Deni langsung meminta Gea berhenti membaca komentar. Bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu, tetapi karena setiap tuduhan baru membuat wajah istrinya semakin pucat. Ia mengambil tangkapan layar komentar tentang Kelana lalu mengirimkannya kepada Reno dan pihak kampus.
'Kelana usianya jelas bukan anak kandung kita,' ujar Gea kesal. 'Kok mereka bisa bikin cerita sejauh itu?'
'Karena mereka nggak peduli kebenaran. Mereka cuma mau cerita yang ramai.'
'Aku pengin jawab.'
Deni tidak melarang. Ia hanya mengingatkan agar mereka tidak menyebut rumah sakit atau keadaan ibu kandung Kelana. Gea kemudian menulis satu pernyataan singkat di akun pribadinya. Ia mengakui telah menikah secara sah dengan Deni, membantah kehamilan, dan meminta foto serta identitas Kelana tidak disebarkan. Tidak ada foto buku nikah atau wajah anak yang ditampilkan.
Sebelum mengunggah, Gea menunjukkan tulisannya kepada Deni. 'Ada yang harus ditambah?'
'Ini suara kamu. Kalau menurut kamu sudah cukup, unggah.'
Gea menekan tombol kirim. Dalam beberapa menit, teman-teman dekatnya ikut membagikan permintaan untuk melindungi Kelana. Putri menulis bahwa tuduhan di depan kelab telah dibantah. Serli mengakui dirinya sempat salah menduga, sedangkan Rangga meminta orang berhenti menjadikan seorang anak sebagai bahan hiburan.
Mamanya Deni datang menjelang malam setelah melihat pernyataan tersebut. Ia membawa makanan dan langsung memeluk Gea. Tidak ada pertanyaan tentang mengapa pernikahan dibuka lebih cepat dari rencana.
'Mama sudah minta keluarga besar nggak ikut menjawab komentar,' katanya. 'Makin banyak yang bicara, makin banyak informasi Kelana yang keluar.'
'Maaf jadi bawa masalah ke keluarga, Ma,' ucap Gea.
'Kamu bukan pembawa masalah. Orang yang menyebarkan foto anak tanpa izin yang bikin masalah.'
Deni mengangguk setuju. Ia lalu menjelaskan rencana pemeriksaan kampus dan perlindungan data rumah sakit. Mamanya meminta mereka tetap memberi penjelasan sederhana kepada Kelana agar anak itu tidak mendengar potongan kabar dari orang lain lebih dahulu.
Mereka sepakat tidak menunjukkan unggahan atau menyebut kata-kata buruk di depan Kelana. Namun, jika anak itu bertanya, mereka akan menjawab sesuai usianya tanpa mengatakan ibu kandungnya adalah rahasia yang memalukan.
Daffa juga mengunggah permintaan maaf memakai namanya sendiri. Dia menjelaskan bahwa foto awal diambil olehnya tanpa izin dan kesimpulannya tentang Gea salah. Walaupun tidak menghapus semua komentar buruk, pengakuan itu membantu menjernihkan asal masalah.
Keesokan harinya, Deni dan Gea menghadiri pemeriksaan kedua. Tim peninjau terdiri atas dosen dari program studi lain serta seorang staf penjaminan mutu. Mereka membawa salinan tugas, lembar ujian, daftar kehadiran, dan rincian nilai seluruh mahasiswa di kelas Deni.
'Kami tidak hanya membandingkan angka akhir,' jelas salah satu anggota tim. 'Kami memeriksa waktu pengumpulan, catatan koreksi, dan kemungkinan perlakuan khusus.'
Gea diminta menunggu di ruangan berbeda saat Deni diwawancarai. Ia menjawab kapan mulai tertarik, bagaimana hubungan berlangsung, dan mengapa baru mengundurkan diri menjelang pernikahan. Deni mengakui seharusnya dia melaporkan potensi konflik kepentingan lebih cepat, bahkan jika belum ada perubahan nilai.
'Saya berpikir bisa memisahkan urusan pribadi dan kelas,' katanya. 'Secara penilaian saya memang melakukannya. Tapi saya memahami sekarang bahwa transparansi tetap diperlukan.'
Sementara itu Gea ditanya apakah pernah mendapat bocoran soal ujian, perpanjangan waktu khusus, atau kesempatan mengulang tugas. Dia menjawab tidak. Salah satu tugasnya justru pernah mendapat nilai lebih rendah daripada Rangga dan Putri.
Staf menunjukkan tiga lembar tugas tanpa nama dan meminta Gea menjelaskan proses pengerjaannya. Gea mengenali miliknya dari kesalahan penulisan pada halaman kedua. Ia bisa menunjukkan sumber, catatan revisi, dan tanggal ketika tugas itu dikirim melalui sistem.
