Embun tahu dia tak perlu memberikan bantahan kepada Langit tentang apapun yang baru saja lelaki itu katakan kepadanya. Jika dia bisa memilih, lebih baik dia menikah dengan lelaki biasa tapi memiliki kejujuran dan bersikap baik kepadanya daripada lelaki yang memiliki segalanya tapi tak memiliki hati. Dan Langit, tentu saja adalah orang itu. Tanpa segan, lelaki itu keluar dari dalam mobil dan meninggalkan Embun yang masih diam di kursinya.
Embun hanya bisa menatap tubuh tinggi suaminya berlalu dari sana tanpa memedulikan dirinya sama sekali. Bahkan ketika sampai di dekat perempuan itu, dia langsung memeluk pinggangnya dan masuk ke dalam rumah. Nafas panjang Embun lantas keluar dan merasa lelah itu tiba-tiba menderanya. Ada waktu di mana dia bertanya kepada dirinya sendiri kapan semua ini akan berlalu. Apakah mereka akan berada dalam situasi yang sama selama bertahun-tahun, ataukah ada perubahan yang terjadi.
‘Langit tidak menyukai Kakak’
Kalimat itu adalah kalimat yang Raina katakan kepadanya siang tadi. ‘Cepat atau lambat, dia pasti akan berpisah dengan Langit’ dan itu juga yang dikatakan oleh adiknya. Langit, benar-benar tak bisa menyukainya meskipun dia sudah melakukan segala upaya untuk berperan sebagai istri yang baik. Embun tidak menginginkan cinta dari Langit. Setidaknya, bisakah lelaki itu menghargainya dan menganggapnya ada dan tidak sembarang memasukkan wanita di kediamannya?
Ketukan kaca pintu mobil menyadarkan Embun dari lamunannya, Bibi berdiri di sana dan sepertinya wanita itu sedang mengkhawatirkannya.
“Ya, Bi?” Embun keluar dari dalam mobil dan berdiri di depan wanita itu.
“Kenapa Ibu nggak masuk? Bapak meminta saya untuk memanggil Ibu tadi.” Begitu aduan Bibi kepada majikannya itu. “Tapi…” sepertinya wanita paruh baya itu baru saja melihat sesuatu yang terjadi, “bisakah, Bapak tidak membawa teman perempuannya ke rumah ini? Ini akan melukai hati Ibu.” Embun tahu, meskipun pernikahan ini bukan berdasarkan cinta, tapi Langit tetap saja adalah suaminya. Lelaki yang menjadikan dirinya sebagai istrinya.
Jika orang lain yang melihat saja bisa merasakan sakit hati, apalagi dirinya. Tapi, Embun akan tegar dengan masalah yang dihadapi tersebut. Ya, kalau tidak dia sendiri yang melindungi dirinya, maka siapa lagi yang akan melakukannya.
“Biarkan saja, Bi. Biarkan dia melakukan sesukanya. Ini adalah rumahnya. Kalau pun saya nanti sudah tidak sanggup dengan semua ini, saya yang akan pergi. Bukan dia.” Rumah ini adalah rumah yang diberikan oleh orang Langit untuk hadiah pernikahan putranya. Rumah yang berada di kawasan Elit, itu bahkan dibeli tanpa pertimbangan meskipun harganya begitu tinggi. Orang tua Langit sangat bahagia karena pada akhirnya putranya mendapatkan pendamping hidup yang begitu luar biasa. Cantik dan berpendidikan tinggi. Sayang sekali jika Langit menyia-nyiakannya.
“Ayo! Kita masuk. Bibi juga harus segera beristirahat. Besok kita akan kembali bekerja.” Sebuah senyum kecil terlihat di bibir perempuan dengan ketulusan. Bibi sepertinya merasa sangat menyesal jika majikannya itu mendapatkan perlakuan yang begitu buruk dari sang suami. Tapi masih bisa tersenyum dengan tulus seperti itu, bukankah itu terlihat jika Embun adalah wanita yang kuat?
Biarkan saja Bibi berpikir tentang apapun mengenai Embun. Toh perempuan itu tidak menginginkan untuk dipuji atau menginginkan orang lain untuk berprasangka baik kepadanya. Embun, sejak dulu sudah hidup dengan caranya. Tak peduli dengan penilaian orang lain terhadapnya.
