Sejenak, Embun terdiam dan melakukan pemikiran yang mendalam. Perempuan itu paham betul bagaimana tabiat adiknya yang tidak sabaran. Apalagi ketika ada orang yang mengusik keluarganya. Meskipun Raina tak bisa menyelesaikan masalah tersebut, tentu saja dia akan tetap mencari tahu secara mendetail apa yang sedang terjadi.
“Aku minta maaf kalau Raina menyulitkan kamu tadi.” Tak ada yang bisa dikatakan selain permintaan maaf. Entah bagaimana Raina bertindak, seberapa banyak perkataan tidak sopan yang mungkin dikeluarkan oleh adiknya itu, Embun tetap harus mewakilkan untuk meminta maaf.
“Hubungan kita, hanya kita dan segelintir orang yang tahu bagaimana sulitnya. Aku harap kamu bisa memintanya agar dia tak mengatakan kepada siapapun.”
“Tentu aku tahu itu.” Jawaban Embun sepertinya memuaskan Langit, karena setelahnya lelaki itu berlalu saja dari sana sedangkan Embun sendiri masuk ke dalam kamar mandi. Namun, alih-alih langsung mengguyur tubuhnya dengan air, Embun tercenung dan berpikir apa yang sudah dikatakan oleh Raina kepada Langit. Ada rasa penasaran yang muncul di dalam hatinya.
Tak mungkin untuk dia tetap menghubungi Raina ketika waktu sudah malam seperti ini. Maka, dia harus menunggu sampai besok, untuk menemui adiknya dan meminta sebuah penjelasan.
Ketika keesokan harinya Embun sampai di kantor, hal yang pertama dia lakukan adalah dengan meminta Iyana agar memanggil Raina ke ruangannya. Raina harus bersedia menjelaskan semua hal yang terjadi kepada dirinya tanpa ada satu hal pun yang tertinggal.
Raina masuk ke dalam ruangan kakaknya, dan duduk di depan meja kerja Embun. Menatap Embun dengan lemah lantas tanpa diminta dia mengatakan sesuatu. “Aku tahu ada tujuan dan ada sesuatu yang Kakak ingin dengar dari mulutku.” Embun tak menjawab dan hanya memberikan tatapan datar kepada Raina. Itu sudah menandakan jika tak ada hal yang bisa disembunyikan dari perempuan di depannya itu. Langit, pastilah sudah mengatakan hal buruk kepada Embun.
“Aku nggak sengaja bertemu dengan Langit semalam. Nggak ada niatan untuk menemuinya sebenarnya. Tapi, aku mendengar temannya mengatakan tentang dirinya yang bermain-main dengan wanita lain dan itu membuat aku terpancing emosi.”
“Apa yang kamu katakan sama dia?”
“Aku hanya penasaran dengan pemikiran dia tentang Kakak.”
“Lalu apa jawabannya?” Raina dikejar oleh pertanyaan dan dia harus mampu menjawabnya dengan baik. Jika sudah seperti ini, Embun ada dalam mode yang sangat serius dan memancarkan jiwa kepemimpinannya. Siapa saja, pasti akan merasa sangat tak nyaman jika berhadapan dengan Embun yang seperti ini.
Lalu, tentu saja Raina mengatakan segala hal yang dia katakan semalam kepada kakaknya. Tidak ada yang ditutupi, dan tak ada yang dirahasiakan. Rania mengungkapkan segalanya, dan Embun mendengarkannya dengan seksama. Ekspresinya sama sekali tak berubah sejak awal cerita itu meluncur dari bibir Raina.
Bahkan ketika dia mengatakan jika Langit tak menyukai Embun, Embun sama sekali tak terpengaruh. Raina sepertinya semakin takut dengan apa yang dikatakan oleh Langit semalam. Cepat atau lambat, perpisahan itu pasti akan terjadi. Dan itu akan melukai hati orang tuanya.
Melihat wajah Raina yang terlihat ketakutan, membuat Embun harus mengatakan sesuatu. Atau adiknya itu akan tertekan karena masalahnya. Raina adalah pemikir ulung. Jadi bisa jadi, dia benar-benar akan merasakan beban itu ada di pundaknya.
“Raina!” panggil Embun dengan lembut, “haruskah kamu memikirkan ini begitu keras?” Raina menatap kakaknya dalam diam, dan tak lagi bersuara. Maka Embun melanjutkan.
