Deni mengenali pengemudi itu sebagai staf pengadaan yang sudah bekerja hampir lima tahun. Mereka tidak dekat, tetapi pria tersebut memiliki akses ke gedung administrasi dan sering berhubungan dengan banyak bagian. Namanya tercatat masuk kerja pada hari map Laras dipinjam.
'Kita kasih datanya ke pemeriksa dan polisi,' kata Gea. 'Jangan panggil dia sendirian.'
'Aku nggak akan.'
Papanya Deni juga setuju. Staf itu dipanggil untuk wawancara resmi dengan pendamping bagian sumber daya manusia. Deni memilih tidak berada di ruangan agar posisinya sebagai anak pemilik perusahaan tidak menekan jawaban.
Pria tersebut mengakui menjemput seorang perempuan dari parkiran. Katanya perempuan itu memperkenalkan diri sebagai saudara mantan pegawai yang hendak mengambil dokumen tertinggal. Ia menerima uang untuk mengantar sampai dekat terminal.
'Kenapa Anda membiarkannya masuk?' tanya pemeriksa.
'Dia bilang sudah dapat izin. Telepon meja juga konfirmasi. Saya pikir urusannya resmi.'
'Anda tahu dia memakai nama keluarga yang palsu?'
'Nggak tahu. Saya baru lihat kartu tamunya sekarang.'
Staf itu menyerahkan percakapan mereka. Nomor perempuan sudah mati, tetapi pesan menunjukkan ia menawarkan uang setelah bertanya cara masuk gudang arsip. Hal itu membuktikan staf tersebut setidaknya mengetahui tujuan ke area arsip, meski belum tentu tahu soal ancaman rumah sakit.
Pemeriksa menanyakan mengapa dia tidak melapor saat perempuan itu meminta bantuan mengakses arsip. Staf tersebut mengaku sedang memiliki utang dan menganggap dokumen mantan pegawai tidak lagi penting. Ia menerima pembayaran pertama melalui dompet digital milik orang lain dan sisanya tunai di mobil.
'Saya nggak pernah buka mapnya,' katanya. 'Saya cuma kasih tahu rak dan pinjamkan kartu tamu.'
'Anda juga memakai telepon meja untuk mengaku sudah mengenal tamu,' ujar pemeriksa.
Pria itu menunduk. 'Iya. Saya salah.'
Pengakuan tersebut memperjelas pelanggaran, tetapi belum membuktikan dia mengetahui ancaman terhadap keluarga Deni. Catatan pembayaran serta ponselnya diserahkan untuk diperiksa. Perusahaan memberinya pendamping agar proses tidak berubah menjadi paksaan dari pemilik.
Perusahaan menonaktifkan aksesnya sementara selama pemeriksaan. Deni tidak langsung memecat. Ia ingin keputusan didasarkan pada tingkat keterlibatan, bukan kemarahannya.
'Dia menerima uang untuk membantu orang asing masuk,' ujar Deni setelah membaca hasil wawancara. 'Itu sudah pelanggaran serius.'
'Iya. Tapi biarkan proses menentukan apakah dia tahu identitas dicuri,' jawab Gea.
Hari itu Gea tidak ikut ke kantor. Ia menyelesaikan revisi presentasi bersama kelompoknya di perpustakaan. Dosen memberikan nilai yang cukup baik dan mencatat sumber mereka sudah diperbaiki. Putri langsung mengajak merayakan dengan makan siang.
Di kantin, dua mahasiswa meminta berfoto bersama Gea karena penasaran dengan istri mantan dosen mereka. Gea menolak dengan sopan. Ia bukan tokoh terkenal dan tidak ingin setiap kegiatan kuliah berubah menjadi isi akun gosip.
'Aneh banget, mereka pikir nikah sama dosen bikin lo selebritas,' keluh Putri.
'Mungkin karena beritanya belum benar-benar hilang.'
Rangga menyarankan Gea tidak membaca komentar selama beberapa hari. Gea setuju mengurangi, tetapi tidak menyerahkan ponselnya kepada siapa pun. Ia tetap memeriksa pesan penting dari kampus dan rumah sakit pada waktu tertentu.
Cara itu berbeda dari menghindar. Gea memilih kapan menerima informasi agar tidak terus hidup dalam rasa takut.
'Nilai lo aman tanpa suami yang ngajar,' ledek Fian.
'Dari dulu juga aman,' balas Gea.
