Matahari sudah terbenam. Langit mulai gelap, sekarang bukan sinar matahari yang menerangi, melainkan gemerlap lampu di sepanjang jalan yang menyala terang.
Mobil yang dikendarai Stella baru saja tiba di rumah, saat ia melangkahkan kakinya turun perasaanya sedikit merasa ada yang aneh. Lampu di sudut taman tidak menyala, melihat hal itu Stella melirik jendela kamar majikannya dimana lampu masih menyala terang. Ia segera berjalan masuk sembari membatin bingung, "Tidak mungkin ia lupa melakukan hal yang selama puluhan tahun ia lakukan." Ya, Stella sedikit tak percaya jika Dina melupakam lampu itu, lampu dimana selalu ia nyalakan saat malam tiba, disana tempat terakhir kali ia bermain dengan ayahnya.
Pintu utama terbuka, sedetik kemudian Stella menjerit kaget dan membungkam mulutnya rapat-rapat. Apa yang dia lihat? Ya, sekumpulan mayat yang terbaring pucat di ruang utama. Pelayan yang ikut dengannya sejak tadi itu mendekap Dhafin ke dalam pelukannya agar anak itu tidak melihat apa yang terjadi.
Spontan Stella mendongak ke arah kamar Dina, ia berlari sekuat tenaga dengan ketakutan karena bercak darah di mana-mana, perut mereka ditusuk, dan ada yang tercekekik begitu saja.
Bruk! Karena panik Stella tanpa sadar menabrak vas bunga di depan pintu kamar Dina, dirinya tak langsung masuk begitu saja. Sejujurnya ia juga ketakutan, siapa yang menyangka jika hal ini akan terjadi seperti ini, peristiwa lima tahun lalu kini terjadi lagi.
Tangannya memutar gagang pintu dengan pelahan, saat pintu terbuka dia melihat sesuatu di atas ranjang tidur Dina dan kursi rodanya yang ada disana. Stella menahan ketakutannya, kakinya melangkah menuju kasur itu. Sesuatu tertutupi selimut disana, seolah ada seseorang yang terbaring di dalamnya.
Pikirannya sudah tak karuan, menduga hal yang tidak-tidak. Saat ia tiba di samping ranjang tanganya terulur perlahan untuk menyibak selimut itu. Di dalam benaknya Stella berharap was-was dan berdoa jika pemikirannya itu salah.
Perlahan ia menarik selimut, dan sedetik kemudian Stella membulatkan tekat untuk membukanya.
Selimut itu terbuka, membisu dan kakinya mundur beberapa langkah dengan cepat.
Degh!
"I-ini lagi ...." gumamnya tak menyangka dengan apa yang dia lihat, apa yang terpampang disana? mayat? bukan.
Sebuah dokumen perusahaan yang di ditusuk ke bantal dengan linangan darah, seperti lima tahun silam. Pertanyaannya adalah dimana Dina? dan darah siapa itu? Stella berjalan keluar memanggil para pelayan, tetapi naas hampir semua pelayan mati begitu saja dalam hitungan jam.
"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan ... demi Tuhan, aku tidak tahu harus berbuat apa." Stella berusaha untuk tetap tenang, tangannya gemetar sembari membawa ponselnya. Dia menatap Dhafin yang masih terlelap dalam gendongan pelayan itu. Semua orang yang baru saja tiba tidak Stella izinkan untuk masuk, dua body guard yang tersisa Stella utus untuk membawa Dhafin ke hotel untuk sementara waktu.
"Pergilah, dan tetap tenang seolah tidak ada yang terjadi." Stella menyuruh pelayan dan dua pria itu menuju ke hotel sedangkan dirinya berlari masuk kedalam menuju ruang kerja utama.
"Dimana itu, astaga aku kesulitan bernafas." Dirinya begitu takut, perebutan perusahaan kini menjadi motif utama atas kejadian mengerikan ini. Stella menelan ludahnya dengan susah payah sembari membuka satu persatu laci seolah sedang mencari sesuatu yang begitu penting untuk saat ini.
Dan ia menemukannya di laci paling bawah, apa itu? sebuah kunci, kunci itu begitu kecil seukuran dengan liontin kalung. Ia menggenggam erat kuncinya dan meraih ponselnya untuk menghubungi Arzan.
Belum siap dia menelepon si majikan tiba-tiba notif panggilan dari Arzan terlebih dulu meghubunginya. Tanpa berpikir lama Stella segera mengangkatnya.
"Halo?"
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" sergah Arzan bertanya langsung pada inti pembicaraan.
Stella berusaha menormalkan nafasnya dan memegang pinggiran almari sekuat tenaga, "Ibu menghilang, dan semua pelayan di rumah tak terselamatkan satupun."
Degh! Tidak ada jawaban, Arzan terdiam begitu juga dengan Stella. Mereka berdua tak mampu berkata-kata lagi.
