Deni datang ke gudang arsip bersama papanya dan petugas pemeriksa internal. Gea tidak ikut karena memiliki kelas, tetapi Deni berjanji tidak akan memanggil pegawai yang sedang cuti sebelum fakta akses diperiksa.
Map Laras berada di rak yang benar. Segel penyimpanannya sudah diganti, tetapi formulir peminjaman menunjukkan waktu keluar selama dua puluh tiga menit. Tidak ada alasan kerja yang dicatat. Kode pegawai yang digunakan milik staf administrasi yang sedang merawat ibunya di luar kota.
'Bisa jadi kodenya dipinjam sebelum dia cuti,' ujar papanya Deni.
'Atau ditempel di meja seperti dulu,' jawab pemeriksa. 'Sistem lama memang hanya memakai nomor dan kata sandi pendek.'
Deni merasa kesal mengetahui kelemahan itu dibiarkan. Ia meminta akses gudang dibekukan sementara dan setiap peminjaman baru dicatat secara manual dengan dua petugas. Berkas lain tidak boleh dipindahkan tanpa daftar.
'Jangan hapus kode lama dulu,' kata Deni. 'Simpan catatannya untuk pemeriksaan.'
Petugas setuju. Kamera lorong pada hari peminjaman ternyata sedang dalam perbaikan, tetapi pintu depan gedung merekam orang-orang yang masuk. Jumlahnya puluhan karena hari itu ada pemeriksaan pajak tahunan. Mereka membutuhkan waktu untuk mencocokkan wajah dan jadwal.
Di kampus, Gea mengikuti presentasi kelompok untuk pertama kali sejak pindah kelas. Ia satu kelompok dengan Putri dan Fian. Beberapa mahasiswa baru masih memandangnya dengan rasa ingin tahu, tetapi dosen menghentikan percakapan yang tidak berhubungan dengan tugas.
Sebelum presentasi, salah satu mahasiswa bertanya apakah Gea akan mendapat kesempatan khusus karena persoalan keluarganya. Dosen langsung menunjukkan aturan yang sama untuk seluruh kelas. Setiap kelompok boleh meminta perubahan jadwal hanya dengan alasan yang tercatat dan harus mengganti pada hari yang ditentukan.
'Gea presentasi sesuai jadwal hari ini,' kata dosen. 'Kalau ada pertanyaan mengenai kebijakan, tanyakan kepada saya. Jangan jadikan teman kalian sasaran.'
Gea mengucapkan terima kasih setelah kelas. Ia tidak meminta dibela dari semua kritik, tetapi batas yang jelas membuatnya tidak perlu menjelaskan pernikahan sebelum setiap tugas.
'Kita nilai isi presentasi, bukan status pernikahan siapa pun,' kata dosen tersebut.
Gea menyampaikan bagiannya tanpa terganggu. Setelah selesai, kelompok mereka mendapat pertanyaan tajam mengenai data yang digunakan. Gea mampu menjawab sebagian, lalu mengakui satu sumber perlu diperiksa ulang. Nilai belum langsung diberikan.
'Ternyata kelas tanpa suami lo juga tetap bikin tegang,' ledek Putri setelah mereka keluar.
'Justru bagus. Jadi orang bisa lihat gue memang ngerjain tugas.'
Fian mengangkat laptop. 'Malam ini kita perbaiki sumber yang tadi. Jangan sampai dosen pikir kita cuma jual drama.'
Mereka sepakat mengerjakan melalui panggilan video agar Gea tetap bisa menemani Kelana. Kehidupan kuliahnya perlahan kembali memiliki masalah yang normal, seperti data salah dan tenggat tugas, bukan hanya gosip pernikahan.
Putri sempat bertanya apakah mengerjakan dari rumah akan membuat Deni keberatan. Gea menjawab suaminya tidak menentukan siapa yang boleh menjadi teman kelompoknya. Rangga yang mendengar langsung tertawa karena dahulu Deni pernah menitipkan Gea kepadanya seperti barang berharga.
'Sekarang sudah enggak,' kata Gea. 'Kami bikin aturan baru. Kalau khawatir, kami tanya langsung.'
'Bagus. Gue capek jadi satpam rumah tangga orang,' sahut Rangga.
Mereka tertawa. Gea senang bisa membicarakan perubahan Deni tanpa berpura-pura suaminya tidak pernah berbuat salah. Cinta mereka tidak harus dibuktikan dengan menutupi setiap masalah.
