Gea mematikan ponselnya sebelum perkuliahan dimulai. Ia mencoba mencatat penjelasan dosen, tetapi bisikan dari belakang terus terdengar. Setiap kali ada mahasiswa dari kelas lain lewat di depan pintu, beberapa orang menoleh kepadanya. Kabar itu menyebar jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan.
Saat jam istirahat, Putri mengajak Gea ke kantin yang lebih sepi. Rangga dan Fian ikut, sedangkan Serli masih menemani Daffa menyelesaikan pernyataan di ruang kemahasiswaan.
'Lo marah gue nggak cerita?' tanya Gea kepada Putri.
'Marah sedikit,' jawab Putri jujur. 'Tapi gue lebih kesal karena tahu dari gosip. Gue pikir kita teman.'
'Gue takut.'
'Takut kita bocorin?'
'Takut kalian pikir gue sengaja dekat sama dosen buat cari nilai. Takut semuanya berubah.'
Putri mengaduk minumannya. 'Semuanya memang berubah, Ge. Lo sekarang punya suami dan anak yang harus dipikirin. Tapi kalau lo cerita dari awal, setidaknya gue nggak ikut nuduh perempuan di foto itu lo.'
Ucapan itu terasa menohok. Gea menyadari keputusannya menyimpan rahasia juga membuat teman-temannya sulit memahami perubahan sikapnya. Meskipun begitu, kesalahan Daffa menyebarkan foto tetap bukan akibat yang pantas ia terima.
'Gue minta maaf karena nggak percaya sama kalian,' ujar Gea.
'Gue juga minta maaf sudah kepo,' balas Putri. 'Tapi nanti traktir makan karena nikah nggak undang-undang.'
Fian yang sejak tadi diam akhirnya tertawa. Suasana menjadi sedikit ringan. Rangga kemudian menjelaskan bahwa pernikahan berlangsung tertutup di Yogyakarta dan dia datang sebagai fotografer. Putri memukul lengannya karena mampu menyimpan rahasia selama dua bulan.
Kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Seseorang dari kelas lain menghampiri meja dan meminta memastikan kabar yang beredar. Gea menolak menjawab. Dia tidak ingin mengulang cerita pribadinya kepada setiap orang yang merasa penasaran.
Sepulang kuliah, Deni menunggu di tempat yang sama tanpa bersembunyi. Beberapa mahasiswa langsung mengangkat ponsel, tetapi petugas keamanan meminta mereka tidak mengambil gambar. Gea masuk ke mobil sambil menutupi wajah dari sorotan.
'Kamu baik-baik aja?' tanya Deni.
'Aku capek dilihatin.'
'Kita langsung pulang?'
'Ke rumah Mama sama Papa aku dulu. Mereka harus dengar dari kita sebelum lihat gosip.'
Deni mengangguk dan menghubungi kantornya untuk membatalkan pertemuan sore. Ia tidak membuat keputusan sendiri; ia hanya bertanya apakah Gea ingin dirinya ikut berbicara. Gea meminta Deni tetap berada di sampingnya.
Reno sudah tiba ketika mereka sampai. Kakaknya berdiri di teras dengan wajah tegang. Mama Gea memeluk putrinya lebih dulu, sedangkan papanya meminta semua orang masuk agar tidak dilihat tetangga.
'Kenapa bisa sampai ada foto Kelana?' tanya Reno.
Gea menceritakan semuanya sejak tugas kelompok, kejadian di depan kelab, sampai pengakuan Daffa. Deni ikut mengakui bahwa ia sempat menuduh Gea tanpa mendengar penjelasan. Reno langsung menatapnya tajam.
'Kamu bentak adik saya karena lihat perempuan dari jauh?' tanyanya.
'Iya. Saya salah dan sudah minta maaf.'
'Maaf doang nggak cukup kalau nanti diulang.'
'Saya tahu.'
Gea menahan lengan Reno sebelum suasana memanas. 'Aku yang minta Deni cerita jujur. Kami sudah bicara dan dia sedang memperbaiki sikapnya.'
Papanya Gea meminta Reno duduk. Ia lalu menanyakan pemeriksaan kampus. Deni menunjukkan surat panggilan dan salinan dokumen pengunduran diri. Dia menegaskan tidak akan memakai hubungan papanya untuk memengaruhi hasil.
'Papa dari awal setuju kalian menikah karena percaya kamu bisa menjaga Gea,' kata papanya. 'Kalau kampus bertanya, jawab semuanya. Jangan sembunyikan tanggal atau kejadian hanya supaya nama keluarga terlihat baik.'
'Iya, Pa,' jawab Deni.
