Tujuh menit terdengar sangat singkat sampai semua orang menunggu panggilan dimulai. Deni memeriksa posisi tablet berulang kali. Kelana duduk di kursi dengan kaki tidak menyentuh lantai, sementara Gea berada di sofa beberapa langkah di belakangnya.
'Mama masih kelihatan kalau Kelana nengok?' tanya Kelana.
'Masih,' jawab Gea.
'Jangan ke kamar mandi dulu.'
'Kalau Mama mual, Mama bilang.'
Kelana menerima kemungkinan itu meski terlihat tidak suka. Pendamping duduk di sisi yang tidak masuk kamera. Ia mengingatkan bahwa Kelana boleh melambaikan tangan untuk menghentikan panggilan tanpa harus menjelaskan.
Layar menyala. Ibu Kelana duduk di ruang terapi bersama dokter. Wajahnya pucat, tetapi ia tersenyum kecil ketika melihat anaknya.
'Halo, Kelana.'
'Halo, Ibu.'
Mereka diam. Deni tidak mengisi ruang tersebut dengan pertanyaan. Dokter akhirnya meminta ibu menunjukkan buku catatan lama yang telah dibicarakan.
'Ibu masih punya halaman lain,' katanya. 'Nanti kalau Kelana sudah besar, Kelana boleh baca yang cocok.'
'Ada foto kaki lagi?'
'Ada foto rambut Kelana berdiri semua.'
Anak itu tertawa. Ketegangan di wajah ibunya sedikit berkurang. Kelana lalu meminta lagu bayi, dan perempuan itu menyanyikan satu bait tanpa musik. Suaranya sempat pecah pada nama Arman, tetapi ia berhenti sendiri, minum, lalu menanyakan apakah Kelana ingin dilanjutkan.
'Lanjut,' jawab Kelana.
Deni menyentuh punggung kursi, bukan tubuh anak itu. Ia membiarkan percakapan menjadi milik ibu dan anak.
Setelah lagu selesai, Kelana mengangkat gambar empat lingkaran ke depan kamera. Ia menjelaskan setiap nama dengan jari. Ketika sampai pada lingkaran Bayi, gerakannya melambat.
'Ini bayi di perut Mama.'
Ibu Kelana menegang. Dokter bertanya apakah ia membutuhkan jeda. Perempuan itu menarik napas beberapa kali, lalu menggeleng.
'Ibu sudah tahu,' katanya.
'Ibu marah?'
'Ibu takut.'
'Kelana juga.'
Tidak ada orang dewasa yang menyela untuk mengubah jawaban mereka menjadi sesuatu yang lebih menyenangkan.
'Takut apa?' tanya ibu Kelana.
'Takut Ayah jadi Ayah bayi aja. Takut Mama capek. Takut semua orang lihat bayi.'
Perempuan itu menutup bibir dengan tangan. Dokter mengingatkan bahwa ia tidak perlu memperbaiki seluruh ketakutan Kelana sekarang.
'Ibu takut Kelana lupa Ibu,' katanya akhirnya.
'Kelana punya surat Ibu.'
'Kalau punya surat, belum tentu nggak lupa.'
'Kelana juga punya lagu.'
Jawaban sederhana itu membuat air mata turun di pipi ibunya. Ia tidak meminta Kelana berjanji mengingat selamanya. Sebaliknya, ia berkata akan mencoba terus mengirim hal yang aman agar mereka dapat saling mengenal lagi.
Pengatur waktu menunjukkan lima menit. Pendamping memberi tanda bahwa mereka perlu memilih satu pembicaraan terakhir. Kelana menoleh kepada Gea, lalu kembali ke layar.
'Ibu sudah ketemu Mama.'
'Sudah.'
'Ibu suruh Mama pergi?'
Ibu Kelana menatap dokter. Ia tampak kesulitan menjawab tanpa berbohong tentang perasaannya.
'Ibu belum terbiasa Kelana panggil Gea Mama,' katanya. 'Tapi Ibu nggak menyuruh Gea pergi waktu kami ketemu.'
'Nanti jangan suruh.'
'Ibu akan belajar bilang kalau Ibu takut tanpa menyuruh orang pergi.'
Kalimat itu tidak sama dengan janji bahwa ia tidak akan pernah gagal. Pendamping mengangguk karena jawabannya cukup jujur.
Kelana menoleh lagi. 'Mama boleh kelihatan sebentar?'
Gea tidak langsung bergerak. Ia menunggu dokter memastikan kesiapan ibu Kelana. Perempuan di layar menutup mata sesaat, kemudian mengangguk.
