Rumah sakit menolak permintaan kunjungan karena nama orang tersebut tidak tercantum dalam daftar keluarga yang diizinkan. Ketika diminta menunjukkan identitas, orang itu pergi sebelum petugas keamanan tiba. Kamera pintu depan hanya merekam seorang perempuan memakai masker dan topi.
Postur tubuhnya mirip dengan perempuan di percetakan, tetapi pakaian serta kendaraan yang digunakan berbeda. Tidak ada gelang di pergelangan tangannya. Polisi menyimpan rekaman itu dan meminta rumah sakit tetap menjalankan prosedur tanpa membuat pasien mengetahui kegaduhan di luar.
Reno datang setelah mendengar kabar. Ia menyarankan penjagaan tambahan dari perusahaan keluarganya, tetapi Deni menolak menempatkan orang yang tidak dikenal di dalam bangsal. Gea menawarkan jalan tengah: petugas tambahan hanya berada di area luar dan tetap di bawah aturan rumah sakit.
'Gue nggak mau kalian merasa harus hadapi ini sendiri,' kata Reno.
'Kami tahu, Kak,' jawab Gea. 'Tapi semua bantuan harus bikin pasien lebih aman, bukan tambah takut.'
Reno mengangguk. Ia kemudian membantu memeriksa apakah foto atau pesan baru muncul di akun kampus, sehingga Deni bisa fokus berkomunikasi dengan rumah sakit. Pembagian tugas itu membuat keadaan lebih teratur tanpa satu orang menguasai semuanya.
'Dia semakin berani,' kata Deni di ruang kerja.
'Tapi dia juga bikin lebih banyak jejak,' jawab Gea. 'Kita jangan mengejar sendiri.'
Deni berjalan mondar-mandir. Ia ingin menempatkan penjaga di setiap pintu dan memindahkan kakaknya ke tempat lain. Gea mengingatkan keputusan medis harus berada pada dokter, sedangkan keamanan bisa ditambah tanpa mengubah ruang perawatan.
'Aku nggak mau terlambat melindungi keluarga lagi,' ucap Deni.
'Melindungi bukan berarti kamu harus mengendalikan semuanya sendirian.'
Deni berhenti. Ia lalu duduk di depan Gea dan mengakui rasa takutnya. Setelah ayah Kelana meninggal, Deni selalu merasa harus menjadi orang yang paling kuat. Ia tidak pernah memberi ruang pada kemungkinan bahwa keluarga lain juga bisa membantu. Namun, kemunculan ancaman membuatnya semakin sulit percaya kepada siapa pun.
'Kita percaya berdasarkan tindakan, bukan karena nama keluarga,' kata Gea. 'Besok kita dengar dulu.'
Sore berikutnya, dua kerabat dari pihak ayah kandung Kelana datang ke rumah orang tua Deni. Mereka adalah pasangan yang pernah hadir saat pemakaman. Mamanya Deni mengenali keduanya dan memastikan identitas sebelum pintu dibuka.
Pertemuan berlangsung canggung. Papanya Deni menjelaskan bahwa Kelana tidak berada di rumah agar percakapan orang dewasa tidak membuatnya bingung. Kedua tamu menerima keputusan itu.
Mamanya Deni mengeluarkan album lama berisi beberapa foto Kelana bersama ayah kandungnya. Ia tidak menyerahkannya sebagai alat menyalahkan, melainkan memastikan keluarga mendiang memiliki kesempatan menyimpan salinan.
'Kami pikir kalian nggak mau lagi melihat foto-foto ini,' katanya.
'Kami yang terlalu takut melihatnya,' jawab kerabat perempuan. 'Bukan karena nggak sayang Kelana.'
Mereka mengakui pernah beberapa kali datang sampai depan rumah, tetapi pulang tanpa mengetuk. Rasa malu setelah terlalu lama menjauh membuat setiap kunjungan berikutnya semakin sulit dilakukan.
Deni tidak langsung menghibur. 'Kelana nggak boleh menanggung rasa bersalah orang dewasa. Kalau nanti kalian datang, jangan pergi diam-diam setelah dia tahu.'
'Kami mengerti. Kalau kami belum siap berjanji rutin, kami tidak akan menemui dia dulu.'
Jawaban itu lebih jujur daripada janji besar. Gea mencatatnya sebagai tanda bahwa mereka mungkin bisa membangun hubungan, tetapi belum menjadi bukti bahwa semuanya akan berjalan mudah.
'Kami tahu kami terlalu lama diam,' ujar kerabat perempuan. 'Setelah anak kami meninggal, kami juga hancur. Setiap melihat Kelana, kami ingat dia. Itu bukan salah Kelana, tapi kami memang menjauh.'
Deni menahan emosi. 'Selama itu Kelana tetap butuh orang.'
