Deni kembali ke kamar dengan langkah yang dibuat setenang mungkin. Pintu kamar mandi masih tertutup dan suara air masih terdengar dari dalam. Ia segera memunguti pakaian yang berserakan di lantai, lalu menarik sprei dengan gerakan terburu-buru. Rasa malu karena mamanya melihat keadaan kamar mereka memang ada, tapi yang paling ia takutkan adalah Gea mengetahui hal itu lalu tidak berani turun untuk sarapan.
Ia baru saja memasukkan sprei ke keranjang saat pintu kamar mandi terbuka. Gea keluar dengan rambut basah dan langkah yang sedikit pelan. Tatapannya langsung mengarah pada ranjang yang sudah tidak memiliki sprei.
'Kamu ngapain?' tanya Gea.
'Mau dibawa ke tempat cucian.'
'Sekarang?'
Deni mengangguk terlalu cepat. Gea menyipitkan matanya, lalu melihat pakaian mereka yang sudah tidak ada di lantai. Wajah Deni tidak pernah pandai menyembunyikan sesuatu darinya. Apalagi pagi ini pria itu berkali-kali mengusap tengkuknya sendiri.
'Mama masuk ya?' tebak Gea pelan.
Deni terdiam. Ia ingin berbohong agar istrinya tidak malu, tetapi semalam dirinya sudah menuduh Gea sebagai pembohong. Sangat tidak pantas jika pagi ini ia justru melakukan hal yang sama.
'Pintunya lupa aku kunci,' jawabnya akhirnya. 'Mama masuk karena mau bangunin kita. Tapi Mama langsung keluar. Mama janji nggak akan ngomong apa-apa.'
Wajah Gea langsung memerah. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan kemudian berbalik menuju kamar mandi lagi. Deni segera menahan lengannya.
'Sayang, jangan ngumpet.'
'Malu, Deni. Kenapa kamu nggak kunci pintunya sih?'
'Aku lupa. Semalam pikiranku cuma kamu.'
'Jangan ngerayu!'
Deni terkekeh kecil, tapi berhenti saat Gea menatap tajam. Ia lalu mengambil pakaian untuk istrinya dan meletakkannya di tepi ranjang. 'Aku salah. Aku yang ceroboh. Nanti kalau Mama atau Papa ngomong aneh-aneh, aku yang hadapin.'
Gea mengambil pakaiannya, lalu kembali masuk ke kamar mandi untuk berganti. Deni menunggu di depan pintu sambil membawa keranjang cucian. Ketika Gea keluar lagi, perempuan itu sudah mengenakan baju berlengan panjang dan celana longgar. Jalannya masih berhati-hati.
'Sakit banget?' tanya Deni dengan rasa bersalah.
'Sedikit.'
'Kita pulang nanti siang aja. Kamu istirahat dulu.'
'Kelana pasti mau pulang sama kita.'
'Aku yang urus Kelana. Kamu nggak perlu memaksakan diri.'
Gea tidak menjawab. Dia hanya berjalan menuju meja rias, lalu menyisir rambutnya perlahan. Deni berdiri di belakangnya dan melihat wajah istrinya melalui cermin. Semalam mereka sudah berbicara dan Gea memang sudah memaafkannya. Namun, Deni sadar satu kata maaf tidak bisa langsung menghapus semua ucapan kasarnya.
'Ge,' panggilnya.
'Hmmm?'
'Tentang semalam, aku nggak mau pakai capek sebagai alasan lagi.' Deni menarik kursi kecil lalu duduk di samping Gea. 'Aku salah karena lebih percaya sama apa yang aku lihat sekilas dibandingkan kamu. Aku juga salah karena nggak kasih kamu kesempatan ngomong.'
Tangan Gea yang memegang sisir berhenti. 'Aku paling sakit waktu kamu bilang air mata aku busuk.'
Deni menunduk. Ucapan itu bahkan terasa menjijikkan ketika didengar kembali dari mulut Gea. 'Aku tahu. Kalau kamu masih marah, marah aja. Jangan bilang nggak apa-apa cuma karena kita sudah baikan semalam.'
'Aku nggak mau kejadian semalam bikin kamu pikir semuanya sudah selesai.' Gea menatapnya. 'Aku mau sama kamu karena aku memang siap. Bukan supaya kamu berhenti marah atau supaya kamu percaya aku.'
Deni langsung menggenggam tangan istrinya. 'Aku ngerti. Dan aku nggak akan menghubungkan dua hal itu. Kamu nggak punya kewajiban membuktikan apa pun dengan cara begitu.'
