Polisi tidak langsung menyetujui syarat Mila. Hasil audit memuat data keluarga dan pasien yang tidak berhak dia lihat. Mereka hanya menawarkan ringkasan mengenai dana vendor serta penjelasan bahwa rekening yang disebutnya adalah rekening pribadi Arman.
Mila menerima setelah berbicara dengan pengacaranya. Deni dan Gea tidak berada di ruang pemeriksaan. Mereka mengikuti bagian yang diizinkan melalui petugas dan tidak boleh mengajukan pertanyaan langsung sebelum keterangan awal selesai.
Mila mengakui pernah bekerja untuk vendor pemindaian. Ia melihat rancangan bantuan pekerja kontrak, daftar transaksi, dan halaman rekening pribadi Arman bercampur dalam satu map. Karena tiket keluhannya ditutup, ia meyakini perusahaan menyembunyikan dana.
Mila menceritakan setelah kontraknya berhenti, ibunya jatuh sakit dan dia memiliki utang biaya pengobatan. Ia melihat rancangan Arman sebagai janji bahwa semua pekerja kontrak akan dibantu. Ketika namanya tidak tercantum dalam pembayaran, ia merasa vendor dan perusahaan saling melempar tanggung jawab.
'Saya kirim bukti halaman, tapi tiketnya ditutup tanpa pertemuan,' katanya. 'Setelah itu nomor saya diblokir bagian administrasi.'
Pemeriksa perusahaan membenarkan alamat surel Mila pernah dimasukkan ke daftar pesan tidak diinginkan setelah ia mengirim berkali-kali. Tindakan itu dilakukan staf lama tanpa peninjauan atasan.
'Itu kegagalan jalur keluhan,' ujar petugas. 'Tetapi mari tetap pisahkan dari tindakan dua minggu terakhir.'
Mila mengangguk. Ia tidak diminta mencabut keluhannya agar keterangan tentang ancaman dianggap benar.
'Kenapa menunggu dua tahun?' tanya petugas.
'Saya sempat pindah kota dan merawat ibu. Setelah kembali, saya lihat berita Deni menikah sama mahasiswinya. Nama Arman dan Kelana muncul lagi. Saya pikir keluarga itu tetap memakai uang sementara kami dilupakan.'
Mila mengakui menghubungi bibi keluarga, Ratri, dan Daffa melalui akun anonim untuk mengumpulkan informasi. Ia juga mengaku membayar staf pengadaan, mengambil salinan identitas Laras, menyewa kendaraan, mencetak foto, dan menyusun halaman wali palsu.
Menurut Mila, halaman wali dibuat untuk membuktikan bahwa perusahaan menyimpan dokumen pribadi dalam arsip proyek. Ia memilih nama Ratri setelah menemukan catatan mediator, lalu menempel tanda tangan agar keluarga menganggapnya serius.
'Saya tahu itu palsu,' katanya. 'Saya pikir setelah dokumen dibuka, saya akan jelaskan.'
'Sebelum atau setelah dua keluarga saling menuduh?' tanya petugas.
Mila tidak menjawab. Diamnya menunjukkan ia tidak pernah memiliki rencana jelas untuk memperbaiki kerusakan yang dibuat.
Petugas juga menanyakan gelang yang dipakai di percetakan. Mila mengaku membeli model serupa setelah membaca pesan Daffa. Ia ingin kamera mengarahkan dugaan kepada Gea agar perhatian kampus semakin besar.
Deni menutup matanya mendengar itu. Gea sendiri merasa marah karena identitasnya sengaja ditiru, tetapi ia tetap menunggu giliran pertanyaan.
'Saya ingin dua keluarga bertengkar lalu membuka semua dokumen,' katanya. 'Kalau saya cuma kirim keluhan lagi, pasti diabaikan.'
Pengacaranya menegaskan pengakuan itu tidak menghapus hak Mila mempertanyakan proses keluhan. Petugas menjawab hak tersebut dipisahkan dari dugaan pencurian data, pemalsuan, ancaman, dan pelanggaran privasi.
Deni mengepalkan tangan saat mendengar bagian tentang Kelana. Gea menggenggam jarinya tanpa meminta ia pura-pura tidak marah.
'Aku pengin tanya kenapa dia pakai anak kecil,' bisik Deni.
'Nanti saat petugas izinkan.'
Mila menyangkal mencoba masuk ke ruang pasien. Ia mengatakan hanya mengirim amplop melalui perempuan yang dibayarnya sebagai kurir. Foto plastik bukti dari pesan dokter juga bukan darinya.
