Evaluasi setelah panggilan video dilakukan secara terpisah. Pendamping bertemu Kelana sambil bermain balok, sedangkan dokter berbicara dengan ibunya di rumah sakit. Deni dan Gea tidak diminta menebak hasil sebelum kedua sesi selesai.
Kelana menyusun dua kursi kecil di dalam rumah mainan. Satu boneka diletakkan di tengah, lalu dipindahkan dekat pintu.
'Kalau ketemu Ibu lagi, Mama di sini,' katanya sambil menunjuk boneka dekat pintu.
'Mama masuk ke ruangan atau menunggu di luar?' tanya pendamping.
'Masuk sedikit. Biar Kelana bisa lihat.'
'Kalau Ibu sedih waktu melihat Mama?'
Kelana mengangkat bahu. 'Ibu boleh bilang takut. Nggak boleh suruh Mama pergi.'
Pendamping tidak menjadikan jawaban itu izin otomatis. Ia menanyakan apa yang Kelana lakukan jika ingin berhenti, siapa yang mengantarnya keluar, dan apakah anak itu tetap mau bertemu jika waktunya hanya sepuluh menit. Kelana memilih satu isyarat baru: meletakkan boneka kelinci di meja berarti ia ingin pulang.
Di rumah sakit, ibu Kelana mengaku tidak tidur nyenyak setelah panggilan. Ia bermimpi Arman datang membawa koper, lalu menyalahkannya karena Kelana memanggil perempuan lain Mama. Pagi harinya, ia memindahkan semua kartu keluarga dan menolak menyebut nama Gea selama sesi.
'Berarti aku mundur lagi,' katanya.
'Kemajuan tidak hilang hanya karena hari ini terasa lebih sulit,' jawab dokter. 'Tapi keadaan hari ini tetap perlu dihormati.'
Perempuan itu ingin pertemuan langsung dilakukan secepatnya agar dapat membuktikan dirinya mampu. Dokter menolak menjadikan Kelana alat ujian. Pertemuan hanya boleh berlangsung ketika kestabilannya bertahan beberapa hari, bukan sebagai hadiah karena satu sesi baik atau hukuman karena satu malam buruk.
Keputusan itu disampaikan kepada keluarga sore harinya. Pertemuan belum dijadwalkan. Tim membutuhkan setidaknya satu pekan untuk melihat pola tidur, kemampuan meminta jeda, dan reaksi ibu saat nama Gea disebut.
Deni tampak kecewa, tetapi tidak berdebat. 'Kelana sudah bilang mau.'
'Mau bukan berarti harus minggu ini,' kata Gea.
'Aku takut Kakak mengira semuanya dibatalkan.'
'Dokter yang jelasin. Kita jangan memberi janji tanggal.'
Mereka memberitahu Kelana bahwa Ibu masih membutuhkan latihan sebelum pertemuan. Anak itu langsung bertanya apakah dirinya melakukan kesalahan saat panggilan video.
'Nggak,' jawab Deni. 'Ibu punya perasaan setelah panggilan. Itu bukan kesalahan Kelana.'
'Karena Kelana bilang bayi?'
'Mungkin pembicaraan tentang bayi bikin Ibu takut,' kata Gea. 'Tapi Kelana boleh cerita tentang hidup Kelana. Dokter akan bantu Ibu mengatur rasa takutnya.'
Kelana terlihat kesal. Ia merobek satu kertas kosong, bukan gambar lingkaran yang telah dibuatnya. Pendamping mengatakan tindakan itu masih aman, lalu membantu memberi pilihan meremas kertas bekas ketika marah tanpa merusak benda penting.
Pekan menunggu itu tidak diisi hanya dengan rumah sakit. Gea kembali ke kampus untuk membahas revisi laporan. Dosen mengusulkan agar hasil observasinya dikembangkan menjadi tugas presentasi akhir kelompok. Gea menerima bagian analisis dan meminta jadwal kerja yang tidak bertabrakan dengan pemeriksaan trimester awal.
Rangga memperhatikan Gea selalu membawa biskuit dan berhenti minum kopi. 'Lo sebenarnya sakit apa?'
Gea menatap Putri. Rahasianya semakin sulit disimpan, tetapi ia belum ingin kabar menyebar ke seluruh kampus.
'Gue lagi punya kondisi medis yang dipantau. Gue masih bisa kerja. Kalau ada penyesuaian, gue bilang ke kelompok,' jawabnya.
'Bahaya?'
'Dokter bilang kondisinya baik.'