----
Embun ingin berpura-pura tidak melihat apa yang dilakukan oleh Langit di ruang keluarga bersama dengan kekasih barunya. Tapi, entah kenapa dia sedikit melirik ke arah sofa single yang ditempati oleh dua orang yang saling berdempetan. Sofa itu memang sedikit menyisakan space jika ditempati satu orang, tapi terlalu sesak jika ada dua orang.
Meskipun dari lirikan itu, Embun tak melihat dari perbuatan mereka yang buruk, tapi Embun merasa itu sungguh memuakkan. Menahan segala rasa marah menyeruak di dalam hatinya, perempuan itu berlalu begitu saja. Tapi, entah apa yang ingin dilakukan oleh perempuan asing itu, dia memanggil nama Embun dan berdiri dari duduknya.
Tentu saja, Embun berhenti karena namanya menggaung di dalam ruangan tersebut. Tanpa membalikkan tubuhnya, istri Langit itu berdiri di tempatnya tanpa bergeser sedikitpun.
“Aku memanggilmu. Tidak bisakah kamu berbalik dan tatap aku sekarang?” suara perempuan asing meluncur begitu saja di indera pendengaran Embun. Sebelumnya, dia tak pernah diperlakukan seperti ini oleh siapapun. Dan berkat suaminya, dia seolah diinjak-injak oleh orang yang bahkan tidak dikenalnya.
Dengan menekan segala kemarahan yang dimiliki, Embun berbalik dengan wajah datar dan mata tajamnya. Dia selama ini memang hanya diam. Tapi, jika orang itu tak paham apabila diamnya bisa menjadikan malapetaka, maka mungkin perempuan itu akan diam tak berani bertingkah. Merasa mampu mengendalikan wanita di depannya, perempuan asing itu menyeringai dengan ganas. Seolah hanya dia yang memiliki seringaian menakutkan seperti itu.
Tak ada suara yang dikeluarkan oleh Embun kecuali hanya suara nafas yang bisa didengar oleh telinganya sendiri. Dua perempuan itu saling berhadapan seolah sedang memperebutkan sesuatu yang berharga. Atmosfer di sekitar mereka seolah menghitam tanpa ada celah cahaya yang masuk ke dalamnya. Bibi diam-diam mengintip dari balik dinding untuk memantau majikannya. Jika terjadi perkelahian, dia berani dipecat oleh Langit untuk membela Embun.
“Kamu tidak suka dengan keberadaan aku di sini?” tanyanya seolah benar-benar memancing emosi Embun. Embun tak bereaksi kecuali hanya menatap wanita itu dengan intens. Membiarkan perempuan itu menyelesaikan ucapannya terlebih dulu.
“Aku rasa, ini menyedihkan. Kamu, hanyalah seolah pajangan di rumah ini dan juga di luar sana. Langit tidak membutuhkan kamu. Kenapa kamu tidak enyah saja dari kehidupannya?” lancang sekali memang mulut perempuan itu. Ini adalah perempuan pertama yang berani ikut campur masalahnya dengan Langit. Karena biasanya, perempuan-perempuan yang dibawa langit ke rumahnya hanya memberikan tatapan sinis dan senyuman mencemooh tanpa mengatakan banyak kata seperti yang dilakukan oleh perempuan asing ini.
“Berapa?” tanya Embun setelahnya.
“Apa?”
“Berapa kamu membandrol harga dirimu?” pertanyaan itu membuat wanita itu membelalakkan matanya mendengarnya.
“Lancang sekali kamu.” Katanya dengan suara meninggi. “Langit, tidak bisakah kamu mengajari perempuan ini sopan santun? Kamu benar-benar harus memberinya pelajaran!” Mana mungkin Embun gentar hanya dengan kalimat seperti itu. Perempuan itu masih dengan ketenangan yang dimilikinya, sedangkan Langit masih duduk dengan tenang di tempatnya sambil menatap dua orang yang sedang berhadapan tersebut.
“Harga diriku bahkan lebih mahal dari harga dirimu. Kamu tahu? Kamu hanya wanita menyedihkan yang dijadikan pajangan oleh suamimu sendiri. Sedangkan aku, aku adalah wanita yang diinginkannya.”
