Deni menunggu sampai mereka berada di dalam mobil sebelum bertanya apakah Gea ingin bicara. Gea menggeleng. Ia menyandarkan kepala ke kursi dan memejamkan mata selama perjalanan pulang.
'Kita berhenti kalau kamu mual,' kata Deni.
'Aku cuma capek.'
'Oke.'
Tidak ada pertanyaan lain. Sikap diam Deni terasa aneh bagi Gea, tetapi juga memberi ruang untuk memilah perasaannya sendiri. Ia marah karena ditanya siapa yang akan dipilih ketika dua anak menangis. Ia iba pada seorang ibu yang kehilangan begitu banyak hari. Ia juga lega karena mampu mengatakan bahwa dirinya takut tanpa lari.
Sesampainya di rumah, Kelana berlari dari ruang keluarga. Anak itu memeriksa wajah Gea, lalu melihat Deni seolah mencari jawaban yang tidak diucapkan.
'Mama pulang,' katanya.
'Iya.' Gea berjongkok dan membuka tangan. 'Mama pulang.'
Kelana masuk ke pelukannya. 'Ibu suruh Mama pergi?'
'Nggak ada keputusan seperti itu.'
'Ibu bilang apa?'
Gea sudah sepakat bahwa isi rinci percakapan tidak akan dibebankan kepada Kelana. 'Mama sama Ibu bicara tentang perasaan orang dewasa. Ada bagian yang pribadi. Dokter bantu kami berhenti kalau pembicaraannya terlalu berat.'
'Ibu marah?'
'Ibu sedih dan takut. Mama juga sempat takut. Kami tetap bisa selesai bicara tanpa saling teriak.'
Jawaban itu belum memuaskan Kelana. Ia bertanya apakah Ibu sudah mengizinkan Gea menjadi Mama. Gea menahan dorongan untuk memakai tulisan yang dibawanya sebagai bukti.
'Panggilan Kelana bukan hadiah yang harus dikasih orang dewasa ke Mama,' jawabnya. 'Ibu belum nyaman, tapi dia tahu Kelana yang memilih.'
Kelana mengangguk pelan. Malam itu ia meminta cerita yang sama dibaca dua kali. Gea menurut untuk satu pengulangan, lalu menetapkan batas karena tubuhnya perlu istirahat. Kelana sempat cemberut, tetapi Deni menawarkan melanjutkan cerita ketiga jika ia masih belum mengantuk.
Di kamar, Gea mengeluarkan kertas dari tas dan memberikannya kepada Deni. Pria itu membaca tulisan kakaknya cukup lama.
'Aku nggak tahu harus senang atau sedih,' katanya.
'Nggak perlu pilih.'
'Dia bikin kamu gemetar.'
'Pertanyaannya bikin aku marah. Tapi dokter menghentikan waktu mulai seperti jebakan.'
Deni meminta maaf karena situasi keluarganya menempatkan Gea dalam percakapan tersebut. Gea tidak menerima seluruh kesalahan itu.
'Aku datang karena aku memilih datang. Jangan ambil keputusan aku terus ubah jadi utang kamu.'
'Aku cuma merasa harus melindungi kamu.'
'Lindungi aku dengan percaya kalau aku bisa bilang berhenti.'
Deni mengangguk. Ia tidak meminta membaca ringkasan dokter malam itu.
Di rumah sakit, ibu Kelana juga menjalani sesi penutup. Dokter menanyakan bagian mana yang paling sulit. Ia menyebut jawaban Gea tentang tidak bisa selalu mendahulukan Kelana.
'Berarti aku benar. Bayi itu akan mengambil waktunya,' katanya.
'Waktu keluarga memang akan terbagi,' jawab dokter. 'Gea tidak berbohong tentang itu. Terbagi tidak sama dengan Kelana dibuang.'
Perempuan itu mengaku ingin Gea menjanjikan sesuatu yang mustahil agar dapat menyalahkannya saat janji itu gagal. Kesadaran tersebut tidak langsung menghilangkan dorongan untuk bersaing, tetapi membuatnya mampu mengenali pola itu.
Dua hari kemudian, sekolah menghubungi Deni. Kelana mendorong seorang teman yang berkata bayi baru selalu menjadi kesayangan keluarga. Dorongannya tidak keras dan tidak menyebabkan luka, tetapi sekolah meminta orang tua membicarakannya.
Deni dan Gea tidak menghukum sebelum mendengar cerita. Kelana mengaku temannya terus mengulang bahwa dirinya nanti tidak boleh tidur bersama Mama lagi.
'Kelana bilang berhenti, dia malah ketawa,' katanya.
