"Lu udah enakan?" Neta berujar saat dia dan Ara tengah berjalan melewati gang menuju rumah kontrakannya.
Mereka berdua terlihat tengah menikmati sosis instan berikut jumbo dan masih mengenakan pakaian ke pemakaman tadi, padahal hari sudah larut tapi mereka baru saja hendak pulang.
Lampu jalanan menyala redup, jalanan nampak sepi dan tenang diterpa sepoi-sepoi angin malam.
Gadis berambut panjang yang selalu di ikat itu menjawab. "Aku baik-baik saja."
Neta berdecak kesal, "Lalu kenapa orang itu memarahi mu seenak jidatnya begitu? apa hak dia? dasar pria aneh."
Sekarang Neta membicarakan Dhafin yang membuat sahabatnya menangis sesenggukan tadi sore.
"Biarkan saja, aku tidak mau memikirkannya lebih lanjut," sahutnya tak mau membicarakan atasannya itu.
Dan mereka akhirnya diam dan berjal