Pagi yang cerah, dedaunan hijau dan udara segar menjadi suatu kenikmatan yang jarang disadari oleh banyak orang. Pagi adalah waktu dimana mayoritas masyarakat memulai harinya, dari yang bersekolah, bekerja, berolahraga hingga aktivitas lainnya.
Jaman sudah semakin maju dan berkembang pesat, media sosial juga tak kalah berkemajuan. Dimana sekarang apapun bisa diketahui melalui medsos, mulai dari hal positif bahkan negatif sekalipun, tak sedikit orang yang memanfaatkan medsos sebagai sarana menyambung hidup seperti bekerja, dan juga tak sedikit khalayak yang kurang bijak dalam mengelolanya. Dampak negatif yang terpicu salah satunya adalah penyebaran berita palsu, dimana khalayak selalu mudah menyimpulkan atau percaya tanpa mencari kebenarannya dulu.
Di dalam sebuah gedung perusahaan yang berkembang dalam bidang game, dimana mereka mengelola sebuah permainan melalui media elektronik dan hasil karya mereka sudah begitu terkenal di manca negara. Mereka memiliki visi misi dimana mereka menciptakan game yang bisa dimainkan dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa.
Seorang pemuda yang turun dari mobil dengan pakaian rapi menjadi sorotan para karyawan yang memulai aktivitasnya. Ia adalah CEO peruhaan J'Shoft yang bernama Dhafin Nickley. Ia tersenyum ramah menyapa para pekerjanya yang bergantian memberikan salam sapa kepadanya. Ia berjalan memasuki lift bersama dua asistennya untuk menuju ruang kerjanya.
Dhafin masuk ke dalam ruangan dengan sebuah pintu yang bertuliskan President.
"Aku membutuhkan pengawal pribadi," ujarnya sembari melepas jas kerjanya dan disampirkan di kursi.
Seorang pria berbadan besar itu mendongak mendengar ucapan atasannya, ia berstatus sebagai sekretaris pribadi.
"Baik pak, akan saya kirimkan datanya." Ia mematuhi dan segera pergi melaksanakan tugas.
Lima jam kemudian. Terlihat sosok Arjun berjalan menuju ruang Dhafin sembari tersenyum dan mengedipkan matanya kepada para karyawati disana. Arjun dijulik playboy sejak duduk di bangku SMA, ia pernah menjalin hubungan dengan 16 wanita dalam satu bulan dan berakhir kandas tanpa satupun yang tersisa.
Pintu terbuka, ia menatap temannya sedang fokus dengan layar komputer di depannya. Arjun mengerucutkan bibirnya masam dan menghampiri Dhafin.
"Kau tidak lelah bekerja?" tanyanya.
Dhafin menjawab tanpa berniat untuk menoleh, "Apa kau tidak lelah menggangguku?"
"Ayolah, santai sejenak dengan kehidupanmu itu. Jangan terlalu serius untuk masa mudamu."
Dhafin berhenti membuka berkas dokumen dan menoleh ke arah temannya itu. "Ada apa?"
"Hanya bermain," jawab Arjun singkat sembari membuka-buka buku di rak sebelahnya.
"Semembosankan itukah lu hidup?" tanya Dhafin menyindir.
"A-apa? bosan? yang ada lu sendiri tuh, siang malam fokus kerja doang gimana mau punya istri!?" sahut Arjun kesal.
Dhafin mendongak merasa tersindir dengan ucapan temannya itu, sedetik kemudian ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sofa. "Istri aja lu pikir."
Arjun berlari menuju Dhafin dan mengoceh di belakangnya, "Ya, menurut riset mayoritas pria yang sudah beristri akan lebih mudah menemukan kebahagiaan. Makan ada yang masakin, cape ada yang mijetin, baju ada yang nyuciin. Kurang enak apa coba?"
"Itu babu bukan istri!" celetuk Dhafin kesal mendengar perkataan Arjun.
Arjun terdiam, dan ikut duduk di pinggiran sofa dengan kaki di angkat ke atas seolah itu adalah rumahnya sendiri. Dhafin mengrenyitkan dahi melihat tingkah temannya itu.
"Turunin kaki lu! bau jengkol sofa gue kalau begitu!"
Arjun menoleh sinis, "Jengkol palalu tuh! dikata jengkol, nih makan jengkol!" sahutnya kesal sembari menghentak-hentakkan kakinya yang dibalut kaus kaki hitam itu ke sofa yang ia duduki. Dhafin memutar bola mata jengah melihat tingkah temannya itu.
"Lu ada rapat?" tanya Arjun dan dijawab gelengan kepala oleh Dhafin.
"Sip! ikut gua sekarang," lanjutnya sembari memakai sepatunya kembali dan membuat Dhafin menatapnya bingung.
"Males," jawabnya singkat. Arjun melemparnya dengan pulpen sembari berkata, "Muka lu lebih malesin dipandang!"
