Deni menunjukkan judul surel itu kepada Gea. Kata wali membuat pikirannya langsung mengarah pada kemungkinan Arman sudah memperkirakan sesuatu buruk. Namun, Gea mengingatkan banyak orang tua menyiapkan rencana pengasuhan tanpa merasa akan meninggal.
'Kita cari isi suratnya dulu,' kata Gea. 'Jangan isi bagian kosong pakai ketakutan.'
Deni menghubungi Laras melalui petugas. Perempuan itu mengingat Arman pernah meminta format surat mengenai siapa yang menjaga Kelana jika dia sedang bepergian dan istrinya sakit. Pada saat itu kondisi kakaknya Deni belum separah setelah kecelakaan, tetapi sudah ada beberapa masa sulit.
Laras menjelaskan draf pertama dibuat setelah kakaknya Deni mengalami masa depresi singkat pasca melahirkan. Kondisinya sempat membaik, sehingga surat tidak pernah dianggap mendesak. Arman hanya ingin ada orang yang bisa menjemput Kelana, menyetujui perawatan darurat, dan menjaga rutinitas jika kedua orang tuanya tidak mampu sementara.
'Itu bukan dokumen pemindahan anak selamanya,' kata Laras. 'Setidaknya format yang saya carikan bukan begitu.'
Gea mencatat perbedaan itu. Kata wali sering terdengar seperti hak permanen, padahal surat yang dimaksud mungkin hanya menyatakan keinginan pengasuhan sementara. Maknanya harus dibaca utuh dan diperiksa secara hukum.
'Pak Arman sering kerja ke luar kota,' jelas Laras. 'Mungkin surat itu untuk keadaan sementara, bukan karena beliau tahu akan kecelakaan.'
'Siapa yang disebut sebagai wali?' tanya Deni.
'Saya nggak baca isi akhirnya. Draf awal menyebut keluarga dari dua pihak akan diajak bicara.'
Keterangan itu tidak menyelesaikan apa pun. Deni meminta cadangan komputer Arman diperiksa melalui izin keluarga, bukan dibuka diam-diam dari server perusahaan. Keluarga ayah Kelana juga harus diberi tahu karena dokumen menyangkut mereka.
Pertemuan dilakukan di rumah orang tua Deni malam berikutnya. Keluarga Arman terkejut mendengar adanya surat. Mereka tidak pernah menerimanya dan tidak mengetahui Arman sedang menyiapkan rencana wali.
Papanya Deni menghadirkan penasihat keluarga yang tidak bekerja untuk perusahaan. Orang tersebut menjelaskan draf tanpa tanda tangan tidak otomatis menentukan pengasuhan. Bahkan surat bertanda tangan tetap harus dilihat bersama keadaan ibu Kelana, kepentingan anak, dan aturan yang berlaku.
'Jangan ada yang menganggap satu halaman bisa menjadikan Kelana milik siapa pun,' katanya. 'Dokumen ini paling jauh menunjukkan kehendak Arman pada waktu tertentu.'
Semua orang menerima penjelasan itu. Gea merasa penting untuk memisahkan pencarian kebenaran dari perebutan. Kelana bukan bagian aset yang bisa dialihkan melalui selembar surat.
'Kalau surat itu menunjuk kalian, kami nggak akan merebut Kelana,' kata kerabat perempuan. 'Kami datang untuk membangun hubungan, bukan memulai perang.'
'Dan kalau suratnya menunjuk pihak kalian, kami juga harus memeriksa keadaan saat surat dibuat,' jawab Deni. 'Keinginan Arman penting, tapi keamanan Kelana sekarang juga penting.'
Gea lega karena keduanya tidak menjadikan dokumen yang belum ditemukan sebagai senjata. Mereka sepakat memberikan persetujuan terbatas untuk memeriksa cadangan pribadi Arman bersama petugas hukum dan perlindungan data.
Di kampus, keadaan Gea mulai lebih tenang. Akun gosip menghapus beberapa unggahan setelah menerima permintaan resmi. Pernyataan fakultas mengenai nilai menyebar, sedangkan teman-temannya mulai bosan membicarakan pernikahannya.
Putri justru lebih tertarik menanyakan apakah acara makan di rumah jadi dilakukan lagi. Gea berjanji mengundang mereka setelah urusan keluarga sedikit tenang.
'Jangan kelamaan. Gue mau main sama Kelana,' kata Putri.
'Dia juga nanya kapan Kak Putri datang.'
'Tuh kan, gue lebih dirindukan daripada suami lo.'
Gea tertawa. Kehidupan normal yang kecil itu terasa berharga setelah beberapa hari dipenuhi ancaman.
Sore hari, Deni mengajak Gea menjemput Kelana dari les piano. Mereka tidak lagi bersembunyi saat berjalan bersama di depan kampus atau tempat les. Meski beberapa orang mengenali Deni, tidak ada yang berani memotret Kelana setelah peringatan privasi disebarkan.
