Deni melihat Gea berdiri bersama Rangga, lalu menyadari ada Daffa di belakang mereka. Ia tidak keluar dari mobil. Janjinya kepada Gea masih jelas, yaitu menunggu sampai diminta. Karena itu dia hanya menurunkan kaca sedikit ketika Gea mendekat.
'Pak Deni?' panggil Daffa dari kejauhan.
Gea menoleh cepat. Rangga berdiri di antara Daffa dan mobil, seolah sedang memberi waktu kepada Gea untuk berpikir.
'Masuk dulu,' kata Deni pelan.
Gea membuka pintu penumpang. Namun, sebelum dia sempat duduk, Daffa sudah tiba di samping mobil.
'Bapak ngapain di sini? Katanya sudah berhenti ngajar,' tanyanya.
Deni menatap Gea lebih dulu. Ia tidak ingin membuat kebohongan baru tanpa persetujuan istrinya. Gea terlihat gugup, kemudian menggenggam tali tasnya.
'Saya ada urusan sama pihak kampus,' jawab Deni. Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong karena siang nanti ia memang harus mengambil berkas pengunduran dirinya. 'Sekalian mengantar Gea pulang karena Reno minta bantuan.'
'Oh, kirain ada hubungan apa,' ujar Daffa sambil tersenyum aneh.
Rangga menepuk bahu Daffa. 'Udah, jangan bikin orang telat. Lo sendiri belum beres soal semalam.'
Daffa akhirnya mundur. Gea masuk dan menutup pintu, lalu menunduk sampai mobil keluar dari area kampus. Deni tidak langsung bertanya. Ia menunggu Gea mengatur napasnya sendiri.
'Aku benci bohong begini,' ucap Gea akhirnya.
'Kita bisa bilang yang sebenarnya kalau kamu siap.'
'Belum sekarang. Daffa pasti ngomong ke mana-mana.'
'Kalau memang terbuka, aku akan jelaskan bahwa selama mengajar aku tetap menilai kamu sesuai pekerjaanmu. Kita juga menikah setelah aku memutuskan keluar.'
Gea menoleh. 'Tapi orang lebih suka cerita yang jelek.'
'Iya. Karena itu aku nggak akan memaksa.'
Deni menghentikan mobil di sebuah kedai kecil yang tidak ramai. Ia harus memastikan satu hal selesai sebelum kembali bekerja. Mereka memilih meja paling pojok. Gea memesan teh hangat, sedangkan Deni hanya meminta air mineral.
'Aku mau minta maaf sekali lagi,' kata Deni. 'Bukan cuma karena perempuan itu ternyata Putri. Bahkan kalau aku belum tahu siapa dia, caraku tetap salah.'
Gea memutar sendok di dalam cangkir. 'Kamu takut aku selingkuh?'
'Aku takut kehilangan kamu.'
'Itu bukan jawaban yang sama.'
Deni mengangguk. Istrinya benar. Rasa takut tidak bisa dijadikan alasan untuk menuduh. 'Aku melihat teman-teman kamu mabuk, lalu melihat perempuan yang mirip kamu. Aku langsung berpikir kamu sengaja ninggalin aku dan Kelana. Mungkin karena semuanya terjadi cepat. Kita baru saling kenal, lalu menikah. Kadang aku masih takut kamu sadar kalau hidup sama aku terlalu berat.'
'Terus kamu pilih menyakiti aku duluan sebelum aku bisa ninggalin kamu?'
Pertanyaan itu membuat Deni terdiam lama. Ia tidak pernah memikirkan kemarahannya dengan cara seperti itu. Namun, semalam ia memang seolah ingin mendorong Gea pergi sebelum mendengar jawaban yang ditakutinya.
'Mungkin iya,' jawabnya jujur. 'Dan itu nggak adil buat kamu.'
Gea memandang jalan di balik jendela. 'Aku menikah sama kamu bukan karena terpaksa. Aku juga yang minta Kelana tinggal bareng kita. Kalau aku keberatan, aku sudah bilang dari awal.'
'Aku percaya.'
'Kepercayaan bukan cuma diucapin waktu keadaan baik.'
'Aku tahu.' Deni mengulurkan tangannya di atas meja tanpa memaksa Gea menyambut. 'Aku akan buktiin pelan-pelan.'
Gea akhirnya meletakkan tangannya di atas tangan Deni. Dia belum melupakan ucapan semalam, tetapi setidaknya pria itu tidak lagi bersembunyi di balik alasan lelah.
'Aku juga minta satu hal,' ujar Gea. 'Jangan suruh Rangga ngawasin aku lagi. Dia teman aku, bukan orang yang harus laporan setiap gerakanku ke kamu.'
