Nama wali pengganti yang tercantum pada halaman itu adalah Ratri Wibawa. Tidak seorang pun di ruang keluarga langsung mengenalinya. Deni hampir mencari nama tersebut melalui ponsel, tetapi penasihat meminta semua perangkat diletakkan di meja dan lampiran tidak diteruskan.
'Kita simpan berkas aslinya dari surel, bukan tangkapan layar,' kata penasihat. 'Metadata mungkin menunjukkan kapan halaman dibuat dan perangkat yang digunakan.'
Papanya Deni mengunduh lampiran ke penyimpanan khusus. Surel anonim itu diteruskan kepada polisi lengkap dengan bagian kepala pesan. Pengirim memakai layanan alamat sementara, tetapi waktu serta jalur pengirimannya tetap bisa dibandingkan dengan bukti lain.
'Apa halaman ini membuat suratnya sah?' tanya kerabat perempuan dari keluarga Arman.
'Belum,' jawab penasihat. 'Kita bahkan belum tahu apakah tanda tangannya asli. Dan kalau asli sekalipun, surat wali sementara tidak otomatis mengalahkan kepentingan Kelana atau keadaan ibunya.'
Gea memandangi halaman tersebut dari layar. Tanda tangan Arman berada di bawah kalimat yang seolah menyetujui Ratri sebagai pengganti bila Deni tidak mampu. Dua saksi bernama Laras dan seorang rekan kantor Arman. Namun, tata letaknya tidak sama dengan draf yang ditemukan.
Kerabat laki-laki dari keluarga Arman meminta lampiran dicetak agar lebih mudah dibaca. Penasihat menolak untuk sementara karena setiap salinan baru bisa kembali tersebar. Ia memperbesar bagian tertentu di layar dan menutup alamat surel para penerima.
'Pengirim sengaja mengirim ke semua keluarga supaya kita saling curiga,' kata Gea. 'Kalau kita langsung berebut surat ini, berarti caranya berhasil.'
Papanya Deni mengangguk. Ia meminta setiap orang mencatat pertanyaan sendiri, kemudian membahasnya satu per satu. Cara itu menghentikan suara yang mulai saling bertumpuk.
Mamanya Deni bertanya apakah nama Deni sebagai wali utama juga bisa dipalsukan. Penasihat menjelaskan draf tersebut ditemukan di cadangan komputer Arman dan riwayat penyuntingannya sesuai waktu dua tahun lalu. Bagian itu lebih kuat daripada halaman baru, tetapi tetap harus dilihat sebagai rencana, bukan keputusan pengadilan.
'Jadi jangan ada yang merasa menang malam ini,' ujar papanya. 'Kita belum sedang mengurus perpindahan Kelana.'
Keluarga Arman menyetujui. Mereka bahkan meminta jadwal pertemuan berikutnya dengan Kelana tidak diubah hanya karena muncul surel anonim.
'Kenapa nama Ratri baru muncul di halaman tanda tangan?' tanya Gea. 'Di halaman sebelumnya nggak ada penjelasan siapa dia.'
'Itu salah satu kejanggalannya,' ujar penasihat. 'Dokumen yang rapi biasanya menyebut identitas dan peran sejak bagian isi.'
Deni mengangguk. Ia tidak menolak kemungkinan Arman mengenal orang yang tidak pernah diperkenalkan kepada keluarga, tetapi tidak masuk akal menyerahkan tanggung jawab tanpa alamat atau hubungan yang jelas.
Polisi meminta mereka menghubungi Laras melalui petugas. Laras menerima salinan terbatas hanya pada bagian tanda tangan yang mengatasnamakan dirinya. Ia langsung mengatakan tanda itu bukan miliknya.
'Saya selalu menulis huruf L dengan garis bawah,' jelasnya melalui panggilan video. 'Yang di situ bentuknya mirip tanda tangan pada laporan perjalanan, tapi bagian akhirnya dipotong.'
Laras mengirim contoh dokumen lama. Ketika diletakkan berdampingan, tanda tangan pada halaman wali memang sama persis dengan laporan perjalanan, termasuk titik kecil akibat tinta pena. Kemungkinan besar gambar tersebut disalin, bukan ditulis ulang secara langsung.
Rekan kantor Arman yang namanya menjadi saksi kedua juga berhasil dihubungi. Ia masih bekerja di kota yang sama dan mengatakan tidak pernah menyaksikan surat wali. Tanda tangannya pada halaman itu menyerupai formulir serah terima komputer setelah proyek Arman ditutup.