“Kakak sudah pernah bilang ke kamu, jika ini adalah masalah Kakak yang artinya tidak perlu kamu ikut campur di dalamnya. Kakak tahu kalau kamu peduli dengan Kakak, tapi dengan kamu melakukan seperti semalam, itu akan membuat Kakak tidak memiliki harga diri di depan Langit. Dia pasti akan menganggap jika Kakak ini pengadu padahal tidak. Jadi, tolong agar kamu nggak perlu lagi melakukan ini untuk kedua kalinya. Kamu lebih baik fokus saja pada pekerjaan kamu, kehidupan pribadi kamu, karena itu akan lebih baik.” Ucapan panjang Embun menjadikan Raina hanya bisa membungkam mulutnya dengan dalam.
Raina memainkan jari-jarinya dengan gugup. Dia tak ingin menyetujui begitu saja apa yang dikatakan oleh kakaknya, tapi dia juga tak menginginkan Langit menganggap kakaknya lemah. Bimbang, itulah yang dirasakan Raina sekarang. Pernikahan pertama, diharapkan kebahagiaan, tapi nyatanya menjadi sebuah petaka dan tidak membahagiakan sama sekali. Sangat sulit memang, namun mau bagaimana lagi. Inilah kehidupan yang harus dilalui kakaknya.
Jika Raina berpikiran seperti itu, maka pasti beban di dalam otaknya tak akan terlalu penuh.
“Baiklah!” pada akhirnya Raina menyetujui. “Meskipun aku merasa tak terima dengan segala perlakuan Langit kepada Kakak, tapi aku akan benar-benar mendengarkan ucapan kakak kali ini.” Janjinya. Mendengar itu, Embun mengangguk dengan sebuah senyum.
“Terima kasih karena kamu sudah menyetujuinya. Biarkan ini benar-benar Kakak yang menanganinya. Kakak tahu apa yang harus kakak lakukan dan bagaimana menghadapi orang seperti Langit.” Ketika pada akhirnya Raina mengangguk, maka obrolan itu akan cukup sampai di sana. Raina kembali ke ruangannya, dan Embun melanjutkan pekerjaannya.
----
Malam ini adalah waktunya untuk Embun dan Langit menghadiri pesta yang dikatakan oleh Langit waktu itu. Embun, sudah mempersiapkan segalanya dan dia akan segera selesai dalam waktu lima menit lagi. Sebuah gaun panjang berwarna peach sudah membungkus tubuhnya yang ramping. Sepatu hitam, dengan tas pesta senada dengan gaun yang dipakainya, membuat Embun terlihat begitu sangat menawan. Rambutnya di simpul rumit mengarah kekanan dengan beberapa anak rambut yang menjuntai nakal. Kesan manis itu terlihat begitu nyata. Aroma tubuhnya bahkan membuat siapa saja ingin memeluk perempuan itu.
Ketika dia sudah selesai dengan persiapannya, maka dia keluar kamar dan turun ke lantai satu untuk bertemu dengan sang suami. Tentu pakaian mereka senada. Langit juga mengenakan kemeja berwarna peach dengan jas berwarna abu gelap. Orang awam akan melihat betapa dua orang itu adalah pasangan yang sangat serasi. Tidak akan ada yang menyangkal itu. Cover depan yang mereka miliki adalah kesempurnaan.
Ini adalah waktu untuk Embun berakting dan melakukan perannya dengan baik di depan semua orang. interaksi yang akan terjadi antara dirinya dan Langit pasti akan menipu banyak orang. Entah sampai kapan kehidupan penuh kebohongan ini akan terjadi.
“Ingatlah untuk melakukan semua dengan alami!” peringatan itu diberikan oleh Langit ketika mereka masih berada di dalam mobil. Embun tentu saja mengerti, bahkan sangat mengerti apa yang harus dilakukan. Maka dia hanya perlu mengangguk dan menyetujui apa yang dikatakan oleh sang suami. Karena setelah mereka sampai di tempat acara, Embun dengan alami menggandeng lengan Langit untuk masuk ke dalam hall. Beberapa paparazzi yang berada di sana memotret mereka dengan ganas. Kilatan kamera seolah ingin sekali membutakan mata dua orang yang sedang berpura-pura bahagia tersebut.
