Suasana rerumputan yang hijau dan sejuk ditambah sepoi-sepoi angin yang menerpa sosok laki-laki yang berjalan di bawah pepohonan rindang dengan buket bunga di tangannya membuat siapa saja mengira jika ia hendak menemui sang kekasih.
Ia berjalan sendiri dengan pakaian rapi, kemeja hitam dan sepatu hitam bersih. Matanya menatap sekeliling dengan raut wajah datar. Laki-laki itu adalah Dhafin, ia bukan pergi menemui kekasihnya tetapi ia sedang menuju makam mendiang ibunya.
Hari ini adalah hari peringatan kematian almarhum Dina, genap sudah 20 tahun ia berpulang dan betapa bahagia ia jika melihat putra nya sudah tumbuh menjadi laki-laki tampan dan berwibawa.
Dhafin berdiri sedikit jauh dari makam ibunya, kakinya berhenti sejenak dan menghela nafas berat, seulas senyum lembut ia ukir tulus di sudut bibirnya dan mendekat ke arah makam ibunya.
Perlahan ia berjongkok di samping batu nisan ibunya sembari meletakkan buket bunga yang ia bawa di bawah batu nisan itu. Ia masih diam tak berkata, tangannya perlahan mengelus nama ibunya yang terukir di batu itu dengan sesak yang begitu, walaupun sudah puluhan tahun ibunya tiada tetapi hari itu tidak bisa Dhafin lupakan begitu saja. Derita ibunya di ambang kematian, derita ayahnya yang berjuang dari pagi hingga malam hari membuatnya membenci dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat banyak hari itu.
Setetes air mata lolos membasahi pipinya tetapi ia masih berusaha tersenyum di depan makam sang ibu. Ibunya yang hanya tinggal nama, hanya kenangan yang bisa ia kenang.
"Ma, apa kabar?" lirihnya mulai berbicara dan menyeka kasar air matanya yang terus mengalir. Bibirnya kelu menahan tangis dan terus berusaha menahan tangisannya.
"Aku sudah kembali, Mama merindukanku?" lanjutnya terpotong. "Papa tidak bisa ikut kemari, Mama tahu? ia masih begitu tampan. Suamimu itu benar-benar masih sama ... ayahku, suamimu. Betapa hebatnya ia berjuang selama ini, sekarang giliranku yang akan mengembalikan semua ketempat semula." Dhafin mulai berbincang seorang diri disana, tanpa ia sadari sejak ia sampai di pemakaman ada satu orang pria misterius yang membuntutinya.
Lima menit berlalu, seorang gadis yang baru saja selesai menemui makam seseorang di belakang sedang berjalan dengan tas bunganya. Matanya melirik ke arah makam ibu dari teman masa kecilnya dan membuatnya berhenti berjalan karena melihat ada seorang pemuda yang duduk di sana.
Dengan segera gadis itu berjalan cepat menghampiri pemuda yang ia lihat itu dengan rasa penasaran.
"Siapa?" tanya si gadis dengan spontan. Mendengar hal itu Dhafin menoleh mendapati seorang wanita yang tidak asing dimatanya. Ia berusaha mengingat-ingat dan ya, dia adalah gadis yang membuat keributan di halte.
"Kenapa?" tak menjawab Dhafin justru berbalik tanya dan sesekali mengusap air mata di sudut matanya.
"Tidak, aku hanya penasaran siapa yang menjenguk ibu ini," jawab si gadis dan melanjutkan bicara. "Dia orang yang sangat baik, ia berjuang hingga akhir hayatnya. Ia sempat menjadi panutan banyak wanita di masa lalu, tapi sekarang semua yang ia miliki telah menjadi milik orang lain."
Dhafin mengerutkan kedua alisnya terkejut sekaligus penasaran siapa wanita yang berbicara seolah tahu banyak tentang ibunya.
"Kau kerabat jauhnya?" lanjutnya kembali bertanya.
Dhafin hendak menjawab tetapi gadis itu menyela lebih dulu, "Ia beruntung karena kau disini, keluarganya sudah pergi jauh sejak 20 tahun lalu."
Karena kesal Dhafin menatapnya dingin dan berkata, "Tahu apa kau?"
"Aku? tidak banyak, yang aku tahu pasti ialah putranya yang begitu menyayanginya dan juga ia anak yang suka mengatur ini itu. Ah, meskipun ia menyebalkan tetapi aku masih ingin bertemu ... sungguh membuang waktu memikirkannya." Gadis itu mulai mengutarakan pikirannya tanpa sadar jika yang ia bicarakan itu sedang berdiri di depannya.
Mendengar penuturannya Dhafin segera menyahut dengan nada bicara kesal. "Kata siapa?"
"Kataku, ia bahkan memanggilku Tarzan karena aku suka memanjat," jawabnya.
Dhafin terdiam mendengar ucapan si gadis, dipikirannya terlintas satu orang yang masih ia ingat jelas hingga saat ini. Anak kecil yang ia panggil tarzan hanya ada satu, yaitu Ara. Lalu, apakah gadis yang menurutnya suka mencari keributan itu adalah Ara? sabahat masa kecilnya?
