Deni membaca pesan dari dokter rumah sakit dua kali. Tatapannya berpindah dari layar ponsel ke wajah Gea yang masih menyimpan senyum tipis setelah mendengar bisikannya kepada calon bayi mereka.
'Kok bisa Ibu tahu?' tanya Gea pelan.
'Belum tentu tahu.'
Deni langsung menelepon dokter, tetapi tidak menyalakan pengeras suara sebelum meminta izin. Gea mengangguk. Ia ingin mendengar penjelasan secara utuh agar pikirannya tidak mengisi ruang kosong dengan kemungkinan buruk.
Dokter memastikan tidak ada seorang pun dari klinik yang menghubungi rumah sakit. Pertanyaan itu muncul ketika ibu Kelana membicarakan pernikahan Deni. Ia sedang mencoba menyusun urutan kejadian yang hilang dari ingatannya, lalu menyadari bahwa pernikahan dapat menghasilkan anak.
'Jadi dia nggak tahu Gea hamil?' tanya Deni.
'Kami bahkan baru mendengar kabar itu dari kalian sekarang,' jawab dokter. 'Pertanyaannya tentang masa depan, bukan keadaan Gea hari ini.'
Gea mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan. Namun, rasa lega itu tidak bertahan lama. Jika kemungkinan yang belum diketahui saja sudah membuat ibu Kelana cemas, bagaimana reaksinya ketika kabar itu benar-benar disampaikan?
'Apa jawaban Dokter?' tanya Gea.
'Saya tidak memberi janji atas nama kalian. Saya bilang saya tidak tahu apakah kalian merencanakan anak. Yang bisa kami bahas adalah ketakutannya kalau keadaan itu terjadi suatu hari nanti.'
Ibu Kelana ternyata bertanya apakah seorang anak kandung akan membuat Deni mengembalikan Kelana kepadanya sebelum dirinya siap. Ia juga takut Gea tidak lagi menyayangi Kelana jika memiliki bayi sendiri. Dokter tidak membenarkan ketakutan itu, tetapi juga tidak memaksanya percaya bahwa semuanya pasti baik.
'Kami sedang membantunya membedakan kemungkinan dengan kejadian,' lanjut dokter. 'Kalian tidak perlu memberi tahu sekarang. Kehamilan Gea adalah informasi pribadi. Bicarakan dulu dengan dokter kandungan dan pendamping Kelana.'
Setelah sambungan berakhir, Deni meletakkan ponsel di meja. Gea masih duduk diam.
'Aku sempat mikir ada yang mengikuti kita ke klinik,' katanya.
'Aku juga.'
'Padahal urusan ancaman itu sudah selesai.'
'Rasa takutnya belum langsung selesai.'
Deni mengaku tadi hampir menelepon petugas keamanan dan meminta rekaman kamera klinik. Ia berhenti karena teringat bahwa kecurigaan tanpa bukti pernah melukai Gea. Pengakuan itu membuat Gea menatapnya lebih lama.
'Terima kasih sudah tanya dulu,' ujar Gea.
'Aku masih belajar, bocah.'
'Jangan panggil bocah waktu aku mungkin lagi hamil.'
'Kamu tetap bocah yang sekarang membawa calon bocah lain.'
Gea mencubit lengannya. Ketegangan di antara mereka pecah menjadi tawa kecil, tetapi setelah itu mereka kembali membicarakan hal yang perlu dilakukan. Besok pagi Gea harus menjalani tes darah. Hasilnya akan dibandingkan dengan pemeriksaan berikutnya. Mereka juga akan meminta sesi dengan pendamping Kelana tanpa membawa anak itu.
Malam tersebut Deni tidak menghubungi orang tuanya. Ia hanya menjawab pesan mamanya tentang makan malam dengan alasan Gea sedang memiliki banyak tugas. Kebohongan kecil itu membuat Gea tidak nyaman.
'Jangan pakai kuliah aku buat alasan terus,' katanya.
'Kalau aku bilang kita lagi butuh waktu berdua, Mama pasti makin curiga.'
'Bilang aja aku ada urusan kesehatan ringan dan belum mau cerita.'
'Nanti Mama khawatir.'
'Lebih baik khawatir sebentar daripada nanti merasa dibohongi.'
Deni akhirnya mengirim jawaban sesuai saran Gea. Mamanya membalas bahwa ia tidak akan memaksa, tetapi meminta mereka menghubungi jika membutuhkan bantuan. Tidak ada rentetan pertanyaan. Gea merasa sedikit bersalah karena selama ini sering menganggap perhatian keluarga Deni selalu akan berubah menjadi campur tangan.
