Dhafin kembali dari kamar mandi dengan raut wajah bertanya-tanya apa yang sedang terjadi saat ini hingga membuat banyak orang berlarian tergesa-gesa.
Ia melihat Ara yang duduk memelas di kursi tunggu, segera pria itu berjalan menghampiri temannya.
"Ada apa?"
Ara mendongak dengan mata berkaca-kaca. Dhafin melihatnya merasa tak tega.
"Dia diculik saat aku berada disini. Maaf, ini salahku."
Dhafin menatap sekelilingnya, bahkan di situasi seperti ini tidak ada yang menenangkan seorang gadis yang merasa bersalah, justru mereka sibuk dengan keperluan masing-masing.
"Tidak apa, ini bukan salahmu." Dengan perlahan ia menepuk bahu Ara sedikit canggung.
"Berapa lama dia pergi dari sini?" tanya Dhafin mempertanyakan si penculik itu.
"Belum lama, masih lima menit yang lalu."
Pria itu melihat