Malam tiba, disebuah mansion bertema hitam dan putih nampak tenang tak ada keributan. Disinilah Dhafin tinggal, kembalinya ia ke negara asalnya adalah untuk membalaskan dendam dan menguak rahasia dibalik kematian ibunya yang tidak ada yang tahu siapa pelaku dibalik ini semua. Rumahnya dahulu menjadi bangunan kosong yang masih ditahan oleh hukum karena kasus dulunya yang begitu rumit dan menghancurkan semua milik keluarganya.
Di dalam kamar.
Segelas air putih berhasil diteguk oleh pria yang mengenakan piyama biru tua polos, di tangannya nampak sedang memainkan ponselnya sembari berdiri di depan lemari es. Dhafin tinggal di mansion ini sendiri dan beberapa pengawal yang bekerja sehari penuh secara berjadwal.
Saat kakinya melangkah menuj sofa di depan televisi ponselnya bergetar dengan notif dari nomor tidak dikenal.
Berhentilah untuk ikut campur dan dengarkan aku mulai sekarang.
Dhafin diam menatap layar ponselnya itu, tangannya menggenggam erat dan tersenyum palsu kemudian mengabaikan pesan itu dan menghubungi seseorang.
"Ganti semua jadwalku dan kirimkan ulang," ucapnya menyuruh seseorang untuk mengubah semua jadwalnya, ia mengerti jika jadwal aktivitasnya sudah bocor.
"Bersiaplah untuk mulai bekerja besok," lanjutnya kemudian menutup panggilan itu begitu saja.
Ia membaringkan tubuhnya di atas sofa dan menaruh kedua tangannya di atas perut sembari menatap langit-langit kamarnya dan menghela nafas panjang.
Pikirannya sedang bekerja keras saat ini, banyak pertanyaan dan kekesalan di dalam kepalanya itu yang siap meledak kapan saja tetapi masih ia tahan.
"Beraninya dia berbicara seperti itu kepadaku, dasar samp*ah!" gerutunya dan sesekali memaki orang misterius itu, sedetik kemudian ia merubah posisi tidurnya menjadi miring ke kanan.
"Apa dia yang mengirim pesan itu sendiri?" Dhafin mulai bertanya-tanya apakah si pelaku itu mengirimkan pesan itu secara langsung. Merasa penasaran ia segera bangkit dari tidurnya dan menghubungi seseorang kembali.
Panggilann terhubung ....
"Why?" suara seorang pria nampak kesal dari seberang sana mulai terdengar.
"Kau ada mau? aku sibuk-" lanjutnya hendak mengakhiri panggilan tetapi segera dicegah oleh Dhafin dengan sekali bicara.
"Ambil mobilku."
Mendengar hal tersebut orang yang Dhafin hubungi seketika mengurungkan niatnya untuk menutup panggilan dan mulai berbicara dengan lembut. Ya, sangat jelas jika orang itu memang tertarik karena penawaran Dhafin, padahal mereka berdua adalah teman dekat. Terkadang juga teman dekat bisa seperti begal jika menginginkan sesuatu, tetapi temannya juga tidak terlalu mempermasalahkan karena hubungan mereka lebih penting dibanding apa yang menjadi taruhannya.
"Why? ... kau butuh sesuatu? katakan," jawab orang yang bernama Arjun itu dan membuat Dhafin memutar bola matanya jengah dan segera menjawab.
"Lacak nomor ponsel untukku, kirimkan padaku malam ini."
"Kau gi*la? kau kira tengah malam begini aku tidak butuh tidur?" Arjun merasa kesal karena temannya itu selalu meminta bantuan semaunya sendiri.
"Kirimkan dalam maksimal 1 jam." Tuutt ... panggilan terputus. Di seberang saja dapat dipastikan jika Arjun pasti sedang mem*aki nama Dhafin karena kesal tetapi ia juga tidak bisa menolak.
Dhafin membaringkan tubuhnya ke tempat tidur dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Ia memejamkan matanya selama 15 menit, bibirnya tiba-tiba berhitung dengan perlahan. "Satu"
"Dua ...."
"Lima-" Tepat saat hitungan kelima ponselnya bergetar pertanda panggilan masuk dari Arjun. Dhafin terkekeh karena sudah begitu hafal dengan temannya, ia segera duduk dan mengangkat panggilan.
"Tidak ada," Arjun mengatakannya dengan mudah dan membuat Dhafin memalingkan wajah bingung.
