Nama perempuan itu adalah Laras. Deni mengingatnya sebagai staf administrasi proyek yang pernah bekerja satu tim dengan almarhum suami kakaknya. Laras bukan orang dekat keluarga, tetapi beberapa kali datang ke kantor membawa berkas dan pernah mengantar dokumen ke rumah sakit setelah kecelakaan.
'Aku mau telepon dia,' kata Deni.
'Lewat petugas dulu,' jawab Gea. 'Kita nggak tahu identitasnya dipakai orang atau dia memang terlibat.'
Deni menahan keinginannya. Ia lalu mengirimkan nomor lama Laras dan catatan pegawai kepada polisi. Nomor itu sudah tidak aktif, tetapi alamat terakhir serta kontak darurat masih tersimpan di arsip perusahaan.
Papanya Deni meminta bagian sumber daya manusia mencari berkas tanpa mengubah atau menghapus apa pun. Salinan kartu identitas Laras seharusnya hanya ada di map kepegawaian dan sistem terbatas. Jika dokumen itu bocor, perusahaan juga memiliki tanggung jawab.
'Jangan panggil semua pegawai lalu tanya ramai-ramai,' pesan Gea. 'Kalau orang yang ambil masih di sana, dia malah tahu kita sudah dekat.'
'Aku tahu,' jawab Deni. 'Audit akses dulu.'
Keesokan siang polisi berhasil menghubungi Laras melalui nomor saudara yang tercatat. Perempuan itu sekarang tinggal di kota lain dan bersedia melakukan panggilan video. Deni serta Gea ikut mendengarkan dari ruang terpisah di kantor polisi.
Laras terkejut saat melihat salinan dokumen sewa. Ia mengakui nama, alamat lama, dan nomor kartu identitas memang miliknya. Namun, tanda tangan di formulir berbeda. Pada hari kendaraan disewa, Laras sedang bekerja di luar kota dan memiliki catatan kehadiran.
Petugas meminta Laras memperlihatkan kartu identitas aslinya melalui kamera tanpa merekam bagian yang tidak dibutuhkan. Nomor dokumen cocok, tetapi foto pada formulir sewa sudah diganti dengan wajah perempuan bermasker. Alamat yang ditulis juga alamat lama sebelum Laras pindah.
'Saya pernah kehilangan dompet empat tahun lalu, tapi kartu itu sudah diganti,' kata Laras. 'Nomornya tetap sama. Saya sudah membuat laporan kehilangan waktu itu.'
Salinan laporan masih tersimpan dalam surel Laras. Tanggal kehilangan jauh sebelum ancaman dan tidak cukup membuktikan sumber penyalahgunaan sekarang. Namun, petugas memasukkannya ke dalam catatan sebagai jalur lain yang perlu diperiksa.
Deni menatap wajah Laras di layar. Ia mulai mengingat perempuan itu sering membawa map berwarna biru ke ruang kerja Arman. Tidak pernah ada pertengkaran atau kedekatan pribadi yang ia ketahui. Membuat Laras menjadi pelaku hanya karena namanya muncul akan jauh lebih mudah daripada menerima bahwa seseorang sedang menanam petunjuk palsu.
'Saya nggak pernah sewa mobil di sini,' katanya. 'Saya juga nggak kenal tempat percetakannya.'
'Kapan terakhir Anda memberikan salinan identitas kepada perusahaan?' tanya petugas.
'Waktu memperpanjang kontrak, mungkin tiga tahun lalu. Setelah mengundurkan diri saya tidak pernah meminta berkas itu kembali.'
Petugas meminta bukti keberadaan Laras pada hari penyewaan. Perempuan itu langsung menyetujui dan mengatakan kantornya sekarang memiliki kamera serta catatan perjalanan. Sikap terbukanya belum membuktikan ia sama sekali tidak terlibat, tetapi cukup untuk menahan Deni agar tidak membuat kesimpulan.
'Kenapa Anda berhenti dari perusahaan?' tanya Deni setelah diberi kesempatan.
Laras terlihat ragu. 'Setelah kecelakaan Pak Arman, proyeknya dihentikan. Saya dipindah ke bagian lain, tapi saya terus ditanya soal dokumen terakhir yang beliau pegang. Saya capek dianggap tahu sesuatu yang sebenarnya nggak saya tahu.'
Untuk pertama kalinya Gea mendengar nama ayah kandung Kelana disebut jelas. Arman. Selama ini keluarga lebih sering mengatakan ayahnya Kelana atau suami kakaknya Deni karena nama itu bisa memicu kesedihan.
'Dokumen apa?' tanya Gea.