Rangga mengangguk. Ia tidak memaksa. Fian hanya menggeser tempat sampah lebih dekat ketika Gea mendadak mual, lalu melanjutkan diskusi tanpa membuat semua mata tertuju kepadanya.
Di rumah, Deni belajar membagi waktu tanpa mengubah setiap jadwal kerja menjadi pengorbanan yang harus disyukuri Gea. Dua hari ia pulang lebih awal untuk menjemput Kelana. Pada hari ketiga, ia memberi tahu bahwa rapat proyek tidak dapat dipindah dan meminta bantuan mamanya.
'Kamu marah aku nggak bisa pulang?' tanyanya melalui telepon.
'Nggak. Aku cuma perlu tahu sebelum jam jemput,' jawab Gea. 'Kita membagi, bukan berarti kamu harus selalu ada.'
Malam itu ibu Kelana berhasil menyebut nama Gea tanpa memindahkan kartu. Ia juga mendengarkan rekaman lagu bayi sekali, kemudian meminta berhenti sebelum sesak. Dokter mencatat bahwa ia mengenali batas tubuh lebih cepat.
Pada hari kelima, ia membuat daftar hal yang boleh dan tidak boleh dibahas saat pertemuan. Ia belum sanggup mendengar rencana nama bayi, tetapi dapat menerima bahwa kehamilan Gea ada. Ia meminta tidak ada sentuhan mendadak dan tidak ada foto tanpa izin.
Kelana juga membuat daftar sendiri. Ia ingin membawa boneka kelinci, foto kaki bayi, dan gambar lingkaran. Ia tidak mau dipaksa memeluk Ibu atau duduk di pangkuannya. Gea harus terlihat dari kursinya.
Kedua daftar itu tidak sepenuhnya cocok. Ibu Kelana ingin Gea berada dekat pintu tetapi di luar garis pandangnya, sedangkan Kelana ingin dapat melihat Mama. Pendamping menolak menyuruh anak mengalah. Ruang pertemuan akan diatur agar Gea berada di sudut yang terlihat Kelana tanpa duduk di antara ibu dan anak.
Tim mencoba susunan itu tanpa Kelana lebih dahulu. Sebuah boneka diletakkan pada kursi anak, sementara ibu Kelana berlatih melihat ke arah boneka tanpa terus memeriksa Gea yang diperankan seorang pendamping. Pada percobaan pertama, ia hanya bertahan dua menit. Ia meminta kursi Gea dipindah ke luar, tetapi dokter mengingatkan bahwa posisi tersebut dipilih untuk kebutuhan Kelana.
'Kenapa kebutuhanku selalu belakangan?' tanyanya.
'Kebutuhan Ibu tidak diabaikan. Ibu punya dokter, jeda, dan hak mengakhiri sesi. Kelana butuh orang yang dikenalnya dekat pintu karena dia anak yang memasuki ruang perawatan,' jawab dokter.
Pada percobaan kedua, perempuan itu mampu bertahan enam menit. Ia tetap tidak menyukai kursi dekat pintu, tetapi mulai membedakan rasa tidak nyaman dari bahaya.
Kelana menjalani latihan serupa di rumah. Deni mengetuk meja sebagai bunyi pengatur waktu, Gea duduk di dekat pintu, dan nenek berpura-pura menjadi dokter. Kelana menggunakan isyarat boneka kelinci sekali hanya untuk memastikan semua orang benar-benar berhenti ketika diminta.
'Kalau Kelana pakai pas ketemu, Ibu sedih?' tanyanya.
'Mungkin,' jawab pendamping melalui video. 'Tapi menjaga diri bukan berarti menyakiti Ibu.'
Setelah tujuh hari, tim menyatakan keduanya cukup siap mencoba, bukan dijamin akan tenang. Pertemuan dijadwalkan dua belas menit. Deni mengantar Kelana sampai pintu, lalu menunggu di luar. Gea berada di dalam dekat jalan keluar.
'Kalau Ibu takut lagi, pertemuannya gagal?' tanya Kelana malam sebelumnya.
'Nggak,' jawab Gea. 'Pertemuan berhasil kalau semua orang bisa berhenti dengan aman, meski belum selesai bicara.'
'Kalau Kelana takut?'
'Sama. Takut nggak membatalkan keberanian Kelana.'
Kelana memeluk boneka kelincinya. Ia masih menginginkan pertemuan itu dan masih takut menjalaninya. Untuk pertama kalinya, dua keadaan tersebut tidak dianggap saling membatalkan.