Deni kembali masuk ke rumah sakit dengan langkah cepat. Gea mengikutinya sambil meminta pria itu tidak langsung menuduh petugas penerima. Foto amplop di akun gosip diambil dari sudut yang cukup dekat, tetapi tidak terlihat siapa yang memegang ponsel.
Kepala keamanan segera memeriksa siapa saja yang berada di ruang administrasi sejak amplop ditemukan. Ada dokter, dua petugas, seorang staf kebersihan, Deni, Gea, dan seorang anggota keluarga pasien lain yang sempat menunggu di depan pintu. Tidak semuanya pernah masuk ke dalam ruangan.
'Sebelum kita menuduh staf, periksa waktu unggahnya,' kata Gea.
Rupanya foto diunggah dua menit setelah dokter pertama kali mengirim gambar kepada Deni. Gambar dalam akun gosip memiliki potongan yang sama persis dengan foto pada pesan dokter, bukan foto baru dari ruangan. Bayangan lampu dan posisi plastiknya juga sama.
Deni membuka kembali pesan tersebut. Selain dirinya, dokter mengaku mengirim foto kepada kepala keamanan dan bagian hukum rumah sakit. Tidak ada yang mengirim kepada akun gosip.
'Bisa jadi ponsel salah satu orang dilihat orang lain,' ujar dokter. 'Kami akan periksa internal tanpa membuka percakapan pribadi yang tidak berkaitan.'
Deni meminta dokter memeriksa apakah gambar memiliki tanda pengiriman ulang atau perubahan ukuran. Bagian teknologi rumah sakit membandingkan berkas pada akun gosip dengan salinan yang dikirim dokter. Ukurannya sudah diperkecil dua kali, menandakan foto mungkin melewati aplikasi pesan lain sebelum diunggah.
'Jadi belum tentu orang di ruangan ini yang mengirim langsung,' ujar Gea.
'Benar,' jawab staf. 'Kami juga tidak ingin menuduh pegawai hanya berdasarkan akses. Kami akan melihat catatan perangkat kerja, bukan ponsel pribadi tanpa izin.'
Sikap itu membuat Gea lega. Ia tidak ingin ancaman terhadap keluarganya menjadi alasan rumah sakit melanggar privasi orang lain. Deni pun menerima batas pemeriksaan tersebut meski hasilnya mungkin lebih lambat.
Gea meminta pengelola akun menghapus gambar karena termasuk barang dalam laporan. Akun itu membalas bahwa kiriman datang dari alamat surel anonim dan tidak menyebut sumber. Setelah pihak rumah sakit mengirim permintaan resmi, unggahan akhirnya diturunkan.
Di rumah orang tua Deni malam itu, mereka memeriksa foto asli yang pernah dikirim mamanya. Gambar tersebut sama dengan foto dalam amplop, hanya dipotong lebih dekat pada Gea. Waktu pengiriman menunjukkan foto dibagikan jauh sebelum Deni dan Gea menikah.
'Mama cuma mau cerita kalau kakak kamu mau disentuh Gea,' kata mamanya dengan mata berkaca-kaca. 'Mama nggak nyangka ada yang simpan buat hal seperti ini.'
Gea menggenggam tangannya. 'Mama nggak salah karena bangga. Kita cari tahu siapa yang meneruskannya.'
Papanya Deni menyalin daftar sebelas anggota grup. Ia mengenal kebiasaan setiap kerabat dan menyarankan bertanya secara pribadi. Jika pertanyaan dilempar ke grup, orang yang mengirim ancaman bisa melihat semua jawaban dan menyiapkan kebohongan.
Deni menelepon kerabat pertama dengan pengeras suara. Ia mengatakan sedang melacak penyebaran foto lama karena berkaitan dengan privasi rumah sakit. Tidak ada nama tersangka atau ancaman yang disebut. Kerabat itu mengaku tidak pernah menyimpan gambar tersebut.
Sebelum panggilan berikutnya, Deni meminta mamanya mengingat suasana grup pada hari foto dikirim. Mamanya membuka riwayat pesan lama. Beberapa kerabat memberikan tanda suka, seorang bibi menanyakan siapa Gea, dan yang lain bercanda bahwa Deni akhirnya menemukan calon istri yang menerima Kelana.
'Waktu itu kalian belum pacaran resmi,' kata mamanya kepada Gea. 'Mama terlalu senang sampai ngomong soal calon istri. Mama minta maaf.'
'Aku memang belum tahu akan menikah sama Deni saat itu,' jawab Gea. 'Tapi foto aku tetap tersebar tanpa aku tahu. Setelah masalah ini selesai, mungkin grup keluarga perlu sepakat soal foto pasien dan anak.'
Papanya Deni langsung menyetujui. Ia mengatakan aturan itu berlaku untuk semua, bukan hanya karena mereka sedang terkena masalah. Tidak boleh ada lagi foto rumah sakit, Kelana, atau anggota keluarga lain yang diteruskan tanpa izin.
