Gea membaca pesan dari administrasi kampus berulang kali. Baru saja ia berani mengakui pernikahannya kepada Daffa, sekarang pihak fakultas sudah mengetahui persoalan itu lebih dahulu. Deni mengatakan mereka tidak perlu panik karena tidak ada peraturan yang sengaja mereka langgar dalam proses akademik. Namun, wajah pria itu tetap menunjukkan kekhawatiran.
'Aku tetap masuk kelas besok,' kata Gea.
'Kita ke administrasi dulu. Setelah itu keputusan kamu.'
'Jangan jawab semua pertanyaan buat aku.'
Deni menggenggam tangannya. 'Aku ingat janji aku.'
Malam itu mereka menjelaskan keadaan kepada orang tua Deni melalui telepon. Papanya Deni meminta semua dokumen pengunduran diri dan catatan nilai Gea disiapkan. Mamanya lebih khawatir pada foto Kelana. Dia tidak ingin identitas anak itu tersebar hingga mengganggu ibu kandungnya yang sedang dirawat.
'Besok Kelana di rumah aja sama pengasuhnya,' ujar Gea setelah telepon ditutup.
'Iya. Kita jangan bawa dia ke kampus.'
Pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat. Deni mengenakan kemeja sederhana, sedangkan Gea memilih pakaian yang biasa dipakainya ke kelas. Ia sempat hendak melepas cincin pernikahan, tapi kemudian membatalkan niatnya. Jika hari ini dia akan mengatakan yang sebenarnya, tidak ada gunanya menyembunyikan cincin itu lagi.
Di ruang administrasi, wakil dekan bidang kemahasiswaan sudah menunggu bersama ketua program studi. Daffa juga dipanggil dan duduk di ujung meja. Rangga datang sebagai saksi karena mengetahui pernikahan serta asal kecurigaan Daffa.
'Kami tidak memanggil kalian untuk menghakimi kehidupan pribadi,' kata wakil dekan. 'Kami perlu memeriksa dua hal. Pertama, penyebaran foto anak tanpa izin. Kedua, kemungkinan konflik kepentingan karena Saudara Deni pernah mengajar Saudari Gea.'
Deni meletakkan salinan berkasnya di meja. Ia menjelaskan tanggal berhenti mengajar, tanggal pernikahan, dan mata kuliah yang pernah diampunya. Namun, ketika ketua program studi bertanya kapan hubungan pribadi mereka dimulai, Deni menoleh kepada Gea terlebih dahulu.
'Kami mulai dekat saat Pak Deni masih mengajar,' jawab Gea jujur. 'Tapi nilai saya diberikan berdasarkan tugas dan ujian. Saya bersedia kalau semuanya mau diperiksa ulang.'
Ketua program studi mencatat jawabannya. 'Apakah pernah ada tekanan untuk menerima hubungan itu karena dia dosen kamu?'
'Nggak pernah. Saya menerima karena keputusan saya sendiri.'
Deni menahan diri untuk tidak menyela. Pertanyaan itu membuatnya tidak nyaman, tetapi Gea berhak menjawab tanpa suaminya berbicara atas namanya.
Daffa kemudian diminta menjelaskan soal foto. Dia mengakui mengambil gambar Kelana dari seberang jalan dan menyebarkannya ke grup tanpa izin. Ia juga mengakui tuduhan tentang Gea tidak didukung bukti. Pihak fakultas memintanya membuat pernyataan tertulis, menghubungi semua penerima langsung, dan menghapus salinan di hadapan petugas.
'Masalah disiplin akan diputuskan setelah pemeriksaan,' ujar wakil dekan. 'Permintaan maaf tidak otomatis menghilangkan akibat.'
Daffa mengangguk lesu.
Mengenai Deni dan Gea, fakultas akan melakukan peninjauan nilai secara internal. Gea tidak dilarang mengikuti kuliah, sedangkan berkas akhir pengunduran diri Deni ditahan sampai pemeriksaan selesai. Papanya memiliki kampus itu, tetapi Deni justru meminta agar pemeriksaan dilakukan oleh tim yang tidak berada di bawah keputusan langsung keluarganya.
Ketua program studi juga meminta daftar seluruh komunikasi akademik antara Deni dan Gea selama masa perkuliahan. Gea sempat tegang karena pesan pribadi mereka bercampur dengan pembicaraan tugas. Namun, staf menjelaskan mereka hanya memerlukan bukti yang berhubungan dengan jadwal, penilaian, dan materi kelas.
