'Iya, gue istrinya Pak Deni.'
Gea menjawab tanpa melepaskan tangan Deni. Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas untuk membuat ruang tamu mendadak sunyi. Daffa menatapnya seperti baru mendengar sesuatu yang tidak pernah mungkin terjadi. Rangga berdiri di sampingnya dengan wajah kesal, sedangkan Kelana sama sekali tidak memahami ketegangan orang-orang dewasa.
'Kok Om Daffa bengong?' tanya Kelana.
Deni berjongkok dan mengusap kepala anak itu. 'Kelana main sama Mbak dulu ya. Ayah sama Mama mau bicara.'
'Tapi Kelana mau duduk.'
'Nanti Ayah panggil.'
Kelana akhirnya mengikuti pengasuhnya kembali ke kamar. Setelah anak itu tidak terlihat, Gea meminta Daffa duduk. Dia sendiri duduk di sebelah Deni, sementara Rangga mengambil tempat di sofa yang lain.
'Lo nikah sama Pak Deni?' ulang Daffa. 'Sejak kapan?'
'Dua bulan lalu.'
'Kenapa nggak ada yang tahu?'
'Karena gue yang belum siap bilang. Tapi itu bukan alasan buat lo foto Kelana terus nuduh gue jadi perempuan simpanan.'
Daffa menunduk pada ponselnya. Kesombongan yang biasa terlihat di wajahnya seketika menghilang. 'Gue kira anak itu anaknya Pak Deni sama istrinya.'
'Memang anak kami,' jawab Deni tenang. 'Kelana tinggal bersama kami dan memanggil kami Ayah serta Mama. Tapi wajah dan hidupnya bukan bahan untuk membuktikan dugaan kamu.'
Gea melirik suaminya. Deni tidak membentak ataupun mengambil alih pembicaraan. Pria itu hanya menjelaskan bagian tentang Kelana, lalu membiarkan Gea melanjutkan.
'Hapus fotonya sekarang,' kata Gea. 'Bukan cuma dari grup. Hapus dari galeri dan tempat sampah ponsel lo. Terus bilang ke siapa pun yang lo kirimi supaya ikut hapus.'
Daffa membuka grup kelas. Ia menghapus foto dan tuduhannya, kemudian menunjukkan galeri serta tempat sampah kepada Gea. Rangga memperhatikan dari dekat agar tidak ada yang terlewat.
'Sebelum dihapus, kirim foto aslinya ke aku sebagai bukti,' kata Gea. 'Setelah itu baru bersihkan semuanya.'
Daffa menurut. Deni diam-diam kagum karena istrinya masih bisa berpikir jernih. Gea tidak asal merampas ponsel atau menghapus jejak yang nanti dibutuhkan kampus. Ia memastikan bukti tersimpan di tangannya sendiri, lalu meminta Daffa memperlihatkan daftar penerima.
'Teman yang bareng lo tadi pagi siapa?' tanya Gea.
'Anak jurusan sebelah. Dia lihat gue ambil foto, tapi gue nggak kirim ke dia.'
'Hubungi dia juga. Bilang jangan menyebarkan apa yang dia lihat.'
Daffa langsung mengirim pesan. Beberapa menit kemudian temannya membalas bahwa dia tidak mengambil gambar. Gea menyimpan tangkapan layar jawaban itu untuk melengkapi urutan kejadian.
'Gue sudah telanjur kirim ke Serli sama satu teman gue,' akunya. 'Tapi di grup pasti ada yang sudah simpan.'
'Makanya besok lo jelasin sendiri kalau tuduhan lo salah,' ujar Rangga.
'Gue jelasin.'
Gea belum merasa cukup. 'Sekarang bilang, dari mana lo tahu ada hubungan gue sama Deni sebelum lihat kami di kampus? Putri bilang lo sudah ngomong punya rahasia dari malam di kelab.'
Daffa mengusap wajahnya. Ia lalu meminta maaf kepada Rangga sebelum menjelaskan. Beberapa hari setelah pernikahan, Rangga pernah membawa laptop untuk memindahkan hasil foto acara. Saat mereka mengerjakan tugas di perpustakaan, layar laptop belum terkunci dan menampilkan beberapa gambar kecil. Daffa tidak melihat wajah pengantin perempuan dengan jelas, tetapi ia mengenali gelang yang sering dipakai Gea dan tas milik Rangga di sudut meja.
'Gue tanya Rangga, tapi dia langsung tutup laptop dan bilang itu kerjaan orang,' lanjut Daffa. 'Terus gue lihat unggahan bulan madu Pak Deni. Wajah perempuannya memang gelap, tapi bentuk gelangnya sama.'
