“Kamu sudah bisa melepaskan tanganmu.” Suara Rigel terdengar tegas ketika mengingatkan Bee, jika drama mereka tak perlu lagi diteruskan. Keduanya sudah ada di luar gedung, dan itu artinya mereka tak perlu lagi berakting untuk melanjutkan kepura-puraan. Dan meskipun berat, tapi Bee tetap melakukan perintah Rigel. Mengurai rangkulan tangannya di lengan Rigel, dan menatap lelaki tampan yang sudah dicintainya sejak lama tersebut penuh kekaguman.
Untuk sesaat, mereka tak berbicara dan keheningan menguasai. Bee bahkan tak mengalihkan tatapannya dari Rigel karena baginya, pusat dunianya sudah ada di depannya.
“Bagaimana bisa kamu ada di sini?” Akhirnya, keheningan itu terpecahkan oleh pertanyaan Rigel. Ada sebuah lirikan yang diberikan oleh Rigel kepada gadis itu.
“Aku datang sama temenku.”