Deni terdiam karena memang pernah menitipkan Gea kepada Rangga selama berada di kampus. Niatnya menjaga, tetapi sekarang ia mengerti tindakan itu bisa terasa seperti pengawasan.
'Baik. Aku akan bicara sama Rangga,' jawabnya. 'Mulai sekarang aku tanya langsung ke kamu.'
'Begitu juga aku. Kalau aku khawatir kamu terlambat pulang, aku tanya kamu. Bukan bikin kesimpulan sendiri.'
'Aku juga harus berhenti bohong sama teman-teman,' kata Gea. 'Bukan berarti besok langsung diumumin. Tapi aku mau menentukan waktu yang jelas. Setelah ujian semester selesai, kita bilang.'
'Kamu yakin?'
'Belum sepenuhnya. Tapi kalau terus begini, satu kebohongan butuh kebohongan lain.'
Deni mengangguk setuju. Mereka lalu membicarakan bagaimana cara menyampaikan pernikahan itu nanti. Tidak perlu pengumuman besar. Gea hanya akan memberi tahu teman-teman terdekat, sedangkan Deni siap menjelaskan kepada kampus jika ada pertanyaan mengenai etika selama dirinya mengajar.
Setelah mengantar Gea pulang, Deni pergi mengambil berkas di kampus lalu menghadiri meeting. Ia pulang lebih cepat sore itu. Di rumah, Kelana sedang menggambar bersama Gea di ruang tengah. Anak itu membuat tiga orang dengan tangan saling bergandengan.
'Ini Ayah, ini Mama, ini Kelana,' jelasnya bangga.
Deni duduk di lantai dan melihat Gea tersenyum. Gambar sederhana itu membuatnya kembali mengingat betapa mudah ia hampir merusak rasa aman di rumah mereka.
'Bagus banget,' puji Deni. 'Boleh Ayah simpan di kantor?'
'Nggak boleh. Ini buat Mama. Ayah bikin sendiri.'
Deni menambahkan gambar rumah kecil di samping mereka. Kelana protes karena warna atapnya tidak sama dengan rumah mereka. Gea lalu mengambil krayon abu-abu dan memperbaikinya, sementara Deni menggambar tiga jendela.
'Kamar Kelana yang mana?' tanya anak itu.
'Yang ini,' jawab Deni sambil menunjuk jendela paling kiri.
'Kalau kamar Ayah sama Mama?'
Gea langsung mengambil krayon dari tangan Deni sebelum pria itu sempat menggoda. 'Rahasia. Yang penting Kelana punya kamar sendiri.'
Kelana tertawa lalu menggambar sebuah pintu besar. Deni diam-diam memperhatikan Gea. Rumah yang mereka gambarkan belum sempurna, sama seperti pernikahan mereka. Namun, ia tidak ingin satu kesalahan membuat Gea merasa tidak memiliki tempat di dalamnya.
'Foto gambarnya aja, jangan foto Kelana buat diunggah,' pesan Gea.
'Aku tahu. Kita nggak akan unggah apa pun tanpa bicara dulu.'
Jawaban Deni membuat Gea tersenyum kecil. Kepercayaan memang belum pulih seluruhnya, tetapi sore itu keduanya sedang belajar membangunnya melalui keputusan yang sederhana.
Gea tertawa kecil. Deni pura-pura cemberut kemudian mengambil kertas lain. Mereka bertiga menggambar sampai malam. Ketika Kelana sudah tidur, Deni tidak meminta Gea segera masuk kamar. Ia membantu membereskan krayon dan menanyakan apakah istrinya masih sakit.
'Sudah lebih baik,' jawab Gea.
'Malam ini istirahat aja. Aku nggak akan ganggu.'
'Kalau peluk boleh.'
Deni tersenyum. 'Kalau itu aku nggak mungkin nolak.'
Ponsel Gea bergetar di atas meja. Sebuah pesan pribadi dari Putri masuk bersama foto lain yang lebih jelas dari depan kelab. Bukan foto Putri, melainkan Daffa yang sedang berbicara dengan seorang perempuan tidak dikenal. Di belakang mereka ada Serli dengan wajah marah.
Putri menulis bahwa sebelum mabuk, Daffa sengaja mengatakan Gea pasti akan datang karena dirinya menyimpan rahasia besar tentang Gea dan Pak Deni.
Senyum Gea menghilang. Daffa bukan sekadar curiga setelah melihat mobil tadi siang. Sepertinya dia sudah mencari tahu sejak sebelum malam itu.