Mamanya Gea lebih mencemaskan putrinya yang harus datang ke kelas di tengah gosip. Dia menawarkan agar Gea tinggal beberapa hari di rumah, tetapi Gea menolak. Ia tidak ingin kepulangannya dianggap sebagai pertengkaran baru dengan Deni.
'Aku tetap kuliah seperti biasa. Kalau aku menghilang, orang malah merasa tuduhannya benar,' kata Gea.
Mamanya menggenggam tangan Gea. 'Mama bukan minta kamu lari. Mama cuma takut kamu menghadapi semuanya sendirian.'
'Aku nggak sendirian, Ma. Ada Deni, Rangga, Putri, dan keluarga kita.'
'Tapi kalau kamu capek, rumah ini tetap rumah kamu. Pulang ke sini bukan berarti pernikahan kamu gagal.'
Gea memeluk mamanya. Selama ini dia selalu menganggap seorang istri harus terus berada di rumah suami agar tidak menjadi bahan pembicaraan. Kalimat mamanya membuatnya mengerti bahwa memiliki tempat untuk beristirahat tidak sama dengan mengancam pergi setiap kali ada masalah.
Reno kemudian mengajak Deni bicara di halaman belakang. Gea tidak mengikuti, tetapi dari jendela ia bisa melihat kakaknya berbicara tanpa menunjuk atau meninggikan suara. Deni mendengarkan dengan serius.
'Gue bilang ke dia, kalau mau melindungi lo jangan pakai larangan,' ujar Reno setelah kembali. 'Jangan sampai alasan takut kehilangan bikin hidup lo makin sempit.'
'Dia sudah mulai ngerti, Kak.'
'Gue lihat. Makanya gue nggak pukul dia.'
Gea mendelik, sedangkan Reno tertawa kecil dan mengacak rambutnya seperti ketika mereka masih anak-anak.
Reno akhirnya sedikit tenang. Dia meminta semua tangkapan layar disimpan dan menawarkan bantuan jika foto Kelana menyebar ke luar kampus. Deni menerimanya tanpa merasa sedang disaingi sebagai suami.
Saat mereka pulang menjelang malam, Kelana sudah menunggu di rumah bersama pengasuhnya. Anak itu berlari memeluk Gea lalu menunjukkan tugas dari tempat les. Gea tersenyum dan berusaha tidak membawa kecemasan kampus ke depan Kelana.
Deni duduk menemani Kelana menyelesaikan gambar, sementara Gea memeriksa akun yang pertama kali mengunggah gosip. Tidak ada nama pengelola. Akun itu menerima kiriman melalui formulir tanpa identitas, lalu menampilkan ulang cerita yang dianggap menarik. Gea mengirim permintaan resmi agar foto dan dugaan tentang Kelana dihapus.
Beberapa menit kemudian pengelola membalas bahwa mereka hanya mengunggah informasi dari mahasiswa. Jawaban itu membuat Gea kesal.
'Menerima kiriman bukan berarti boleh sebar apa saja,' gumamnya.
Deni membaca balasan setelah meminta izin. Ia menyarankan Gea mengirimkan bukti pernyataan Daffa serta permintaan dari kampus. Jika tetap ditolak, barulah mereka menempuh laporan privasi pada platform dan bantuan hukum. Gea setuju karena langkah itu melindungi Kelana tanpa memakai kekuasaan keluarga Deni untuk menakut-nakuti mahasiswa.
Tidak lama kemudian unggahan pertama dihapus, tetapi tangkapan layarnya sudah berpindah ke beberapa akun lain. Rahasia yang pernah berada di antara keluarga mereka sekarang seperti kertas yang diterbangkan angin, sulit diketahui akan jatuh di tangan siapa.
Namun, mamanya Deni menelepon beberapa saat kemudian. Perempuan itu mendapat kabar bahwa salah satu kerabat melihat unggahan akun gosip. Ia takut keluarga besar bertanya tentang Kelana dan kemudian mencari ibu kandungnya di rumah sakit.
'Kita harus lindungi Kelana tanpa bikin dia merasa disembunyikan,' kata Gea setelah telepon berakhir.
'Iya. Aku akan bicara sama pihak rumah sakit supaya data kakak aku tetap aman,' jawab Deni.
Ponsel Gea kembali menyala. Unggahan akun gosip kini sudah menyebut nama Deni secara lengkap. Komentar-komentarnya mempertanyakan nilai Gea, pekerjaan Deni, bahkan asal-usul Kelana.
Di antara komentar itu, ada akun tanpa foto yang menulis bahwa pernikahan tersebut dilakukan karena Gea sudah hamil lebih dulu dan Kelana adalah buktinya.