Sabtu pagi, Deni tidak mengubah ruang keluarga menjadi tempat percakapan yang terlalu resmi. Televisi dimatikan, ponsel disimpan, dan sarapan selesai seperti biasa. Kelana masih mengenakan piyama bergambar awan ketika Gea mengajaknya duduk di karpet.
'Mama kemarin bilang mau jelasin,' ujar Kelana lebih dahulu. 'Mama sakit apa?'
'Mama nggak sakit,' jawab Gea. 'Di dalam perut Mama ada calon bayi yang baru mulai tumbuh.'
Kelana menatap perut Gea, lalu wajah Deni. Tidak ada senyum seperti yang diam-diam diharapkan Gea.
'Bayi siapa?'
'Bayi Mama dan Ayah,' jawab Deni.
'Ayah jadi ayahnya bayi juga?'
'Iya.'
Kelana memeluk lututnya. Deni hampir mendekat, tetapi Gea menyentuh lengannya sebagai pengingat agar memberi ruang.
'Terus Kelana punya ayah siapa?' tanya anak itu.
Deni duduk lebih rendah. 'Kelana tetap punya Papa Arman. Ayah Deni juga tetap merawat Kelana seperti sekarang.'
'Kalau bayinya lahir, Ayah nggak jadi Ayah Kelana?'
'Tetap.'
Kelana menunduk. Ia tidak menangis, tetapi jari-jarinya menarik benang piyama sampai kusut. Gea mengatakan bahwa bayi itu masih sangat kecil dan dokter perlu memeriksanya berkali-kali. Banyak hal akan berubah nanti, termasuk waktu tidur dan keadaan rumah, tetapi beberapa hal sudah mereka rencanakan tetap ada.
'Mama masih baca cerita?' tanya Kelana.
'Iya, selama Mama mampu. Kalau Mama sedang periksa atau istirahat, kita ganti waktu, bukan hilangkan ceritanya.'
'Ayah masih antar sekolah?'
'Iya. Kalau suatu hari Ayah nggak bisa karena kerja, Ayah bilang dulu seperti sekarang.'
'Kamar Kelana buat bayi?'
'Nggak,' jawab Deni. 'Kamar Kelana tetap kamar Kelana.'
Jawaban nyata itu sedikit mengendurkan bahunya. Namun, Kelana lalu bertanya apakah bayi akan memanggil Gea Mama.
'Kemungkinan iya,' kata Gea jujur.
'Berarti Mama punya anak sendiri.'
Gea merasakan dadanya sesak. Ia ingin buru-buru mengatakan bahwa Kelana juga anaknya, tetapi hubungan biologis dan hak ibu kandungnya sedang menjadi hal yang sensitif. Ia memilih kata-kata yang tidak menghapus siapa pun.
'Mama melahirkan bayi itu nanti. Mama juga tetap merawat dan menyayangi Kelana. Ibu tetap ibunya Kelana. Semua itu bisa benar bareng-bareng.'
'Tapi cuma satu yang tinggal di perut Mama.'
'Iya.'
Kelana akhirnya menangis. 'Kelana nggak pernah tinggal di perut Mama.'
Gea membuka kedua tangan, tetapi tidak langsung menariknya. Kelana bergerak sendiri ke dalam pelukan itu. Tangisnya semakin keras ketika Gea mengusap punggungnya.
'Kelana boleh sedih,' bisik Gea. 'Mama nggak akan paksa Kelana senang sekarang.'
'Kalau Kelana nggak suka bayinya, bayinya bisa dikembalikan?'
Deni menarik napas tajam. Gea tetap memeluk anak itu.
'Nggak bisa dikembalikan,' jawabnya. 'Tapi Kelana boleh nggak suka kalau bayi menangis atau bikin rumah berisik. Kelana boleh bilang.'
'Mama marah?'
'Nggak.'
Mereka tidak menambahkan bahwa Kelana pasti akan menyayangi adiknya suatu hari nanti. Perasaan anak itu tidak diperlakukan sebagai masalah yang harus segera diperbaiki.
Setelah tangisnya mereda, Deni menawarkan gambar dari klinik. Kelana mau melihat, tetapi ia mengernyit karena hanya menemukan bentuk kecil di tengah warna gelap.
'Itu bukan bayi. Itu titik.'
'Sekarang memang masih kelihatan seperti titik,' kata Deni.
'Kecil banget.'
'Iya.'
Kelana mengembalikan gambar itu tanpa meminta menyimpannya. Ia lalu mengambil pensil warna dan membuat empat lingkaran di atas kertas. Lingkaran pertama diberi nama Kelana, yang kedua Ibu, ketiga Mama, dan keempat Bayi. Nama Ayah ditulis agak jauh karena kertasnya hampir penuh.
