Suasana sedikit menegang sekarang, Stella yang sudah pulang dari sekolah Dhafin sejak tadi terus merasa cemas melihat raut wajah majikannya yang mendengar kabar jika anaknya terkena masalah. Dan benar saja sekarang semua orang tidak ada yang berani berkata-kata, nampak jelas Dhafin berdiri dihadapan ibunya yang duduk di sofa dan terus menatap wajah anaknya yang tertunduk diam tanpa sepatah katapun.
Setelah beberapa lama mereka hanya terdiam dan membuat suasana seolah semakin menegang akhirnya Arzan membuka suara karena tak sanggup menahan kekesalannya kepada semua orang yang hanya terdiam.
"Akh ... lupakan. Kalian semua hanya diam semakin membuat anak itu takut saja! lihat dia lihat ... aduh, apa kau tidak merasa kasihan melihat wajah polosnya?"
Dina menoleh, langsung menatap mata sang suami.
Degh! Arzan membeku, ia yang semula begitu percaya diri mengeluarkan kekesalannya kini hanya diam takut karena tatapan istrinya.
"A-apa?" gumamnya menyembunyikan sedikit ketakutannya.
"Jangan mengasihaninya, ia akan tumbuh besar kepala jika terlalu memanjakannya," jawab Dina tak bisa dipungkiri jika cara berpikirnya dalam mendidik anak memiliki cara tersendiri.
"Ma, ... maaf." Suara Dhafin membuat semua orang menatapnya. Telapak tangan kecilnya menyatu di depan dadanya sambil memohon maaf. Arzan melihatnya merasa kesal kepada istrinya yang terus diam membuat suasana semakin panas.
Arzan berjalan dan berjongkok dihadapan anaknya sembari menggenggam tangan Dhafin dan melepaskannya perlahan. "Apa kau mengaku bersalah?"
"Tidak," jawab anak itu menggeleng dan ibunya hanya diam melihat suaminya berperan sebagai ayah di depannya.
"Dengarkan ucapanku, jika kau tidak bersalah ... jangan meminta maaf seolah memang kau yang bersalah. Musuhmu akan senang jika kau bersikap bodoh tanpa pembalasan. Mengerti?" Nasehat Arzan sebagai ayah dan mengelus pipi putranya dengan lembut.
"Iya ayah ...." jawab Dhafin mengangguk patuh.
"Pergilah ke kamar mu, dan segera makan." Arzan menyuruh bocah itu untuk menuju kamarnya, mendengar hal itu Dina menatap kesal suaminya dan hendak bicara tetapi terhenti karena Arzan mencegahnya sembari mencekal bahunya penuh keyakinan.
"Kau!- sebelumnya ia tidak pernah pergi sebelum aku memarahinya. Sekarang kau- apa yang akan kau ajarkan padanya? balas dendam? apa kau ingin ia hidup dikelilingi masalah?" Dina memarahi Arzan habis-habisan hingga membuat suaminya menutup mata kesal menahan suara nya yang terus mengoceh.
"Sudah-sudah, dengar ... dia tidak akan sepenuhnya mengerti jika kau memarahinya. Ia mungkin patuh tapi tidak sepenuh hati ... melainkan terpaksa." Arzan memberikan penuturan dan membuat Dina terdiam tak mampu menjawabnya.
Selang beberapa detik pelayan datang dengan makan siang Dina, Arzan berbalik dan meletakkannya di meja dan berkata, "Makanlah, jaga kesehatanmu. Ada janji yang harus kau tepati."
"J-janji?" tanya sang istri mengrenyitkan dahi bingung. Arzan tersenyum dan tak menjawab justru hanya menyuruh istrinya segera meminum obatnya.
"Kau mungkin lupa ...." batinnya sembari berjalan menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Siang berlalu, sore tiba dan malam menyambut pagi esok hari. Itulah dunia, seseorang pernah berkata 'Hidup itu begitu singkat, kau boleh berjuang ... tetapi jangan lupa untuk bahagia'.
Hari baru telah tiba, pagi datang dan jam sudah menunjukkan pukul 07.00.
Dina duduk dengan kursi rodanya di halaman depan. Saat itu Arzan tak sengaja melihatnya setelah kembali menghirup udara segar di sekitar rumah.
"Kau ingin melakukan sesuatu?" tanyanya menghampiri sang istri.
"Hanya merindukan kaki ku yang menapak tanah dengan normal." Matanya sayu menatap sekeliling, pria disampingnya menghela nafas berat dan kemudian tersenyum.
"Baiklah, mari kita kembali menapaki jalanan yang indah itu ...." ujarnya dengan bahagia sembari mengulurkan tangannya bermaksud mengajak istrinya untuk belajar berjalan lagi.
Dina semula hanya diam dan menatap ragu sang suami, rasanya ia takut untuk gagal lagi. Hatinya tak kuasa lagi harus menerima pahitnya kegagalan dalam hidup. Arzan tersenyum melihat tangannya masih dicampakkan oleh Dina, sedetik kemudian iya meraih tangan sang istri untuk pertama kali dengan sepenuh hatinya.
