Gea menatap gambar dari kamera toko dengan perasaan aneh. Gelang pada tangan perempuan itu memang terlihat sama seperti miliknya. Bentuknya sederhana, berupa rantai tipis dengan liontin kecil. Banyak toko menjual model serupa, tetapi kemunculannya terasa seperti upaya sengaja untuk mengarahkan kecurigaan kembali kepada Gea.
'Gelang aku ada di sini,' kata Gea sambil mengangkat tangannya.
'Aku tahu.' Deni memperbesar gambar. 'Dan waktu foto itu dicetak, kamu ada di kampus.'
Gea memiliki catatan kehadiran, kamera kelas, serta banyak teman yang melihatnya. Ia tidak khawatir dianggap sebagai pencetak foto. Yang membuatnya gelisah adalah orang itu mengetahui detail kecil yang sebelumnya dipakai Daffa untuk menghubungkan dirinya dengan unggahan bulan madu.
'Berarti dia baca penjelasan kita atau dengar cerita Daffa,' ujar Gea.
'Bisa juga dia memang punya gelang yang sama. Kita jangan pastikan apa pun dulu.'
Jawaban Deni membuat Gea menoleh. Beberapa hari lalu pria itu akan memilih dugaan yang paling menakutkan lalu memperlakukannya sebagai kebenaran. Sekarang Deni sendiri yang mengingatkan agar mereka menunggu bukti.
Mereka menyerahkan foto kamera toko kepada polisi. Wajah perempuan tidak terlihat jelas, tetapi kendaraan yang digunakannya terekam sebagian. Nomor pelat tertutup tas belanja. Percetakan menyimpan berkas hanya sampai akhir hari dan salinannya sudah otomatis terhapus, sehingga sumber digital gambar belum bisa diperiksa.
Keesokan paginya, Gea tetap berangkat kuliah. Pernyataan fakultas membuat sebagian gosip mereda. Beberapa mahasiswa meminta maaf karena ikut berkomentar tentang nilainya. Yang lain masih menganggap hubungan dosen dan mahasiswi tidak pantas meskipun tidak ada manipulasi.
Ketua program studi memanggil Gea sebelum kelas dan menawarkan pendampingan jika komentar mengganggu perkuliahan. Gea tidak meminta teman-temannya dihukum karena berpendapat. Ia hanya meminta dosen menghentikan pertanyaan pribadi yang muncul di dalam kelas agar waktu belajar tidak terus berubah menjadi ruang gosip.
'Kamu juga boleh mengajukan izin beberapa hari,' kata ketua program studi.
'Saya tetap mau masuk. Tapi kalau ada pemeriksaan polisi atau urusan rumah sakit, saya mungkin butuh penyesuaian waktu.'
'Sampaikan dengan bukti jadwal. Itu bukan keistimewaan, prosedurnya sama untuk semua mahasiswa.'
Gea mengangguk. Jawaban itu penting baginya. Setelah tuduhan mengenai nilai, ia tidak ingin setiap bentuk bantuan dianggap berasal dari hubungan keluarga Deni.
Di kelas baru untuk mata kuliah lanjutan, Gea duduk di barisan tengah. Dosen pengganti memperkenalkan diri tanpa menyinggung Deni. Tugas pertama diberikan memakai rubrik yang bisa dilihat seluruh mahasiswa. Transparansi sederhana itu membuat Gea lebih mudah bernapas.
Gea tidak memaksa semua orang menyetujui pernikahannya. Ia hanya menolak ketika seseorang mencoba menanyakan kehidupan intim atau alasan Deni terburu-buru menikah.
'Hasil akademik sudah dijelaskan kampus,' katanya. 'Selebihnya urusan keluarga gue.'
Putri, Fian, Rangga, dan Serli duduk bersamanya saat makan siang. Daffa berada di meja lain. Ia tidak mendekat, tetapi mengirim pesan bahwa akun anonim pernah menanyakan gelang Gea melalui pesan pribadi setelah dia membuat koreksi di grup.
'Kenapa baru bilang?' tanya Gea ketika menghampirinya.
'Gue kira cuma orang kepo. Akunnya tanya apa gelang di foto pernikahan memang punya lo. Gue nggak jawab.'
'Masih ada pesannya?'
Daffa menunjukkan layar. Akun tersebut sudah hilang, tetapi isi pesan masih terlihat. Waktu pengirimannya beberapa jam sebelum foto dicetak. Gea meneruskan tangkapan layar kepada Deni dan pihak yang menangani laporan.
'Gue minta maaf lagi,' ujar Daffa. 'Kalau gue nggak bikin keributan, orang itu mungkin nggak punya petunjuk soal gelang.'
