Deni membaca pesan itu dua kali. Selama ini keluarga ayah kandung Kelana hampir tidak pernah terlibat. Setelah kecelakaan, mereka datang saat pemakaman dan beberapa kali menanyakan keadaan kakaknya Deni. Namun, ketika kondisi perempuan itu memburuk dan Kelana membutuhkan rumah tetap, tidak ada yang menawarkan diri untuk merawat.
Deni mengambil sebuah kotak dokumen dari lemari ruang kerja. Di dalamnya ada akta kelahiran Kelana, salinan surat kematian ayahnya, serta beberapa kartu ucapan lama. Tidak ada dokumen yang menghapus nama keluarga ayah. Semua arsip justru menyimpan hubungan itu dengan jelas.
'Aku nggak pernah berniat ganti nama atau mengaku jadi ayah kandungnya,' kata Deni. 'Panggilan Ayah muncul karena Kelana sendiri susah mengerti waktu kecil.'
'Nanti saat usianya cukup, kita jelasin pelan-pelan,' jawab Gea. 'Bukan menunggu orang lain pakai kebenaran untuk menakutinya.'
Mereka memotret daftar dokumen, bukan isinya, lalu menyimpan kotak kembali. Jika tuduhan pengubahan identitas muncul, mereka akan menjawab melalui jalur yang melindungi data Kelana.
'Apa mereka pernah dilarang ketemu Kelana?' tanya Gea.
'Nggak pernah. Mama punya nomor mereka. Tapi sudah lama nggak ada kabar.'
'Jangan balas nomor ini dulu.'
Deni setuju. Ia menyimpan pesan sebagai bukti lalu menghubungi mamanya. Perempuan itu membenarkan bahwa hubungan kedua keluarga menjadi jauh setelah kematian menantunya. Tidak pernah ada pertengkaran resmi mengenai Kelana. Keluarga mendiang hanya mengatakan belum siap menghadapi kakaknya Deni yang terus menanyakan suaminya.
'Mungkin mereka sakit hati karena kita jarang kasih kabar,' ujar mamanya. 'Tapi Mama juga nggak tahu mereka pengin terlibat atau enggak.'
'Siapa yang punya foto Gea?' tanya Deni.
'Mereka nggak ada di grup keluarga kita.'
Jalur foto dan pesan tentang keluarga ayah mungkin berasal dari dua sumber berbeda, atau satu orang yang sengaja mengumpulkan informasi dari banyak pihak. Polisi meminta mereka tidak menarik kesimpulan sebelum nomor dan rekaman toko diperiksa.
Keesokan hari, Deni dan Gea datang ke rumah sakit untuk membicarakan gambar Kelana yang ingin diberikan kepada ibunya. Dokter tidak langsung menyetujui. Ia menjelaskan pasien sedang berada dalam masa lebih tenang, tetapi benda yang berkaitan dengan suami atau anak kadang memicu kesedihan berat.
Dokter juga meminta mereka menjelaskan tujuan memberikan gambar. Jika hanya untuk membuat keluarga merasa lebih baik, waktunya belum tentu tepat. Namun, jika gambar dipakai sebagai bagian dari pengenalan bertahap yang sesuai terapi, hal itu bisa dipertimbangkan.
'Kami nggak mau memaksa dia cepat sembuh karena Kelana menunggu,' kata Deni. 'Saya cuma ingin kakak tahu anaknya aman.'
'Kalimat aman lebih baik daripada janji pulang,' jawab dokter. 'Kami akan memilih kata yang tidak memberi beban.'
Gea menyerahkan gambar dalam map tanpa tulisan tambahan. Ia tidak meminta foto reaksi atau jawaban untuk dibawa kepada Kelana. Privasi kakaknya Deni tetap harus dijaga, bahkan dari keluarga yang mencintainya.
'Kami bisa memperlihatkan gambarnya saat sesi didampingi,' kata dokter. 'Kalau reaksinya terlalu kuat, kami berhenti. Kelana tidak perlu hadir dulu.'
'Saya setuju,' ujar Gea. 'Jangan bilang Kelana menunggu jawaban. Biar kakak nggak merasa dipaksa.'
Deni memandang istrinya dengan rasa terima kasih. Gea selalu memikirkan keadaan kakaknya sebagai manusia, bukan sekadar ibu yang harus segera kembali menjalankan peran.
Mereka lalu diberi kesempatan melihat dari jauh. Kakaknya Deni sedang duduk di taman bersama perawat, merapikan daun-daun kering di meja. Deni tidak mendekat karena jadwal kunjungan belum dimulai. Ia hanya memastikan perempuan itu aman.
