Pemeriksa internal menelusuri nomor telepon yang dipakai untuk menyetujui tamu. Nomor itu bukan sambungan pribadi, melainkan telepon meja di ruang administrasi bersama. Siapa pun yang berada di ruangan bisa mengangkat dan mengaku mengenal tamu tersebut.
'Jangan tanya semua orang sekaligus sebelum rekaman pintu selesai dicocokkan,' kata Gea ketika Deni bercerita.
'Aku setuju. Hari ini kita fokus ke Kelana dulu.'
Hari Minggu tiba lebih cepat daripada yang mereka rasakan. Gea membantu Kelana memilih baju, tetapi membiarkan anak itu menentukan sendiri pita rambut yang ingin digunakan. Kelana membawa foto Arman dan gambar bunga untuk ditunjukkan kepada tamunya.
'Kalau Kelana capek, bilang ya,' pesan Gea.
'Kalau Kelana nggak mau dipeluk juga boleh?' tanya anak itu.
'Boleh. Tubuh Kelana punya Kelana.'
Deni yang berdiri di pintu tersenyum. Ia lalu mengulurkan tangan, mengajak keduanya turun. Pertemuan berlangsung di rumah orang tuanya seperti rencana awal.
Keluarga ayah kandung Kelana datang tepat waktu. Mereka tidak membawa banyak hadiah, hanya sebuah kotak berisi album lama dan buku cerita yang dahulu sering dibacakan Arman. Kerabat perempuan menahan air mata ketika melihat Kelana, tetapi tidak langsung mendekat.
'Halo, Kelana. Nama Nenek mungkin belum Kelana ingat,' katanya pelan. 'Nenek keluarga dari Ayah Arman.'
Kelana berdiri di antara Deni dan Gea. Ia memandang mereka, lalu menunjukkan bingkai foto yang dibawanya. 'Ini Ayah Arman waktu Kelana bayi.'
'Iya. Waktu itu dia senang sekali karena Kelana baru bisa tersenyum.'
Kelana meminta melihat album. Mereka duduk di karpet ruang tengah, bukan di meja yang membuat suasana kaku. Gea berada di sisi Kelana, sedangkan Deni duduk tidak jauh. Mamanya Deni menyiapkan minuman tanpa terus mengamati.
Foto-foto lama memperlihatkan Arman menggendong Kelana, mendorong kereta bayi, dan tertidur di sofa dengan botol susu di tangan. Kelana tertawa melihat rambutnya yang masih sangat tipis.
Kerabat perempuan bercerita Arman pernah menelepon dini hari hanya karena Kelana pertama kali bisa berguling. Ia juga menunjukkan rekaman pendek tanpa suara yang tersimpan di ponsel lama. Sebelum memutarnya, dia meminta izin kepada Deni dan Gea karena wajah Kelana saat bayi terlihat jelas.
'Boleh, kalau Kelana mau lihat,' jawab Gea.
Kelana mengangguk antusias. Dalam rekaman itu Arman bertepuk tangan saat bayinya bergerak di atas kasur. Anak tersebut meminta diputar dua kali, lalu menunjuk wajah ayahnya dengan senyum lebar.
'Suaranya kenapa nggak ada?'
'Ponsel lama Nenek rusak bagian suaranya,' jawab kerabat perempuan. 'Tapi gambarnya masih bisa disimpan.'
Deni meminta salinan nanti dikirim melalui dirinya agar tidak tersebar. Keluarga Arman setuju tanpa tersinggung.
'Ayah Arman suka kerja terus ya?' tanyanya.
Kerabat laki-laki mengangguk. 'Iya, kadang terlalu sibuk. Tapi dia selalu simpan foto Kelana di meja kerja.'
Deni mendengar tanpa menyela. Ia tidak ingin memperindah masa lalu secara berlebihan, tetapi pertemuan pertama bukan waktu untuk membahas kesalahan Arman yang jarang pulang. Kelana berhak menerima kenangan yang sesuai usianya.
Setelah dua puluh menit, Kelana mulai lebih santai. Ia mengajak mereka mewarnai gambar bunga. Ketika kerabat perempuan meminta izin menyentuh pitanya, Kelana mengangguk. Namun, saat dia membuka tangan untuk memeluk, Kelana mundur mendekati Gea.
'Nggak apa-apa,' kata perempuan itu cepat. 'Nenek tunggu sampai Kelana mau.'
Gea menghargai cara dia menerima penolakan. Tidak ada wajah kecewa yang dibuat-buat untuk menekan anak itu.