Setelah beberapa detik terdiam Arzan bergeming pelan, "Sudah aku duga sejak tiba disini, dengarkan aku."
Stella membuka matanya dan memasang raut wajah serius mendengarkan perintah Arzan.
"Jangan hubungi polisi terlebih dulu, itu akan mempersulit keadaan. Bawa semua penjaga yang masih ada dan tunggu aku setengah jam lagi."
"Apa maksud bapak?" Stella kebingungan.
"Aku sudah memutuskan pulang sejak dua jam lalu, dan pesawat akan landing sebentar lagi. Dan juga pastikan Dhafin sudah aman," jelas Arzan.
Stella menghela nafas berat, dan mengiyakan perintah Arzan. Kini semua penjaga yang ada telah Stella kerahkan untuk kasus ini sementara tanpa campur tangan polisi.
Di kantor.
"Mau kemana mereka semua?" seorang Soraya yang turun dari ruangannya merasa penasaran melihat banyak penjaga yang berkumpul di luar.
"Mereka sedang mengamankan kediaman ibu Dina, Nyonya."
Degh! Soraya tak percaya dengan apa yang dia dengar, dan sedetik kemudian seorang Dea muncul dari belakangnya dengan raut wajah penasaran. Ya, ternyata Dea disini sejak pagi. Lalu siapa yang merencanakan hal menjijikkan seperti ini.
"Apa yang kau katakan? mengamankan?" seru Dea bertanya-tanya dan menatap ibunya spontan, dari sorot matanya terlihat dia sedang mencurigai sang ibu. Menyadari hal itu Soraya secepatnya menarik sang putri untuk berbicara empat mata.
"Apa ibu yang melakukannya?" tanya Dea.
"Apa kau gi*la? apa aku merencanakan sesuatu selama ini?" jawab Soraya tak menduga jika Dea menaruh curiga kepadanya. Sedetik kemudian ia menatap tajam mata sang putri dan melempar pertanyaan yang sama kepadanya.
"Apa kau yang melakukannya?"
Dea membisu, dan mendengarkan ibunya lagi. "Kau yang merencanakan kecelakaan itu, bisa saja kau yang melakukan ini juga."
"Haha ...." Dea tertawa sumbang dan kembali berkata, "Aku memang merencanakan sesuatu tetapi tidak sebodoh dengan membunuh puluhan orang begitu saja."
Mendengar hal itu mereka berdua sama-sama terdiam, kalut dalam pikiran masing-masing dan tak menyangka jika dibalik kejadian sejauh ini ada orang lain yang lebih berbahaya.
Sekarang pertanyaan semakin membesar, siapa dalang dari permainan ini dan apa motifnya.
Di sebuah ruangan yang sangat gelap dan minim cahaya. Nampak samar-samar seorang wanita terikat disebuah kursi dengan luka lebam di beberapa anggota tubuhnya. Ya, dia adalah Dina yang tidak tahu dimana keberadaannya sekarang, yang ia ingat hanyalah semuanya menjadi kacau dan melihat satu persatu pelayannya mati di depan matanya.
Dina membuka matanya perlahan-lahan, sunyi dan hening. Tidak ada satupun orang yang ia lihat di dalam ruangan itu, perlahan ia menggerakkan tubuhnya tetapi tangannya terikat dan kakinya juga terikat. Matanya memejam perlahan merasakan sakit yang begitu hebat di kepalanya.
Tuk ... tuk ....
Sedetik kemudian suara ketukan yang bergesekan dengan lantai membuat Dina menoleh mencari sumber suara dalam kegelapan itu. Dan setelah itu seseorang datang dengan pakaian serba hitam dilengkapi dengan penutup wajah dan topi, merasa penasaran Dina berusaha melihat siapa orang dibalik penutup kain hitam itu.
"Helo ...." sapa orang itu dengan nada ceria, senyumnya terus mengembang dari balik penutup wajahnya seolah ia bahagia melihat penderitaan wanita yang ia siksa itu.
Dina mendongak, dari suara itu ia tahu jika orang yang membawa tongkat adalah seorang pria. "Siapa kau? lepaskan!" spontan Dina berteriak kesal hingga air matanya ikut mengalir.
Si pria mendekat dan berjongkok dengan raut wajah kasian sembari berkata, "Astaga, apa kau kesakitan? ouwh ... maaf."
"Siapa kau?" lagi-lagi Dina bertanya dengan tatapan tajam dengan sorot mata kesal.
"Hehe, lupakan ... itu tidak penting. Pertanyakan orang seperti apa diriku hingga rela mengotori tangan dengan darah pelayan itu demi membawa mu kesini Nona," jawabnya begitu santai. nada bicaranya terdengar mengesalkan di telinga Dina, pria itu bertindak seolah adalah orang yang lemah lembut.