“Mau hangout?” Satu chat yang diterima di ponsel Embun membuat perempuan itu sedikit berpikir jika dia akan menyetujuinya. Segala macam pekerjaan masih menumpuk di atas meja kerjanya, dan tak bisa ditinggalkan begitu saja. Tapi, dia juga perlu untuk sekedar bertemu dengan kedua temannya meskipun hanya sekedar mengobrolkan hal yang tidak penting.
Meskipun masalah yang sekarang sedang dihadapinya tak mungkin diungkapkan kepada mereka, tapi setidaknya dengan pertemuan itu dia bisa melakukan hal yang mampu membuat moodnya sedikit membaik. Lagipula, sudah agak lama Embun tak melakukan pertemuan dengan sahabatnya. Dan jika dihitung, mungkin hampir dua bulan ini dia sudah tidak bertemu dengan mereka. Ya, tentu saja bertepatan dengan dirinya yang sudah menjabat sebagai seorang istri dari pengusaha hebat, Langit Antariksa.
Embun menimbang haruskah dia menyetujui ajakan kedua temannya, atau dia akan tetap berada di kantor sepanjang hari dan menyelesaikan segala macam jenis tumpukan dokumen di atas meja kerjanya. Sedangkan posisinya sekarang, isi kepalanya begitu rumit karena banyak hal yang perlu dipikirkan. Apalagi setelah kedatangan Riana di ruangannya dan memberikan bukti perselingkuhan kakak iparnya tersebut, membuat Embun merasa harus benar-benar bisa ‘menekan’ adiknya itu agar segala masalah internal rumah tangganya tak diketahui oleh orang lain.
Mengamati dengan serius layar ponselnya yang sudah dalam keadaan mati, Embun lantas segera menyalakan kembali dan membalas chat tersebut.
“Ya, aku akan datang. Tapi agak telat.” Katanya. Lebih baik begini. Ketika sekarang dia memiliki beban yang besar tentang rumah tangganya, belum tentu Langit melakukan hal yang sama. Lelaki itu jelas selalu bahagia dengan didampingi oleh wanita-wanita cantik yang ada disekitarnya.
Pukul dua siang, Embun baru sampai di sebuah restoran tempat janji temu dengan kedua temannya. Restoran itu cukup nyaman untuk dijadikan tempat santai maupun untuk acara formal. Perempuan yang memiliki rambut sepundak itu terlihat begitu anggun dengan pakaian kerja dan sepatu berhak tingginya. Berjalan dengan tenang dan pasti, dan jangan lupakan wajahnya yang terlihat menawan.
“Embun! Di sini!” Teriakan Mela -- salah satu sahabat Embun, membuat perempuan itu tersenyum dan langsung mendekati teman-temannya yang sudah duduk dengan tenang dengan minuman di atas meja. Beberapa orang yang mengenali siapa Embun, berbisik-bisik entah mengatakan apa. Embun yang merasa diperhatikan hanya mencoba untuk tak peduli.
‘Keberuntungan’ yang beberapa kali dibahas dalam sebuah forum online tentang pernikahan dirinya dengan Langit, membuatnya merasa harus bertindak hati-hati. Lagipula dia juga bukan perempuan yang akan bertindak bar-bar. Embun adalah perempuan yang tenang namun, tentu saja ketenangannya bisa menjadi bencana jika ada yang mengusik hidupnya dengan keterlaluan.
“DUh… Duh, Nyonya Langit ini, nikah udah dua bulan, diajak ketemuan aja susahnya minta ampun. Kenapa? Nggak diizinkan sama Mas Langit ya?” Erina mulai berbicara setelah Embun duduk dengan tenang di kursinya. Tak menjawab pertanyaan sahabatnya lebih dulu, dia memilih melambaikan tangannya kepada pelayan untuk memesan makan siang. Setelah sudah siap dengan itu, barulah dia membuka suara.
“Gue sibuk banget akhir-akhir ini. Kerjaan banyak sekali dan akan OTW menumpuk.” Katanya dengan santai, “apa ada sesuatu yang menghebohkan?”