Gea mengangguk pelan. Ada rasa lega di wajahnya meski belum sepenuhnya. Deni mencium punggung tangannya, kemudian membantu mengeringkan rambut Gea. Ia tidak lagi menggoda karena tahu istrinya sedang membutuhkan rasa aman, bukan ledekan.
Saat mereka turun, Kelana langsung berlari dari ruang makan. 'Mama bangunnya lama banget!'
Gea berjongkok sedikit untuk menyambutnya, tapi wajahnya meringis. Deni cepat mengangkat Kelana sebelum anak itu menabrak tubuh Gea.
'Mama lagi capek. Peluknya pelan-pelan,' kata Deni.
Kelana mengangguk kemudian mencium pipi Gea. 'Mama sakit?'
'Nggak, sayang. Mama cuma kurang tidur.'
Papanya Deni menurunkan koran. Bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tetapi mamanya langsung menyenggol lengannya. Deni memberikan tatapan peringatan kepada kedua orang tuanya.
'Ayo sarapan,' kata mamanya dengan senyum yang dibuat biasa. 'Mama masak bubur ayam. Gea duduk aja, Nak.'
Gea duduk di samping Kelana. Dia berusaha tidak memandang siapa pun terlalu lama. Deni mengambilkan bubur untuknya, meniup satu sendok, lalu mendapatkan cubitan kecil di pinggang.
'Aku bisa makan sendiri,' bisik Gea.
'Aku tahu.'
'Terus kenapa disuapin?'
'Karena aku mau.'
Kelana yang melihat mereka langsung membuka mulut. 'Kelana juga mau disuapin Ayah.'
Suasana yang tadinya canggung berubah sedikit lebih ringan. Deni menyuapi Kelana dan Gea bergantian sampai istrinya akhirnya tertawa kecil. Mamanya memilih membicarakan rencana jalan-jalan bersama Kelana dan tidak menyinggung kamar sama sekali.
Setelah sarapan, Gea membantu membawa piring meski sudah dilarang. Ketika hanya mereka berdua di dapur, mamanya Deni menahan tangannya.
'Gea, Mama minta maaf ya tadi masuk kamar. Mama benar-benar nggak tahu,' ucapnya pelan.
Gea kembali memerah, tapi dia tidak kabur. 'Nggak apa-apa, Ma. Deni yang lupa kunci.'
'Iya, memang anak Mama yang ceroboh. Mama nggak akan godain kamu. Mama cuma mau bilang, apa pun yang terjadi di antara kalian harus karena kalian sama-sama siap. Kalau Deni bikin kamu nggak nyaman, bilang ke Mama.'
Gea menatap perempuan di depannya dengan terharu. Dia mengangguk kemudian memeluk mamanya Deni. Dari pintu dapur, Deni melihat keduanya dan merasa dadanya hangat sekaligus malu pada dirinya sendiri. Keluarganya mempercayai Gea, sementara semalam ia menjadi satu-satunya orang yang tidak mau mendengarkan.
Papanya Deni yang lewat di belakangnya ikut berhenti. 'Kamu jangan cuma berdiri. Bawa keranjang itu ke tempat cucian,' perintahnya.
Deni menurut tanpa membantah. Ketika kembali, papanya menepuk bahunya pelan. 'Papa nggak mau ikut campur terlalu jauh. Tapi meminta maaf itu bukan tanda masalah sudah hilang. Setelah ini kamu harus membuktikan kalau Gea aman bicara sama kamu, bahkan ketika jawabannya nggak kamu suka.'
'Iya, Pa.'
'Dan jangan anggap usia dia yang lebih muda berarti perasaannya bisa kamu abaikan.'
Deni mengangguk. Nasihat itu terasa menampar, tetapi memang pantas ia terima. Ia lalu menghampiri Gea dan membantu membawa piring tanpa berusaha mencari pujian dari siapa pun.
Ponsel Gea yang tertinggal di meja makan tiba-tiba bergetar. Kelana mengambilnya dan berlari ke dapur.
'Mama, Om Rangga telepon!'
Gea menerima ponselnya. Baru saja ia menjawab, suara Rangga terdengar tergesa dari seberang.
'Gea, semalam Daffa bikin masalah. Nama lo disebut-sebut sama dia di depan kelab. Hari Senin lo harus datang lebih pagi. Ada hal yang harus gue jelasin sebelum yang lain salah paham.'
Tatapan Gea langsung bertemu dengan Deni. Pria itu berdiri kaku di ambang pintu. Kesalahpahaman semalam ternyata belum benar-benar berakhir.