Pihak rumah sakit memeriksa sambungan layanan informasi. Nomor tersebut dapat diteruskan ke banyak meja, sehingga belum menunjukkan petugas tertentu. Catatan panggilan memperlihatkan kurir berbicara selama empat menit sebelum meminta izin kunjungan.
'Mungkin dia cuma menelepon untuk menanyakan prosedur,' kata Gea.
'Atau ada orang yang memberinya nama keluarga Arman,' ujar Deni.
Mereka menyerahkan penilaian kepada penyelidik. Kepala rumah sakit memeriksa rekaman pusat panggilan dan jadwal petugas. Tidak semua percakapan direkam karena sistem lama hanya menyimpan waktu serta tujuan sambungan.
Kurir akhirnya ditemukan dari grup pekerjaan lepas yang disebut Mila. Ia datang didampingi bantuan hukum dan mengakui mengantar amplop. Menurutnya, setelah tiba dia mendapat pesan dari akun lain yang menawarkan tambahan uang jika berhasil memotret pintu kamar pasien.
Kurir menunjukkan urutan pesan. Tugas pertama hanya menyebut meja penerimaan dan nomor kamar untuk ditulis di amplop. Setelah ia mengirim foto bukti pengantaran, akun kedua menghubunginya dengan menyertakan foto yang sama. Itu berarti seseorang melihat foto tugas tersebut atau menerima terusannya.
'Saya pikir pemberi tugas pertama membagikan nomor saya ke rekannya,' katanya. 'Saya butuh uang, jadi saya tanya apa yang harus dilakukan.'
Akun kedua meminta nama lengkap pasien, foto pintu, dan jadwal kunjungan. Kurir hanya memperoleh nama dari kartu identitas palsu yang dikirim kepadanya. Ia tidak berhasil mendapatkan foto pintu karena petugas meminta identitas.
'Kenapa Anda memakai nama keluarga pasien?' tanya petugas.
'Akun itu bilang kalau saya mengaku kerabat, petugas akan kasih izin.'
Kurir mengakui tindakannya salah. Ia menyerahkan uang yang belum dipakai dan bersedia membantu penelusuran akun.
'Saya nggak masuk. Saya cuma tanya petugas apakah keluarga boleh berkunjung,' katanya. 'Waktu diminta identitas, saya takut dan pergi.'
'Siapa yang menawarkan uang tambahan?' tanya petugas.
'Saya kira masih orang yang sama. Akunnya pakai foto kosong.'
Mila menyangkal mengirim pesan kedua. Pemeriksaan ponselnya belum menemukan akun tersebut. Kurir menyerahkan tangkapan layar yang menunjukkan gaya bahasa berbeda dari pesan Mila, tetapi hal itu belum cukup memastikan ada pelaku lain.
Mengenai foto bukti, rumah sakit menemukan seorang petugas informasi pernah meneruskan foto dari grup internal kepada saudaranya yang kuliah di kampus Gea. Ia mengaku hanya ingin bertanya apakah kasus itu sama dengan gosip yang beredar. Saudaranya kemudian mengirim ke akun kampus.
Saudara petugas informasi diperiksa kampus dan mengakui meneruskan gambar ke akun gosip tanpa mengetahui itu bagian barang bukti. Ia diminta menghapus serta membuat pernyataan. Rumah sakit melarang penggunaan grup pribadi untuk membagikan bukti dan memindahkan komunikasi kasus ke sistem terbatas.
'Petugasnya bukan pelaku ancaman, tapi tindakannya memberi orang lain bahan baru,' ujar kepala rumah sakit.
'Kami ingin sanksinya sesuai, bukan dijadikan tumbal untuk semua kebocoran,' jawab Gea.
Pihak rumah sakit berjanji menilai pelanggaran berdasarkan aturan pegawai. Keluarga tidak meminta pemecatan sebagai syarat.
Tidak ada bukti petugas itu membantu ancaman atau mengenal Mila. Namun, tindakannya tetap melanggar privasi dan membuat bukti menyebar. Rumah sakit memberi sanksi, meminta penghapusan, serta memperbaiki aturan grup internal.
'Jadi kebocoran foto bukan satu rencana besar,' kata Gea setelah mendengar hasilnya. 'Orang berbeda membuat keputusan buruk yang saling menyambung.'
Deni mengangguk. Ia merasa lebih mudah membayangkan satu musuh yang mengatur semuanya. Kenyataannya justru banyak kelalaian kecil membuka pintu untuk ancaman.
Audit dana selesai beberapa hari kemudian. Pemeriksa menyatakan tidak ada rekening perusahaan tersembunyi dan tidak ada penggelapan dana Arman. Ringkasan diberikan kepada Mila, kedua keluarga, dan penyidik. Data kesehatan ibu Kelana tetap ditutup.
Mila menerima penjelasan tertulis mengenai mengapa dirinya tidak masuk program dana. Dia masih berhak menggugat keputusan kontrak melalui jalur perdata atau ketenagakerjaan yang sesuai, tetapi masalah itu tidak menghentikan proses atas identitas Laras, halaman palsu, dan ancaman.
