Secangkir teh panas menjadi suguhan pagi ini untuk ibu dan anak yang sedang bercengkrama di teras rumah. Suasana terasa canggung sejak hari kecelakaan yang merenggut nyawa Danu dan kaki Dina.
"Sejauh ini aku masih menduga-duga pikiranmu." Soraya meletakkan cangkirnya sembari melirik putrinya yang memasang raut wajah datar.
"Siapapun yang menyebabkan kejadian itu dia adalah orang yang berbahaya. Walaupun sampai sekarang identitasnya tersembunyi," lanjutnya masih berbicara.
"Seseorang menjadi jahat karena seseorang lainnya ... seperti itu?" Dea membuka suara dan membuat ibunya memasang raut wajah bingung.
"Apa maksudmu?" tanya sang ibu dengan senyum samar.
"Tidak ada, aku hanya menebak pemikiran jika aku seorang penjahat."
"Bukan penjahat, hanya seseorang yang berjuang mendapatkan yang ia inginkan," jawab Soraya membuat putrinya tersenyum aneh. Tanpa ia sadari putri yang ia besarkan dengan kasih sayang kelak akan menjadi orang yang keji karena cara didiknya yang tanpa sadar telah salah jalan.
"Haha ... tentu," gumam Dea dan mereka berdua kembali menyeruput teh hangatnya.
Ponsel Soraya bergetar, dan sang pemilik segera berdiri dan mengangkatnya. Saat ibunya pergi menjawab panggilan telepon, Dea juga ikut mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang.
Dea: Mari kita bertemu setelah sekian lama.
Nomor tidak diketahui: Baik, kirimkan lokasinya.
Pesan singkat dengan maksud tersembunyi, sosok Dea kini sedang bermain peran setelah ibunya, bahkan bisa dikatakan jauh lebih menyeramkan dari ibunya.
Pukul tiga sore, di cafe Tenun tengah kota.
Terlihat dari balik jendela seorang pria dengan pakaian kantor yang masih rapi tengah menunggu kedatangan seseorang disana. Beberapa saat kemudian Dea muncul dari pintu masuk dan duduk di bersama si pria misterius itu.
"Bagaimana kabarmu?" tanya si pria yang tidak diketahui namanya itu, wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup kaca mata coklat tuanya, terlihat ia sengaja menyembunyikan wajahnya dari khalayak umum.
"Langsung saja keinti pembicaraan," jawab Dea dingin. Si pria itu tersenyum kecil dan melepas kaca matanya, wajahnya kini terlihat jelas dan lumayan tampan.
Tangannya meraih cangkir kopinya sembari berucap, "Aku rasa cintaku masih belum bisa kau terima."
Dea mendongak, raut wajahnya begitu sinis. "Apa kita datang untuk membicarakan ini?"
Pria itu mengubah posisi duduknya senyaman mungkin. "Haha ... tentu. Apa yang kau butuhkan?" tanyanya dengan raut wajah serius sekaligus merasa sedikit kesal karena ia terlalu sering diabaikan oleh wanita yang dicintainya.
"Kirim suami kakak ku untuk meninggalkan kota."
Pria itu menatap bola mata Dea, tersenyum miring dan menyeruput kembali kopinya. Dalam hatinya ia setengah tak habis pikir jika wanita yang tak menyukai kekerasan kini berubah menjadi kejam setelah kembali ke tanah air.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya penasaran.
"Tidak ada, hanya memberikan kejutan kecil untuk keluarganya," tutur Dea menjawab tanpa maua memberitahu langsung tujuannya mengirim suami kakaknya yang dimaksud adalah Arzan untuk meninggalkan kota.
"Apa yang akan aku dapat?" si pria mulai menimbang keuntungan yang akan ia dapatkan.
"Berapa?" tanya Dea mengira jika pria itu menginginkan uang.
"Berapa?" si pria berbalik tanya dan melanjutkan bicara. "Aku tidak segila itu dengan uang."
"Lantas?"
"Makan malam?" si pria itu mengangkat gelas kopinya dengan raut wajah begitu percaya diri. Dea mendengarnya tersenyum kecut dan berpikir jika pria ini tidak sebodoh yang ia pikirkan, karena ia membutuhkan bantuan untuk rencananya kali ini jadi mau tidak mau dirinya terpaksa menyetujui untuk makan malam bersama.
"Tentu." Kini kesepakatan telah disetujui, lantas apa yang akan Dea lakukan kali ini. Sebelumnya ia hanya berhasil menghabisi Danu, apakah target utamanya akan berhasil ia dapatkan? atau justru rugi untuk kedua kalinya.
Malam tiba.