Rangga mengumpat pelan. 'Jadi lo ngintip layar laptop gue?'
'Nggak sengaja lihat. Awalnya gue juga nggak yakin. Tapi kemarin Pak Deni jemput Gea, terus hari ini gue dengar anak itu panggil dia Mama.'
'Ketidakpastian lo berubah jadi tuduhan karena lo pengin jadi orang pertama yang punya kabar,' kata Gea kecewa.
Daffa tidak membantah. Ia mengaku sedang mabuk saat bicara di depan kelab, tetapi Gea menolak menerima itu sebagai alasan. Daffa sudah menyimpan kecurigaan saat sadar dan memilih memotret Kelana pada hari berikutnya.
'Lo juga harus minta maaf di depan kelas,' ujar Gea. 'Bukan cuma lewat pesan yang nanti hilang ketutup obrolan lain.'
'Iya.'
'Dan kalau foto Kelana muncul lagi, gue akan lapor ke kampus.'
Deni menoleh kepada istrinya. Mereka tadi sudah sepakat menyimpan bukti dan melapor. Namun, Gea masih ingin memberi Daffa kesempatan untuk bertanggung jawab lebih dulu.
'Kami tetap akan bicara dengan pihak kampus soal penyebaran foto anak,' kata Deni. 'Tujuannya bukan menghancurkan kuliah kamu. Kami perlu memastikan foto itu tidak menyebar dan pihak kampus mencatat kejadiannya.'
Daffa terlihat pucat. 'Bapak mau keluarkan saya?'
'Saya sudah bukan dosen kamu. Saya juga nggak punya hak mengeluarkan siapa pun. Kamu akan menjelaskan tindakan kamu sendiri.'
Jawaban itu membuat Gea merasa sedikit lega. Beberapa hari lalu, Deni mungkin akan langsung mengancam Daffa memakai nama keluarganya. Kali ini suaminya memilih jalur yang benar.
Rangga kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia menunjukkan bahwa semua foto pernikahan tersimpan di folder yang terkunci. Gambar yang pernah dilihat Daffa hanya tampilan sementara ketika kartu memori dipindahkan. Ia juga berjanji memeriksa semua salinan dan tidak membawa berkas itu ke kampus lagi.
'Gue minta maaf juga, Ge. Harusnya gue lebih hati-hati,' ucap Rangga.
'Lo nggak salah karena punya foto pernikahan gue. Daffa yang salah bikin kesimpulan dan menyebarkannya.'
Daffa kembali meminta maaf. Gea menerimanya sebagai ucapan, tetapi belum memberikan kata memaafkan. Ia ingin melihat apa yang dilakukan Daffa besok. Sebelum pulang, Daffa mengetik pesan baru di grup. Dia mengakui perempuan di depan kelab bukan Gea, foto anak yang disebarkannya diambil tanpa izin, dan tuduhan mengenai perempuan simpanan tidak benar.
'Kenapa lo ikut datang ke sini?' Gea bertanya kepada Rangga.
'Gue ketemu dia di depan kompleks. Dia bilang mau minta maaf, tapi gue nggak percaya dia datang tanpa bikin ribut. Jadi gue ikut.'
'Terima kasih. Tapi setelah ini nggak perlu jaga gue atas perintah Deni lagi.'
Rangga melirik Deni, kemudian mengangguk. 'Gue datang sebagai teman lo, bukan pengawas. Kalau lo bilang nggak perlu, gue mundur.'
Deni menerima batas itu tanpa tersinggung. Ia bahkan meminta maaf kepada Rangga karena pernah menaruh tanggung jawab yang seharusnya menjadi bagian dari kepercayaan antara dirinya dan Gea.
Tidak sampai satu menit, pesan balasan memenuhi layar. Pertanyaan baru justru muncul tentang siapa Kelana dan mengapa Deni menjemput Gea.
'Besok gue yang jawab,' kata Gea sambil mematikan layar. 'Bukan lo.'
Daffa mengangguk lalu pergi bersama Rangga. Setelah pintu tertutup, Deni memeluk Gea dari samping.
'Kamu hebat,' bisiknya.
'Aku gemetar dari tadi.'
'Tapi kamu tetap bicara.'
Gea menyandarkan kepala pada bahunya. Ia baru saja mengatakan kebenaran kepada satu orang, tetapi besok dia harus mengatakannya di depan satu kelas. Yang lebih menakutkan, kabar itu mungkin tidak akan berhenti di sana.
Ponsel Deni bergetar. Pesan dari bagian administrasi kampus masuk, meminta Deni dan Gea datang besok pagi. Ada tangkapan layar percakapan kelas yang sudah dikirimkan seseorang kepada pihak fakultas.