Surat tiga baris dari ibu Kelana baru dikirim setelah dua sesi tambahan. Dokter membacakannya melalui panggilan video, lalu meminta persetujuan sekali lagi sebelum menyerahkan kertas asli kepada Deni.
Kelana duduk di antara Deni dan Gea ketika surat itu tiba. Ia meminta membacanya sendiri meski masih mengeja beberapa kata. Pada kalimat terakhir, anak itu berhenti.
'Ibu nggak pandai apa?' tanyanya.
'Ibu sedang belajar bicara waktu takut tanpa menyuruh orang pergi,' jawab Deni.
'Mama juga belajar?'
'Mama belajar banyak hal,' kata Gea. 'Salah satunya bilang berhenti sebelum terlalu marah.'
'Ayah belajar apa?'
Deni tersenyum miring. 'Nggak mengatur semua orang karena Ayah takut.'
Kelana tampak puas karena tidak hanya ibunya yang dianggap perlu belajar. Ia menyimpan surat itu bersama surat sebelumnya, lalu kembali bermain. Tidak ada pelukan dramatis atau permintaan untuk langsung bertemu.
Pada sesi berikutnya, ibu Kelana membawa buku catatan lama yang ditemukan orang tua Deni di antara barang milik Arman. Sebagian halaman berisi jadwal minum susu, catatan demam, dan makanan pertama Kelana. Tulisan ibu bercampur dengan tulisan Arman.
'Deni tahu Kelana dulu alergi sabun ini?' tanyanya sambil menunjuk satu merek yang dicoret.
'Mungkin keluarganya pernah memberi tahu,' jawab dokter. 'Kita bisa menanyakan tanpa menganggap mereka lalai.'
Perempuan itu ingin buku tersebut langsung diberikan kepada Kelana. Dokter menjelaskan bahwa isinya lebih berguna sebagai catatan perawatan bagi orang dewasa, sedangkan beberapa halaman tentang masa-masa sulit setelah kematian Arman belum tepat dibaca anak empat tahun.
'Berarti Gea yang baca?'
'Jika Ibu mengizinkan, Deni dan Gea dapat menerima salinan bagian yang berkaitan dengan kesehatan serta kenangan masa bayi.'
Ia terdiam. Memberi Gea informasi terasa seperti mengakui peran perempuan itu. Namun, menyimpannya hanya agar tidak dipakai orang lain juga dapat merugikan Kelana.
Akhirnya ia memilih enam halaman: riwayat alergi, kebiasaan tidur saat bayi, lagu yang dinyanyikan Arman, dan foto kaki kecil Kelana dengan tanggal di belakangnya. Ia menutup halaman lain menggunakan kertas agar privasinya tetap terjaga.
'Tulis ini dari Ibu,' katanya. 'Bukan rumah sakit.'
Dokter mencatat asal setiap halaman. Informasi tersebut bukan hadiah dari tim dan bukan bukti bahwa ibu menyerahkan perannya.
Ketika salinan sampai, Deni mengenali tulisan tangan Arman. Ia duduk lama di meja makan sambil mengusap nama kakak iparnya.
'Aku lupa dia selalu bikin huruf A kayak gini,' katanya.
Gea membaca catatan kesehatan lebih dahulu. Alergi sabun itu sudah tidak muncul bertahun-tahun, tetapi ia tetap memasukkannya ke arsip medis Kelana. Pada halaman lagu, hanya ada dua baris pembuka dan keterangan bahwa Arman sering salah nada.
'Kamu ingat lagunya?' tanya Gea.
'Sedikit. Kakak biasanya yang nyanyi, Arman ikut bagian akhir.'
'Kita tanya apakah Kelana mau dengar.'
Mereka tidak langsung memperdengarkan lagu seolah menemukan kunci untuk memperbaiki semua ingatan. Pendamping menyarankan menjelaskan dari mana informasi itu berasal dan membiarkan Kelana menentukan waktunya.
Sore itu, Kelana melihat foto kakinya saat bayi dan tertawa.
'Kaki siapa ini? Jelek.'
'Kaki Kelana,' jawab Deni.
'Nggak mungkin. Kaki Kelana sekarang bagus.'
Gea menunjukkan tanggal di belakang foto. Ia berkata Ibu menyimpan catatan itu bersama Papa Arman. Wajah Kelana berubah penasaran.
'Ibu ingat Kelana bayi?'
'Iya, banyak yang Ibu ingat.'
'Mama ingat?'
'Mama belum kenal Kelana waktu bayi.'