"Jangan takut, kita tidak akan gagal lagi." Mendengar perkataan itu Dina merasakan sedikit harapan di hidupnya untuk kembali menormalkan keadaan, walaupun sulit iya harus mencoba.
"Pegang ini, dan langkahkan pelan-pelan ...." Dengan telaten Arzan mencekal tangan Dina sembari berjalan mundur menjaga Dina agar tak terjatuh. Kakinya perlahan melangkah satu persatu, sangat sulit tetapi ia terus mecoba.
Perlahan telapak kakinya merasakan dinginnya tanah yang ia pijak, tetapi dua langkah setelahnya iya hampir terjatuh dan untungnya Arzan dengan sigap menopangnya, hingga posisi mereka saling berpelukan sekarang.
Seulas senyum membuat Dina merasa bingung sekaligus kesal, "Hahaha ... perlahan saja, jangan terus berambisi tinggi."
"Tidak, jangan memaksa. Aku bisa saja jatuh dan mati ditempat karena menuruti saranmu." Dina kembali mengoceh dan membuat suaminya mengerucutkan bibir kesal.
"Berhenti bicara berlebihan, malaikat maut saja mungkin takut kepadamu," jawab Arzan asal celetuk, dan tanpa Dina sadari ia sejak tadi terus mencoba berjalan saat mengoceh dengan Arzan.
"Tutup mulutmu, membuang energi saja." Mereka berdua terus berjalan perlahan mengelilingi halaman, dengan kaki tertaih Dina terus mencoba lagi dan lagi dengan bantuan Arzan yang terus membimbingnya dengan telaten.
Satu jam berlalu dan Arzan masih setia menemani istrinya untuk belajar berjalan lagi, tiba di bawah pohon dekat pagar.
"Akh ...." rintih Dina karena sudah tak sanggup lagi berjalan, kakinya melemas dan ibu jarinya terluka karena menginjak batu. Arzan spontan menatap sang istri dan menggendongnya menuju kursi di bawah pohon.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.
"Tidak apa, hanya terluka sedikit saja." Dina tersenyum mengabaikan lukanya. Dan sedetik kemudia ia merasa kaget karena perlikau Arzan yang berlutut di hadapannya sembari melihat luka di telapak kakinya.
"Tidak ap-" sergah Dina merasa tak enak tetapi Arzan masih bersih keras.
"Diamlah, mari kita kembali saja ...." ujarnya sembari bangkit dan menggendong istrinya ala bridal style. Dina yang terus dikagetkan karena ulah Arzan itupun tak bisa berkata-kata dan hanya diam menurut tanpa banyak bicara.
Satu jam setelahnya.
Stella yang berjalan di samping majikan kecilnya itu berusaha mencairkan suasana antara ibu dan anak. Dhafin sesekali mencuri pandang sang ibu yang duduk di sofa menatap luas pemandangan dari balik jendela. Arzan yang sibuk mempersiapkan berkas memilih diam dan tidak ikut campur dulu pagi ini.
Stella memberikan isyarat kepada anak itu untuk berpamitan kepada ibunya sebelum berangkat ke sekolah. Langkah kecilnya mendekati Dina yang sibuk melamun.
"Ma ...." panggilnya lirih dan masih merasa bersalah karena kejadian kemarin.
Dina menoleh ketika mendengar panggilan malaikat kecilnya, matanya menatap wajah polos anak itu yang sedikit gugup berbicara. Semua orang menatap wajah seriusnya, mereka takut jika Dina masih melampiaskan kekesalannya, sejak kecelakaan hari itu iya banyak berubah. Emosinya semakin mendidih hanya karena satu permasalahan saja.
Dina tersenyum, tangannya mengelus wajah sang anak dengan penuh kasih sayang. Dan dikecup keningnya sembari berkata, "Pergilah ... dengarkan apa kata ayahmu kemarin, perjuangkan selagi kamu benar. Hem?"
Dhafin mendongak, bibirnya tersenyum hingga memperlihatkan deretan gigi kecilnya dan semua orang ikut bahagia melihatnya.
"Dhafin tidak akan mengulanginya lagi, Mama harus bahagia, hehe ...." kata-kata itu membuat Dina merasa hangat, seolah anak ini sudah dewasa dan menjadi pelindungnya. Faktanya di dalam hati kecilnya terbesit untuk membahagian ibunya, mengubah dunia ibunya yang gelap ini menjadi indah dengan warna pelangi.
Cup! Dhafin mengecup pipi sang ibu dan berlari menghampiri sang ayah yang duduk di meja makan. Arzan tersenyum lebar dan dengan sigap meraih tubuh mungilnya ke dalam gendongan.
"Kau akan mencium ayahmu juga? ckck ... ini harusnya menjadi milik ibumu saja. Tapi tak apa, jagoan ayah juga kekasih ayah ...." ujar Arzan membuat semua orang terkekeh kecuali Dina, sebenarnya wanita itu juga merasa senang dengan gurauan Arzan tetapi egonya masih belum bisa runtuh dengan mudah.
Cup! Arzan juga mendapatkan kecupan di pipi kirinya, sedetik kemudian ia berbalik mencium sang putra, seolah hubungan diantara mereka berdua begitu tak tergantikan dengan kasih sayang yang lainnya.