Pagi berikutnya, Gea datang ke laboratorium sebelum kuliah. Deni hendak menemaninya masuk, tetapi ia harus melakukan panggilan kerja di mobil. Gea memilih mengambil darah sendirian. Ia ingin membuktikan bahwa kehamilan tidak mengubahnya menjadi orang yang harus selalu dijaga.
Saat jarum menyentuh kulit, Gea memalingkan wajah. Ia memikirkan ibu Kelana yang mungkin sedang belajar menerima kemungkinan adanya anak lain. Dua perempuan itu belum pernah berbicara langsung, tetapi hidup mereka sudah saling memengaruhi.
Putri menunggu di gerbang kampus dengan roti tawar dan air hangat. Ia tidak memeluk Gea atau berteriak kegirangan.
'Gue riset makanan yang biasanya aman buat mual,' katanya. 'Tapi kalau lo nggak mau, gue makan sendiri.'
'Lo beneran bisa simpan rahasia?'
'Gue bahkan nggak bilang Rangga kenapa gue larang dia beli parfum menyengat.'
Gea tertawa. Di kelas, ia tetap mengikuti diskusi proyek observasi. Ketika mual datang, ia keluar sebentar tanpa menjadikan Putri penjaga pintu. Dosen pembimbing menanyakan kondisinya, dan Gea hanya menjawab sedang kurang enak badan.
Siang hari hasil awal masuk ke surel klinik. Dokter menghubungi mereka dan mengatakan kadar hormon mendukung kehamilan, tetapi satu angka belum menjelaskan perkembangan seluruhnya. Tes ulang dan pemeriksaan berikutnya tetap diperlukan.
Gea sempat menutup layar ketika melihat deretan angka dan batas rujukan. Ia sudah membuka mesin pencari, tetapi membatalkan sebelum mengetik. Putri yang duduk di sebelahnya ikut menjauhkan ponsel.
'Gue nggak akan bantu lo membandingkan tubuh lo sama cerita orang di forum,' kata Putri.
'Gue cuma mau tahu angkanya bagus atau nggak.'
'Itu kerjaan dokter. Kalau lo baca seratus cerita, lo bakal nemu seratus alasan buat panik.'
Gea mengakui sahabatnya benar. Ia menyimpan hasil itu tanpa mengirimkannya kepada keluarga. Mengetahui kabar lebih awal tidak akan membuat mereka mampu mengendalikan perkembangan kehamilan.
Deni membaca penjelasan itu dengan dahi berkerut.
'Berarti positif atau belum?' tanyanya.
'Kehamilannya terkonfirmasi,' jawab dokter. 'Yang kita pantau sekarang lokasi dan perkembangannya sesuai usia. Jangan mencari kepastian lebih jauh daripada yang datanya mampu berikan.'
Gea menyimpan kalimat itu. Ia juga tidak ingin memaksa dirinya merasakan kebahagiaan sempurna sebelum siap.
Sore harinya mereka bertemu pendamping Kelana. Gea menjelaskan hasil tes tanpa menyebut kabar itu sebagai hadiah. Pendamping menyarankan agar Kelana diberi tahu setelah pemeriksaan berikutnya, dengan bahasa sederhana dan tanpa menuntut reaksi tertentu.
'Dia mungkin senang, mungkin takut, atau keduanya,' kata pendamping. 'Jangan buru-buru menenangkan sampai rasa takutnya tidak sempat keluar.'
'Bagaimana dengan ibunya?' tanya Deni.
'Itu informasi Gea. Kalian yang menentukan kapan membaginya. Kalau dibagikan, tim rumah sakit perlu menyiapkannya secara terpisah.'
Dalam perjalanan pulang, Gea menyandarkan kepala ke kursi. Untuk pertama kali sejak melihat dua garis, mereka memiliki bukti medis. Namun, kepastian itu justru membuat kabar tersebut terasa lebih berat.
'Aku bahagia,' katanya. 'Tapi aku takut kebahagiaan aku menyakiti orang lain.'
Deni menggenggam tangannya saat mobil berhenti di lampu merah.
'Kita nggak bisa bikin kabar ini nggak memengaruhi siapa pun. Yang bisa kita lakukan cuma nggak memakai bayi ini untuk menghapus posisi Kelana atau ibunya.'
Gea membalas genggamannya. Di rumah, Kelana berlari menyambut sambil membawa surat balasan berikutnya untuk Ibu. Gea berjongkok dan menerima kertas itu tanpa menyentuh perutnya.
Kabar baru sudah menjadi nyata, tetapi anak yang berdiri di depannya tetap membutuhkan waktu yang tidak boleh direbut oleh kegembiraan siapa pun.