Gea membawa ponselnya ke ruang tengah agar tidak mengganggu mamanya Deni yang sedang membereskan dapur. Deni mengikutinya sambil menggendong Kelana. Ia tidak berniat mencampuri percakapan, tetapi nama Daffa dan kelab membuat dadanya kembali terasa tidak nyaman.
'Maksud lo nama gue disebut-sebut gimana?' tanya Gea.
'Daffa mabuk. Dia bilang ke beberapa orang kalau harusnya lo ikut karena tugas kelompok kita sudah selesai dari siang. Ada anak jurusan lain yang dengar. Gue takut Senin malah muncul cerita aneh,' jelas Rangga. 'Terus perempuan yang masuk mobil itu bukan lo. Gue tahu Pak Deni lihat dari seberang jalan. Gue sempat lihat mobilnya.'
Gea melirik Deni. 'Siapa perempuannya?'
'Putri. Rambut sama bajunya memang mirip lo dari belakang. Daffa ngajak kami makan setelah tugas selesai, tapi ujung-ujungnya dia malah berhenti di kelab. Gue sama Putri langsung pulang. Serli sama Daffa berantem lagi di sana.'
'Kenapa nama gue dibawa-bawa?'
'Karena Daffa kesel lo pulang duluan. Udah, nanti gue jelasin lengkap di kampus. Jangan datang sendirian kalau lo takut.'
Gea menutup telepon setelah meminta Rangga tidak membesarkan masalah. Ia duduk di sofa dan mengusap wajahnya pelan. Deni menurunkan Kelana, lalu meminta anak itu bermain dengan papanya di halaman depan.
'Aku dengar sedikit,' kata Deni saat mereka tinggal berdua. 'Perempuan itu Putri?'
'Kata Rangga begitu.'
Deni duduk di sebelahnya, tetapi Gea sedikit bergeser. Gerakan kecil itu cukup membuat Deni mengerti bahwa luka istrinya belum selesai. Ia tidak memaksa mendekat.
'Aku seharusnya telepon Rangga atau masuk ke rumah dulu dan tanya Mama,' ucap Deni. 'Banyak cara buat cari tahu. Aku malah pilih cara paling buruk.'
'Kamu juga bilang nggak butuh penjelasan aku.' Gea menatap lantai. 'Kalau Mama sama Papa nggak ada semalam, kamu mungkin tetap nggak percaya.'
Deni tidak bisa menyangkal. Semalam ia pulang dengan pikiran yang sudah dipenuhi kesimpulan sendiri. Semua jawaban Gea dianggap sebagai kebohongan sebelum benar-benar didengar.
'Aku takut jawabannya memang iya,' katanya jujur. 'Dan itu bikin aku lebih malu. Aku minta kamu percaya sama aku sebagai suami, tapi aku sendiri gagal percaya sama kamu.'
Gea menarik napas panjang. 'Aku nggak mau tiap teman aku bikin masalah, aku yang dimarahin. Aku memang menyembunyikan pernikahan kita. Tapi bukan berarti aku pengin hidup bebas tanpa mikirin kamu.'
'Aku tahu sekarang.'
'Bukan tahu sekarang. Kamu harus ingat nanti.'
'Iya.' Deni mengangguk. 'Aku akan ingat.'
Mamanya Deni datang membawa dua gelas susu hangat, lalu meletakkannya tanpa bertanya. Perempuan itu sepertinya sengaja memberi mereka ruang. Setelah itu dia mengajak Kelana bersiap pergi ke toko buku bersama kakek dan neneknya.
'Kelana ikut Ayah sama Mama pulang nanti aja,' kata Kelana sambil memasukkan mobil-mobilan ke tas kecil.
'Boleh. Sekarang jalan sama Nenek dulu,' jawab Gea.
Setelah rumah menjadi lebih sepi, Deni mengajak Gea kembali ke kamar agar beristirahat. Gea berbaring dengan posisi menyamping. Deni menarik selimut sampai ke bahunya, lalu duduk di lantai bersandar pada sisi ranjang.
'Kamu kenapa duduk di bawah?' tanya Gea.
'Takut bikin kamu nggak nyaman.'
'Aku nggak bilang kamu nggak boleh dekat.'
Deni naik ke ranjang, tetapi tetap memberi jarak. Gea justru mengulurkan tangan dan menggenggam jarinya. 'Aku masih marah,' katanya.
'Nggak apa-apa.'
'Tapi aku juga nggak mau kamu pikir aku menyesal soal semalam.'
Deni menatapnya. 'Kamu benar-benar nggak menyesal?'