Mela menggeleng. “Misalnya si Erina sebar undangan pernikahan gitu kan maksud lo?” Erina adalah satu-satunya dari mereka yang masih betah hidup menjomblo. Beberapa bulan yang lalu sempat menjalin hubungan dengan seorang lelaki abdi negara, tapi pada akhirnya ketidak cocokan itu membuat hubungannya putus di tengah jalan.
“Ya, bisa jadi.” Embun mengangguk dengan yakin dengan senyum menggoda. Namun setelah Erina terlihat cemberut, suara cekikikan itu terdengar dari Embun dan juga Mela. Inilah yang membuat Embun menyukai pertemuan antara dirinya dan juga kedua sahabatnya. Pembahasan yang terkadang absurd justru membuat dirinya menjadi merasa beban di dalam hatinya sedikit terangkat.
Obrolan-obrolan tak banyak, karena waktu yang mereka miliki juga tak begitu panjang. Namun, rasa rindu berkumpul sudah terlewati. Pekerjaan sudah menunggu, dan tak seharusnya mengambil waktu lama hanya untuk bersenang-senang.
Ketiganya keluar dari restoran menuju parkiran. Tawa mereka masih terdengar karena lelucon yang dilontarkan oleh salah satunya.
“Gimana menjadi seorang istri? Apa lo bahagia?” pertanyaan itu terlontar dari Erina. Dan jelas ditujukan kepada Embun, karena dari mereka bertiga baru Embun lah yang sudah bersuami. Senyum lebar itu menutupi segala hal buruk yang dirasakan oleh hatinya selama ini.
“Gue? Menurut lo, kenapa gue harus nggak bahagia? Langit Antariksa. Gue rasa gue nggak perlu lagi mendeskripsikan dia seperti apa.” Sorakan ‘huuu’ oleh kedua sahabatnya itu membuat Embun benar-benar tersenyum lebih lebar lagi dari biasanya. Mengatakan kepada kedua sahabatnya jika dia memang benar-benar bahagia. Meskipun dia bisa merasakan bagaimana rasanya ‘tusukan’ rasa sakit yang dirasakan yang penting aktingnya bisa terlihat sangat nyata.
Mereka berpisah setelahnya dan melanjutkan dengan kegiatan mereka kembali. Embun, langsung pergi ke kantornya dan akan menyelesaikan tugasnya yang sudah menunggu. Berjalan dengan pasti seperti biasa menuju ruangannya, tapi dia melihat Iyana seperti gugup ketika melihatnya.
“Kenapa?” begitu tanyanya.
“Di dalam ada Pak Langit, Bu.” Embun tak paham apa yang sedang lelaki itu lakukan di tempat ini, tapi dia hanya mengangguk dan berlalu dari tempat Iyana. Dan setelah dia masuk ke dalam sana, Langit yang sedang berdiri di depan dinding kaca sambil melihat ke arah luar. Embun mendekat ke mejanya dan meletakkan tasnya.
Langit berbalik dan melihat istrinya dengan wajah yang datar. Melihat di atas meja sudah ada minuman, maka Embun tak lagi menawarkan sesuatu untuk lelaki itu.
“Ada apa?” Tak perlu basa-basi jika sudah berhadapan dengan Langit. Embun berdiri di samping kursinya, dan menatap suaminya dengan wajah datar juga seperti yang dilakukan oleh Langit.
“Besok malam tepat pukul tujuh, kita harus menghadiri pesta salah satu partner kerjaku. Siapkan dirimu!”
“Ada lagi?” Embun tak perlu bertanya ini dan itu hanya untuk memastikan. Yang harus dipersiapkan adalah tampilan yang sempurna dan menawan. Hanya itu. Tak ada diskusi apapun tentang apapun kecuali hanya dia harus bersikap layaknya istri yang hebat untuk seorang Langit Antariksa.
“Hanya itu.” Jawaban Langit membuat Embun mengangguk. Perempuan itu lantas menarik kursinya dan kemudian duduk di sana. Seolah tak ada orang lain selain dirinya, dia kembali mengerjakan pekerjaannya dengan mengambil satu per satu dokumen dan mempelajarinya. Langit bahkan tak bergerak dari tempatnya barang seinci pun dan hanya menatap Embun yang sedang bekerja.
Memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana. Jas berwarna Abu melekat di tubuhnya. Dan jika ada yang melihat itu, pastilah mereka akan mengatakan kekagumannya kepada Langit. Hanya saja, Embun tak berniat dan tak berminat untuk melirik apalagi menatap Langit yang sedang memperhatikannya. Jika langit bisa mengabaikannya setiap harinya, maka Embun pun bisa melakukannya.
-----
Langit mengendarai mobilnya dengan santai menuju ke rumahnya. Dia tak peduli jika sore tadi mendapatkan ‘perlakuan’ kurang mengenakkan dari istrinya sendiri di kantor perempuan itu. Langit jelas tak memiliki waktu untuk memikirkan hal tak penting seperti itu. Namun, sebuah perubahan rencana terjadi. Meskipun dia sudah melewati jalanan untuk sampai ke rumah, mobilnya justru berjalan terus dan berhenti di sebuah tempat.
Keluar dari mobil, dia masuk ke dalam kafe dan memesan sepotong cake dan secangkir minuman. Menatap ke sekeliling, dan tempat itu cukup lengang. Duduk di salah satu meja, Langit memainkan ponselnya dengan tenang di sana.
“Lo, oke?” suara seseorang terdengar. Seorang lelaki duduk di depan Langit dengan wajah malas.
“Gue baik-baik aja. Hanya saja, kita lama nggak nongkrong.” Langit yang selalu memasang muka datar itu seolah terlihat benar-benar menjadi orang yang tak memiliki senyum sama sekali. Namun, Langit yang seperti itu memang sudah bukan rahasia lagi.
Namanya, Dio. Dia adalah sahabat sehidup sematinya Langit sejak dulu. Lelaki yang ‘setia’ kepada lelaki itu meskipun terkadang ekspresi Langit benar-benar tak menandakan jika dia membutuhkan seorang teman. Karena kesibukan mereka berdua, menjadi jarang bertemu.
“Bagaimana, Embun? Dia masih betah dengan lo?” Tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul dari bibir Dio dan membuat Langit memperhatikannya untuk sesaat. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Langit saat ini, karena dia benar-benar tak langsung memberikan tanggapan atas pertanyaan sahabatnya.
“Lo serius, nggak mau menghentikan kegilaan lo itu untuk bermain perempuan?” Dio melanjutkan. Jelas, lelaki itu tahu dah paham tentang apa yang terjadi kepada sahabatnya.
“Jadi, bukan hanya satu perempuan?” Suara seorang perempuan terdengar dan dengan tanpa basa-basi, perempuan itu duduk di depan Langit yang itu artinya di samping Dio.
“Raina?”
“Iya, Raina. Aku tahu Abang nggak akan terkejut melihat aku di sini.” Sepertinya, Raina tidak bisa menahan untuk tidak segera bertemu dengan Langit. Raina adalah perempuan yang betul-betul tak sabaran. Dia memang mengatakan untuk tidak mengatakan apapun tentang betapa berantakannya rumah tangga kakaknya bersama dengan Langit kepada siapapun. Tapi, dia tak bisa untuk diam saja tanpa melakukan apapun.
Langit tak bereaksi melihat keberadaan Raina di tempat itu dan menemuinya. Laki-laki itu tentu saja bukan lelaki bodoh yang akan pura-pura tak tahu motif adik iparnya tersebut. Pun, dengan Raina yang merasa sudah tahu jika teman Langit yang duduk di sebelahnya itu sudah mengetahui tentang kelakuan Langit.
“Kamu menginginkan sebuah penjelasan yang seperti apa?” Langsung pada inti. Langit, bahkan tak mencoba untuk bertindak sedikit lebih baik kepada Raina. Atau dia berpikir jika itu tentu saja membuang waktunya?
Tangan Raina mengepal di bawah meja. Matanya tajam menatap kakak iparnya, dan jantungnya bahkan benar-benar berdetak begitu cepat.
“Dulu, aku mempercayai jika Abang sudah benar-benar berubah. Berita di luar sana yang tak pernah menulis tentang keburukan Abang, aku rasa itu adalah kebenaran. Lalu, kalau Abang tidak ingin berbaik hati kepada Kakakku, kenapa tidak memintanya untuk pergi dibandingkan harus menyakitinya sedemikian dalam?” Langit memperhatikan dengan seksama apa yang dikatakan oleh Raina. Tak ada sanggahan atau apapun yang keluar dari bibirnya.
