Deni meminta dokter rumah sakit tidak memberikan informasi apa pun kepada penelepon. Data kakaknya sudah dilindungi, tetapi ia tetap khawatir seseorang datang langsung dan mengganggu perawatan. Dokter berjanji memberi tahu petugas keamanan serta mencatat nomor yang digunakan.
Setelah telepon ditutup, Kelana masih menunggu jawaban sambil memegang gambar. Gea berjongkok di depannya agar tatapan mereka sejajar.
'Ibu Kelana memang sedang sakit dan perlu dirawat dokter,' kata Gea pelan. 'Kalau nanti Ibu sudah lebih sehat, kita bisa bicara sama dokter tentang kapan Kelana boleh ketemu.'
'Terus Ibu tinggal sama kita?'
'Kita belum tahu, sayang. Yang penting Kelana tetap punya Ayah, Mama, Nenek, Kakek, dan banyak orang yang sayang.'
Deni duduk di sisi lain. 'Ayah nggak akan ninggalin Kelana. Mama juga nggak akan menggantikan Ibu. Kalian punya tempat masing-masing di keluarga kita.'
Kelana memikirkan jawaban itu beberapa saat, lalu mengangguk. Ia menambahkan atap di atas empat sosok dalam gambarnya. Deni mencium kepalanya dan berusaha menyimpan kegelisahan sendiri.
'Kalau Ibu belum bisa tinggal bareng, Kelana boleh kirim gambar?' tanyanya.
Deni menatap Gea sebelum menjawab. 'Boleh, tapi Ayah tanya dokter dulu. Kita harus pastikan Ibu siap menerimanya.'
'Kelana gambar bunga buat Ibu.'
'Pasti bagus,' puji Gea.
Kelana kemudian kembali mewarnai dengan tenang. Pertanyaannya memang belum selesai seluruhnya, tetapi Deni tidak ingin memberikan janji yang belum tentu bisa ditepati. Kondisi kakaknya bisa berubah dan pertemuan harus mengikuti saran dokter, bukan rasa bersalah keluarga.
Setelah Kelana tidur, Deni mengaku kepada Gea bahwa ia takut kakaknya tidak pernah cukup pulih untuk tinggal bersama Kelana. Ia juga takut Gea merasa kedudukannya sebagai Mama menjadi sementara.
'Aku nggak perlu menggantikan siapa pun,' kata Gea. 'Aku sayang Kelana karena aku memilih merawat dia. Kalau suatu hari ibunya bisa kembali, kasih sayang aku nggak harus hilang.'
'Kamu selalu bisa bikin hal rumit terdengar lebih sederhana.'
'Bukan sederhana. Kita cuma nggak perlu memutuskan semuanya malam ini.'
Malamnya, Reno datang bersama Rangga. Mereka membawa hasil penelusuran sederhana terhadap unggahan akun gosip. Foto Kelana berasal dari tangkapan layar grup kelas, sementara informasi rumah sakit tidak pernah disebut dalam pernyataan Gea maupun Deni.
'Berarti ada orang yang tahu cerita keluarga kalian,' ujar Reno.
'Keluarga besar tahu kakak aku dirawat, tapi nggak semua tahu rumah sakitnya,' jawab Deni.
Rangga membuka unggahan lama Deni dari bulan madu. 'Daffa cuma lihat foto pernikahan di laptop gue. Dia nggak mungkin tahu soal ibu Kelana.'
Gea teringat saat beberapa kali mengunjungi kakaknya Deni sebelum mereka menikah. Mungkin ada orang yang melihatnya di sana, tetapi menghubungkannya dengan gosip kampus membutuhkan informasi lain.
'Kita jangan nuduh siapa-siapa dulu,' kata Gea. 'Nomor peneleponnya sudah dicatat. Biar rumah sakit sama kampus bantu periksa.'
Deni setuju meski wajahnya masih tegang. Ia menghubungi papanya untuk meminta bantuan hukum sebatas perlindungan data pasien dan foto anak, bukan untuk membungkam pembicaraan tentang dirinya.
Keesokan harinya, hasil awal pemeriksaan nilai diumumkan kepada mereka secara tertutup. Tidak ada bukti perubahan nilai, bocoran ujian, atau perlakuan khusus untuk Gea. Namun, laporan final tetap mencatat kelalaian Deni melaporkan hubungan pribadi ketika masih aktif mengajar.
Sebelum menuju kampus, Deni singgah ke rumah sakit bersama Reno. Gea tidak ikut karena harus masuk kelas dan tidak ingin meninggalkan Kelana tanpa penjelasan. Mereka bertemu dokter serta petugas keamanan, memeriksa catatan tamu, dan menyerahkan nomor penelepon.
