Gea menyerahkan ponselnya kepada Deni. Pria itu membaca pesan Putri tanpa mengubah ekspresinya, lalu mengembalikan ponsel tersebut. Ia tidak ingin kembali terpancing hanya karena satu kalimat yang belum jelas asalnya.
'Kamu tahu rahasia apa yang mungkin dia maksud?' tanya Deni.
Gea menggeleng. 'Selain pernikahan kita, nggak ada. Tapi harusnya Daffa nggak tahu. Yang tahu cuma Rangga dan keluarga.'
'Foto pernikahan kita?'
'Ada di Rangga. Tapi dia nggak mungkin kasih.'
Deni juga tidak mencurigai Rangga. Pria itu sudah menjaga rahasia mereka bahkan ketika teman-temannya terus meledek Gea sebagai mahasiswi yang patah hati karena dosennya menikah. Jika ingin membuka semuanya, Rangga bisa melakukannya sejak lama.
'Besok aku tanya Putri langsung,' kata Gea.
'Jangan ketemu Daffa sendirian.'
'Aku tahu. Tapi kamu juga jangan datangi dia.'
Deni menarik napas lalu mengangguk. 'Aku janji.'
Malam itu mereka tidur sambil berpelukan. Deni menepati ucapannya untuk membiarkan Gea beristirahat. Saat Gea sudah tertidur, ia memandangi wajah istrinya cukup lama. Ada dorongan untuk mencari Daffa dan menanyakan semuanya, tetapi tindakan itu hanya akan mengulang kebiasaannya mengambil keputusan sendiri.
Pagi berikutnya Gea tidak memiliki jadwal kuliah. Dia mengantar Kelana ke tempat les bersama Deni. Setelah itu Deni berangkat bekerja, sedangkan Gea menunggu di sebuah kafe dekat tempat les. Putri setuju datang karena juga ingin meluruskan masalah foto.
'Gue baru tahu omongan Daffa itu dari Serli,' kata Putri setelah duduk. 'Sebelum masuk kelab, Daffa pamer katanya dia punya sesuatu yang bisa bikin satu kampus heboh.'
'Sesuatu apa?'
'Dia nggak tunjukin. Katanya tentang lo sama Pak Deni.'
Gea menelan ludah. 'Serli percaya?'
'Awalnya enggak. Tapi kemarin dia lihat Pak Deni jemput lo. Sekarang dia mulai mikir macam-macam.' Putri merendahkan suaranya. 'Ge, gue nggak mau ikut campur. Tapi kalau memang ada sesuatu, mending lo siapin jawaban sebelum Daffa yang bikin cerita.'
'Gue sama Pak Deni nggak seperti yang kalian pikir waktu dia masih mengajar,' jawab Gea hati-hati.
'Berarti sekarang ada hubungan?'
Gea terdiam. Putri langsung mengangkat tangan, menandakan dia tidak akan memaksa. 'Nggak usah jawab kalau belum siap. Gue cuma kasih tahu.'
Sebelum mereka selesai bicara, pengasuh di tempat les menelepon dan mengatakan kelas Kelana selesai lebih cepat. Gea berpamitan lalu berjalan ke gedung sebelah. Dia menggandeng Kelana keluar sambil menelepon sopir, tetapi anak itu meminta membeli es krim lebih dulu.
'Nanti dimarahin Ayah kalau makan sebelum siang,' kata Gea.
'Ayah nggak tahu kalau Mama nggak bilang.'
'Nggak boleh belajar bohong.'
Kelana cemberut lucu. Gea akhirnya berjanji membelikan puding setelah makan siang. Mereka menunggu mobil di depan gedung sambil membicarakan gambar yang dibuat semalam.
'Mama nanti jemput Kelana terus?' tanya Kelana.
'Kalau Mama nggak kuliah, Mama jemput.'
'Kalau Mama kuliah, Ayah?'
'Bisa Ayah, bisa Mbak.'
Kelana mengangguk puas, lalu memeluk kaki Gea. 'Kelana sayang Mama.'
'Mama juga sayang Kelana.'
Gea tidak menyadari ada seseorang berdiri di seberang jalan. Daffa baru keluar dari toko bersama seorang temannya. Pandangannya tertuju pada Kelana yang memanggil Gea dengan sebutan Mama. Ia bahkan sempat mengangkat ponsel sebelum mobil yang menjemput Gea berhenti.
Sore harinya, grup kelas kembali ramai. Kali ini bukan foto dari kelab, melainkan foto Gea sedang menggandeng Kelana. Wajah anak itu tidak terlalu jelas karena diambil dari jauh, tetapi Gea dapat mengenali pakaian yang digunakan Kelana pagi tadi.
