Sepuluh hari berikutnya berjalan lebih lambat bagi Deni dan terlalu cepat bagi Gea. Setiap pagi Deni bertanya apakah istrinya mual, pusing, atau sakit. Pada hari ketiga, Gea meletakkan sendok dan menatapnya kesal.
'Kalau kamu tanya terus, aku jadi merasa harus menemukan gejala buat dijawab.'
Deni terdiam. 'Aku cuma mau memastikan kamu baik-baik aja.'
'Tanya sekali. Kalau ada yang aneh, aku bilang.'
'Kalau kamu lupa?'
'Aku hamil, bukan kehilangan kemampuan bicara.'
Ucapan itu terdengar lebih tajam daripada yang Gea inginkan. Deni mengangguk lalu menghabiskan sarapan tanpa membela diri. Rasa bersalah membuat Gea hampir meminta maaf hanya agar suasana kembali nyaman, tetapi ia menahan diri sampai dapat menjelaskan kebutuhannya.
'Aku tahu kamu takut salah,' katanya kemudian. 'Tapi waktu kamu mengawasi semua yang aku makan dan rasakan, aku ikut takut sama tubuh sendiri.'
'Aku ngerti.'
'Kamu boleh perhatian. Aku cuma perlu tetap dipercaya.'
Deni meminta aturan yang jelas. Mereka sepakat membuat pemeriksaan singkat pada pagi dan malam, sedangkan sepanjang hari Gea akan menghubunginya jika ada keluhan yang disebut dokter sebagai tanda bahaya. Deni juga berhenti mengirim artikel kesehatan tanpa diminta.
Kesepakatan itu diuji ketika Gea harus mempresentasikan hasil awal proyek observasinya. Deni menyarankan agar ia meminta jadwal daring. Gea menolak karena kondisi tubuhnya baik dan kampus hanya berjarak singkat dari klinik.
'Kalau aku nggak bisa datang, aku yang bicara sama dosen,' ujarnya. 'Bukan kamu.'
'Aku bahkan nggak punya nomor dosenmu.'
'Bagus.'
Deni tersenyum tipis. Ia mengantar Gea sampai gerbang tanpa turun dari mobil. Di dalam kelas, Putri sempat menawarkan diri membawakan tas, tetapi Gea hanya menyerahkan botol air tambahan. Mereka berdua sedang belajar bahwa bantuan tidak harus berarti mengambil alih semua hal.
Presentasi berlangsung hampir satu jam. Gea menjelaskan pengamatan tentang pola komunikasi dalam kelompok kecil dan mengakui keterbatasan datanya. Dosen pembimbing memuji cara Gea memisahkan kesimpulan dari dugaan. Kalimat itu mengingatkannya kepada dokter kandungan yang meminta mereka tidak menuntut jawaban melebihi data.
Seusai presentasi, dosen meminta Gea memimpin satu sesi observasi tambahan pekan berikutnya. Ia menerima setelah memeriksa jadwal klinik, bukan untuk membuktikan bahwa dirinya kuat, melainkan karena tugas itu memang masih mampu dikerjakan. Putri menawarkan mengambil bagian pencatatan lapangan jika mual Gea muncul. Mereka menuliskan pembagian kerja di lembar proyek agar bantuan tidak bergantung pada tebakan.
'Kalau gue bilang perlu keluar, lo lanjut catat,' ujar Gea.
'Kalau lo baik-baik aja, gue nggak akan nempel terus,' jawab Putri.
Kesepakatan sederhana itu membuat Gea lebih tenang daripada kalimat bahwa semua pasti baik.
Setelah kelas selesai, Rangga menghampiri sambil mengernyit.
'Lo pucet banget. Deni nggak kasih makan?'
'Gue tadi sarapan.'
'Putri kenapa tiap gue mau beli kopi malah ngajak lo menjauh?'
Putri langsung menyela, 'Karena mulut lo berisik.'
Gea memilih tidak berbohong panjang. Ia berkata sedang sensitif terhadap aroma dan sudah berkonsultasi dengan dokter. Rangga masih ingin bertanya, tetapi tatapan Putri menghentikannya. Tidak semua teman harus mengetahui kabar yang bahkan belum didengar Kelana.
Siang itu Gea dan Deni datang ke klinik untuk pemeriksaan lanjutan. Dokter menjelaskan terlebih dahulu bahwa usia kehamilan masih sangat muda. Mereka mungkin baru melihat kantung kehamilan, dan belum terlihatnya detak bukan berarti ada masalah.