'Aku cuma menyesal kita melakukannya setelah bertengkar. Aku takut kamu nanti mengira setiap masalah bisa selesai kalau kita berpelukan terus lupa ngomongin penyebabnya.'
'Aku nggak akan begitu.' Deni mengusap punggung tangannya. 'Kalau kita bertengkar lagi, aku akan dengar sampai selesai. Kalau aku sedang terlalu emosi, aku bilang butuh waktu. Bukan membentak atau merendahkan kamu.'
Gea memandangnya lama, seolah ingin memastikan janji itu bukan sekadar rayuan. 'Kalau kamu mengulanginya?'
'Kamu boleh pergi ke rumah Mama kamu dulu sampai aku bisa bicara dengan benar.'
'Aku nggak pengin ancam pergi setiap bertengkar.'
'Bukan ancaman. Itu supaya kamu tetap merasa aman.'
Gea akhirnya mendekatkan tubuh dan menyandarkan kepala di lengan Deni. Mereka tidak melakukan apa-apa selain berbicara. Deni menjelaskan apa yang dilihatnya di jalan, sedangkan Gea menceritakan seluruh kegiatannya sejak diantar ke rumah orang tuanya sampai datang ke rumah mertuanya. Tidak ada bagian yang dipotong, tidak ada penjelasan yang disepelekan.
Sebelum tertidur, Gea meminta satu hal lagi. Ia ingin Deni bertanya kepadanya langsung setiap kali mendengar kabar buruk dari orang lain. Deni menyetujuinya tanpa menambahkan syarat. Sebaliknya, ia juga meminta Gea memberi tahu kalau pulangnya terlambat agar kekhawatiran tidak kembali berubah menjadi prasangka. Kali ini kesepakatan itu dibuat bersama, bukan berupa larangan sepihak.
Menjelang siang, Deni membawa Gea pulang. Kelana duduk di kursi belakang sambil memegang dua buku baru. Sesampainya di rumah, anak itu berlari lebih dulu lalu menunggu Gea turun.
'Mama jalannya pelan. Kakinya sakit ya?' tanya Kelana polos.
Gea hampir tersedak udara. Deni buru-buru menjawab, 'Mama kecapekan karena kemarin naik sepeda.'
'Ayah pijitin dong.'
'Iya, nanti Ayah pijitin.'
Gea mencubit lengan Deni saat Kelana sudah masuk. 'Jangan ngomong sembarangan.'
'Aku cuma jawab pertanyaan Kelana.'
'Wajah kamu senyum-senyum.'
Deni menahan tawanya kemudian mengangkat tas mereka. Di kamar, ia mengganti sprei, mengambilkan air minum, lalu membiarkan Gea tidur. Ia sendiri menemani Kelana menyusun buku di kamar.
Kelana memilih satu buku cerita bergambar dan meminta dibacakan. Biasanya anak itu akan mencari Gea, tetapi Deni menjelaskan bahwa Mamanya sedang membutuhkan istirahat. Kelana menerima tanpa banyak bertanya, lalu bersandar pada bahunya.
'Ayah sudah nggak marah sama Mama?' tanyanya tiba-tiba.
Deni menutup buku sejenak. Rupanya pertengkaran semalam tetap tersimpan dalam ingatan anak sekecil itu. 'Ayah yang salah. Ayah sudah minta maaf sama Mama.'
'Kalau marah nggak boleh teriak. Nenek bilang begitu.'
'Nenek benar.' Deni mencium kepala Kelana. 'Ayah akan berusaha nggak teriak lagi.'
Kelana mengulurkan jari kelingking. Deni menyambutnya dan membuat janji kecil. Ia tahu janji kepada anak itu sama beratnya dengan janji kepada Gea. Rumah mereka tidak boleh menjadi tempat yang membuat keduanya takut setiap kali ia pulang dalam keadaan lelah.
Sore harinya, Gea terbangun karena suara pesan masuk. Di grup kelas ada foto buram dari depan kelab. Daffa terlihat berdiri bersama beberapa orang. Di sudut foto, Putri yang tampak dari belakang benar-benar menyerupai Gea.
Pesan berikutnya membuat dada Gea berdebar.
Serli menulis bahwa perempuan di foto adalah Gea dan katanya istri baru Pak Deni pasti akan senang mengetahui mantan mahasiswi yang pernah mengejar suaminya masih berkeliaran di kelab.
Gea membaca kalimat itu dua kali. Teman-temannya memang belum tahu siapa istri Deni. Namun, sekarang namanya dan pernikahan rahasia mereka berada di dalam satu percakapan yang sama.