"Stella, dimana koperku kemarin?" Arzan turun tergesa-gesa dari tangga sembari mengenakan kaos oblong. Dina yang baru tiba dengan pelayannya itu menatap sang suami kebingungan.
Wajahnya muram, ia berpikir Arzan berencana pergi malam ini. Tetapi ia tak bisa membiarkannya begitu saja karena Arzan masih terikat kontrak baru menjadi direktur.
"Apa yang kau lakukan? untuk apa?" sergahnya bertanya.
"Kau tidak tahu? aku kira ini sudah atas persetujuanmu ...." Arzan ikut kebingungan karena pertanyaan Dina.
"Tidak, untuk apa?" tanyanya kesekian kali.
"Tanah yang kita beli di Singapura sedang bermasalah, investasi yang disetujui telah di gugat sore tadi. Mau tidak mau aku harus turun tangan," jelas Arzan sembari mengecek ponselnya.
"Tanah itu? kenapa aku tidak mendapatkan informasi?" Dina sedikit merasa aneh, bisa-bisanya ia tidak mengetahui masalah perusahaannya.
Tangannya meraih ponsel dan menghubungi sekretarisnya. Pangilan terhubung ....
"Maaf Bu, saya lupa memberitahu. Tetapi masalah ini memang harus segera diselesaikan, jika tidak nama pak Arzan sebagai direktur baru akan tercoreng di masa kerja pertamanya."
"Ya, saya mengerti."
Panggilan tertutup. Matanya melirik cemas wajah sang suami, ia sebenarnya tidak yakin jika Arzan akan baik-baik saja di Singapura, tetapi kondisinya juga tidak memungkinkan untuk mendampingi.
"Apa yang kau lihat?" tanya Arzan saat mendapati sang istri terus memperhatikannya.
Dina membuang muka. "Tidak, hanya saja terasa begitu mendadak."
"Jangan menghawatirkan ku, aku akan baik-baik saja. Saat aku pulang nanti semuanya akan kembali seperti semula, Hem?"
"Terserah padamu ...." Dina menjawab singkat seolah tak peduli.
"Jangan menunggu ku, kau akan bosan saat menunggu."
Spontan nyonya rumah itu menoleh menatap suaminya kesal, perkataan Arzan seolah membuat jantungnya selalu berdegup kencang.
"Jangan terlalu percaya diri, jatuh itu sakit." Dina membantah.
"Kata siapa? jatuh itu tidak sakit, jika jatuh kedalam cintamu istriku ...." Dengan kondisi seperti ini Arzan masih sempat bergurau.
Dan secara tidak langsung ia bermaksud untuk menyakinkan istrinya jika semuanya akan baik-baik saja.
"Sejak kapan aku menikahi buaya?" sindir sang istri sembari menjalankan roda kursi rodanya ke arah lemari es.
Arzan terkekeh dan menyahut lagi, "Tidak masalah, lagi pula sifat buaya itu tidak jauh berbeda dari prinsip ku. Mereka buaya jantan begitu setia dengan pasangannya."
Degh! Dina mematung di depan lemari es yang terbuka, mendengar kata pasangan membuatnya teringat ciuman di pesta waktu itu.
"Sudahlah, dia akan melempar mu dengan lemari es jika sudah kesal," Stella yang baru saja tiba sembari membawa pakaian Arzan yang dilipat rapi itu sedikit menyindir majikannya, tidak lagi begitu formal seperti dulu.
"Benarkah? sepertinya dia butuh kasih sayang yang melimpah?" tanya Arzan melihat Stella mengemasi bajunya.
"Ya, akan ku bunuh kau!" Dan benar saja, istrinya itu sudah kembali mengeluarkan sumpah serapahnya karena kesal kepada Arzan.
"Ckck, lihatlah kau ... ish, seperti mafia. Senggol bacok!" Mendengar ucapan Arzan semua orang terkekeh, walaupun mereka tidak sepenuhnya mengerti apa yang Arzan ucapakan tetapi logat bicaranya benar-benar lucu.
Ya, Arzan berkata dalam bahasa Jawa. Senggol bacok biasanya ia gunakan untuk meledek orang yang suka marah dengan hal kecil. Seperti seekor predator yang siap memangsa musuhnya.
"Apa itu?" Dina masih sempat bertanya karena tidak mengerti perkataan Arzan.
Arzan berhenti tertawa, dan menjawab. "Cantik, artinya kau sangat cantik. Hahaha ...." Kini pria itu tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah sang istri.
Malam ini mereka masih sempat untuk tertawa, tanpa mereka sadari jika sosok Dea sudah mengambil peran untuk permainannya.