Saat Kelana mengajak tamunya melihat piano kecil di ruang sebelah, Gea ikut mendampingi. Anak itu memainkan lagu pendek yang belum sempurna. Kerabat laki-laki menunggu sampai Kelana selesai sebelum bertepuk tangan.
'Ayah Arman bisa main piano?' tanya Kelana.
'Nggak bisa,' jawabnya sambil tersenyum. 'Dia cuma bisa nyanyi, itu juga sering salah nada.'
Kelana tertawa lalu memainkan lagunya sekali lagi. Cerita kecil tentang Arman hadir tanpa membuat suasana seperti pemakaman. Deni yang mendengar dari pintu ikut tersenyum karena mengenali kebiasaan kakak iparnya tersebut.
Kerabat perempuan meminta izin membawa rekaman permainan Kelana, tetapi anak itu menggeleng. Dia belum mau videonya dibawa pulang. Mereka menerima dan hanya menyimpan bunyi lagu dalam ingatan.
Pertemuan berhenti setelah lima puluh menit. Kelana sendiri mengatakan ingin tidur siang. Kedua tamu berpamitan tanpa menjanjikan akan datang setiap hari. Mereka hanya bertanya apakah boleh mengirim satu buku lagi minggu depan.
'Nanti Ayah tanya Kelana,' jawab Deni.
Setelah mereka pergi, pendamping keluarga meminta Kelana menceritakan perasaannya. Anak itu bilang senang melihat foto, tetapi belum ingin memanggil Nenek karena sudah memiliki Nenek di rumah tersebut.
'Kelana boleh panggil apa yang nyaman,' ujar pendamping. 'Nggak harus diputuskan sekarang.'
Pendamping juga bertanya apakah ada bagian yang membuat Kelana takut. Anak itu mengatakan tidak takut, hanya bingung mengapa keluarga Ayah Arman baru datang sekarang. Deni hampir menjawab mereka meninggalkan Kelana, tetapi menahan diri.
'Mereka dulu sangat sedih karena Ayah Arman meninggal,' jelas Gea. 'Sekarang mereka sedang belajar datang lagi. Kelana nggak salah dan nggak harus bikin mereka senang.'
Kelana menerima penjelasan itu lalu meminta tidur. Tidak ada pertanyaan lanjutan yang dipaksa keluar darinya.
Setelah bangun, Kelana memilih menyimpan album di ruang keluarga, bukan di kamarnya. Ia berkata ingin melihatnya lagi bersama Ayah dan Mama. Keputusan kecil itu menunjukkan dia membutuhkan kenangan lama tetap berada di dalam rumah yang sekarang membuatnya aman.
Deni dan Gea sepakat. Mereka tidak akan membuat panggilan menjadi ukuran kasih sayang.
Ketika Kelana tidur, keluarga dewasa mengevaluasi pertemuan. Mamanya Deni mengaku sempat merasa takut kehilangan tempat sebagai nenek, lalu menyadari ketakutan itu tidak boleh dibebankan kepada Kelana.
'Kasih sayang bukan kursi yang cuma muat satu orang,' kata Gea.
Deni menatapnya sambil tersenyum. Kalimat itu sama seperti keyakinan Gea tentang ibu kandung Kelana. Keluarga mereka bisa bertambah tanpa harus menghapus orang lain.
Sore hari, dokter rumah sakit mengirim kabar mengenai sesi terapi. Kakaknya Deni meminta melihat gambar bunga lagi dan menyebut nama Arman. Ia lalu bertanya mengapa suaminya belum menjemput.
Deni merasa dadanya sesak. Kemajuan mengingat Kelana ternyata juga membuka luka tentang kematian Arman. Dokter meminta keluarga tidak datang mendadak karena pasien membutuhkan waktu memprosesnya.
'Kita ikutin dokter,' kata Gea sambil menggenggam tangannya.
'Aku pengin ada di sana.'
'Aku tahu. Tapi kehadiran kamu harus membantu dia, bukan cuma menenangkan kamu.'
Deni mengangguk meski sulit. Ia memilih menulis pesan singkat untuk dibacakan dokter nanti: Kelana aman, keluarga menunggu tanpa memaksa, dan kakaknya boleh beristirahat.
Malamnya, polisi mengirim hasil pencocokan rekaman pintu perusahaan. Perempuan bermasker tidak terlihat keluar melalui pintu utama. Namun, seorang petugas melihatnya berganti jaket di area parkir dan masuk ke mobil sebagai penumpang.
Pengemudinya adalah seseorang yang masih bekerja di perusahaan Deni.