'Kami tidak akan membaca percakapan pribadi yang tidak relevan,' katanya. 'Saudari boleh menandai bagian akademik dan menyerahkannya bersama salinan asli yang disimpan tertutup bila perlu verifikasi.'
Gea menyetujui cara itu. Deni juga menawarkan surel kelas dan rekaman perubahan nilai dari sistem kampus. Ia tidak ingin Gea menanggung pembuktian sendirian hanya karena statusnya sebagai mahasiswa.
'Saya nggak mau ada anggapan masalah ini ditutup karena orang tua saya,' kata Deni.
Wakil dekan menyetujui. Hasil awal dijanjikan keluar dalam beberapa hari. Mereka diminta tidak memperdebatkan masalah tersebut melalui media sosial dan menjaga identitas Kelana.
Setelah keluar dari ruangan, Gea melihat hampir semua teman sekelasnya sudah berkumpul. Rupanya pesan Daffa semalam membuat mereka datang lebih pagi. Putri dan Serli berdiri di depan, sedangkan Fian menatap cincin di tangan Gea.
'Ge, yang sebenarnya gimana?' tanya Putri.
Gea menoleh kepada Deni. Pria itu mundur satu langkah, memberi ruang seperti yang sudah dijanjikan. Gea kemudian berdiri menghadap teman-temannya.
'Gue sama Pak Deni sudah menikah dua bulan lalu,' ucapnya. 'Kami sengaja belum bilang karena gue takut kalian mengira nilai gue dikasih cuma karena hubungan kami. Kelana tinggal sama kami. Dia bukan anak yang disembunyikan dan bukan bahan gosip.'
Suasana langsung ramai. Ada yang terkejut, ada yang mengira Gea sedang bercanda, dan ada pula yang mempertanyakan bulan madu Deni. Putri memegang lengan Gea seolah masih sulit percaya.
'Jadi perempuan di unggahan pantai itu lo?' tanyanya.
'Iya.'
'Dan waktu kami ledekin lo patah hati karena Pak Deni nikah...'
'Gue sebenarnya baru pulang bulan madu.'
Rangga tertawa kecil, tetapi segera diam saat yang lain memelototinya. Rahasianya sebagai satu-satunya teman yang hadir di acara pernikahan akhirnya terbuka juga.
Daffa berdiri di depan semua orang. Dengan suara pelan, dia mengakui tuduhannya salah dan meminta siapa pun yang menyimpan foto Kelana untuk menghapusnya. Beberapa teman langsung memeriksa ponsel mereka. Serli juga meminta maaf karena ikut menulis dugaan tanpa bertanya.
Gea mengira setelah pengakuan itu suasana akan sedikit tenang. Namun, seorang mahasiswi di barisan belakang bertanya apakah Deni sudah berhubungan dengan Gea saat masih memiliki kuasa atas nilainya.
'Itu sedang diperiksa fakultas,' jawab Gea. 'Gue nggak pernah dikasih nilai yang bukan hak gue.'
'Tapi orang tua Pak Deni punya kampus ini,' sahut yang lain. 'Siapa yang bisa jamin pemeriksaannya netral?'
Deni akhirnya bicara setelah Gea mengangguk kepadanya. Ia mengatakan pemeriksaan dilakukan tim independen dan semua pekerjaan Gea boleh dinilai ulang. Ia juga meminta teman-teman tidak menyerang Gea atas keputusan yang mereka ambil berdua.
'Kalau nanti ada yang mau bertanya soal nilai, tanyakan melalui program studi,' tambah Deni. 'Jangan paksa Gea membuktikan pernikahannya dengan membagikan dokumen atau foto pribadi. Kalian berhak meminta proses akademik yang adil, tapi tidak berhak masuk ke kamar atau rumah tangga kami.'
Beberapa mahasiswa menunduk mendengar kalimat terakhir. Gea bersyukur Deni memberikan batas tanpa memarahi mereka. Ia juga sadar suaminya tidak menyangkal kenyataan bahwa teman-temannya memang berhak mempertanyakan keadilan nilai.
Bel masuk berbunyi. Gea berjalan ke kursinya di tengah tatapan banyak orang. Putri duduk di satu sisi dan Rangga di sisi lain. Daffa memilih bangku paling belakang bersama Serli.
Saat dosen belum datang, ponsel Gea dipenuhi notifikasi. Kabar pernikahannya sudah keluar dari grup kelas. Sebuah akun gosip kampus mengunggah pertanyaan tentang dosen muda yang diam-diam menikahi mahasiswinya sendiri.
Wajah memang belum disebut, tetapi semua orang di kelas tahu siapa yang dimaksud.