'Kenapa Ayah di situ?' tanya Deni.
'Ayah besar, nggak muat.'
Gea tertawa kecil. Deni berpura-pura tersinggung, dan suasana menjadi lebih ringan tanpa mereka menganggap semua ketakutan telah selesai.
Siang hari Kelana menolak tidur ditemani Gea. Ia memilih Deni, lalu lima menit kemudian memanggil Gea juga. Keduanya duduk di sisi berbeda tempat tidur sampai anak itu terlelap.
'Dia takut pilih salah satu,' bisik Deni.
'Makanya kita jangan minta dia pilih siapa yang nemenin.'
Setelah bangun, Kelana terlihat kesal ketika melihat Gea muntah di kamar mandi. Ia berdiri di lorong dan bertanya apakah bayi membuat Mama sakit. Gea menjawab bahwa tubuhnya sedang menyesuaikan diri, bukan kesalahan bayi dan bukan tugas Kelana untuk merawatnya.
'Kelana ambil air boleh?'
'Boleh kalau Kelana mau, bukan karena harus.'
Anak itu mengambil air setengah gelas dan menumpahkannya sedikit. Gea tetap meminum sisanya sambil berterima kasih.
Menjelang malam, pendamping menghubungi mereka untuk menanyakan reaksi awal. Deni menjelaskan seluruhnya, termasuk pertanyaan tentang mengembalikan bayi. Pendamping mengatakan itu cara anak memahami apakah perubahan dapat dibatalkan, bukan tanda bahwa Kelana akan menyakiti calon adiknya.
'Jangan jadikan satu kalimat sebagai label bahwa dia cemburu,' pesan pendamping. 'Amati perilakunya dan beri kesempatan bertanya berulang kali.'
Pendamping juga meminta mereka mencatat perubahan tidur, makan, dan perilaku di sekolah selama dua minggu. Catatan itu bukan untuk mencari kesalahan Kelana, tetapi untuk melihat apakah kecemasannya mengganggu kegiatan sehari-hari. Deni menyiapkan tabel terlalu rinci sampai Gea menghapus kolom penilaian suasana hati.
'Kita bukan menilai dia setiap jam,' kata Gea.
'Aku pikir makin lengkap makin bagus.'
'Tulis kejadian yang terlihat aja. Jangan tebak isi kepalanya.'
Deni mengganti tabel dengan halaman sederhana. Mereka akan mencatat bila Kelana terbangun malam, menolak sekolah, atau terus-menerus takut ditinggalkan. Selebihnya, anak itu tetap boleh menjalani hari tanpa diamati seperti pasien.
Keesokan harinya Kelana bermain seperti biasa. Sesekali ia menempelkan telinga ke perut Gea, lalu kecewa karena tidak mendengar apa pun. Ia juga marah ketika Deni melarangnya melompat ke pangkuan Gea.
'Ayah sekarang cuma jagain bayi!' teriaknya.
Deni tidak membantah dengan daftar semua hal yang telah dilakukannya untuk Kelana. Ia berjongkok dan mengakui larangannya terdengar seperti itu. Mereka membuat aturan baru: Kelana boleh memeluk Gea setelah bertanya, sedangkan Deni tidak boleh meneriakkan peringatan dari seberang ruangan.
Pada malam kedua, Kelana membawa kertas empat lingkaran ke meja makan.
'Ibu tahu ada bayi?' tanyanya.
Gea dan Deni saling pandang. Mereka telah menyiapkan banyak jawaban, tetapi pertanyaan itu tetap terasa sulit.
'Belum,' jawab Deni. 'Mama sama Ayah mau bicara dulu sama dokter Ibu supaya kabarnya disampaikan dengan aman.'
'Kalau Ibu sedih, bayinya hilang?'
'Nggak,' kata Gea lembut. 'Sedihnya Ibu boleh ada. Bayinya juga boleh ada.'
Kelana memikirkan kalimat itu cukup lama. Kemudian ia menunjuk lingkaran yang bertuliskan Ibu.
'Kasih tahu Ibu jangan suruh Mama sama bayi pergi.'
Permintaan itu menunjukkan bahwa ketakutan dari pertemuan pertama belum hilang. Gea menggenggam tangannya dan tidak memberikan janji atas nama perempuan lain.
'Mama nggak tahu nanti Ibu bilang apa. Tapi dokter akan menemani Ibu, dan Mama nggak pergi cuma karena ada perasaan yang susah.'
Kelana mengangguk pelan. Ia menyerahkan kertas itu kepada Deni agar diperlihatkan kepada dokter. Empat lingkaran tidak saling bersentuhan, tetapi semuanya berada pada halaman yang sama.