'Kami tahu. Kami menyesal.'
Kerabat laki-laki meletakkan beberapa surat di meja. Mereka tidak datang untuk mengambil Kelana. Mereka ingin mulai mengenalnya kembali dengan jadwal yang aman dan tidak mengganggu perawatan ibunya.
'Kami juga nggak pernah kirim pesan ancaman atau datang ke rumah sakit diam-diam,' katanya. 'Orang yang meminta kunjungan itu memakai nama keluarga kami, tapi bukan bagian yang kami kenal.'
Gea meminta mereka memperlihatkan pesan atau unggahan yang membuat mereka menghubungi keluarga Deni. Kerabat perempuan menunjukkan kiriman dari akun anonim. Isinya mengatakan Deni akan mengubah dokumen Kelana agar keluarga ayah tidak lagi memiliki hubungan.
'Itu bohong,' kata Deni. 'Kami nggak pernah mengubah asal-usul Kelana.'
'Makanya kami datang bertanya, bukan langsung percaya.'
Kalimat itu membuat Deni sedikit menurunkan pertahanannya. Ia menawarkan pertemuan bertahap melalui pendamping keluarga. Kelana harus diberi tahu lebih dahulu dan boleh berhenti jika merasa tidak nyaman. Gea menambahkan bahwa mereka tidak boleh menjanjikan kepulangan ibu atau menggunakan hadiah untuk memaksa kedekatan.
Kedua kerabat menyetujui. Mereka juga bersedia menyerahkan pesan anonim kepada polisi. Tidak ada keputusan mengenai kunjungan Kelana hari itu. Mereka hanya bertukar informasi yang sudah terlalu lama tidak dibicarakan.
Gea mengusulkan pertemuan pertama nanti dilakukan di rumah orang tua Deni dengan durasi singkat. Kelana akan diberi tahu bahwa mereka keluarga dari ayah kandungnya. Tidak ada panggilan baru yang dipaksakan dan tidak ada pembicaraan tentang hak asuh di depan anak.
'Kalau Kelana nggak mau dipeluk, jangan merasa ditolak,' kata Gea. 'Dia belum kenal.'
'Kami akan mengikuti batasnya,' jawab kerabat perempuan.
Deni memperhatikan cara Gea berbicara. Istrinya tidak mengusir keluarga mendiang, tetapi juga tidak menyerahkan Kelana demi membuat orang dewasa merasa dimaafkan. Sikap itu membuat Deni lebih yakin bahwa pertemuan dapat dicoba saat semuanya siap.
Setelah tamu pulang, mamanya Deni memeluk putranya. 'Mama juga salah karena membiarkan hubungan putus. Mama pikir menjauh itu membuat semua orang lebih mudah.'
'Kita perbaiki pelan-pelan,' jawab Deni.
Gea tersenyum kecil melihat perubahan itu. Tidak semua orang yang datang dari masa lalu ingin merebut Kelana. Sebagian hanya terlambat mengakui rasa kehilangan.
Di kampus pada hari berikutnya, laporan final pemeriksaan akademik diumumkan. Tidak ditemukan kecurangan nilai. Deni mendapat catatan etik dan pengunduran dirinya disahkan, sedangkan Gea tetap mengikuti pemindahan kelas untuk mata kuliah lanjutan. Pernyataan itu tidak menghentikan semua gosip, tetapi setidaknya tuduhan nilai palsu kehilangan dasar.
Daffa menjalani pembinaan dan menjaga jarak. Serli mulai duduk bersama Putri tanpa selalu menunggu Daffa. Kehidupan kelas perlahan membentuk kebiasaan baru.
Saat jam istirahat, Gea menerima kabar bahwa gambar Kelana sudah diperlihatkan kepada ibunya dalam sesi terapi. Perempuan itu menangis, tetapi tidak mengalami serangan berat. Ia menyentuh gambar bunga dan menyebut nama Kelana dengan jelas.
Gea langsung menelepon Deni. Pria itu terdiam cukup lama di seberang, lalu suaranya terdengar bergetar. 'Dia ingat Kelana.'
'Iya. Tapi kita tetap ikutin dokter.'
'Aku tahu. Terima kasih sudah ingetin.'
Kebahagiaan kecil itu tidak bertahan lama. Polisi mengirim hasil pemeriksaan dokumen sewa kendaraan. Identitas penyewa ternyata memakai salinan kartu identitas seorang pegawai lama perusahaan Deni yang sudah berhenti sebelum Gea mengenalnya.
Nama pegawai itu juga tercatat pernah mengantar dokumen ke rumah sakit dua tahun lalu, tepat setelah kecelakaan ayah Kelana.
Deni mengenali namanya. Perempuan tersebut adalah orang terakhir yang bekerja bersama suami kakaknya sebelum kecelakaan terjadi.