Dalam perjalanan, Deni menerima telepon dari kantor mengenai proyek yang terlambat. Ia hampir meminta sopir memutar arah, tetapi bertanya kepada Gea apakah dia keberatan pulang bersama Kelana tanpa dirinya.
'Kalau memang penting, kamu boleh ke kantor,' jawab Gea. 'Tapi kabari kalau pulangnya terlambat.'
'Aku bisa selesaikan lewat telepon satu jam. Setelah itu kita makan bareng.'
Deni menepati pilihannya. Ia menangani masalah dari ruang kerja rumah, lalu keluar tepat ketika makan malam disiapkan. Gea melihat kepercayaan mereka dibangun dari hal seperti itu, bukan dari janji besar yang hanya diucapkan setelah bertengkar.
'Mama, Ibu sudah lihat gambar Kelana?' tanya Kelana di mobil.
'Sudah. Ibu suka gambarnya,' jawab Gea.
'Ibu jawab apa?'
Deni menoleh dari kursi depan. 'Ibu tanya Kelana masih suka boneka atau enggak.'
Kelana tersenyum lebar. 'Ibu ingat! Kelana mau gambar boneka buat Ibu.'
'Boleh. Nanti dokter yang kasih.'
Mereka mampir membeli kertas gambar. Deni tidak menjanjikan kapan ibunya Kelana akan pulang. Ia hanya ikut memilih warna dan mendengarkan anak itu bercerita tentang piano.
Malamnya, hasil pemeriksaan staf pengadaan keluar. Pria itu mengakui memberikan cara masuk ke gudang serta memakai telepon meja untuk menyetujui tamu. Ia menerima uang dan tahu perempuan tersebut hendak mengambil salinan berkas mantan pegawai. Namun, dia mengaku tidak tahu identitas Laras akan digunakan menyewa kendaraan atau mengirim ancaman.
Perusahaan menjatuhkan skorsing sambil menunggu proses hukum. Papanya Deni juga memerintahkan perbaikan sistem arsip untuk semua pegawai, bukan hanya berkas Laras.
'Dia bilang perempuan itu cari map Laras karena pernah mengantar dokumen Arman,' ujar Deni. 'Berarti targetnya memang surat wali.'
Polisi menemukan pesan lain pada ponsel staf tersebut. Perempuan itu bertanya apakah amplop pribadi Arman pernah masuk ke gudang perusahaan. Jawabannya tidak. Ia lalu meminta salinan identitas Laras dan menawarkan pembayaran lebih besar.
Beberapa jam kemudian, cadangan komputer pribadi Arman berhasil dibuka di hadapan kedua keluarga. Draf surat wali ditemukan, tetapi halaman tanda tangan tidak ada. Isi draf menyebut Deni sebagai orang yang diminta menjaga Kelana sementara ibunya menjalani perawatan, dengan kewajiban mempertahankan hubungan bersama keluarga Arman.
Penasihat mencocokkan tanggal pembuatan dengan catatan surel. Draf itu terakhir disunting dua minggu sebelum kecelakaan. Tidak ada kalimat yang menyebut Arman merasa terancam atau memperkirakan kematian. Semua bagian membahas perjalanan kerja, kesehatan istrinya, dan kebutuhan Kelana bila keadaan darurat terjadi.
'Ini menguatkan bahwa kecelakaannya nggak perlu dikaitkan dengan surat,' ujar Gea.
Deni setuju. Ia tidak ingin rasa ingin tahu menyeret nama Arman ke cerita yang tidak didukung bukti.
Dokumen itu tidak memberikan hak mutlak kepada siapa pun. Justru isinya meminta kedua keluarga tetap hadir.
Sebelum mereka sempat merasa lega, sebuah surel anonim masuk ke semua anggota keluarga. Pengirim melampirkan halaman tanda tangan yang hilang dan menuduh Deni sengaja menyembunyikannya selama dua tahun.
Di bagian bawah halaman itu terdapat tanda tangan Arman, dua saksi, dan satu nama tambahan sebagai wali pengganti.
Nama tersebut bukan Deni dan bukan anggota dari kedua keluarga.
Penasihat langsung meminta semua orang tidak meneruskan lampiran. Halaman itu belum terbukti asli. Bentuk tanda tangan Arman tampak meyakinkan, tetapi posisi teks dan jenis huruf berbeda sedikit dari draf yang ditemukan.
'Kita periksa dokumen fisik dan berkas digitalnya,' katanya. 'Jangan hubungi nama tambahan itu sebelum identitas serta maksud halaman ini jelas.'
Deni menggenggam tangan Gea di bawah meja. Kali ini ia tidak berdiri, tidak menelepon, dan tidak menuduh. Ia hanya menyimpan salinan surel bersama bukti lain lalu menunggu langkah yang sudah disepakati kedua keluarga.