Senyum kecil yang manis tercetak di bibir Embun, namun tidak begitu dengan Langit. Tapi karena semua orang sudah tahu bagaimana tabiat Langit, maka hal itu tidak mengherankan.
“Waw! Pasangan sempurna kita sudah datang.” Pemilik acara menyambut pasangan itu dengan senyum yang merekah. Ekspresi Langit sama sekali tak berubah dan hanya terlihat datar. Embun yang memberikan tanggapan baik.
“Selamat ulang tahun pernikahan, Pak, Bu.” Embun yang mewakili sang suami untuk mengatakan itu. Karena mengharapkan Langit membuka suara dan mengatakan hal demikian adalah ketidakmungkinan. Dan Embun lah yang harus berinisiatif untuk melakukannya.
“Terima kasih, Bu.” Embun menyodorkan sebuah kotak kecil berisi kado dan si perempuan pemilik acara dengan lembut. Membuat perempuan itu berbinar ketika melihatnya. Sudah bisa ditebak apa isinya. Paling tidak itu adalah hadiah yang berharga. Perhiasan atau aksesoris berharga mahal.
“Silahkan untuk menikmati makanan. Saya harap kalian menyukai pestanya.”
“Terima kasih, Bu. Kami akan berkeliling dan mencicipi semuanya.” Dua wanita itu terlihat ramah satu sama lain meskipun ini adalah kali pertama mereka bertemu. Ya, seperti inilah dunia mereka, entah keramahan itu keluar dari hati atau hanya cover luar tapi mereka akan melakukannya seolah mereka pro satu sama lain.
Basa-basi antara dua pasangan itu akhirnya sudah berakhir, Embun dan Langit berlalu dari sana untuk menyapa orang-orang yang dikenal oleh Langit. Tentu saja, sepanjang pesta itu Embun akan berpura-pura seperti yang diminta oleh sang suami. Ini adalah ‘kebajiban’ yang perlu dia lakukan untuk memperlihatkan kepada semua orang betapa pernikahan yang dijalankan bersama dengan Langit hanyalah satu hal yang pasti yaitu sebuah kebahagiaan dan tak ada yang lain.
“Bagaimana rasanya menikah dengan Langit?” seorang perempuan mendekati Embun dan menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanyakan. Namun, hal seperti ini sudah diprediksikan oleh Embun sebelumnya. Entah siapa perempuan ini, apakah dulu dia adalah salah satu korban Langit, Embun tak tahu. Tapi, dia harus tetap berlaku sebagai wanita kelas atas yang mampu menangani semua ini dengan sempurna tanpa cacat.
“Jawaban seperti apa yang ingin kamu dapatkan?” Embun menjawab dengan santai dan diselipkan senyum lembut.
“Saya pernah berkencan dengannya sebelum dia menikah denganmu. Saya rasa, dulu dia adalah laki-laki yang begitu royal meskipun sedikit kaku. Dia memberikan apa yang saya inginkan.”
“Lalu bagaimana kalian bisa berpisah?” seperti mengobrol bersama dengan sahabat, Embun menanggapi dengan santai. “Apa kalian sudah merencanakan sebuah pernikahan juga?”
“Tentu saja! Saya adalah kekasih terlama yang dimilikinya.”
“Langit mengatakan itu?”
“Tidak perlu perkataan dari Langit, karena dari perlakuannya, dia begitu nyaman dengan saya.” Embun tahu suaminya seperti apa. Latar belakang kehidupan asmaranya yang begitu berantakan dan dia bisa mengatakan jika itu juga sedikit menjijikkan. Hanya saja, Embun tak akan mengungkapkannya.
Tak ada jawaban yang diberikan oleh Embun kepada wanita itu, karena yang terjadi setelahnya Langit datang dan langsung memeluk pinggang Embun. Memberikan kecupan di pipi wanita itu dengan lembut sampai-sampai Embun harus meremas tas pestanya karena itu. Ini bukan pertama kali Langit menciumnya karena sebuah acting. Tapi sudah berkali-kali. Namun, setiap Langit melakukannya, Embun pasti akan merasakan kegugupan yang sama.