Panggilan berikutnya dilakukan satu per satu. Ada kerabat yang masih menyimpan foto karena semua media otomatis masuk ke galeri. Mereka diminta menghapusnya, tetapi sebelum itu memberikan keterangan apakah pernah meneruskan. Deni mulai tidak sabar ketika jawaban terdengar berputar-putar.
'Jangan tekan mereka untuk jawab cepat,' bisik Gea. 'Orang bisa lupa karena foto itu sudah berbulan-bulan.'
Deni menarik napas dan mengubah nada bicara. Ia meminta setiap orang memeriksa percakapan lama, bukan hanya mengandalkan ingatan. Cara itu akhirnya menghasilkan jawaban dari bibi pada panggilan keempat.
Panggilan kedua dan ketiga memberi jawaban serupa. Pada panggilan keempat, seorang bibi terdiam cukup lama. Ia kemudian mengaku pernah meneruskan foto itu kepada seorang perempuan yang dahulu hendak dikenalkan kepada Deni.
'Waktu itu dia tanya kenapa perjodohannya nggak dilanjutkan,' jelas sang bibi. 'Saya bilang Deni sudah dekat sama perempuan yang bisa menerima Kelana. Saya kirim foto itu sebagai bukti. Cuma itu.'
Deni langsung berdiri. Mamanya menutup mulut karena perempuan yang dimaksud pernah menolak tinggal bersama Kelana. Hubungan perkenalan itu tidak pernah sampai menjadi pacaran, tetapi perempuan tersebut sempat merasa dipermalukan ketika Deni menghentikan komunikasi.
'Siapa namanya?' tanya Gea.
Bibi menyebut nama yang pernah didengar Deni, tetapi tidak terlalu diingat Gea. Deni meminta nomor teleponnya. Gea menahan lengan suaminya sebelum panggilan dilakukan.
'Kita tanya, bukan menghakimi,' bisiknya.
'Kalau dia yang ganggu kakak aku?'
'Kita tetap butuh bukti.'
Perempuan itu menjawab panggilan setelah beberapa kali nada tunggu. Deni memperkenalkan diri dan menanyakan foto Gea di rumah sakit. Suara di seberang terdengar terkejut, lalu mengakui pernah menerima gambar dari bibinya.
'Aku hapus setelah kamu menikah,' katanya. 'Aku tahu istrimu Gea dari unggahan kampus. Tapi aku nggak pernah kirim amplop.'
'Apa kamu pernah teruskan foto itu ke orang lain?'
'Pernah ke teman aku waktu cerita soal perjodohan kita. Tapi itu sudah lama. Aku bisa kasih nama dan percakapannya kalau memang dibutuhkan.'
Deni meminta data tersebut dikirim kepada petugas yang menangani laporan, bukan kepadanya langsung. Perempuan itu setuju. Ia juga menyampaikan bahwa beberapa hari terakhir ada akun anonim yang bertanya apakah Deni pernah memiliki calon lain sebelum menikah. Dia tidak menjawab dan langsung memblokir.
Informasi itu menunjukkan foto sudah berpindah setidaknya dua kali sebelum ancaman muncul. Belum ada bukti perempuan tersebut atau temannya adalah pengirim. Namun, seseorang sengaja mengumpulkan cerita lama setelah pernikahan Gea terbuka.
Papanya Deni meminta bibi itu tidak menghubungi siapa pun lagi. Bukan untuk menutupi kesalahannya, tetapi agar penyelidikan tidak terganggu. Sang bibi meminta maaf kepada Gea karena mengirim foto tanpa izin.
'Saya terima maafnya,' jawab Gea. 'Tapi setelah ini jangan pernah bagikan foto pasien atau pengunjung rumah sakit. Niat baik tetap bisa punya akibat.'
Sang bibi berjanji menghapus semua salinan dan mengirim bukti percakapan kepada petugas. Ia juga mengingat satu detail: perempuan yang dahulu hendak dikenalkan kepada Deni sempat bertanya siapa nama ibu Kelana dan rumah sakit tempatnya dirawat. Bibi tidak menjawab alamat, tetapi menyebut jenis rumah sakitnya.
'Kenapa dia tanya?' ujar Deni.
'Katanya cuma ingin tahu seberapa berat tanggung jawab kalau dekat sama kamu. Setelah perjodohan berhenti, kami nggak pernah bahas lagi.'
Informasi itu dicatat, bukan dijadikan bukti kesalahan. Gea mengingatkan semua orang bahwa pertanyaan lama bisa memiliki alasan berbeda. Yang penting saat ini adalah menemukan siapa yang kembali mengumpulkannya.
Setelah panggilan selesai, Deni duduk di samping istrinya. 'Kamu capek?'
'Banget.'
'Kita pulang.'
Mereka berpamitan. Di dalam mobil, Deni menerima kabar dari polisi bahwa salah satu percetakan mengenali foto tersebut. Seorang perempuan mencetaknya pagi tadi, tetapi wajahnya tertutup masker. Pembayaran dilakukan tunai.
Kamera toko merekam gelang di pergelangan tangannya. Gelang itu sama seperti milik Gea yang membuat Daffa pertama kali mengenalinya dari foto pernikahan.