“Berapa lama?” tanya Embun lagi, “berapa lama Langit akan menginginkanmu sebelum dia mendapatkan wanita lain lagi yang lebih daripada dirimu? Nona, aku tidak tahu siapa kamu, dan aku tidak berniat mengenalmu. Tapi, kamu sudah memasuki garis yang aku buat tanpa seizinku. Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan bersama suamiku, tapi jangan pernah ikut campur dalam urusan rumah tangga kami.” Setiap kata yang Embun keluarkan seolah memberikan kesan jika dia perlu di dengar tanpa bantahan.
“Hentikan!” Langit akhirnya bersuara. Lelaki itu berdiri dan berjalan mendekati Embun dan wanita asing tersebut. “Yana, pulanglah! Kita bertemu kembali besok.” Langit sepertinya juga sedikit terganggu dengan wanita itu karena ucapannya barusan.
“Apa? Kamu mengusirku?” tanyanya dengan tatapan tak terima. “Hanya karena wanita ini?”
“Wanita ini?” Embun terkekeh kaku, “aku juga pemilik rumah ini. Aku bahkan bisa menyeretmu keluar karena perlakuanmu yang tidak sopan.”
“Kurang ajar!” siapa yang menyangka, jika wanita itu bukan hanya lancang dengan memasuki ‘daerah kekuasaan’ Embun, tapi juga berani menyerang perempuan itu dengan ganas. Perempuan itu menampar Embun dengan tangannya sampai suara ‘plak’ terdengar. Bukan hanya Embun, tapi Langit bahkan terkejut melihat ini. Seumur hidupnya, Embun tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar seperti ini dari siapapun. Orang tuanya memperlakukannya dengan lembut bahkan semua orang yang mengenalnya.
Tapi, hari ini, ada orang asing yang berani melayangkan tangannya di pipinya dan memberikan luka bukan hanya di fisiknya. Tapi juga hatinya. Embun meneguk ludahnya karena tenggorokannya terasa kering dan nafasnya pun terasa berat. Matanya menatap kekasih Langit itu dengan tajam, bahkan aura hitamnya keluar melingkupi ruangan tersebut.
“Yana!” Langit sedikit menarik perempuan itu yang juga terlihat takut karena tatapan Embun kepadanya. Tapi terlihat dia menahan ketakutannya. Sayangnya, tatapan Embun beralih pada Langit yang berada di samping Yana.
Yang dilakukan Embun adalah membalas apa yang Yana berikan kepadanya dua kali lipat. Embun menampar Langit sekuat tenaganya dua kali lipat sebagai pembalasan alih-alih membalas langsung kepada Yana sendiri. Langit melebarkan matanya dan merasa pening tiba-tiba di kepalanya. Bukan hanya Embun, Langit yang juga selalu diperlakukan dengan baik oleh banyak orang mendapatkan tamparan untuk pertama kalinya, dan itu dari sang istri.
Langit menatap Embun dengan rahang mengetat seolah kemarahan segera meluap dan memporak-porandakkan segalanya. Tapi, Embun yang terlihat tak seperti biasanya membungkam mulut Langit.
“Aku, selama ini berusaha memperlakukanmu dan menghormatimu bagaimana seharusnya karena kamu adalah suamiku. Tapi hari ini, kamu benar-benar sudah membuat aku mengerti satu hal. Diamku tak membuatmu berpikir jika aku juga manusia biasa yang tidak suka jika diinjak-injak. Dengarkan aku baik-baik, Langit. Kita sama-sama tidak saling menyukai. Tapi setidaknya aku sudah memerankan tugasku dengan baik sebagai istri selama ini. Tapi kamu, sudah membuatku mengubah pemikiranku jika kamu tak ubahnya hanya lelaki b******k yang tak perlu mendapatkan perlakuan baik dariku.”
Setelah mengatakan itu, Embun mendekat pada Yana sehingga membuat wanita itu mundur karena takut.
“Kamu juga harus mempersiapkan dirimu, Nona. Aku bukan orang yang berbaik hati tanpa membalas apa yang orang lakukan kepadaku. Berhati-hatilah!” Diakhiri dengan tatapan yang begitu tajam, Yana bahkan terlihat bergetar karena takut. Embun berlalu dari sana setelahnya tanpa lagi menoleh ke belakang.
Hatinya sudah begitu hancur ketika dia mendapatkan perlakukan yang begitu buruk dari orang-orang yang sama sekali tak berpengaruh dalam hidupnya. Setelah sampai di kamarnya, Embun mengambil satu baju tidurnya lalu beberapa perlengkapan untuk wajahnya dan kembali keluar dari sana. Membuka pintu kamar lain di lantai dua tersebut, dan dia akan pindah di sana mulai malam ini.