Daffa mengirim pesan tepat di bawah foto itu.
Katanya Gea menyembunyikan seorang anak dan mungkin selama ini menjadi perempuan simpanan laki-laki beristri.
Beberapa teman langsung bertanya dari mana Daffa mendapatkan kesimpulan itu. Namun, Daffa justru menjawab bahwa dia pernah melihat Gea dekat dengan Deni sebelum pria itu berhenti mengajar. Ia menyusun potongan kejadian tanpa tahu kebenarannya, lalu menjadikannya seolah sebuah bukti.
Putri membalas bahwa mengambil foto seorang anak dari kejauhan jauh lebih memalukan daripada apa pun yang sedang dituduhkan. Serli juga meminta Daffa berhenti, tetapi pesan baru terus masuk. Ada yang membela Gea, ada pula yang sekadar memasang tanda tanya dan membuat suasana semakin gaduh.
Gea ingin langsung menulis pengakuan, tetapi jarinya berhenti di atas layar. Dia tidak ingin kabar pernikahannya pertama kali keluar sebagai jawaban panik di grup. Deni juga berhak berada di sisinya ketika mereka menjelaskan semuanya.
Tangan Gea gemetar membaca tuduhan tersebut. Ia segera menelepon Deni, tapi pria itu sedang berada di dalam meeting. Gea lalu menghubungi Rangga.
'Gue bunuh tuh orang,' umpat Rangga setelah melihat grup.
'Jangan bikin masalah baru. Tolong minta dia hapus foto Kelana.'
'Lo harus bilang yang sebenarnya, Gea. Kalau enggak, dia bakalan terus bikin cerita.'
Gea tahu Rangga benar. Menyembunyikan statusnya sekarang bukan hanya berdampak pada dirinya dan Deni, tetapi juga Kelana. Anak itu tidak pantas dijadikan bahan gosip hanya karena Gea takut menghadapi penilaian teman-temannya.
Deni menelepon beberapa menit kemudian. Suaranya terdengar cemas, tetapi tetap terkendali. 'Kamu sama Kelana aman?'
'Aman. Kami di rumah.'
'Aku sudah lihat fotonya. Aku pulang sekarang.'
'Meeting kamu?'
'Bisa dilanjutkan anak buah aku. Ini tentang foto Kelana.'
Gea tidak melarang. Sambil menunggu, dia menyimpan tangkapan layar semua pesan sebelum Daffa menghapusnya. Putri dan Serli mulai membela Gea di grup, tetapi tuduhan sudah telanjur dibaca banyak orang.
Saat Deni tiba, ia memeriksa keadaan Kelana lebih dulu. Anak itu sedang bermain di kamar dan tidak mengetahui apa pun. Setelah itu mereka duduk di ruang kerja. Deni menyarankan melapor kepada pihak kampus karena foto seorang anak disebarkan tanpa izin. Gea setuju, tetapi dia juga mengambil keputusan lain.
'Kita simpan semua bukti dulu,' kata Deni. 'Kalau Daffa minta maaf, foto itu tetap harus dihapus. Tapi kita nggak akan mengancam atau membalas dengan menyebarkan aib dia.'
'Aku setuju. Aku cuma mau Kelana nggak dibawa-bawa.'
'Dan aku mau nama kamu dibersihkan tanpa bikin kamu terlihat bersalah karena menikah sama aku.'
'Besok aku akan bilang ke teman-teman kalau aku istri kamu,' ucapnya mantap. 'Aku nggak mau Kelana disebut anak yang aku sembunyikan.'
'Kamu yakin? Kita tadinya sepakat setelah ujian.'
'Aku masih takut. Tapi sekarang bukan cuma tentang aku.'
Deni menggenggam kedua tangannya. 'Aku akan ikut keputusan kamu. Kita jelasin bersama kalau kamu mau.'
Bel rumah berbunyi sebelum Gea menjawab. Pengasuh membuka pintu, kemudian terdengar suara Rangga dari bawah. Namun, bukan hanya Rangga yang datang. Daffa ikut berdiri di ruang tamu dengan wajah tegang dan ponsel di tangannya.
Kelana berlari keluar kamar lebih dulu. Ketika melihat Deni menuruni tangga bersama Gea, anak itu mengangkat kedua tangannya dengan riang.
'Ayah! Mama! Kelana mau ikut duduk.'
Daffa membeku. Tatapannya berpindah dari Kelana kepada Deni, lalu berhenti pada tangan Gea yang masih digenggam pria itu.
'Jadi istri Pak Deni yang selama ini disembunyikan itu...' Daffa menelan kalimatnya sendiri. 'Lo, Gea?'