Gea tidak langsung menjawab pesan Serli. Dia menyimpan foto itu lalu menunjukkan seluruh percakapan kepada Deni. Pria itu membaca dengan rahang mengeras, tetapi kali ini tidak mengambil kesimpulan sendiri.
'Menurut kamu, apa yang harus kita lakukan?' tanya Deni.
Pertanyaan itu membuat Gea sedikit terkejut. Biasanya Deni langsung mengatakan apa yang menurutnya benar. Sekarang pria itu justru menunggu jawabannya.
'Aku mau bicara sama Putri dan Serli besok. Kalau Putri bilang sendiri dia yang ada di foto, masalahnya selesai.'
'Kalau mereka tetap menuduh kamu?'
'Aku punya foto waktu di rumah Mama kamu. Ada waktu pengambilannya. Rangga juga tahu.'
Deni mengangguk. 'Aku antar kamu besok. Tapi aku tunggu di luar kampus. Aku nggak akan masuk kecuali kamu minta.'
'Kamu nggak kerja?'
'Meeting pertama siang.'
Gea setuju. Ia lalu mengetik singkat di grup bahwa perempuan dalam foto bukan dirinya dan akan membicarakannya di kampus. Setelah itu dia mematikan notifikasi. Deni tidak merebut ponselnya atau meminta melihat pesan pribadi yang lain. Hal kecil itu membuat Gea merasa janji suaminya mulai memiliki bentuk.
Keesokan paginya, Deni mengantar Gea lebih awal. Kelana masih tidur di rumah bersama pengasuhnya. Sebelum turun dari mobil, Gea memandang gedung kampus yang dahulu menjadi tempat Deni mengajarnya. Tidak ada seorang pun di sana yang tahu bahwa pagi ini dia datang bersama suaminya.
'Kalau ada masalah, telepon aku,' pesan Deni.
'Jangan langsung naik kalau aku lama.'
'Iya, Bu Deni.'
'Jangan panggil begitu di sini.'
Deni tersenyum kemudian mencium keningnya. 'Hati-hati, sayang.'
Gea turun setelah memastikan tidak ada temannya di sekitar mobil. Di dalam kelas, Rangga sudah menunggu bersama Putri. Wajah Putri terlihat kesal, sedangkan Rangga memegang dua gelas kopi dan menyerahkan salah satunya kepada Gea.
'Gue nggak tahu Serli dapat foto itu dari mana,' kata Putri. 'Tapi itu memang gue. Nih, baju gue masih ada.'
Putri menunjukkan foto pakaian yang dipakainya malam itu. Blus berwarna terang dan celana hitamnya sama persis dengan sosok di foto. Hanya rambut mereka yang kebetulan memiliki panjang hampir sama.
'Terus kenapa lo masuk mobil sendirian?' tanya Gea.
'Karena gue pesan taksi. Rangga balik pakai motornya. Gue bahkan nggak masuk ke kelab.'
Rangga duduk di atas meja. 'Daffa yang ngajak. Awalnya dia bilang makan. Ternyata dia sudah janjian sama anak-anak lain di sana. Serli marah karena Daffa mabuk dan dekat sama cewek lain. Nama lo disebut sebab dia kesel lo nggak ikut.'
'Daffa memang nggak pernah mikir panjang,' gumam Gea.
Pintu kelas terbuka. Serli datang bersama Daffa yang wajahnya terlihat tidak segar. Beberapa mahasiswa lain ikut masuk dan suasana langsung menjadi canggung.
'Ini orangnya datang,' kata Serli. 'Tanya sendiri kenapa nama Gea dibawa-bawa.'
Daffa meletakkan tas dengan kasar. 'Gue mabuk. Gue nggak ingat ngomong apa.'
'Tapi lo ingat ngajak kami bohong soal tugas kelompok,' balas Putri.
'Gue cuma ngajak senang-senang. Gea juga biasanya ikut nongkrong.'
'Nongkrong sama masuk kelab beda,' ujar Gea. 'Dan gue sudah bilang dari siang kalau gue pulang.'
Daffa menatapnya sambil tertawa kecil. 'Belakangan ini lo susah banget diajak. Jangan-jangan memang ada yang ngelarang.'
Rangga segera berdiri. 'Nggak usah ngurusin hidup orang.'
'Kenapa lo yang panas? Pacarnya?'
'Bukan,' jawab Rangga tegas. 'Gue cuma nggak suka lo bikin masalah terus lempar nama orang lain.'
Serli menunjukkan foto pakaian Putri di depan teman-teman. Dia lalu mengakui bahwa tulisannya di grup terlalu cepat dan meminta maaf kepada Gea. Namun, Daffa justru terus memandang Gea dengan curiga.