'Temanmu salah karena nggak berhenti,' ujar Deni. 'Tapi mendorong tetap nggak boleh.'
'Kalau Kelana nggak dorong, dia nggak diam.'
Gea membantu menyusun pilihan lain: menjauh, memanggil guru, atau mengatakan bahwa keluarganya bukan bahan ejekan. Kelana harus meminta maaf atas dorongan tanpa dipaksa meminta maaf karena merasa marah.
Pendamping anak menilai kejadian itu berkaitan dengan kecemasan yang sedang diproses, bukan bukti bahwa kabar kehamilan telah merusaknya. Mereka menambah sesi bermain pada pekan berikutnya. Jadwal pertemuan dengan ibu tetap belum dibuka.
Pada sesi bermain, Kelana memilih dua rumah boneka. Boneka bayi ditempatkan di rumah pertama bersama Gea, sedangkan boneka dirinya dipindahkan bolak-balik antara rumah Gea dan rumah Ibu. Ketika pendamping bertanya siapa yang menyuruhnya berpindah, Kelana menjawab tidak ada.
'Terus kenapa Kelana pindahin?' tanya pendamping.
'Kalau bayi nangis, Kelana kasih tempat.'
'Ada yang bilang Kelana harus kasih tempat?'
Kelana menggeleng. Pendamping tidak segera mengembalikan boneka itu. Ia meminta Kelana membuat kamar tambahan dari balok. Anak itu menyusun dinding kecil di dalam rumah pertama dan menaruh boneka dirinya kembali.
Hasil sesi dijelaskan kepada Deni dan Gea sebagai gambaran ketakutan, bukan ramalan. Mereka diminta berhenti berkata Kelana harus mengalah karena akan menjadi kakak, termasuk untuk hal kecil seperti tempat duduk atau pilihan acara televisi.
'Kami belum pernah bilang begitu,' kata Deni.
'Bagus. Pastikan keluarga besar juga tidak mengatakannya tanpa sadar,' jawab pendamping.
Deni mengirim pesan singkat kepada orang tua dan Reno. Ia tidak menceritakan permainan pribadi Kelana, hanya menjelaskan kata-kata yang perlu dihindari.
Gea sendiri melewatkan batas pengumpulan satu bagian laporan karena kelelahan setelah pertemuan. Alih-alih menyembunyikan, ia menghubungi dosen dan mengirim bagian yang sudah selesai. Dosen memberi tambahan satu hari sesuai penyesuaian yang telah dibicarakan.
'Gue bisa beresin tabelnya,' tawar Putri.
'Bagian tabel punya lo memang boleh. Analisis gue tetap gue kerjain.'
'Keras kepala.'
'Pembagian tugas.'
Mereka menyelesaikan laporan di perpustakaan. Rangga membawa camilan tanpa bertanya mengapa Gea tidak minum kopi. Teman-temannya mulai belajar menghormati batas meski belum mengetahui alasannya.
Pada akhir pekan, dokter mengirim salinan ringkasan pertemuan yang telah disetujui kedua pihak. Gea membaca bahwa ibu Kelana berhasil meminta jeda, mendengar jawaban yang tidak disukainya, dan menyelesaikan percakapan tanpa ancaman. Itu kemajuan yang dapat diukur, bukan perdamaian.
Bersama ringkasan tersebut ada foto kertas baru. Ibu Kelana menulis surat tetapi belum mengizinkan dokter mengirimkannya kepada Kelana. Isinya hanya tiga baris: Ibu sedang belajar tidak menyuruh orang pergi. Ibu belum pandai. Kelana tidak perlu menunggu Ibu menjadi pandai untuk tetap bermain dan sekolah.
Gea tidak menunjukkan foto itu kepada Kelana karena izin belum diberikan. Ia menyimpannya di folder tertutup bersama kertas dari pertemuan.
Malam hari, Kelana kembali menggambar empat lingkaran. Kali ini ia menambahkan sebuah titik kecil di dalam lingkaran Bayi.
'Ini yang di layar,' katanya.
'Iya,' jawab Gea.
Kelana lalu menarik satu garis dari lingkarannya menuju Mama. Garis itu berhenti tepat sebelum menyentuh titik bayi.
'Kenapa berhenti di sini?' tanya Gea.
'Kelana belum tahu boleh dekat atau nggak.'
Gea menahan rasa sesak. 'Boleh dekat. Kalau Kelana belum mau, juga boleh tunggu.'
Anak itu tidak melanjutkan garis malam itu. Namun, ia meninggalkan pensil di atas kertas, seolah belum memutuskan gambar tersebut selesai.