'Yang cetak dan kirim ancaman tetap bertanggung jawab atas pilihannya,' jawab Gea. 'Tapi mulai sekarang kalau ada akun aneh tanya soal gue atau Kelana, langsung kasih tahu.'
Daffa mengangguk. Ia tidak meminta hubungan mereka kembali seperti dahulu. Sikap itu membuat kemarahan Gea sedikit berkurang meski belum hilang seluruhnya.
Sore hari, Putri dan Fian menepati janji datang ke rumah. Rangga ikut membawa beberapa foto pernikahan yang sudah dicetak. Mereka berhenti memanggil Deni dengan sebutan Pak ketika berada di ruang tengah, walaupun rasa canggung masih terlihat.
Putri menyerahkan sebuah kotak kecil sebagai hadiah pernikahan yang terlambat. Isinya dua cangkir dengan warna berbeda. Gea tertawa karena satu cangkir bertuliskan paling cerewet, sedangkan yang lain paling keras kepala.
'Yang keras kepala jelas buat Deni,' kata Gea.
'Lho, kok saya langsung kalah?' protes Deni.
'Karena lo bukan teman kami lagi di sini,' sahut Fian, kemudian buru-buru memperbaiki, 'Eh, maksud saya, kamu.'
Semua orang tertawa melihat kecanggungannya. Deni tidak meminta dihormati seperti saat masih menjadi dosen. Ia justru mengatakan mereka boleh memanggil nama selama berada di rumah dan tetap menjaga sopan santun.
Rangga memberikan satu album kecil kepada Gea. Hanya ada foto yang tidak menampilkan tamu lain atau lokasi secara jelas. Ia sengaja menyimpan album besar di rumahnya sampai masalah penyebaran gambar selesai.
'Gue belajar dari kejadian kemarin,' katanya. 'Foto bahagia juga harus dijaga kalau ada orang lain di dalamnya.'
Gea menerima album itu dan berterima kasih. Ia tidak ingin Rangga merasa seluruh kesalahan berasal dari satu layar laptop yang terbuka. Yang mengambil serta menyebarkan informasi tetap membuat pilihannya sendiri.
Kelana langsung menyukai Putri karena dibawakan buku mewarnai. Anak itu duduk di antara mereka lalu menunjukkan gambar empat orang yang dibuatnya.
'Ini Ibu Kelana?' tanya Putri hati-hati.
'Iya. Ibu lagi sakit,' jawab Kelana polos.
Putri tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya memuji bunga yang digambar Kelana. Gea bersyukur temannya memahami batas tanpa harus diingatkan.
Deni pulang lebih awal dan bergabung dengan mereka. Untuk pertama kali rumah mereka dipenuhi suara teman-teman kampus Gea. Tidak ada rahasia mengenai siapa suaminya, tidak ada alasan palsu tentang rumah kakak. Gea merasa lega, tetapi juga sedih karena keterbukaan itu datang setelah foto Kelana disebarkan.
'Bocah, senyum dong,' kata Deni ketika melihat Gea melamun.
'Jangan panggil bocah di depan teman-teman aku.'
Fian langsung tertawa. 'Ternyata Pak Deni kalau di rumah begini.'
'Katanya jangan panggil Pak,' balas Deni.
Suasana mencair. Setelah teman-temannya pulang dan Kelana tidur, Gea memeriksa gelangnya. Liontin kecil itu hadiah dari mamanya ketika ia lulus SMA. Ia jarang melepasnya, termasuk saat ke rumah sakit.
Deni menemukan satu hal pada gambar kamera toko. Perempuan pencetak foto memakai gelang di tangan kanan, sedangkan Gea selalu memakainya di tangan kiri. Itu semakin menunjukkan bahwa gelang tersebut mungkin sengaja dipilih untuk meniru.
'Apa perlu aku lepas gelang ini dulu?' tanya Gea.
'Kalau kamu mau. Bukan karena aku suruh.'
Gea memikirkan sebentar lalu menggeleng. 'Ini hadiah Mama. Aku nggak mau orang asing menentukan apa yang boleh aku pakai.'
Deni mencium keningnya. 'Kalau begitu tetap pakai.'
Mereka lalu mengatur privasi akun bersama-sama. Deni menghapus lokasi dari unggahan lama dan menyembunyikan foto yang bisa menunjukkan tempat les Kelana. Gea memeriksa satu per satu tanpa menyerahkan kata sandi. Mereka sepakat keamanan tidak harus berarti kehilangan ruang pribadi.
Ponsel Gea kemudian menerima pesan dari nomor tidak dikenal. Tidak ada ancaman, hanya sebuah foto berita lama tentang kecelakaan yang menewaskan ayah Kelana.
Di bawahnya tertulis bahwa kematian itu bukan alasan keluarga Deni mengambil Kelana dari keluarga ayah kandungnya.