Mereka tertawa. Bahkan Daffa yang duduk di meja seberang tersenyum kecil, tetapi tidak ikut bergabung. Serli mengatakan Daffa mulai mengurangi keluar malam dan datang ke sesi pembinaan tepat waktu. Gea berharap perubahan itu bertahan, tanpa merasa wajib mengawasinya.
Sepulang kampus, Gea menemukan Deni sedang memasang bingkai foto Arman di kamar Kelana. Anak itu berdiri di atas tempat tidur sambil memberi petunjuk agar fotonya tidak terlalu tinggi.
'Kiri sedikit, Ayah. Terus kanan. Eh, kiri lagi.'
'Ayah pusing kalau begini,' keluh Deni.
Gea tertawa dari pintu. Ia membantu memastikan bingkai lurus, lalu mereka bertiga duduk melihat hasilnya. Kelana bercerita tentang keluarga Arman yang datang dan meminta bertemu lagi suatu hari.
'Kelana mau?' tanya Deni.
'Mau lihat buku cerita Ayah Arman. Tapi Mama sama Ayah ikut.'
'Pasti ikut.'
Kelana terlihat puas dan pergi mandi bersama pengasuh. Gea lalu menceritakan nilai presentasinya. Deni tidak bertanya apakah dosen pengganti lebih baik atau membandingkan cara mengajar. Ia hanya meminta melihat materi setelah Gea menawarkan.
'Aku bangga sama kamu,' katanya.
'Karena nilainya?'
'Karena kamu tetap datang ke kelas waktu semua orang ngomongin kamu.'
'Aku sempat pengin berhenti satu semester,' aku Gea. 'Tapi aku takut nanti orang bilang aku cuma mau jadi istri orang kaya.'
'Kalau suatu hari kamu butuh berhenti karena benar-benar capek, keputusan itu juga bukan bukti omongan mereka benar.'
'Kamu nggak keberatan aku tetap kuliah?'
'Aku justru pengin kamu selesai. Tapi aku nggak mau keinginan aku jadi tekanan baru.'
Gea menatap Deni cukup lama. Pria yang dahulu meminta banyak hal sebagai perintah kini mulai belajar menyampaikan keinginan tanpa mengambil keputusan darinya.
Gea memeluknya. Deni membalas dengan hati-hati, lalu mencium keningnya. Beberapa minggu lalu, pujian seperti itu mungkin disusul nasihat atau larangan. Kali ini tidak ada tambahan apa pun.
Malamnya dokter menelepon. Kakaknya Deni sudah lebih tenang setelah sesi mengenai Arman. Ia menerima pesan keluarga dan bertanya apakah Kelana masih suka boneka. Dokter menilai pertanyaan itu sebagai ingatan yang baik, tetapi belum menyarankan pertemuan langsung.
'Boleh kami kirim rekaman suara Kelana?' tanya Deni.
'Belum. Kita mulai dengan jawaban tertulis dan gambar. Suara bisa memberi rangsangan lebih kuat.'
Deni menerima. Ia meminta Gea membantu menulis jawaban sederhana bahwa Kelana masih menyukai boneka dan sedang belajar piano.
Mereka menulis pesan itu bersama di meja makan. Deni sempat ingin menambahkan bahwa Kelana sangat merindukan ibunya, tetapi Gea mengingatkan kalimat tersebut bisa menjadi beban.
'Tulis saja Kelana sehat dan senang gambarnya dilihat,' usul Gea.
Deni mengikuti. Ia lalu menambahkan bahwa keluarga akan menunggu arahan dokter. Pesan tersebut tidak meminta kakaknya cepat pulih atau segera bertemu.
'Aku baru sadar selama ini aku sering bilang cepat sembuh setiap berkunjung,' ujar Deni. 'Mungkin itu terdengar seperti dia gagal kalau belum bisa pulang.'
'Kamu ngomong karena sayang. Sekarang kamu tahu cara yang lebih ringan.'
Deni menyimpan pesan itu dalam map terapi. Belajar mendampingi ternyata sama pentingnya dengan belajar melindungi.
Sebelum tidur, pemeriksa perusahaan mengirim satu berkas lama milik Arman yang ditemukan dalam cadangan surel proyek. Ada pesan kepada Laras mengenai amplop pribadi. Arman menulis bahwa surat itu tidak berhubungan dengan aset perusahaan dan harus diserahkan kepada keluarga bila ia tidak sempat pulang.
Lampirannya sudah hilang dari server, tetapi judul surelnya masih terlihat.
Permohonan wali sementara untuk Kelana.