Saat makan siang, Daffa menghampiri dengan jarak aman. Ia menunjukkan pesan baru dari akun tanpa foto yang menanyakan apakah ayah kandung Kelana pernah bekerja di perusahaan keluarga Deni. Daffa tidak menjawab dan langsung mengambil tangkapan layar.
'Bagus lo kasih tahu,' kata Gea. 'Setelah ini blokir.'
'Gue sudah lapor ke bagian kemahasiswaan juga.'
Gea mengangguk. Ia belum kembali dekat dengan Daffa, tetapi melihat pria itu mulai bertanggung jawab tanpa diminta terus-menerus.
Deni menjemput Gea sore hari. Di dalam mobil, ia menjelaskan soal gudang arsip serta kamera yang rusak. Gea mendengarkan sampai selesai kemudian bertanya siapa saja yang tahu Arman pernah bekerja dalam proyek perusahaan.
'Banyak pegawai lama tahu. Dia bukan pegawai tetap, tapi memimpin salah satu proyek bersama kami,' jawab Deni.
'Berarti pertanyaan ke Daffa bisa ditemukan dari riwayat kerja, bukan rahasia keluarga.'
'Iya. Kita belum tahu apakah pengirimnya orang dalam.'
Mereka lalu singgah di rumah orang tua Deni untuk membicarakan rencana pertemuan Kelana dengan keluarga ayah kandungnya. Mamanya sudah berkonsultasi dengan pendamping keluarga. Pertemuan pertama disarankan berlangsung tidak lebih dari satu jam, dengan kegiatan yang biasa dilakukan Kelana.
'Mereka mau datang hari Minggu,' kata mamanya.
Deni menoleh kepada Gea. 'Menurut kamu?'
'Tanya Kelana dulu dengan bahasa sederhana. Jangan bilang ada kakek-nenek baru yang wajib dia sayang.'
Kelana dipanggil dari ruang bermain. Deni menjelaskan ada keluarga dari Ayah Arman yang ingin mengenalnya. Anak itu memikirkan cukup lama lalu bertanya apakah mereka tahu cerita saat dirinya masih bayi.
'Mungkin tahu,' jawab Deni. 'Kelana mau ketemu?'
'Mama sama Ayah ada?'
'Ada.'
'Nenek juga?'
'Ada.'
Kelana akhirnya mengangguk. Ia ingin menunjukkan foto Arman yang sudah dipasang dalam bingkai kecil di kamarnya. Semua orang setuju pertemuan akan berhenti jika Kelana lelah atau tidak nyaman.
Mamanya Deni lalu bertanya apakah Kelana ingin menyiapkan makanan sendiri untuk tamunya. Anak itu memilih biskuit berbentuk bunga dan membantu memindahkannya ke piring. Kegiatan sederhana tersebut membuat pertemuan terasa seperti menerima tamu, bukan menghadapi ujian keluarga.
'Kalau nanti Kelana berubah pikiran, tetap boleh nggak ketemu,' ujar Gea.
'Tapi biskuitnya siapa yang makan?'
'Kita makan bareng.'
Kelana tertawa. Persetujuan anak itu tidak dianggap sebagai janji yang tidak bisa ditarik kembali.
Setelah Kelana kembali bermain, mamanya Deni bertanya siapa yang akan menjelaskan jika anak itu memakai panggilan berbeda kepada kerabat yang datang. Pendamping menyarankan orang dewasa tidak memperdebatkan panggilan di depannya.
'Yang penting hubungan mereka jelas dan aman,' kata Gea. 'Nama panggilan bisa tumbuh nanti.'
Deni menyetujui. Ia juga meminta tidak ada foto pertemuan pertama yang diunggah. Keluarga boleh menyimpan gambar hanya jika Kelana bersedia, tetapi hari Minggu nanti mereka lebih baik fokus mengenal, bukan mendokumentasikan.
Malamnya, Gea melakukan panggilan tugas bersama Putri dan Fian. Deni menjaga Kelana tanpa mondar-mandir memeriksa layar istrinya. Setelah tugas selesai, Gea menemukan secangkir susu di meja dan pesan pendek dari Deni agar tidak tidur terlalu malam.
Di bawah pesan itu ada kiriman baru dari polisi. Catatan kendaraan menunjukkan mobil sewa berhenti dekat perusahaan pada hari map Laras dipinjam. Perempuan bermasker masuk ke gedung memakai kartu tamu atas nama keluarga ayah kandung Kelana.
Nama pada kartu itu palsu, tetapi orang yang menyetujuinya masuk memakai nomor telepon internal perusahaan.