Seorang Dina termenung di depan jendela kamarnya, perasaannya terasa kosong sejak bangun tidur tadi. Kepergian Arzan tanpa terduga membuatnya merasa kehilangan sesuatu yang melengkapinya, walaupun sejauh ini tidak ada yang ia lakukan hingga hubungan pernikahannya menjadi spesial. Matanya menatap halaman depan rumahnya yang nampak dari balik jendela kamar.
"Aku sudah tidak muda lagi," gumamnya tiba-tiba sembari melirik dua bingkai foto di atas laci kamarnya, dimana foto itu adalah ia dan Danu, dan orang tuanya. Bibirnya tersenyum samar dan menunduk menatap kakinya, perlahan terbesit di dalam hatinya sebuah tekat untuk kembali berjuang dan memperbaiki tujuan hidupnya.
Perlahan dirinya teringat ucapan sang ibu di hari ulang tahunnya yang ke tujuh tahun. 'Terlepas dari semua apa yang kamu hasilnya di masa depan nanti, kamu harus puas terhadap dirimu sendiri. Saat semua orang kembali berkumpul bersama dan satu persatu menghilang, kamu akan menyadari apa itu kehilangan'.
Dina menutup matanya perlahan dan membukanya sembari berusaha menggerakkan kakinya dengan perlahan. Tujuannya kali ini adalah menebus kesalahan akibat keputus asaannya selama ini, Tuhan memberikannya kesempatan dan sekarang dia menyadarinya.
Ia memaksa kakinya untuk melangkah perlahan-lahan di dalam kamarnya, sekarang hatinya sedikit hangat dan terlepas dari belenggu keputus asa-annya.
Semua pelayan sedang bertugas masing-masing, Stella pergi mengantar Dhafin ke sekolah, dan di rumah hanya ada Dina beberapa pelayan dan dua body guardnya.
Dan hari sudah menjelang sore.
Di sekolah Dhafin.
Terlihat sebuah mobil yang dikendarai Dhafin dan Stella tengah melintas jalanan parkir sekolah, anak itu duduk di samping jendela mobil yang terbuka dan menatap pemandangan sekitar. Saat mobilnya tiba di sebuah pohon rindang, Dhafin membelakkan matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat, karena terkejut spontan ia berteriak agar mobilnya berhenti.
"Tunggu!" teriaknya membuat semua orang di dalam mobil menoleh, Stella yang sebelumnya membuka ponsel kini ikut menoleh ke arah anak itu dengan raut wajah bertanya-tanya.
"Ada apa?" tanyanya menatap wajah Dhafin. Anak itu tak menjawab dan justru kembali berteriak sembari berlari keluar dari mobil.
"Ara! ...." teriaknya memanggil nama Ara sambil mendongak menatap seorang anak yang bergelantungan di batang pohon.
Stella ikut lari turun dari mobil untuk mengikuti anak itu, dan benar saja ia juga melihat gadis kecil yang bernama Ara itu sedang bergelantungan di pohon. Bibirnya ikut membulat melihat apa yang gadis itu lakukan.
"Apa yang kau lakukan disana?" teriak Dhafin dari bawah pohon.
"Turunlah, apa yang sedang kau lakukan?" Stella ikut meminta anak itu turun dari pohon.
Tidak ada jawaban, dan Ara spontan mendongak dengan rambut berantakan karena mendengar ada orang yang memanggilnya.
"Bagaimana caramu naik kesana? turunlah, kau bisa dimarahi ibumu jika dia tahu ...." Dhafin.
Mendengar itu Ara membalikkan tubuhnya dan segera turun dari pohon, seolah dia adalah gadis hutan yang pandai memanjat. Apakah bakatnya ini ia sembunyikan?
"Kenapa kau disana?" sergah Dhafin menghampiri temannya yang baru saja turun.
"Tidak ada, aku hanya suka memanjat."
"Memanjat? kau bahkan mirip sekali seperti kera. Bergelantungan ke sana kemari, kau ... sangat jelek." Karena kesal Dhafin akhirnya memarahi gadis itu dengan logat bicaranya seolah seperti seorang pria yang merasa kesal kepada kekasihnya.
Ara memutar bola malas dan menjawab ucapan Dhafin, "Aku sama sekali tidak jelek, kalaupun aku memang cantik pasti kau sudah menyukaiku kan?"
Stella menahan tawanya, entah kenapa perbincangan dua anak ini membuat perutnya geli untuk tertawa.
"Tidak, aku tidak menyukai perempuan yang suka memanjat. Aku lebih suka jika dia seperti ibuku," ujar Dhafin memberikan penolakan dan semua orang tidak menyangka jika ia begitu mengagumi ibunya.
"Ibu? apakah kau tau ibumu seperti apa?" Stella bergumam tak percaya jika ia berpikir memiliki kekasih yang bersifat sama seperti Dina, wanita dingin dan angkuh. Stella membatin lucu dan menurutnya jika dia dewasa nanti dia sendiri akan tahu seperti apa ibunya.