Gea bergeser sampai wajahnya muncul di sudut kamera. Ia tidak duduk di sebelah Kelana atau mengambil pusat gambar.
'Halo,' katanya.
'Halo, Gea,' jawab ibu Kelana.
Hanya itu. Tidak ada ucapan terima kasih, selamat atas kehamilan, atau permintaan maaf. Namun, keduanya bertahan dalam layar yang sama sampai dokter menyatakan waktu selesai.
Kelana melambaikan tangan. 'Dah, Ibu.'
'Dah, Kelana.'
Layar menjadi gelap. Kelana langsung berbalik dan memeluk Gea, lalu melepaskannya untuk memeluk Deni. Setelah itu ia menangis tanpa dapat menjelaskan apakah dirinya sedih atau lega.
Pendamping membantu menamai keadaan tubuhnya: jantung berdebar, tangan dingin, dan perut terasa aneh. Tidak semua sensasi membutuhkan satu nama perasaan. Panggilan dianggap berhasil bukan karena Kelana tersenyum, melainkan karena ia dapat menjalani kontak dan kembali tenang dengan dukungan.
Di rumah sakit, ibu Kelana juga menangis setelah sambungan berakhir. Ia mengaku hampir menyuruh Gea keluar dari kamera, tetapi memilih meminta bantuan dokter untuk bertahan.
'Aku dengar Kelana panggil dia Mama,' katanya.
'Iya.'
'Sakit.'
'Rasa sakit itu nyata. Kelana tidak harus kehilangan panggilannya agar rasa sakit Ibu diakui.'
Perempuan itu mengangguk meski belum sepenuhnya menerima. Ia mengambil salinan gambar empat lingkaran dan memperpanjang garis pendek yang dibuatnya sendiri. Garis dari Ibu kini mencapai Kelana. Ia belum menggambar garis menuju Gea atau Bayi.
Beberapa hari sesudah panggilan, rutinitas kembali berjalan. Gea menyerahkan laporan akhir proyek observasi dan mempresentasikan keterbatasan hasil tanpa menyembunyikan pembagian tugas dengan Putri. Dosen menyatakan proyeknya selesai dengan revisi kecil. Kehamilan tidak menghapus capaian itu, sama seperti capaian kampus tidak membuatnya kebal dari mual dan lelah.
Pada pemeriksaan rutin, perkembangan calon bayi tetap sesuai usia. Deni hanya membawa daftar enam pertanyaan dan tidak membantah ketika dokter mengatakan Gea boleh melanjutkan kegiatan selama kondisinya mendukung.
'Aku makin baik, kan?' bisiknya di lorong.
'Daftar kamu nambah satu dari terakhir,' jawab Gea.
'Karena sekarang ada satu pertanyaan penting.'
'Soal ranjang bayi?'
'Soal kapan kamu boleh mulai olahraga ringan.'
Gea tertawa dan menggandeng lengannya. Mereka pulang membawa hasil pemeriksaan tanpa mengadakan perayaan keluarga. Malam itu milik Kelana dan jadwal membaca cerita seperti biasa.
Anak tersebut mengambil gambar empat lingkarannya. Dengan pensil hijau, ia menyambungkan garis dari namanya ke Mama. Garis itu melewati dekat lingkaran Bayi tetapi tidak masuk ke dalamnya. Lalu ia membuat garis lain menuju Ibu.
'Sekarang sampai karena tadi video,' katanya.
'Gambarnya sudah selesai?' tanya Deni.
'Belum. Bayinya belum keluar.'
Kelana menyimpan pensil di samping kertas. Ia masih belum menghubungkan dirinya kepada calon adik, dan tidak ada yang memaksanya.
Pesan dari dokter tiba setelah Kelana tidur. Tim belum menjadwalkan pertemuan langsung kedua. Mereka ingin memastikan kestabilan ibu dan kesiapan Kelana setelah panggilan video.
Namun, ada satu perubahan dalam permintaan ibu Kelana. Jika pertemuan itu nanti berlangsung, ia tidak lagi meminta Gea menjauh dari rumah sakit. Ia mengizinkan Gea berada di dekat pintu, di tempat yang dapat dilihat Kelana ketika anak itu membutuhkan rasa aman.
Deni membaca pesan tersebut dengan mata basah. Gea tidak menyebutnya sebagai kemenangan.
'Dia belum menerima aku,' katanya.
'Tapi dia mulai melihat kebutuhan Kelana.'
Gea mengangguk. Di atas meja, dua garis dari lingkaran Kelana telah mencapai dua perempuan yang sama-sama belum tahu bagaimana berbagi ruang. Garis menuju bayi masih menunggu, dan kali ini tidak ada yang terburu-buru menyelesaikannya.