Sebelum Dhafin bertanya, Arjun kembali berkata. "Nomor itu tidak terdaftar karena pengguna mengunakan ponsel clone."
Dhafin terkekeh pelan dan berjalan mendekati jendela kamarnya, ia menjawab. "Bersiaplah, mulai besok kau benar-benar akan sibuk."
Arjun tersenyum masam disana, firasatnya mengatakan jika mulai besok dia akan bekerja seperti jaman penjajahan belanda.
"Apa kau di Amerika masuk kelompok mafia?" tanya Arjun kesal dan melanjutkan bicara, "Kau sudah seperti Don mafia, mungkin saja besok kau akan mencekikku dan menggantung tubuhku di tiang listrik hanya karena tidak menuruti perintah konyolmu itu."
"Aku? kapan aku memerintahmu?" tanya Dhafin membuat temannya itu naik darah dan begitu kesal.
"Tidak pernah, sejak kau di dalam perut manusia pun kau sudah seperti preman yang terus merampas makanan ibumu." Celetuk Arjun tak habis pikir dengan Dhafin.
"Tutup mulutmu dan berikan mobilmu padaku," lanjut Arjun meminta janji Dhafin.
"Kenapa harus aku berikan?" Dhafin justru bertanya seolah-olah tidak mengetahui apapun.
"A-apa? kau waras?" sahut Arjun begitu kesal. "Sejak kapan kau mengingkari janji kepada temanmu ini, ha?"
"Teman? janji? kapan aku mengatakannya? ... aku menyuruhmu melacak nomor telepon tetapi tidak ada jawaban, artinya kesepakatan juga hangus," jawab Dhafin dengan entengnya.
"Kesepakatan macam apa ini!? Ya! k- kau selalu membodohiku! membuang tenagaku sia-sia sampai lapar!"
Tuutt ... panggilan terputus. Dhafin menatap layar handphone nya bingung dan kemudian terkekeh lucu karena menjahili temannya itu. Ia menoleh menatap jarum jam yang masih menunjukkan pukul 11 malam.
Ia beranjak dari tempatnya berdiri menuju telepon rumah dan berkata, "Kirimkan makan malam ke rumah Arjun," ujarnya memberikan perintah kepada pengawalnya yang berada di luar sana. Dhafin tidaklah sekejam itu, walaupun ia sedikit membohongi Arjun mengenai mobilnya. Dhafin sendiri juga tidak sepenuhnya rela jika mobil barunya yang baru lima hari ia beli harus diberikan kepada Arjun.
Malam semakin larut, kini jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Kamar sosok Dhafin begitu gelap karena sang pemilik sudah tertidur dengan lelapnya.
Saat ia sibuk berlayar ke dunia mimpinya tiba-tiba ponselnya berdering lagi di dini hari seperti ini. Merasa terusik iapun mengerjapkan matanya sembari meraba-raba ponselnya di atas laci dan menjawab panggilan teleponnya.
"Serahkan semuanya padaku termasuk file utama perusahaan INAbron itu dan turuti semua perintahku mulai sekarang, jika tidak maka kau akan melihat kejutan mulai besok." Suara seorang pria yang terdengar menggema dan berat membuat Dhafin menahan kesal dengan mata yang masih tertutup karena kantuk.
Dhafin yang diam mendengarkan kini mengerti jika orang yang terus menerus menerornya adalah orang yang gila harta. Dhafin tidak tahu apakah pria yang menerornya itu adalah orang yang sama dibalik insiden 20 tahun yang lalu.
Dalam hatinya ia merasa begitu muak dan ingin menghajar pria itu dengan tangannya sendiri. Perusahaan yang dibesarkan oleh ayahnya sendiri dan sudah melejit internasional bahkan ia minta dengan mudahnya seperti meminta sumbangan saja.
"Tutup mulutmu!! apa kau kelelawar? jam berapa ini berengs*ek! kau mengusik tidurku saja!" ujar Dhafin penuh penekanan dan menutup ponselnya kemudian memejamkan matanya kembali.
Apa iya melanjutkan tidurnya? tidak. Sedetik kemudian dia membuka mata dan melontarkan semua kemarahannya.
"Kau benar-benar kurang pekerjaan! tidak bisakah kau lihat jam berapa ini!? bod*oh!" ia terus memaki kepada orang itu karena menghubunginya di jam 3 dini hari seperti ini hingga tidurnya terusik.
Mulai malam ini, hari ke 4 dia kembali ke negara asalnya dan mulai diteror terus menerus. Bahkan untuk tidur saja ia merasa begitu tidak nyaman.