnya sembari mengeluarkan dua kertas dan pena.
"Mereka membutuhkan surat peringatan, saya harap tidak akan lagi permasalahan setelah ini. Dan juga untuk Ibu, yang dikatakan Pak Arzan memang ada benarnya. Saya tidak bermaksud membela siapapun disini, akan tetapi konflik seperti ini adalah hal wajar diusianya ... terlebih saya meninjau jika Samuel juga memiliki kepribadian sedikit keras dari lainnya," lanjutnya menjelaskan kepada wali muridnya, dan siapa yang menyangka jika sebelumnya ibu Samuel sudah menuntut akan perilaku Dhafin yang melukai putranya.
Bibir si ibu itu hendak berbicara lagi, tetapi Arzan mendahuluinya dengan tegas. "Tanda tangani saja dan selesaikan semuanya."
Semuanya sudah selesai sekarang, mereka pamit undur diri untuk meninggalkan sekolah. Dan ternyata ibu Samuel masih merasa kesal karena anaknya tersudutkan kali ini.
"Sombong sekali," gumamnya kesal menatap Arzan yang mengelus pipi Dhafin. Seorang ayah yang merasa direndahkan itu akhirnya berdiri dan mengatakan apa yang perlua ia katakan untuk saat ini.
"Ini hanya pertengkaran kecil, anda terlalu membesarkannya. Dan juga, Anda terus mengatakan seolah hanya putramu yang terluka ... lihat tangan putraku, ia juga terluka tetapi sikapnya jauh lebih dewasa dan tidak membesarkan masalah sepertimu." Mata mereka saling menatap, si wanita itu bukannya merasa jera justru mengejek Arzan lagi.
"Tak usah belaga sombong, pakaianmu memang mewah ... padahal hanya seorang karyawan perusahaan dengan gaji tak seberapa. Mana mampu kau mendidik anakmu jauh lebih benar!"
Jleb! Arzan terkekeh lucu mendengarnya, si wanita itu sudah melewati batasannya. Kakinya mendekat dan menegaskan sesuatu. "Jika tidak mampu, bilang saja!" Satu kata itu Arzan tekankan dihadapan wajah si wanita, sembari memberikan kartu namanya tanpa banyak bicara.
Hari yang panjang, perannya sebagai ayah tak terduga akan sampai di titik seperti ini. Kala status di rendahkan dan itu membuatnya membenci banyak orang yang berpikiran demikian. Kakinya terus berjalan berdampingan dengan langkah kecil sang putera. Dari belakang, Samuel dan ibunya masih diam dan melirik sekilas kartu nama yang Arzan berikan.
Matanya membulat, ia tak menyangka jika telah berdebat dengan seorang Direktur perusahaan dimana suaminya bekerja sebagai rekan bisnis disana. Karena kesal kartu nama itu ia remas kuat dan membuangnya sembarang sembari berbalik dan mengajak anaknya pergi.
"Nyonya!" teriak seorang wanita kala baru beberapa langkah ia berjalan. Ia menoleh, menatap seorang petugas kebersihan dengan raut wajah kesal.
"Apa?" tanyanya tak berdosa, matanya menatap arah jari telunjuk petugas kebersihan itu yang mengarah ke papan peringatan yang bertuliskan 'Jagalah kebersihan, dan buang sampah pada tempatnya'.
"Dari sini kita tahu siapa yang harus mendidik siapa. Dan juga tata krama, pengetahuan ... tidak diukur dengan status jabatannya!" ucap wanita berseragam cokelat itu yang ternyata mendengar pembicaraan si ibu dengan Arza, Dan kini seperti satu sasaran yang ditembus dua anak panah.