Manusia selalu memiliki pertanyaan dalam hidupnya yang belum sempat terjawab. Mengapa, kenapa, bagaimana, dan kapan masih menjadi tanda tanya besar selama ini.
Kata mereka, setidaknya kita hidup harus memiliki seorang teman sebagai tempat bercerita. Tetapi tak sedikit pula yang terpatahkan karena teman, dan berakhir menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.
Kita sering berpikir dan mendengar tentang bahwa betapa indahnya hari-hari bersama seorang teman, tetapi luka karena kepergian juga tak kalah hebat untuk menyakiti hati kita. Hidup itu memang seimbang, kala senang datang maka sedih juga akan hadir melengkapi. Begitu juga dengan sedih, maka kejutan yang jauh luar biasa akan menjadi hadiah atas kesabaran kita untuk bertahan.
Semua tergantung pada diri kita, sejujurnya hidup itu indah. Seseorang pernah berkata 'Bertahanlah, walau hanya dengan alasan kecil dalam hidupmu. Bertahanlah demi musim hujan besok, bertahanlah demi lagu yang kau sukai, bertahanlah demi makanan yang masih nikmat kau rasakan, dan bertahanlah untuk melihat betapa cerahnya hari ini. Hidup itu indah, tetapi putus asalah yang terkadang membutakan mata kita.
Pertanyaan-pertanyaan tak akan pernah usai kala seseorang selalu ingin mengetahui kebenaran, dan pastinya rasa keingin tahuan itu akan menjadikan luka untuk diri kita sendiri. Selalu menimbang, berpikir, dan merenung ... tetapi kadang mereka lupa untuk terus berjalan, dan ujungnya mengukir penyesalan atas kesempatan yang ada.
Pertanyaannya adalah kapan dan siapa teman itu? Mungkin sebagian orang berpikir teman haruslah seseorang yang menemani dan siap berada di sisi kita disaat tertentu. Tetapi faktanya itu hanya berlaku untuk mereka yang mempercayainya, berbeda dengan mereka yang terlanjur hancur hanya karena sebuah kata yang berbunyi PERTEMANAN.
Banyak orang yang bilang mereka hanya belum menemukan orang yang tepat, tetapi bagi kami ... diri kamilah sendiri yang harus tetap ada kapanpun itu. Semua akan berubah, baik siang dan malam, baik cuaca, baik itu dunia, dan juga manusia.
Mereka tidak bisa dipercaya begitu saja, manusia tidak baik. Mereka ibarat menyulut api kecil dan kita memeliharanya dimana kelak kitalah yang akan terbakar karena api yang kita pikir mampu menghangatkan di musim dingin.
Berlarilah, walaupun tidak ada pintu keluar. Mungkin kau berputus asa, tetapi kau tidak bisa pasrah dan memilih gugur begitu saja dalam medan perang kehidupan ini. Jangan risau, percayalah kepada dirimu sendiri. Tidak perlu menimbang porsi orang lain, percaya saja jika kisahmu ditulis oleh penulis skenario terbaik.
Hidup itu selalu lekat dengan datang dan pergi, biarkan seseorang itu pergi. Kau boleh mengenangnya tetapi tidak harus menyesali kepergiannya. Karena apa? jika dia memang tertulis untukmu maka tanpa perlu kau meminta ia akan datang kepadamu hingga akhir hayat.
"Jaga diri baik-baik, hubungi aku jika terjadi sesuatu." Dina menatap suaminya yang berdiri dengan sebuah koper hitam di depan pintu. Tanpa ia sadari sejujurnya ia sendiri juga mempedulikan Arzan.
"Tidak apa. Aku ada satu permintaan," ujar Arzan menjawab dan membuat Dina bertanya-tanya.
"Apa?"
Arzan berjongkok dan meletakkan kedua tangannya di atas pangkuan Dina sembari mendongak dan berkata dengan senyum manis di wajahnya. "Fokuslah untuk kesembuahanmu. Besok jika aku pulang aku ingin melihatmu kembali menikmati hidup ini, berusahalah dan jangan lupa untuk bahagia."
Dina termenung menatap wajah sang suami, ia tak mampu menjawab perkataan Arzan. Jantungnya berdegup kencang dan membuang muka menutupi rasa gugupnya.
Arzan bangkit berdiri dan menggendong sang putra. "Jaga ibumu baik-baik, dan jangan menyusahkan nya. Jika kau terlibat masalah lagi kau harus berusaha menyelesaikannya terlebih dulu dengan caramu. Okey?"
"Ya, okey ... cepatlah pulang, aku ingin bermain dengan robot baruku," Dhafin tersenyum manis memeluk ayahnya begitu erat.