'Saya memang kirim foto amplop ke satu orang yang mengelola akun kampus,' akunya. 'Tapi foto yang saya punya sebelum dimasukkan plastik. Gambar di akun itu beda.'
Petugas menunjukkan rekaman perempuan bermasker yang meminta kunjungan memakai nama keluarga Arman. Mila mengatakan perempuan itu adalah orang yang sama dengan kurir bayarannya. Menurut Mila, tugasnya hanya mengantar amplop dan memotret meja penerimaan, bukan mengajukan kunjungan.
'Siapa namanya?'
'Saya kenal dari grup pekerjaan lepas. Namanya mungkin bukan nama asli. Semua pembayaran tunai.'
Keterangan itu berarti Mila bertanggung jawab membuka jalan, tetapi ada tindakan kurir yang mungkin dilakukan sendiri atau atas perintah pihak lain. Polisi akan mencari perempuan tersebut secara terpisah.
Setelah keterangan awal, Deni diberi kesempatan mengajukan dua pertanyaan melalui petugas.
'Kenapa memakai identitas Kelana dan ibunya untuk menekan kami?' tanyanya.
Mila menunduk. 'Karena itu satu-satunya hal yang membuat keluarga kalian cepat bergerak.'
'Apa kamu tahu tindakan itu bisa mengganggu pasien dan anak?'
'Saya pikir mereka nggak akan tahu langsung.'
Deni ingin membalas, tetapi Gea mengingatkan mereka sudah mendapat jawaban. Ketidaktahuan Mila bukan pembelaan. Proses hukum akan menentukan akibatnya.
Ringkasan audit kemudian dibacakan. Tidak ada rekening perusahaan kedua. Rancangan bantuan belum disetujui dan Mila masuk setelah proyek ditutup sehingga tidak memenuhi kriteria. Rekening pribadi Arman digunakan untuk perawatan keluarga dan seluruh transaksi tercatat.
Mila bertanya mengapa tidak ada yang menjelaskan dua tahun lalu. Papanya Deni, melalui pernyataan tertulis, mengakui perusahaan menutup tiket terlalu cepat dan berkomitmen memperbaiki jalur keluhan vendor. Namun, tidak ada uang yang akan dibayar untuk menghentikan penyelidikan.
'Saya tetap mau salinan alasan penolakan,' kata Mila.
'Anda akan mendapat jawaban resmi yang tidak membuka data pasien,' ujar petugas.
Mila akhirnya menandatangani berita acara. Ia tidak langsung dipulangkan karena beberapa tindakan masih diperiksa. Pengacaranya meminta haknya tetap dihormati dan keluarga setuju tanpa harus memaafkan.
Petugas menjelaskan permintaan maaf atau pengembalian dokumen tidak otomatis menghapus perkara. Namun, kerja sama Mila, kondisi keluarganya, dan tingkat keterlibatan setiap orang akan dicatat secara terpisah. Staf pengadaan serta kurir juga tidak akan menerima akibat yang sama tanpa pemeriksaan.
Gea meminta satu hal melalui petugas: semua salinan foto Kelana dan catatan terapi yang dimiliki Mila harus diserahkan serta dihapus dengan berita acara. Mila menyetujui. Pemeriksaan perangkat akan memastikan tidak ada salinan yang tersembunyi sejauh bisa dilacak.
Mila juga menyerahkan kata sandi penyimpanan daring yang dipakainya. Petugas mencatat akses sebelum penghapusan agar bukti tidak hilang dan data pribadi yang tidak berkaitan tidak dibuka sembarangan.
'Saya nggak pernah kirim foto wajah Kelana selain yang sudah di grup,' kata Mila.
'Foto dari grup itu saja sudah terlalu banyak,' jawab Gea melalui petugas.
Di perjalanan pulang, Deni diam cukup lama. Gea tidak menyuruhnya segera tenang.
'Aku marah,' katanya akhirnya. 'Tapi aku juga malu perusahaan Papa ikut membuat orang merasa nggak punya jalan bicara.'
'Dua hal itu bisa benar sekaligus. Perusahaan harus memperbaiki jalur, Mila harus bertanggung jawab atas caranya.'
Deni mengangguk. Mereka belum selesai karena kurir dan kebocoran foto bukti masih belum terjawab.
Malam itu rumah sakit mengirim rekaman kamera tambahan. Perempuan yang mencoba masuk ternyata sempat berbicara dengan seseorang di area parkir melalui telepon. Nomor yang dihubunginya bukan milik Mila.
Nomor itu terdaftar sebagai sambungan layanan informasi rumah sakit.