Di tempat parkir.
Arjun dan Dhafin berjalan bersandingan, Dhafin hanya menurut saja tanpa mau membuka suara panjang lebar.
Saat mereka tiba di depan mobil hitam milik Dhafin, sang pemilik melemparkan kunci mobilnya ke Arjun.
"Why?" tanya Arjun kebingungan.
"Nyalakan mobilnya, gue ga tau apa ada bom yang bisa aja meledak kapan saja," jawab Dhafin sembari berjalan mundur menjahui Arjun.
Arjun menatapnya dengan raut wajah tak percaya, ia sama sekali tidak mengerti cara berpikri temannya itu. "Lu pikir gua ga mati kalau bomnya meledak?"
"Ya kalau lu gapapa, kalau gua ya jangan."
"Set*an tau ga lu Dhaf!" maki Arjun kesal sembari membuka pintu mobil dengan kasar. Ia duduk di kursi dan sesekali melirik Dhafin yang diam-diam terkekeh melihatnya. Mobil menyala dan tidak terjadi apa-apa, sedetik kemudian Arjun menatap sinis Dhafin dan mereka pergi menuju sebuah kafe.
Satu jam kemudian.
"Lu laper?" tanya Dhafin tak habis pikir jika mereka berhenti di sebuah kafe. Ia tidak menyangka jika Arjun hanya membuatnya membuang waktu seperti ini.
"Udah masuk aja jangan banyak omong."
Mereka berdua masuk ke dalam dan Dhafin duduk di kursi paling pojok sembari menatap Arjun yang sedang memesan menu. "Kenapa harus gue ikut tadi," gerutunya kesal menuruti temannya yang begitu santai dalam menikmati hidup.
Padahal faktanya Arjun bukanlah seorang pengangguran, ia memiliki banyak pekerjaan dengan perusahaannya tetapi ia selalu berkata 'Aku pemiliknya jadi suka-sukaku bekerja kapan saja' tapi bukan berarti ia tidak tanggung jawab.
15 menit kemudian. Seorang wanita dengan pakaian feminim berjalan menghampiri kursi mereka berdua. Dhafin hanya membuang muka tanpa mau mempedulikan, ia sudah paham dengan kelakuan temannya itu.
"Kalian menunggu lama?" tanya si wanita itu seraya berdiri di samping Arjun.
Arjun menoleh dan menjawab, "Tidak." Tetapi ternyata Dhafin justru menjawab "Iya"
Arjun membelalakkan matanya mendengar jawaban Dhafin, si wanita itu memasang raut wajah canggung dan akhirnya Arjun persilahkan untuk duduk. Jadi siapa wanita ini sebenarnya dan apa tujuannya kemari.
Dhafin sesekali melirik wanita itu yang terus merapikan rambutnya dan Arjun justru memperhatikan mereka berdua hingga akhirnya Dhafin sudah paham apa tujuan dan maksud temannya itu. Pasti dia sedang mencarikan pasangan untuk si wanita, dan sialnya Dhafin yang menjadi sasaran.
"Ah, perkenalkan dia Dhafin," Arjun membuka suara.
Wanita itu menoleh dan mengulurkan tangannya untuk berjabat sembari berkata, "Lyna ...."
Tetapi uluran tangannya itu diabaikan oleh Dhafin, "Sudah diberitahu nama saya."
Wanita bernama Lyna itu menatap kesal wajah Dhafin yang begitu dingin dan menarik kembali uluran tangannya. Arjun hanya tersenyum canggung melihat interaksi mereka berdua dan membatin, "Hadeh ini manusia memang bego."
"Haha ... lu berdua kelihatan cocok," sahut Arjun berusaha mencairkan suasana.
Lyna tersenyum manis dan Dhafin meraih gelas kopinya seraya menjawab, "Tidak."
Arjun seketika mendendang tulang kering Dhafin dari bawah meja hingga membuat sang pemilik hampir tersedak saat meneguk kopinya.
"Hahaha ... selera humornya meningkat," ucap Arjun dan Lyna sudah memasang raut wajah kesal sejak tadi.
"Kau sudah punya pacar?" Lyna bertanya kepada Dhafin.
Arjun menatap was-was raut wajah temannya itu dengan harapan ia menjawab tidak dan stategi perjodohannya berjalan lancar.
"Sudah," jawab Dhafin.
Jleb! Arjun menganga tak percaya, Lyna tiba-tiba berdiri dan pergi begitu saja. Dhafin tak peduli dan terus menikmati secangkir kopinya.
"Sejak kapan?" tanya Arjun begitu percaya.
"Berhenti jadi jomblang atau lu yang gua jodohin sama janda!" ujar Dhafin menjawab dan pergi menuju kasir untuk membayar.
Arjun mengatupkan bibirnya muram mendengar jawaban Dhafin. "Ck, begonya gua percaya. Mana ada cewe mau sama batu kek dia."