---
“Aku sudah memperingatkanmu jika kamu tidak perlu berlebihan. Tapi kamu benar-benar sudah keterlaluan.” Langit menatap Yana dengan intens dan penuh dengan kemarahan.
“Aku minta maaf, Langit.”
“Aku tidak akan bertanggung jawab apapun jika Embun melakukan apapun kepadamu.”
“Bisa-bisanya kamu mengatakan itu kepadaku? Bukankah kamu memang menginginkan aku sebagai kekasihmu artinya kamu memang menyukaiku?” Langit menatap Yana dengan kening mengernyit seolah perempuan itu baru saja mengeluarkan lelucon garing yang tidak mampu memancing saraf tertawa Langit.
“Kamu pikir aku memintamu karena aku menginginkanmu? Aku hanya menginginkan sebatas selingan. Tidak lebih.” Setelah mengatakan itu, Langit meninggalkan Yana yang berdiri mematung di depan rumah Langit dan Embun. Tak ada orang yang tidak sakit hati ketika mendapatkan perlakuan seperti itu. Tangannya mengepal dengan rasa marah yang melingkupi dirinya.
Sedangkan Langit yang sudah masuk ke dalam rumahnya segera mencari istrinya di kamarnya. Nihil, Embun tak ada di sana. Mencari ke kamar lain dan salah satu pintu itu tertutup rapat dengan kunci yang menahan dirinya untuk tidak bisa bertemu dengan perempuan yang dicarinya. Langit tak tinggal diam. Lelaki itu menggedor pintu kamar Embun seperti orang kesetanan.
“Embun! Buka pintunya!” begitu katanya dengan berapi-api. Tapi tak ada tanda-tanda pintu itu akan dibuka. Bahkan sampai dia merasa kelelahan, Embun sama sekali tak memedulikan suaminya. Embun menutup telinganya dengan headset dan menyalakan lagu dengan suara yang keras. Langit sudah menabuh genderang perang. Dan itu artinya Embun harus bersiap dengan baik. Mempersiapkan segala senjata yang dia miliki dan menggunakannya ketika dia harus menggunakannya.
Langit juga dipenuhi dengan kemarahan. Bahkan meskipun dia sudah mengguyur kepalanya dengan air, sama sekali tak membuat kepalanya lantas menjadi dingin. Lelaki itu duduk di meja kerjanya dengan kedua tangan saling terpaut dan menutup mulutnya. Kepalanya sedang berpikir tentang ekspresi Embun yang memang benar-benar tidak pernah dia lihat sebelumnya. Meskipun selama ini dia memperlakukannya dengan buruk, tapi tidak sampai seperti itu.
Apakah perempuan itu benar-benar berada di titik batas kesabarannya? Itu adalah yang sekarang sedang dipikirkan oleh Langit. Tapi, lelaki itu lantas menggelengkan kepalanya setelah dia menyadari jika dia sudah memikirkan Embun untuk waktu yang lama.
Ketika keesokan harinya pagi kembali tiba, dan Langit yang sudah berada di meja makan, menu makan pagi sudah dipersiapkan seperti biasanya. Tapi, rasa yang biasanya dicapnya sama sekali tak sama.
“Bi, Bibi yang masak ini?”
“Benar, Pak.”
“Lalu kemana Embun? Kenapa bukan dia yang mempersiapkan sarapan saya?”
“Saya rasa Ibu sedang tidak enak badan, Pak.” Kunyahan Langit terhenti seolah ucapan ART nya itu berpengaruh kepadanya. Hanya saja, dia sama sekali tak bertanya lanjutannya setelah itu. Apakah ART nya itu sudah mengeceknya atau apapun yang mungkin menunjukkan jika dia peduli. Sepertinya, Bibi pun merasakan rasa kesal di dalam hatinya karena majikannya itu. Karena tentu saja dia tak akan mengungkapkannya sama sekali. Dia hanyalah seorang ART dan tidak memiliki hak untuk ikut campur masalah majikannya. Tapi, siapapun yang melihat adegan semalam pasti akan ikut merasakan sakit hati meskipun bukan dia yang mengalaminya.
*.*