'Kami melakukan hal yang sama kepada beberapa mahasiswa pembanding,' ujar staf tersebut. 'Tujuannya memastikan rubrik digunakan secara konsisten, bukan menguji ingatan kamu seorang.'
Gea mengangguk. Penjelasan itu membuatnya lebih tenang. Ia tidak ingin diperlakukan seperti terdakwa, tetapi juga tidak ingin pemeriksaan sekadar formalitas karena keluarga Deni memiliki kampus.
Ketika ditanya apakah dirinya pernah dihukum atau ditegur Deni di kelas, Gea bahkan menceritakan beberapa kejadian yang membuat teman-temannya dulu meledeknya. Hubungan pribadi mereka tidak selalu membuat perkuliahan menjadi mudah. Justru saat itu Deni berusaha terlalu keras terlihat tidak memihak.
'Apakah Saudari merasa bebas menolak hubungan itu?' tanya staf perempuan di depannya.
'Iya. Saya beberapa kali menolak hal yang belum siap saya lakukan dan Deni menerima. Saya menikah karena saya mau.'
'Apakah keluarga Saudara Deni menawarkan keuntungan akademik?'
'Nggak pernah.'
Setelah hampir dua jam, mereka dipertemukan kembali. Hasil lengkap belum keluar, tetapi peninjauan awal tidak menemukan perubahan angka yang tidak didukung pekerjaan. Nilai Gea juga berada di tengah kelompok, bukan paling tinggi.
Tim tetap mengingatkan bahwa nilai yang wajar tidak otomatis menghapus persoalan posisi. Dosen memiliki kuasa yang bisa memengaruhi mahasiswa meski tidak digunakan untuk mengubah angka. Deni menerima penjelasan itu tanpa membela diri.
'Kalau saya bisa mengulang waktu, saya seharusnya melapor saat hubungan mulai serius dan meminta kelas dialihkan,' katanya. 'Saya nggak bisa mengubah yang sudah terjadi, tapi saya bisa bertanggung jawab atas akibatnya.'
Gea memandang suaminya. Ia tahu Deni tidak pernah memaksanya, tetapi pengakuan mengenai posisi tersebut tetap penting. Dengan begitu, kebebasan Gea memilih tidak dipakai untuk menutupi kewajiban Deni sebagai dosen.
Meski begitu, Deni mendapat teguran karena tidak melaporkan hubungan saat masih mengajar. Berkas pengunduran dirinya akan tetap diproses setelah tim menyelesaikan laporan. Gea ditawarkan pindah ke kelas lain untuk mata kuliah lanjutan agar tidak ada keraguan mengenai sisa penilaian dari program yang pernah disusun Deni.
'Saya bersedia pindah kalau memang itu membuat prosesnya lebih jelas,' jawab Gea.
Di luar ruangan, Deni meminta maaf. 'Hubungan ini pilihan kita berdua, tapi posisi aku waktu itu membuat akibatnya lebih berat ke kamu.'
'Aku juga yang minta semuanya dirahasiakan.'
'Rahasia pernikahan berbeda dengan kewajiban aku melapor ke kampus. Itu tanggung jawab aku.'
Gea menghargai suaminya tidak membagi kesalahan hanya supaya terasa lebih ringan. Mereka lalu berjalan menuju tempat parkir tanpa bergandengan karena masih banyak mahasiswa melihat. Di tengah jalan, Gea berhenti dan justru meraih tangan Deni lebih dulu.
'Aku capek sembunyi,' katanya.
Deni menggenggamnya pelan. 'Kita nggak perlu sembunyi lagi.'
Beberapa orang memotret, tetapi Gea tidak menundukkan wajah. Ia hanya meminta petugas keamanan menegur siapa pun yang mencoba mendekati mobil dan menanyakan Kelana.
Sore itu mereka menjemput Kelana bersama. Anak itu membawa gambar keluarga yang dibuat di tempat les. Kali ini ada empat orang di kertas.
'Yang ini siapa?' tanya Gea sambil menunjuk sosok perempuan di samping Kelana.
'Itu Ibu,' jawab Kelana. 'Kata Nenek, Kelana punya Ibu yang lagi sakit. Kalau Ibu sembuh, Ibu tinggal sama kita juga?'
Deni dan Gea saling menatap. Selama ini Kelana jarang bertanya sedalam itu. Gosip di luar mungkin belum sampai kepadanya, tetapi percakapan keluarga rupanya mulai membuat anak itu memikirkan kedudukannya sendiri.
Sebelum Deni menjawab, telepon dari rumah sakit masuk. Dokter yang merawat kakaknya mengatakan ada seseorang tidak dikenal menelepon dan menanyakan apakah pasien di sana adalah ibu kandung anak dalam foto yang beredar.