'Gue minta maaf karena langsung tulis nama lo,' kata Serli. 'Gue lagi emosi sama Daffa, terus dia dari tadi malam bilang lo harusnya datang. Gue pikir perempuan di foto memang lo.'
'Lain kali tanya dulu. Gara-gara tulisan lo, orang lain bisa bikin cerita sendiri,' balas Gea.
Serli mengangguk. 'Iya, gue salah. Foto itu juga bukan dari gue. Ada anak jurusan sebelah yang kirim karena lihat Daffa bikin keributan.'
Putri mendengus. 'Jadi semua ini karena kalian berdua ribut lagi?'
'Gue marah karena dia dekat sama perempuan lain,' jawab Serli sambil melirik Daffa. 'Dia malah bawa-bawa nama Gea seolah semua orang harus ikut kelakuannya.'
Gea merasa kesal, tetapi dia juga melihat hubungan Serli dan Daffa sudah tidak sehat. Meski begitu, ia tidak ingin masalah mereka dialihkan menjadi urusan dirinya. 'Kalian selesaikan masalah kalian sendiri. Jangan pakai nama gue lagi.'
Daffa mengangkat bahu seakan semua itu bukan masalah besar. Sikap itulah yang membuat Gea semakin tidak nyaman.
'Kalau bukan Rangga, siapa yang bikin lo berubah?' tanyanya.
'Gue nggak berubah. Gue cuma punya prioritas lain.'
'Prioritas apa? Setiap ditanya jawabannya selalu pulang.'
Gea terdiam. Ia tidak bisa mengatakan harus pulang untuk menemani Kelana atau menunggu Deni. Selama ini kebohongan kecil tentang tugas keluarga cukup menyelamatkan rahasianya. Tetapi semakin lama, alasan itu menjadi lebih sulit digunakan.
Dosen masuk sebelum Daffa sempat bertanya lagi. Mereka kembali ke tempat masing-masing. Sepanjang perkuliahan, Gea tidak bisa fokus. Ia beberapa kali melihat ponselnya dan menemukan pesan dari Deni yang hanya menanyakan apakah masalahnya sudah selesai.
Rangga menyelipkan secarik kertas ke atas meja Gea. Tulisan tangannya hanya berisi peringatan agar Gea tidak pulang sendirian. Gea membalas bahwa Deni menunggu di luar. Rangga membaca jawaban itu lalu mengangguk kecil. Mereka tidak perlu bicara untuk mengerti bahwa Daffa sedang mencari sesuatu yang belum seharusnya menjadi urusannya.
Saat jam istirahat, Gea menelepon dari lorong yang sepi.
'Perempuan itu Putri. Dia sudah jelasin. Serli juga minta maaf,' kata Gea.
'Daffa?'
'Dia bilang nggak ingat karena mabuk. Tapi kayaknya dia curiga aku punya seseorang.'
'Kamu mau aku bicara sama dia?'
'Jangan. Kalau kamu datang, semuanya malah ketahuan.'
Deni diam sesaat. 'Sampai kapan kita sembunyi, Ge?'
Pertanyaan itu sebenarnya sudah beberapa kali muncul dalam pikiran Gea. Dulu menyembunyikan pernikahan terasa mudah karena Deni sudah keluar dari kampus. Namun, teman-temannya tetap mengenal pria itu sebagai dosen yang tiba-tiba menikah. Jika identitas istrinya terbuka, Gea takut dianggap mendapat nilai atau perlakuan khusus selama Deni mengajar.
'Sampai semester ini selesai,' jawabnya. 'Aku nggak mau orang pikir nilai aku karena kamu.'
'Baik. Aku ikutin keputusan kamu.'
Gea mengembuskan napas lega. Setelah kelas terakhir selesai, dia berjalan ke gerbang belakang tempat Deni menunggu. Rangga mengejarnya dan menawarkan untuk mengantar, tapi Gea buru-buru menolak.
'Gue dijemput kakak,' katanya.
'Reno? Mobilnya ganti?'
Gea belum sempat menjawab ketika mobil Deni bergerak mendekat. Kaca depan memantulkan cahaya, tetapi wajah pria di balik kemudi masih terlihat jelas. Rangga tentu sudah tahu rahasia itu. Masalahnya, Daffa berjalan beberapa langkah di belakang mereka.
'Itu bukannya mobil Pak Deni?' suara Daffa terdengar cukup keras.
Gea berhenti. Untuk pertama kalinya, rahasia pernikahannya terasa tidak lagi berada di tangannya sendiri.