Gea membaca kalimat pada foto itu melalui layar ponsel Deni. Tangannya yang tadi masih memegang sabuk pengaman langsung terasa dingin. Ia tidak mengenali tulisan dengan tinta merah tersebut. Foto itu memang memperlihatkan dirinya berjalan di lorong rumah sakit beberapa bulan lalu, saat Deni pertama kali mengajaknya menemui ibu Kelana.
'Kita ke rumah sakit sekarang,' kata Deni.
'Meeting kamu?'
'Bisa ditunda.'
Deni hampir langsung memutar arah, tetapi kemudian berhenti dan menoleh kepada Gea. 'Kamu mau ikut atau pulang ke Kelana dulu?'
Pertanyaan itu membuat Gea tahu suaminya sedang menahan kebiasaan mengambil keputusan sendiri. 'Aku ikut. Tapi kita telepon rumah dulu dan pastikan Kelana sama pengasuh.'
Deni mengangguk. Setelah memastikan Kelana aman, mereka menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Gea tidak berhenti memikirkan foto lama tersebut. Jika diambil pada kunjungan pertamanya, saat itu belum ada siapa pun di kampus yang mengetahui kedekatannya dengan Deni.
Dokter menemui mereka di ruang administrasi yang terpisah dari bangsal pasien. Amplop dan foto sudah dimasukkan ke dalam plastik bening agar tidak disentuh banyak orang. Petugas keamanan menampilkan rekaman kamera dari meja penerimaan.
Seorang pengantar memakai jaket dan helm meletakkan amplop bersama beberapa kiriman lain. Wajahnya tidak terlihat. Petugas penerima mengira itu dokumen keluarga pasien karena hanya ada nomor kamar di bagian depan.
'Kami sudah menghubungi perusahaan pengantarnya,' jelas petugas keamanan. 'Nomor pesanan tidak terdaftar di aplikasi mereka. Jaketnya kemungkinan dibeli sendiri atau pinjaman.'
'Berarti dia sengaja ingin terlihat seperti kurir,' ujar Gea.
'Kemungkinan begitu. Tapi kami belum bisa memastikan orang yang mengantar sama dengan orang yang membuat amplop.'
Deni meminta salinan rekaman disimpan. Ia tidak memaksa membuka data pasien atau memeriksa telepon staf. Semua langkah harus melalui prosedur agar orang yang tidak bersalah tidak ikut dicurigai.
Dokter kemudian menjelaskan keadaan kakaknya Deni. Pasien tidak mengetahui adanya amplop dan rutinitas terapinya berjalan seperti biasa. Mereka sengaja tidak memindahkan kamar karena perubahan mendadak bisa membuatnya cemas.
'Apakah foto ini mungkin diambil dari kamera rumah sakit?' tanya Deni.
Petugas memperbesar gambar fisiknya. Kualitas foto tidak seperti tangkapan kamera keamanan. Sudutnya sejajar dengan mata orang yang berdiri di lorong, bukan dari atas. Namun, pada tepi gambar terlihat sebagian tas berwarna cokelat dan tangan seseorang.
Gea memicingkan mata. 'Aku pernah lihat tas itu.'
Deni juga mengenalinya. Tas tersebut sering digunakan mamanya ketika mengunjungi rumah sakit. Mereka langsung menelepon perempuan itu tanpa membuat tuduhan.
'Mama pernah foto Gea waktu di rumah sakit?' tanya Deni.
Mamanya terdiam sebentar. 'Pernah. Waktu pertama kali Mama lihat Gea bantu mandiin kakak kamu. Mama foto dari jauh karena terharu. Tapi Mama nggak unggah ke mana-mana.'
'Mama kirim ke siapa?'
'Ke grup keluarga. Mama bilang akhirnya ada orang yang bisa dekat sama kakak kamu tanpa dia marah. Kenapa?'
Deni menjelaskan soal amplop. Mamanya langsung merasa bersalah, tetapi Gea buru-buru mengatakan bahwa membagikan foto ke keluarga tidak sama dengan mengirim ancaman. Mereka hanya perlu mengetahui siapa saja yang sempat menerima.
'Grupnya masih ada?' tanya Gea.
'Masih. Mama kirim daftar anggotanya sekarang.'
Tidak lama kemudian, sebelas nama muncul di ponsel Deni. Semuanya kerabat dekat. Beberapa mungkin sudah meneruskan foto itu tanpa niat buruk. Deni mengusap wajahnya, terlihat ingin menelepon mereka satu per satu malam itu juga.