"Kenapa kau tidak adil membandingkan ku dengan ibumu?" gerutu Ara kesal.
"Kau tidak pulang?" Stella menyela perbincangan mereka berdua.
"Aku akan pulang sendiri nanti," anak itu menjawab dengan antusias, begitu berbeda dengan hari pertamanya bertemu dengan Dhafin. Saat itu ia adalah gadis penakut dan sekarang ternyata ia adalah gadis mandiri dan mudah beradaptasi dengan lingkungan.
"A-apa? anak kecil tidak di izinkan berjalan sendirian seperti ini, dan juga bagaimana jika kau di culik?" Dhafin menyahut.
"Tidak akan, lagi pula siapa yang akan menculik anak nakal seperti ku. Bahkan ibuku pun membuangku," jawab Ara membuat semua orang tak bergeming.
Karena mendengar perkataan itu semua orang bertanya-tanya apa maksud perkataannya. "Dia bukan ibuku, dia kakak dari ibuku. Jangan khawatirkan aku, aku sudah dewasa untuk hidup sendiri."
Dhafin menatapnya dalam, kali ini kedua anak itu saling mengerti posisi satu sama lain. Dhafin tersenyum dan memeluk Ara ke dalam dekapannya sembari berucap, "Ibu bukan berarti dia yang melahirkan kita, semua orang bisa menjadi ibu jika kita menganggapnya demikian."
Stella membisu, kini ada hal yang ia sadari setelah melihat dua anak di depannya itu. Mereka mungkin masih terbilang kanak-kanak, tetapi alam sudah melibatkannya kepada masalah dunia yang menjijikkan ini. Bibirnya tersenyum dan menghampiri mereka berdua kemudian mendekapnya dengan penuh kasih sayang. Dhafin menyadarkan Stella, walaupun ia belum menikah tetapi ia sudah terlebih dulu mengerti seperti apa menjadi sosok ibu.
Sore tiba, dan matahari sudah hampir tenggelam.
Mobil yang Stella kendarai sedang melaju melewati jalanan dari sekolah Dhafin untuk kembali pulang. Semula semua berjalan seperti biasanya tanpa hambatan, namun di depan sana ternyata terjadi kemacetan parah. Stella terus gusar menatap alorgi nya karena sudah hampir malam, Dhafin yang sejak tadi diam ternyata sudah tertidur di dalam mobil.
"Ada apa di depan sana?" tanya Stella sedikit kesal karena jalanan tiba-tiba macet parah.
"Ada kecelakaan Nyonya, kita harus menunggu dulu," jawab si supir dan membuat Stella menghela nafas berat.
"Bisakah kita berbalik arah?" tanyanya lagi berusaha terbebas dari kemacetan, namun sayangnya di belakang sana juga sudah nampak beretan mobil yang ikut menunggu.
"Sial, bagaimana kita bisa terjebak disini," gerutunya kesal dan meraih ponselnya untuk memberikan kabar kepada majikannya di rumah.
Panggilan terhubung ....
"Kau tidak pulang?" tanya Dina saat panggilan baru saja terhubung.
Mendengarnya Stella merasa sedikit aneh, pasalnya majikannya itu tidak berbicara seperti biasanya, tanpa ambil pusing Stella berpikir positif saja.
"Kami terjebak macet, akan pulang terlambat. Ada yang Nyonya butuhkan?" jawan Stella dan bertanya.
"Macet? Tidak ada, pulanglah dengan hati-hati. Dimana Dhafin?"
"Dia tertidur, hubungi saya jika Nyonya membutuhkan sesuatu." Stella melirik bocah itu sekilas.
"Hem ...." Dina hanya menjawab singkat dan menutup panggilan itu terlebih dulu.
Stella melirik kursi pengemudi dan bergumam sedikit bertanya kepada body guardnya, "Apa kau merasa ada yang aneh?"
"Tentang apa Bu?" tanya si pria berbadan besar itu.
"Tidak, lupakan ... aku hanya melantur tadi," Stella memilih mengurungkan niatnya untuk bertanya, san berusaha untuk berpikir positif.
Jam terus berjalan, di depan sana ada seorang pemuda yang terus mendesak polisi seakan ingin memperpanjang masalah.
"Mari Pak kita bicarakan di kantor dan segera bereskan kekacauan ini, banyak pengendara yang terganggu karena ulah bapak," seorang polisi berusaha menenangkan si pria berpakaian kantor itu.
"Ulah saya? bapak lihat belum ada pihak darurat yang datang kesini untuk menolongnya," sergah si pria merasa kecewa.
Beberapa orang akhirnya turun dari mobil untuk mengetahui langsung kejadian yang terjadi. Dan masalah ini tak selesai begitu saja, banyak mengulur waktu.