'Berkas asuransi, daftar aset proyek, dan satu amplop pribadi. Setelah kecelakaan, atasan minta saya mengantar salinan asuransi ke rumah sakit. Amplop pribadi nggak ada di meja. Saya pikir dibawa Pak Arman.'
Deni tidak pernah mendengar tentang amplop pribadi. Laras menjelaskan bahwa beberapa hari sebelum kecelakaan, Arman mencetak surat lalu memasukkannya ke dalam amplop cokelat. Dia tidak membaca isinya. Arman hanya mengatakan dokumen itu untuk keluarga jika sesuatu terjadi kepadanya.
'Apa kecelakaannya berhubungan sama proyek?' tanya Deni.
'Setahu saya enggak. Polisi waktu itu bilang kecelakaan lalu lintas. Pak Arman juga sedang dalam perjalanan menjemput Kelana dari dokter, bukan urusan kerja.'
Gea merasa sedikit lega. Mereka tidak boleh mengubah musibah lama menjadi konspirasi hanya karena muncul dokumen yang hilang. Petugas juga menegaskan penyelidikan sekarang mengenai ancaman dan penyalahgunaan identitas, bukan membuka ulang penyebab kecelakaan tanpa bukti.
Laras kemudian mengingat satu hal. Saat mengantar berkas asuransi, ia menyerahkan map kepada petugas penerimaan karena keluarga sedang berada di ruang perawatan. Salinan kartu identitasnya ikut terjepit pada lembar tugas perjalanan dan baru diketahui setelah ia kembali ke kantor.
'Jadi ada salinan identitas di kantor dan mungkin pernah tertinggal di rumah sakit,' simpul petugas.
'Iya. Saya nggak bisa pastikan yang mana dipakai.'
Petugas meminta Laras mengingat siapa yang mengetahui tugas pengantaran tersebut. Menurutnya, bagian keuangan, atasan proyek, dan beberapa staf administrasi menerima salinan jadwal. Tidak ada satu nama yang menonjol. Arsip perjalanan juga disimpan bersama laporan biaya, sehingga lebih banyak pegawai mungkin pernah melihatnya.
'Saya sempat diminta kembali ke rumah sakit dua hari kemudian untuk tanda tangan penerimaan,' lanjut Laras. 'Waktu itu keluarga dari pihak Pak Arman juga ada. Tapi saya nggak bicara sama mereka.'
Deni menahan diri untuk tidak menghubungkan keluarga tersebut dengan ancaman. Kehadiran mereka setelah kecelakaan adalah hal wajar. Gea mencatat waktunya agar bisa dibandingkan dengan daftar pengunjung lama, bukan dipakai sebagai tuduhan.
Deni meminta maaf karena namanya terseret dan berjanji perusahaan akan memeriksa keamanan arsip. Laras tidak marah. Ia hanya meminta tidak disebut sebagai tersangka kepada mantan rekan kerja sebelum ada hasil.
'Kami nggak akan menyebarkan nama Mbak,' kata Gea. 'Kami juga korban dari orang yang membuat dugaan kelihatan seperti fakta.'
Setelah panggilan berakhir, Deni menatap istrinya. 'Kalau kamu nggak tahan aku tadi, mungkin aku sudah menuduh dia.'
'Kamu yang memilih nunggu bukti. Bukan aku yang mengendalikan kamu.'
Deni tersenyum kecil. Perubahan itu memang harus menjadi pilihannya sendiri.
Dalam perjalanan pulang, Gea meminta Deni bercerita tentang Arman di luar kecelakaan dan dokumen. Deni mengatakan kakak iparnya bekerja keras, kadang terlalu lama berada di kantor, tetapi selalu membeli makanan untuk Kelana saat pulang. Arman juga orang yang pertama mendorong Deni mencoba mengajar karena menganggapnya terlalu serius mengurus perusahaan.
'Aku jarang cerita soal dia karena takut kakak aku dengar namanya terus kambuh,' kata Deni.
'Kita bisa tetap hati-hati tanpa menghapus dia dari cerita keluarga.'
Deni mengangguk. Ancaman anonim berusaha memakai masa lalu sebagai senjata. Ia tidak ingin ketakutan membuat mereka ikut memperlakukan nama Arman seperti sesuatu yang harus disembunyikan.
Sore harinya, audit awal perusahaan menemukan berkas fisik Laras masih berada di gudang arsip. Namun, map tersebut pernah dipinjam tiga minggu lalu memakai kode akses milik pegawai yang sudah cuti panjang.
Seseorang menggunakan identitas lama untuk mengambil identitas orang lain.