'Jadi jangan jadikan hari ini perlombaan mencari suara,' kata dokter.
Gea mengangguk, sedangkan Deni kembali membuka catatan pertanyaannya. Kali ini hanya ada lima, bukan dua puluh tiga.
Pemeriksaan menunjukkan sebuah titik kecil berada di tempat yang seharusnya. Dokter menunjuk layar dan menjelaskan temuan yang dapat dipastikan. Kehamilan berada di dalam rahim dan ukurannya sesuai perkiraan awal, tetapi mereka masih perlu kembali untuk melihat perkembangan.
Deni menatap layar tanpa berkedip. Gea justru menatap wajah suaminya. Ada air di sudut mata pria itu, tetapi ia tidak mencoba menyentuh layar atau meminta dokter mencetak banyak gambar.
'Itu benar-benar ada?' tanya Deni.
'Ada,' jawab dokter. 'Masih sangat awal.'
Gea menerima satu lembar hasil pemeriksaan. Titik kecil itu hampir tidak dapat dikenali, tetapi telapak tangannya gemetar saat memegangnya.
'Kamu gimana?' tanya Deni setelah mereka keluar.
'Senang.' Gea menarik napas. 'Terus takut lagi.'
'Aku juga.'
Mereka tidak menghapus salah satu perasaan. Di kantin klinik, Deni memesan bubur tanpa memilihkan porsi untuk Gea. Ia bertanya lebih dahulu, dan Gea memilih sendiri makanan yang mampu diterimanya.
Sore hari mereka menjalani sesi kedua dengan pendamping Kelana. Hasil pemeriksaan membuat rencana penyampaian kabar lebih nyata. Pendamping menyarankan agar mereka menggunakan kalimat bahwa ada calon bayi yang sedang tumbuh, tetapi masih perlu diperiksa. Kelana tidak perlu diberi tugas menjaga Gea atau menjadi kakak yang sempurna.
'Dia mungkin bertanya apakah kalian masih sayang kepadanya,' kata pendamping. 'Jawab dengan contoh yang nyata, bukan janji bahwa tidak ada yang akan berubah. Banyak hal memang akan berubah.'
'Contoh nyata seperti apa?' tanya Gea.
'Siapa yang tetap mengantar sekolah, ritual sebelum tidur, tempat tinggalnya, dan haknya bertemu ibu sesuai rekomendasi tim.'
Deni mencatat empat hal tersebut. Mereka sepakat memberi kabar pada akhir pekan agar Kelana tidak harus pergi ke sekolah sesudahnya. Nenek dan kakeknya belum akan hadir. Reaksi pertama anak itu tidak boleh menjadi tontonan keluarga.
Malam sebelum percakapan, Gea duduk di lantai kamar Kelana. Anak itu sedang menyusun tiga boneka dalam satu tempat tidur mainan.
'Mama nanti tetap bacain cerita?' tanyanya tiba-tiba.
'Iya. Kenapa tanya begitu?'
'Mama sekarang sering capek.'
Gea tersentak. Ia mengira telah menyembunyikan perubahan tubuhnya dengan baik, tetapi Kelana melihat lebih banyak daripada yang mereka sadari.
'Mama memang gampang mual dan capek belakangan ini. Besok Mama sama Ayah mau jelasin.'
'Mama sakit?'
'Bukan sakit yang menular. Malam ini kita tetap baca cerita, ya.'
Kelana mengangguk, tetapi sepanjang cerita ia terus menggenggam jari Gea. Deni berdiri di ambang pintu dan tidak ikut masuk. Wajahnya menunjukkan keinginan untuk menjelaskan saat itu juga.
Gea menggeleng pelan. Mereka telah memilih waktu ketika dapat menjawab pertanyaan dengan tenang. Menunda satu malam bukan berarti menyembunyikan selamanya.
Setelah Kelana tertidur, Gea menyimpan gambar pemeriksaan di dalam amplop. Deni menempelkan daftar kecil dari pendamping di baliknya: dengarkan, jangan menuntut senang, jangan menjadikan bayi hadiah, dan jangan menjanjikan tidak ada perubahan.
'Besok kita kasih lihat gambarnya?' tanya Deni.
'Kalau dia mau.'
'Kalau dia marah?'
'Kita tetap di situ.'
Deni meraih tangan Gea. Di kamar sebelah, Kelana tidur sambil memeluk tiga boneka yang dipaksanya berbagi satu ranjang. Besok, mereka harus menjelaskan bahwa keluarga dapat bertambah tanpa meminta siapa pun mengecilkan tempatnya.