"Tarzan?"
"Why?" jawab gadis itu spontan dan langsung menyeletuk kesal. "Kenapa kau memanggilku seperti itu? tidak boleh! kau tidak tahu apapun." lanjutnya seraya berjalan meninggalkan Dhafin.
Beberapa langkah saat gadis itu menjauh, Dhafin tiba-tiba memanggil seorang nama dan membuat gadis itu berhenti seketika.
"Ara!?"
Degh! Ya, dia adalah Ara. Gadis lugu yang tumbuh besar dengan tampilan yang tidak anggun, bahkan bisa dikatakan mirip seperti laki-laki baik dalam penampilan atau cara bersikapnya.
Ara menoleh spontan, bola matanya membulat sempurna melihat pemuda berjas hitam itu menyebut namanya. Entah kenapa saat ia mendengarkan panggilan itu hatinya menghangat, harapan bertahun-tahun ia menanti sahabatnya kembali seolah kini telah tiba.
"Ara, kau tidak mengingatku?" tanya Dhafin dengan senyum mengembang menatap wajah polos Ara yang tak banyak berubah itu.
Di taman pepohonan rindang tidak jauh dari pemakaman.
Dhafin dan Ara berjalan bersandingan, tinggi mereka tidak jauh berbeda. Setelah mereka mengtahui identitas satu sama lain tidak behenti terkekeh lucu, mungkin mereka tidak menyangka akan dipertemukan seperti ini setelah sekian lama menahan rindu untuk saling bertukar sapa kembali.
"Kapan kau kembali?" tanya Ara singkat.
"Belum lama, tiga hari lalu."
"Kau tidak menemuiku? kau mau mati?" Mendengar jawaban Dhafin, Ara spontan mengucap kata yang terdengar kasar begitu saja. Dhafin terkekeh lucu mendengarnya, gadis yang suka menangis dulunya sekarang begitu hebat jika mengancam.
"Kau banyak berubah ternyata, hahaha ...." ujar Dhafin terkekeh geli dan merangkulkan lengannya di bahu sahabatnya itu dengan sedikit kencang hingga hampir tersungkur ke tanah. Spontan Ara kesal dan mereka saling kejar-kejaran dengan tawa yang tak kunjung reda, tingkah mereka sama seperti dulu walaupun setelah sekian lama tak berjumpa.
Sore tiba, di sebuah toko kue kacang.
Mobil Dhafin tengah berhenti di depan toko kue dan ia turun bersama Ara. Kali ini ia mengajak sahabatnya itu mencicipi kue kacang yang selalu menjadi tempat tinggal mereka ketika lapar ataupun ketika habis bertengkar.
"Wah, toko itu tidak banyak berubah. Masih sama?" lirih Dhafin menatap takjub toko kue yang masih sederhana seperti dulu waktu ia kecil.
"Ayo, kita cicipi apa rasanya masih sama," sahut Ara antusias dan berjalan masuk.
Mereka berdua berdiri di depan kasir untuk memesan kue, Dhafin masih terus memperhatikan sekeliling bagian dalam toko itu dan tidak sadar jika Ara sudah bertanya sejak tadi kue apa yang ia ingin pesan.
"Pesan apa?" tanya gadis itu sembari duduk di kursi kayu dengan kaki kanannya yang ditumpangkan di atas kaki kirinya. Dhafin terkejut melihatnya, Ara benar-benar seperti seorang pria bahkan di tempat umum seperti ini.
Merasa canggung ia sedikit menendang betis Ara dan menyuruhnya untuk duduk dengan sopan, melihat respon sahabatnya itu membuat Ara terkekeh lucu dan menurunkan kakinya. "Lihat dia, orang kaya yang sangat memperhatikan martabatnya," ujar Ara sedikit menggoda Dhafin di depan petugas kasir dimana ternyata itu adalah teman Ara juga.
"Ck, apa yang kau katakan? melantur saja!" gumam Dhafin kesal seraya melihat menu.
Ara terkekeh pelan melirik temannya itu dan bangkit berdiri. "Dia bocah yang aku ceritakan itu," ujar Ara tiba-tiba kepada temannya dan membuat Dhafin menatapnya bertanya-tanya.
"A- aku?" tanyanya aneh sembari menunjuk ke arah dirinya sendiri.
Ara mengangguk dan membuat Dhafin kesal, "Lihatlah kau- Ah, kenapa kau menjadi begitu menyebalkan?" Dhafin merasa geram dengan Ara.
"Tentu, aku memang cantik sejak dulu." Mereka semua tertawa kecuali Dhafin yang hanya terkekeh lucu melihatnya. Ara sengaja mengubah perkataan Dhafin yang menyebut dirinya menyebalkan menjadi kata cantik.
Hari ini mereka dipertemukan secara tiba-tiba dan tanpa terduga.