Papanya Deni membuka layanan peninjauan keluhan vendor lama dengan pengawas independen. Deni ikut menyusun prosedur, tetapi tidak menjadi orang yang memutus perkara Mila. Ia ingin perbaikan berlaku bagi siapa pun, bukan sebagai pertukaran agar keluarganya ditinggalkan.
Di kampus, nilai ujian Gea diumumkan lengkap. Ia lulus semua mata kuliah tengah semester dengan hasil yang baik. Beberapa orang masih berbisik, tetapi berkas pemeriksaan akademik sudah menutup tuduhan pemberian nilai.
Putri, Fian, Rangga, dan Serli datang ke rumah untuk makan malam kecil. Daffa diundang setelah meminta izin kepada Gea. Ia membawa buku cerita untuk Kelana dan tidak mengambil foto apa pun.
Kelana meminta setiap tamu menulis nama di halaman belakang buku baru. Daffa ragu karena takut merusaknya, tetapi anak itu sendiri yang menyerahkan pensil.
'Tulis Om Daffa,' perintah Kelana.
'Om? Gue jadi tua banget,' keluh Daffa.
'Kalau bukan Om, apa?'
Daffa tidak bisa menjawab dan akhirnya menulis sesuai permintaan. Semua orang tertawa. Gea melihatnya berhati-hati tidak mengeluarkan ponsel sepanjang bermain bersama Kelana.
Serli membantu Gea membawa makanan dari dapur. Dia mengatakan hubungannya dengan Daffa belum kembali, tetapi mereka sudah bisa berbicara tanpa bertengkar. Gea tidak mendorong mereka berbaikan atau berpisah. Itu keputusan Serli sendiri.
'Rumah lo ternyata normal,' kata Fian setelah melihat Deni membantu menyiapkan piring.
'Memangnya lo pikir ada ruang kelas di ruang tamu?' balas Gea.
'Gue pikir Pak Deni kasih nilai sebelum makan.'
Deni menatapnya pura-pura galak. 'Kalau begitu kamu cuci piring supaya lulus.'
Semua tertawa. Kelana duduk di samping Putri dan bercerita bahwa ibunya sudah mendengar suara. Teman-teman Gea tidak bertanya lebih jauh setelah melihat Gea menggeleng kecil.
Setelah mereka pulang, Deni dan Gea membereskan meja bersama. Deni mengaku senang rumah mereka tidak lagi harus disembunyikan.
'Aku juga,' jawab Gea. 'Tapi jangan senang dulu. Fian pasti datang lagi cuma buat makan.'
'Nggak apa-apa. Asal dia cuci piring.'
Keduanya tertawa. Hubungan mereka terasa lebih ringan meski urusan kurir belum selesai sepenuhnya.
Kabar terbaik datang dari rumah sakit keesokan hari. Ibu Kelana mampu duduk di taman tiga hari berturut-turut dan meminta menulis pesan untuk anaknya. Dengan bantuan terapis, ia menulis bahwa dirinya senang Kelana sehat dan belum bisa pulang sekarang.
Deni membaca pesan itu dengan mata berkaca-kaca. Kalimat belum bisa pulang terasa menyakitkan, tetapi juga jujur. Ia meminta dokter menyimpan surat sampai mereka menentukan cara memberikannya kepada Kelana.
Dokter menyarankan surat dibaca pada siang hari, bukan menjelang tidur, agar Kelana punya waktu bertanya. Pendamping keluarga juga boleh hadir bila dibutuhkan. Gea memilih membacanya bersama Deni tanpa terlalu banyak orang, lalu menghubungi pendamping jika reaksi Kelana sulit diatur.
'Jangan tambahkan janji yang tidak ditulis ibunya,' pesan dokter. 'Kalau dia bilang belum bisa pulang, cukup jelaskan perawatan masih berjalan.'
Deni menyetujui. Ia tidak mengubah kata belum menjadi sebentar lagi meski ingin memberi harapan.
'Kita bisa baca bareng dan jelasin kalau Ibu sedang berusaha,' kata Gea.
'Aku setuju.'
Mereka membawa surat itu pulang dalam map. Kelana mendengarkan saat Deni membacakannya perlahan. Anak itu tidak menangis. Ia hanya memeluk boneka yang kembarannya sudah berada di rumah sakit.
'Kalau Ibu belum bisa pulang, Kelana boleh datang ke taman?' tanyanya.
Deni hampir menjawab iya karena melihat harapan di wajah anak itu. Ia kemudian menoleh kepada Gea dan mengingat batas yang selama ini mereka jaga.
'Ayah tanya dokter dulu,' jawabnya. 'Kelana juga harus siap.'
Kelana mengangguk. Beberapa menit kemudian dokter menelepon. Tim memang mulai mempertimbangkan pertemuan singkat di taman, tetapi bukan dalam waktu dekat. Mereka perlu menilai respons ibu Kelana terhadap foto bergerak dan suara sekali lagi.
Pada saat yang sama, polisi mengirim pesan lain. Akun yang menawarkan uang tambahan kepada kurir berhasil ditelusuri ke jaringan internet umum di dekat rumah sakit. Kamera lokasi merekam seseorang memakai seragam petugas.
Wajahnya belum terlihat, tetapi kartu identitas di dadanya menggunakan nama ibu Kelana.