'Aku takut orang yang kirim pesan datang ke sini,' bisiknya.
'Keamanan sudah diperketat. Kita tetap waspada tanpa bikin kakak kamu merasa dikurung.'
Deni mengangguk. Setelah keluar dari rumah sakit, mereka bertemu petugas yang menangani laporan. Nomor pengirim pesan kecelakaan menggunakan kartu baru dan hanya aktif beberapa menit. Namun, gambar berita lama itu berasal dari halaman daring yang bisa ditemukan siapa saja.
Ada perkembangan dari kamera percetakan. Kendaraan perempuan tersebut memiliki stiker kecil milik sebuah pusat perbelanjaan. Petugas meminta rekaman parkir pada waktu yang sama dan menemukan nomor pelat yang lebih jelas. Kendaraan terdaftar atas nama perusahaan penyewaan.
'Penyewanya siapa?' tanya Deni.
'Masih kami periksa. Dokumen sewa memakai identitas perempuan, tetapi kami perlu memastikan bukan identitas orang lain.'
Gea menahan suaminya agar tidak mendesak. Mereka pulang dan berjanji menunggu kabar resmi.
Di rumah, Kelana bertanya apakah gambarnya sudah diberikan kepada Ibu. Gea menjelaskan dokter akan membantu menunjukkannya. Anak itu terlihat senang dan mulai membuat gambar baru.
'Yang ini buat Ayahnya Kelana yang di langit,' katanya.
Deni duduk di sampingnya. 'Kelana ingat Ayah yang dulu?'
Kelana menggeleng. 'Nenek bilang Ayah dulu sayang Kelana.'
'Iya. Ayahnya Kelana sayang sekali.'
Kelana lalu bertanya mengapa ayahnya tinggal di langit. Deni menjelaskan bahwa ayah kandungnya meninggal karena kecelakaan dan tidak bisa pulang. Ia menggunakan kalimat sederhana, tanpa mengatakan ayahnya sedang tidur atau pergi jauh karena takut Kelana menunggu sesuatu yang tidak mungkin.
'Ayah sedih?' tanya Kelana.
'Ayah sedih karena kehilangan dia. Tapi Ayah juga senang bisa jaga Kelana.'
'Mama sedih juga?'
Gea mengangguk. 'Mama sedih kalau Kelana sedih. Tapi Kelana boleh tanya apa saja.'
Anak itu memeluk keduanya. Setelah itu ia kembali menggambar, seolah jawaban sederhana sudah cukup untuk hari itu. Deni menyadari membicarakan masa lalu tidak membuat Kelana menjauh darinya. Justru kejujuran kecil membuat pelukan anak itu terasa lebih percaya.
Deni mengambil satu foto ayah kandung Kelana dari kotak dokumen, lalu menunjukkannya tanpa memaksa anak itu bereaksi. Kelana memperhatikan wajah pria yang sedang menggendongnya saat bayi.
'Kelana kecil banget,' katanya sambil tertawa.
'Iya. Waktu itu Kelana belum bisa jalan,' jawab Deni.
'Foto ini boleh di kamar Kelana?'
Deni sempat terkejut, tetapi segera mengangguk. 'Boleh. Ayah pasangin bingkai.'
Gea tersenyum melihat keduanya. Foto itu tidak mengambil tempat Deni sebagai Ayah. Ia justru memberi Kelana bagian hidup yang selama ini hanya dijelaskan melalui cerita orang dewasa.
Deni tidak merasa posisinya berkurang ketika mengatakan itu. Ia ingin Kelana mengetahui ayah kandungnya tanpa menganggap panggilan Ayah untuk Deni sebagai kebohongan.
Malamnya, keluarga ayah kandung Kelana akhirnya menghubungi mamanya Deni. Seorang kerabat mengatakan mereka melihat gosip dan khawatir identitas cucu mereka disembunyikan. Mereka meminta bertemu Deni serta Gea, tetapi tidak menyebut pesan anonim.
'Kita temui di rumah Mama dan Papa,' kata Gea. 'Tempatnya netral dan Kelana nggak perlu ada dulu.'
Deni menatapnya. 'Kamu yakin mau ikut?'
'Aku bagian dari keluarga Kelana sekarang. Tapi kamu yang jelasin sejarahnya. Aku akan dengar.'
Pertemuan disepakati untuk besok sore. Beberapa menit kemudian rumah sakit menelepon lagi. Ada seseorang mengajukan permintaan kunjungan memakai nama keluarga mendiang suami kakaknya Deni, tetapi nama itu tidak sama dengan kerabat yang baru saja menelepon.
Seseorang sedang mencoba masuk dengan membawa hubungan keluarga sebagai alasan.