Tidak ada orang asing yang berhasil masuk ke ruang perawatan. Foto Gea yang mungkin pernah diambil di area depan juga belum ditemukan sumbernya. Pihak rumah sakit menambah catatan khusus bahwa informasi pasien hanya boleh diberikan kepada keluarga yang sudah terdaftar.
'Saya nggak mau kakak saya dipindahkan mendadak kalau itu mengganggu terapinya,' kata Deni.
Dokter setuju. Keamanan akan diperketat tanpa mengubah rutinitas pasien. Deni merasa sedikit lega, meski pertanyaan mengenai orang yang mengetahui kunjungan Gea masih belum terjawab.
'Saya terima catatan itu,' kata Deni. 'Saya juga siap memberikan pernyataan agar Gea tidak terus dituduh.'
Pihak fakultas akan mengeluarkan keterangan bahwa peninjauan akademik tidak menemukan manipulasi. Nama Gea tidak akan dicantumkan lengkap karena dia masih mahasiswa. Daffa mendapat peringatan tertulis dan wajib mengikuti pembinaan mengenai privasi digital, ditambah permintaan maaf di depan kelas.
Di kelas, Daffa berdiri dan memenuhi kewajibannya. Kali ini dia tidak menyalahkan alkohol, rasa penasaran, ataupun siapa pun. Ia mengatakan mengambil foto Kelana adalah kesalahannya dan meminta semua orang menghapus salinan.
'Gue juga minta maaf sama Gea karena bikin cerita tanpa bukti,' ucapnya. 'Pernikahan dia bukan urusan yang kasih gue hak buat mempermalukan dia.'
Gea menerima permintaan maaf itu, tetapi hubungan mereka belum langsung kembali seperti sebelumnya. Daffa memahami dan memilih duduk tanpa meminta Gea segera memaafkannya.
Serli menunggu sampai Daffa duduk, lalu menghampiri Gea. Ia mengatakan hubungan mereka sedang diberi jarak karena pertengkaran di kelab bukan yang pertama. Gea tidak memberi nasihat panjang. Dia hanya meminta Serli tidak merasa harus membela atau memperbaiki semua kesalahan Daffa.
'Dia yang harus berubah kalau memang mau,' kata Gea.
'Gue baru sadar selama ini gue selalu sibuk nutupin masalah dia,' jawab Serli.
Percakapan itu membuat Gea teringat dirinya sendiri. Memaafkan Deni bukan berarti ia harus menutupi perbuatan suaminya dari keluarga. Justru karena Deni mengakui kesalahan dengan jelas, mereka bisa mulai memperbaikinya.
Setelah kelas, Putri dan Fian mengajak Gea makan. Serli ikut bersama mereka, sedangkan Rangga datang belakangan. Untuk pertama kalinya Gea bercerita sedikit tentang pernikahannya tanpa menutupi nama Deni. Ia tidak membahas hal pribadi, hanya menjelaskan Kelana adalah keponakan Deni yang mereka rawat.
'Berarti sekarang kalau nongkrong harus izin suami?' ledek Fian.
'Bukan izin kayak anak kecil. Gue kasih tahu supaya dia nggak khawatir,' jawab Gea.
'Pak Deni galak nggak di rumah?' tanya Putri.
Gea mengingat pertengkaran mereka. 'Kadang keras kepala. Tapi dia lagi belajar dengerin.'
Rangga tersenyum mendengar jawaban itu. Ia kemudian memberitahu bahwa semua foto pernikahan sudah dipindahkan dari laptop ke penyimpanan di rumah. Tidak ada lagi berkas yang bisa terlihat saat mereka mengerjakan tugas.
Suasana makan siang terasa lebih normal, meski mahasiswa dari meja lain masih beberapa kali memandang. Gea sadar gosip tidak hilang dalam sehari. Setidaknya kini teman-temannya mendengar cerita langsung darinya.
Ketika Deni menjemput, Putri dan Fian ikut mengantar Gea ke parkiran. Mereka menyapa Deni dengan canggung karena masih terbiasa memanggilnya Pak. Deni tidak keberatan dan bahkan mengucapkan terima kasih karena mereka membantu menghapus foto Kelana.
'Kapan-kapan main ke rumah,' kata Gea. 'Kelana pasti senang.'
Deni menoleh kepadanya, terkejut sekaligus senang. Rumah yang selama ini disembunyikan Gea mulai dibuka kepada teman-temannya sedikit demi sedikit.
Namun, di dalam mobil Deni menerima kiriman dari dokter rumah sakit. Nomor yang menelepon sudah tidak aktif, tetapi petugas menemukan amplop tanpa nama di meja penerimaan. Di dalamnya ada salinan foto Gea ketika mengunjungi kakaknya Deni beberapa bulan lalu.
Pada bagian belakang foto tertulis satu kalimat dengan tinta merah.
Gea bukan ibu Kelana, dan sebentar lagi semua orang akan tahu siapa perempuan yang melahirkannya.