"Tangkap!" Setelah Arzan menurunkan Dhafin dari pangkuannya tiba-tiba ia melemparkan sebuah kotak kecil ke arah Stella dengan spontan.
"Apa ini?" Stella bertanya-tanya kepada majikan laki-lakinya.
"Hadiah untukmu," jawabnya santai. Dina dan Stella spontan menatap Arzan bersamaan.
"Haisshh ... apa yang kau pikirkan? why? why?" sergahnya kesal melihat dua orang wanita itu menatapnya. Stella sedikit merasa aneh, pasalnya Arzan tiba-tiba memberikan hadiah itu padanya.
"Anggap saja itu ucapan terimakasih ku untuk kerja kerasmu," lanjutnya berhenti sejenak dan kembali menyahut karena Dina masih setia menatapnya. "Ck, aku membelinya dengan uangku sendiri."
Dina melirik sinis dan bergumam, "Siapa yang peduli." Mendengar itu Arzan terkekeh dan asistennya datang sembari memberitahu jika semuanya sudah siap, kini Arzan akan pergi meninggalkan tanah air dan menuju ke Singapura.
Malam ini seorang Arzan tengah menunjukkan tanggung jawabnya sebagai direktur, tanpa ragu ia sudi untuk turun tangan langsung walaupun Dina sedikit merasa ragu karena terjadi tiba-tiba.
Di kediaman Soraya, kamar Dea.
"Kau tidak mendengar perintahku dengan baik? aku hanya menyuruhmu untuk mengirimnya ke luar kota. Hanya luar kota!" ucap Dea dengan nada tinggi sembari berbincang dengan pria yang ia temui di Cafe tadi siang.
Di seberang sana si pria itu tersenyum miring sembari menikmati wine kesukaannya, mulutnya berucap dengan pelan walaupun ia tahu jika Dea sedang merasa kesal.
"Hanya anak cabang itu yang melemah, aku hanya memanfaatkan kesempatannya," jawabnya santai.
"A-apa kau bilang? apa aku buta? apa matamu tidak berfungsi dengan baik? anak cabang disana tidak pernah melemah, apa kau sengaja mengusiknya?"
Pria itu terkekeh, sejujurnya ia merasa sedikit kesal dengan ucapan Dea yang selalu merendahkannya sehingga ia sengaja mengusik anak cabang yang dimana telah menjadi incaran keluarga Soraya. Menurutnya dengan mengusik hal itu ia sekaligus bisa memperingatkan Dea apa akibatnya jika terus menerus meremehkannya.
"Simpanlah energimu untuk besok sayang ... Selamat bermain."
Tuttt ... panggilan terputus. Dea melempar ponselnya ke tempat tidur dengan asal karena kesal, dirinya tidak menyangka jika Jovan berani mengancamnya seperti ini. Sekarang dia sedikit khawatir jika ibunya akan menggagalkan rencananya jika tahu bakal perusahaan yang ia incar selama ini sedang mengalami masalah.
Dea meraih segelas air putih di meja kamarnya dan segera meneguknya agar merasa tenang. Setelah itu ia mendudukkan bokongnya di kasur dengan perlahan.
"Tidak apa, aku urus besok. Malam ini mari istirahat saja," gumamnya pelan dan beranjak tidur.
Inilah sebuah usaha bertahan hidup, berjuang mewujudkan apa yang mereka inginkan, hingga bahkan menghalalkan segala cara untuk bertempur. Semuanya bisa menjadi mungkin selagi ada keinginan, dan begitu juga sebaliknya. Semua menjadi sia-sia karena ketamakan, seseorang yang berjuang hingga titik terakhir hanya dengan ambisi kelak hanya akan mendapatkan peti kosong tanpa harta karun.
Kata mereka, Alam itu adil. Alam itu bisa menghakimi, siapa-siapa yang menanam benih di tanahnya akan ia beri padi untuk panennya. Siang dan malam mungkin berlalu, tetapi belum tentu dengan ketamakan makhluk yang bernama Manusia.
Menyeramkan lebih dari hantu, mengerikan lebih dari mara bahaya, dan menyenangkan lebih dari harta. Mereka bisa setia hanya karena satu kekurangan, dan mereka bisa berbalik arah seperti anjing yang menggigit majikannya sendiri hanya karena satu kelebihan.
Sadarlah, orang yang kita percayai saat ini mungkin saja akan menjadi mereka yang mendorong kita agar terjatuh ke dalam lautan api. Dan mereka pula bisa mengulurkan tangan dengan ikhlas kepada kita. Satu kata yang pasti, berubah-ubah ... Ya, mereka tidak ada yang pasti.