“Bukankah dia perempuan yang baik? Bukankah dia menjalankan perannya menjadi istri juga terpenuhi? Lalu, kenapa Abang melakukan ini?” Raina sepertinya memang tak akan pernah berhenti sampai dia mendengar jawaban langsung dari Langit. Ada desakan di dalam hatinya yang merasakan ngilu. Bagaimana bisa kakaknya mendapatkan perlakuan keji seperti ini?
Raina tersedak oleh nafasnya sendiri. Dia paham bagaimana Langit, dan dia tahu lelaki itu pasti akan memberikan jawaban yang pasti dan itu akan melukai dirinya juga. Namun, Raina tahu sesakit apapun kenyataannya nanti, tapi dia harus tetap mendengarkan. Langit menatap Raina sejak tadi yang berbicara dan setelah melihat Raina berhenti mengeluarkan suaranya, dia akhirnya menarik nafasnya panjang.
“Aku menyetujui pernikahan ini karena orang tuaku mendesak. Aku tidak mencintai dia, dan dia juga seperti itu.”
“Kalau begitu, kenapa Abang tidak menolak dari awal?”
“Kamu berpikir aku tidak melakukannya?” alis kanan Langit terlihat naik dan itu benar-benar mengesalkan bagi Raina. “Tapi mereka tetap mendesakku. Aku tidak bisa melakukan apapun kecuali menikahinya.”
“Jadi, Abang menyalahkan Kakakku dalam hal ini?”
“Aku tidak pernah menyalahkan siapapun, tapi aku tidak menyukai Embun. Aku benar-benar tidak menyukainya.” Entah seberapa besar kebencian yang dimiliki Langit untuk Embun, tapi melihat ekspresi yang diperlihatkan lelaki itu, Raina sepertinya tahu jika kakak iparnya memang benar-benar membenci kakaknya.
Raina kini benar-benar tak bisa berkata apapun kecuali hanya diam. Suasana hatinya begitu buruk sampai semua kata yang ingin dikeluarkan untuk menyumpahi Langit hilang seketika. Langit masih terus memperhatikan adik iparnya itu dengan baik dan menunggu barangkali gadis itu akan mengatakan sesuatu.
“Kamu tidak perlu memikirkan ini terlalu dalam. Karena cepat atau lambat, kami pasti akan berpisah.” Langit memberikan peringatan itu dan kemudian berdiri. “Pulanglah! Ini sudah malam.” Setelah mengatakan itu, Langit pergi dari sana meninggalkan Raina dan juga Dio yang sejak tadi memang hanya diam tanpa mengatakan apapun. Tak ada keinginan untuk Raina mengejar Langit ,karena memang itu tak akan mengubah apapun. Dan percuma.
Yang dia ingat sekarang hanyalah wajah Embun yang tersenyum dan berpura-pura kuat dengan semua ini. Lalu, sekarang apa yang harus dia lakukan? Karena tidak mungkin untuk dirinya mengatakan kenyataan ini kepada kedua orang tuanya.
Sedangkan Langit yang masih berada di perjalanan pulang, sama sekali tak menganggap percakapan yang baru saja terjadi antara dirinya dan juga adik iparnya itu adalah benar-benar terjadi. Langit memang benar-benar lelaki yang bahkan tak peduli dengan apa yang baginya sama sekali tak penting. Bahkan sampai dia di rumah, dia sama sekali tak peduli meskipun Embun tak ada di sana. Hati Langit seolah sudah tertutup.
Masuk ke dalam kamarnya, suasana sunyi menyambut dirinya. Embun benar-benar tak ada di sana. Kakinya berhenti melangkah dan menatap sekeliling. Kedikan pundaknya menandakan jika dia baik-baik saja tanpa adanya Embun di rumah. Dan setelahnya memilih untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Namun, pada saat dirinya keluar kamar mandi, Embun sudah ada di depan meja riasnya. Menatap sejenak sebelum membuka suaranya.
“Jadi, kamu mengatakan kepada adikmu untuk meminta bantuan?” tangannya masih sibuk dengan handuk untuk mengeringkan rambutnya.
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Raina, dia baru saja mendatangiku.” Hanya kalimat seperti itu, tapi Embun sudah mengerti semuanya.
*.*