“Kita harus segera pulang!” Begitu kata Langit di telinga Embun. Membisikkan dengan mesra sampai membuat Embut merasa ingin membanting tas yang dipegangnya di atas lantai. Benar-benar laki-laki itu begitu baik dalam berperan. Dia pasti akan mendapatkan gelar aktor terbaik jika seandainya dia adalah seorang artis.
“Kenapa kamu tidak menyapa mantan kekasihmu?” pertanyaan itu dikeluarkan oleh Embun bukan karena wanita itu merasa cemburu, tapi memang dia harus terlihat biasa saja dengan itu. Tak ada kemarahan yang tercetak di wajahnya. Karena yang terlihat adalah Embun justru tak terpengaruh.
Langit menatap perempuan di depannya dengan kening berkerut. Sepertinya dia sedang mengingat-ingat siapa perempuan itu untuk mencari jawabannya. Dan ketika dia sudah mengingatnya, maka yang terjadi adalah dengan mengangguk.
“Hai! Apa kabar?” begitu saja katanya dengan ketenangan yang dimilikinya.
“Kamu lupa denganku?” pertanyaan itu melayang seolah si pemilik pertanyaan sedang merasakan yang namanya kecewa. Dia baru saja mengatakan yang tidak-tidak kepada Embun, tentu saja jika Langit mengatakan yang sebaliknya dari ucapannya, dia akan merasakan malu.
“Dia tak akan melupakan seseorang yang pernah berarti untuknya. Bukankah kalian dulu sudah merencanakan dalam tahap pernikahan? Itu artinya, kamu adalah orang yang diharapkan Langit untuk menjadi pendampingnya.” Embun yang menjawab alih-alih Langit. Wajah perempuan itu benar-benar terlihat kaku dan ekspresinya juga berubah.
“Merencanakan pernikahan?” Langit sepertinya tak menyetujui dengan kalimat itu. “Aku bahkan tak pernah melakukan hal semacam itu kepada siapapun kecuali denganmu. Kita memang pernah berkencan, tapi itu hanya sebuah kencan biasa yang tidak melibatkan hati.” Ya, Langit tentu saja membantah semuanya secara langsung tanpa merasa jika ucapannya itu akan melukai orang lain.
“Benarkah? Tapi dia mengatakan sebaliknya.”
“Dan seharusnya orang yang harus kamu percayai itu adalah suamimu, bukan orang lain. Ayo! Kita segera pergi.” Setelah mengatakan kalimat terakhir, tangan Embun ditarik dan berlalu dari hadapan perempuan yang bahkan Embun saja tidak mengetahui namanya.
Mereka benar-benar pergi dari pesta itu setelahnya dan meninggalkan tempat pesta untuk mengakhiri segala kepura-puraan yang mereka lakonkan. Bahkan ketika mereka sudah berada di mobil, maka mereka akan kembali menjadi orang asing satu sama lain. Embun tak lagi memusingkan siapa perempuan yang baru saja menginformasikan dirinya adalah sebagai mantan kekasih Langit. Dia juga tak menanyakan kebenaran apapun untuk sebuah penjelasan.
Bukankah itu sama sekali bukan urusannya? Maka untuk apa dia melakukan hal yang tidak perlu dia lakukan? Bahkan Langit saja terlihat sangat tak memiliki keinginan untuk menjelaskan. Hubungan mereka benar-benar kacau balau tak karuan. Meskipun di luar sana, mereka mendapatkan banyak pujian, tapi di dalamnya adalah hanya cangkang kosong.
Sampai di rumah, Embun melihat seorang perempuan berdiri di depan rumahnya dengan sebuah tas jinjing dan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Embun sebenarnya tak suka dengan itu, ini adalah rumah pribadinya. Jika Langit ingin berkencan, seharusnya bisa dilakukan di luar sana. Tapi, itu tak pernah dilakukan oleh lelaki itu.
“Bisakah kamu berkencan di luar rumah? Dimanapun asalkan bukan di rumah ini.” Embun complain dan ini adalah pertama kalinya dia mengeluarkan unek-uneknya kepada sang suami.
“Kamu tidak perlu mengaturku. Urusi saja urusanmu sendiri. Aku tidak perlu kamu untuk ikut campur dengan urusanku.” Menyakitkan untuk didengar. Tapi mau bagaimana lagi, Langit tetaplah Langit. Tak akan berpura-pura baik jika bukan sesuai dengan hatinya.
*.*