'Saya bahkan belum pernah bertemu Ratri,' katanya. 'Kalau dokumen itu menyebut kami berada di ruangan yang sama, itu bohong.'
Keterangan tersebut disimpan bersama contoh tanda tangan. Deni meminta maaf karena nama dua mantan pekerja terseret ke masalah keluarga. Ia menjanjikan bantuan perusahaan untuk memperbaiki catatan jika dokumen palsu menyebar.
'Yang penting jangan umumkan nama saya,' jawab rekan itu. 'Saya nggak mau keluarga saya baca seolah saya menyembunyikan surat orang meninggal.'
Gea memahami ketakutan tersebut. Ia meminta semua anggota keluarga tidak mengambil tangkapan layar selain salinan bukti yang dikelola petugas.
'Tanda tangan Arman juga harus dibandingkan,' kata Gea.
Keluarga Arman menyediakan beberapa contoh dari dokumen yang tidak memuat data sensitif. Penasihat tidak membuat kesimpulan hanya dari pandangan mata. Semua bahan diserahkan kepada pemeriksa dokumen.
Sementara menunggu, papanya Deni mencari nama Ratri melalui daftar kontak lama Arman. Nama itu muncul sekali dalam sebuah jadwal pertemuan layanan pendampingan keluarga. Tidak ada nomor pribadi, hanya alamat kantor lembaga konsultasi yang sudah pindah.
'Berarti dia mungkin bukan teman dekat,' ujar Deni.
'Bisa jadi orang profesional yang dimintai saran,' jawab Gea. 'Jangan hubungi nomor acak yang muncul di internet. Pastikan orangnya benar.'
Polisi setuju menelusuri melalui lembaga resmi. Sampai identitas Ratri terverifikasi, kedua keluarga diminta tidak mendatangi siapa pun.
Pertemuan selesai menjelang tengah malam. Keluarga Arman membawa salinan daftar bukti, bukan halaman wali. Mereka berjanji tidak menanggapi surel anonim.
Di rumah, Kelana sudah tidur bersama pengasuhnya. Gea masuk ke kamar anak itu untuk merapikan selimut. Foto Arman masih terpasang di dinding, berdampingan dengan gambar rumah berisi Deni, Gea, Kelana, dan ibunya.
Di meja kecil terdapat dua buku cerita, satu dari keluarga Arman dan satu yang dibeli Deni. Kelana menaruh keduanya dalam tumpukan yang sama. Tidak ada buku yang dianggap lebih penting karena berasal dari ayah kandung atau Ayah yang merawatnya sekarang.
'Aku kadang takut Kelana nanti bingung,' ujar Deni.
'Bingung itu boleh. Tugas kita jawab, bukan menyederhanakan dengan menghapus seseorang.'
Deni mengambil mainan yang jatuh lalu meletakkannya kembali. Ia mengaku dahulu sengaja jarang menyebut Arman karena setiap nama itu muncul, mamanya dan kakaknya menangis. Sekarang dia sadar diam juga meninggalkan ruang yang bisa diisi orang asing dengan cerita palsu.
'Kita belajar ngomong sesuai usia Kelana,' kata Gea. 'Nggak perlu semua malam ini.'
'Dia nggak tahu orang dewasa sedang ribut soal siapa yang jaga dia,' bisik Deni.
'Dan dia nggak perlu tahu dulu. Kita bukan sedang menentukan pemilik Kelana.'
Deni duduk di tepi ranjang. 'Kalau surat itu benar dan Arman pilih orang lain?'
'Kita cari tahu kenapa. Tapi keadaan dua tahun lalu bukan satu-satunya hal yang menentukan hidup Kelana hari ini.'
'Kamu takut kehilangan dia?'
'Takut.' Gea menjawab jujur. 'Aku baru dua bulan jadi Mama buat dia, tapi aku sudah sayang. Bedanya, aku nggak mau rasa takut itu bikin kita menutup semua orang.'
Deni menggenggam tangannya. Ia juga takut, tetapi memilih tidak membuat janji bahwa tidak ada yang akan berubah. Mereka hanya bisa memastikan setiap perubahan dilakukan untuk Kelana, bukan untuk memenangkan keluarga tertentu.
Pagi berikutnya, hasil pemeriksaan metadata awal datang. Halaman tanda tangan dibuat tiga hari lalu dari sebuah gambar hasil pindai. Tanda tangan Arman dan kedua saksi tersimpan sebagai lapisan gambar terpisah.
Halaman itu bukan dokumen asli. Seseorang sengaja menyusunnya agar terlihat seperti bagian yang hilang.