Gea tidak merasa perlu menciptakan kenangan yang tidak dimilikinya. Kelana lalu meminta mendengar lagu. Deni menyanyikan bagian yang ia ingat, berhenti di tengah karena lupa, dan tidak mengarang kelanjutannya.
'Ibu tahu sampai habis?' tanya Kelana.
'Mungkin. Nanti kita bisa tanya lewat dokter.'
Keinginan itu menjadi bahan pembahasan pada sesi pendamping. Kelana boleh mengirim pertanyaan suara singkat. Ibu dapat menjawab dalam rekaman terpisah sehingga tekanan percakapan langsung belum terlalu besar.
Kelana merekam tiga kali. Dua rekaman pertama dihapus atas permintaannya sendiri karena ia salah menyebut judul lagu. Pada rekaman ketiga ia berkata, 'Ibu, Kelana mau dengar lagu waktu masih bayi. Kalau Ibu belum bisa nyanyi, nggak apa-apa.'
Pesan itu membuat ibunya menangis ketika mendengar, tetapi ia tidak memaksakan diri menjawab saat masih sesak. Keesokan hari, ia merekam lagu bersama terapis. Suaranya bergetar dan berhenti dua kali. Ia melanjutkan setelah mengambil napas.
Kelana mendengarkan sambil memegang foto kakinya. Ketika rekaman selesai, ia meminta memutarnya lagi. Kali ini Deni ikut menyanyikan bagian akhir yang baru diingatnya.
Gea duduk di dekat mereka tanpa ikut bernyanyi. Ia tidak merasa tersisih. Ada bagian hidup Kelana yang memang berasal dari ibu dan Arman, dan kedekatan itu tidak harus melewati dirinya untuk menjadi aman.
Keesokan harinya sekolah meminta anak-anak membawa foto masa bayi untuk kegiatan mengenal pertumbuhan. Sebelumnya Deni selalu memilih foto Kelana yang tersimpan di rumah orang tuanya. Kali ini Kelana mengambil foto kaki dari Ibu dan foto ulang tahunnya bersama Deni serta Gea.
'Cuma boleh satu,' ujar Deni setelah membaca pengumuman.
Kelana mengerutkan dahi. 'Kalau pilih kaki, Mama nggak ada. Kalau pilih ulang tahun, Ibu nggak ada.'
Gea menyarankan bertanya kepada guru apakah dua foto boleh ditempel menjadi satu lembar. Ia tidak mau Kelana terus dilatih memilih satu bagian keluarga hanya karena tugas dibuat sederhana.
Guru mengizinkan selama Kelana dapat menjelaskan keduanya. Di kelas, anak itu berkata foto pertama berasal dari saat ia masih bayi bersama Ibu dan Papa Arman, sedangkan foto kedua menunjukkan rumah tempatnya tinggal sekarang. Ia tidak menyebut salah satunya keluarga asli dan yang lain keluarga pengganti.
Sepulang sekolah, Kelana bangga karena teman yang pernah mengejeknya hanya bertanya mengapa fotonya dua. Ia menjawab hidupnya punya banyak orang, lalu memanggil guru ketika temannya hendak berdebat. Deni memuji pilihan memanggil bantuan, bukan kemenangannya dalam perdebatan.
Malamnya, Kelana mengambil gambar lingkaran yang belum selesai. Ia menarik garis dari namanya menuju Ibu, lalu berhenti sebelum garis menyentuh lingkaran.
'Masih belum dekat?' tanya Deni.
'Ini pakai telepon,' jawab Kelana. 'Kalau ketemu, baru sampai.'
Pendamping menerima foto gambar tersebut dan menilai Kelana mulai mampu membedakan kedekatan dari cara berhubungan. Setelah berdiskusi dengan tim, ia menawarkan pilihan panggilan video singkat sebagai langkah sebelum pertemuan langsung kedua.
Kelana tidak langsung setuju. Ia bertanya siapa yang berada di ruangan bersama Ibu dan siapa yang duduk di rumah bersamanya. Ia ingin dokter menemani Ibu, Deni berada di sebelahnya, dan Gea duduk cukup dekat untuk terlihat jika ia menoleh.
'Mama nggak perlu masuk kamera,' katanya. 'Tapi jangan pergi.'
Gea menyetujui. Ibu Kelana menerima semua syarat setelah diberi tahu bahwa percakapan akan dihentikan bila salah satu pihak kewalahan.
Panggilan dijadwalkan tiga hari kemudian selama tujuh menit. Tidak ada janji untuk membahas bayi. Namun, Kelana meletakkan gambar empat lingkaran di samping tablet, tepat di sebelah foto pemeriksaan Gea.