'Kita tanya pelan-pelan,' kata Gea. 'Jangan mulai dengan tuduhan.'
'Orang itu mengancam mau buka identitas kakak aku.'
'Aku tahu. Tapi kalau kita menuduh orang yang salah, kita mengulang kesalahan yang sama.'
Deni menatap istrinya dan langsung teringat malam ketika ia tidak mau mendengar penjelasan. Ia mengangguk, lalu meminta mamanya tidak menulis tentang amplop di grup terlebih dahulu. Mereka perlu menyimpan informasi itu agar pelaku tidak buru-buru menghapus jejak.
Petugas keamanan menemukan satu petunjuk lain. Kertas foto menggunakan tanda potong dari mesin cetak instan. Ada tiga tempat percetakan di sekitar rumah sakit yang memakai jenis kertas tersebut. Pihak rumah sakit akan menyerahkan informasi itu kepada polisi jika keluarga membuat laporan.
'Kita lapor,' putus Gea setelah menatap Deni. 'Bukan karena gosip tentang aku. Orang itu sudah menghubungi rumah sakit dan mengirim ancaman kepada pasien.'
Deni setuju. Mereka membuat laporan ditemani petugas rumah sakit dan menyerahkan salinan foto, rekaman, nomor telepon, serta tangkapan layar unggahan kampus. Proses itu memakan waktu sampai sore.
Petugas yang menerima laporan bertanya apakah ada tuntutan uang atau permintaan tertentu. Deni menjawab tidak. Pengirim hanya mengancam membuka identitas ibu Kelana. Hal itu membuat petugas menilai tujuannya mungkin bukan keuntungan materi, melainkan menarik perhatian atau menekan keluarga.
'Apakah keluarga pernah berselisih soal pengasuhan anak?' tanyanya.
'Nggak ada sengketa resmi,' jawab Deni. 'Kelana tinggal bersama keluarga kami sejak ibunya dirawat. Ayah kandungnya sudah meninggal.'
Gea menambahkan bahwa pernikahan mereka baru diketahui publik setelah foto Kelana tersebar di grup kampus. Ia menunjukkan urutan waktu agar penyidik bisa melihat bahwa telepon ke rumah sakit baru muncul setelah gosip itu ramai.
'Kami akan minta data dari percetakan dan memeriksa nomor pengirim melalui prosedur,' kata petugas. 'Jangan mencoba menemui orang yang dicurigai sendiri. Kalau ada kiriman baru, jangan disentuh berlebihan dan langsung hubungi kami.'
Deni mengangguk. Reno yang menerima kabar melalui telepon menawarkan datang, tetapi Gea mengatakan mereka sudah ditemani petugas rumah sakit. Ia hanya meminta kakaknya menjemput Kelana jika mereka pulang terlalu malam.
'Gue bisa bawa Kelana ke rumah Mama,' ujar Reno. 'Biar dia nggak lihat kalian tegang.'
'Jangan pindahkan dia tanpa alasan. Dia aman di rumah dan pengasuhnya ada,' jawab Gea. 'Tolong cuma cek keadaannya.'
Reno menyetujui. Gea sadar kecemasan bisa membuat semua orang memindahkan Kelana dari satu rumah ke rumah lain, padahal anak itu membutuhkan rutinitas yang biasa. Perlindungan tidak boleh terasa seperti hukuman baginya.
Sebelum meninggalkan rumah sakit, Gea meminta dokter menjelaskan apakah ancaman ini harus dicatat dalam rencana terapi kakaknya Deni. Dokter mengatakan informasi disimpan dalam catatan keamanan, tetapi belum perlu diberitahukan kepada pasien selama tidak ada perubahan yang menyentuh perawatannya.
'Kalau dia tahu dari orang lain?' tanya Gea.
'Kami akan menanganinya dengan pendampingan. Karena itu akses pengunjung kami batasi lebih ketat.'
Deni berterima kasih. Ia sempat berdiri di ujung lorong, memandang pintu bangsal kakaknya, tetapi tidak masuk di luar jadwal. Gea berdiri di sampingnya tanpa mendesak untuk segera pulang.
Ketika kembali ke mobil, Gea baru melihat puluhan pesan dari teman kampus. Pernyataan resmi fakultas sudah keluar dan menyebut tidak ada manipulasi nilai. Namun, akun gosip justru mengunggah foto amplop yang seharusnya hanya berada di rumah sakit.
Seseorang di dalam gedung telah memotret plastik bukti sebelum disimpan.