Tiga minggu berikutnya dijalani dengan pemeriksaan lebih sering sesuai arahan dokter. Gea mengurangi kegiatan yang membuatnya terlalu lelah, tetapi tidak dipaksa berbaring sepanjang hari tanpa alasan. Ia menyelesaikan administrasi kampus dari rumah dan mulai menata catatan untuk kembali setelah masa jeda.
Ibu Kelana menyelesaikan masa percobaan apartemen dan resmi tinggal di sana dengan dukungan harian. Ia masih menghadiri terapi di unit, menggunakan nomor bantuan saat malam sulit, dan belum menerima kunjungan Kelana tanpa pendamping.
Kelana datang dua kali. Pada kunjungan kedua, ia meninggalkan sikat gigi di kamar mandi dan pulang tanpa menangis. Ibu juga tidak menangis di depan pintu. Ia menelepon petugas setelahnya dan memasak makan malam untuk dirinya sendiri.
Seminggu menjelang perkiraan lahir, Gea terbangun karena rasa sakit yang datang dari punggung menuju perut. Ia menunggu dua kali sebelum membangunkan Deni.
'Kayaknya beda,' katanya.
Deni langsung duduk. 'Kita hitung dulu atau telepon?'
'Hitung sambil siap telepon.'
Air ketuban pecah sebelum mereka selesai mencatat satu jam. Rencana berubah dari menunggu di rumah menjadi berangkat sesuai petunjuk dokter.
Kelana terbangun oleh suara lemari. Ia berdiri di ambang pintu dengan boneka kelinci.
'Sekarang beneran?'
'Kemungkinan besar,' jawab Gea sambil menahan kontraksi. 'Nenek sedang ke sini.'
'Mama pulang bawa Nara?'
'Kalau Mama dan Nara sehat serta dokter izinkan. Bisa butuh waktu.'
Kelana menangis tetapi tidak meminta ikut. Ia menyerahkan gambar empat lingkaran kepada Gea.
'Bawa ini biar Nara tahu jalan pulang.'
Gea memasukkannya ke tas dokumen, bukan tas medis. Deni memastikan nenek tiba sebelum mereka pergi. Ia memberi kabar satu kali kepada keluarga sesuai daftar, lalu mematikan pemberitahuan yang tidak penting.
Di rumah sakit, dokter memeriksa dan menyatakan persalinan telah dimulai. Gea membahas kembali pilihan penanganan nyeri. Beberapa keinginannya dapat diikuti, sebagian harus menyesuaikan perkembangan kondisi.
Deni berdiri di sisi ranjang. Saat kontraksi kuat datang, ia mengingat teknik napas dari kelas. Gea justru merasa terganggu mendengar hitungannya.
'Jangan hitung di telinga aku,' katanya.
'Oke. Aku diam.'
'Pegang tangan.'
Deni menurut. Bantuan berubah mengikuti permintaan, bukan rencana lama.
Jam-jam berikutnya berjalan lambat. Gea muntah, tertidur singkat, bangun ketika rasa sakit kembali, dan beberapa kali mengatakan tidak sanggup. Tenaga medis menjelaskan perkembangan tanpa menyembunyikan pilihan. Deni tidak menjawab atas namanya ketika dokter bertanya.
Pada satu titik, Gea meminta Deni berhenti menyentuh karena kulitnya terasa terlalu peka. Pria itu mundur dan bertanya apakah ia harus keluar. Gea ingin ia tetap berada di sisi ranjang tanpa memegang.
'Kamu boleh diam di situ,' katanya di antara napas.
'Aku di sini.'
Beberapa kontraksi kemudian, Gea kembali meminta tangan. Deni tidak menganggap perubahan itu membuat istrinya tidak konsisten. Persalinan membuat kebutuhan berubah dari menit ke menit.
Perawat menawarkan pilihan posisi dan membantu Gea bergerak selama kondisi mengizinkan. Ketika rencana menggunakan satu metode penanganan nyeri tidak dapat dilakukan pada waktu yang diharapkan, Gea diberi penjelasan alternatif. Ia marah dan menangis sebelum memilih, tidak dipaksa menerima dengan senyum.
'Aku boleh kecewa meski ini demi aman?' tanyanya.
'Boleh,' jawab dokter. 'Kecewa tidak berarti menolak perawatan.'
Deni menyimpan kalimat itu. Ia tidak meminta Gea bersyukur hanya karena bayi sedang dipantau.
Keluarga menunggu di rumah masing-masing. Mama Deni sempat meminta datang ke ruang tunggu. Deni menolak melalui pesan dan berjanji memberi kabar saat Gea mengizinkan.
Ibu Kelana mendapat kabar dari pendamping bahwa persalinan berlangsung dan Kelana bersama nenek. Ia tidak menelepon rumah. Ia menjalani jadwal terapi, kemudian meminta petugas menemaninya saat kecemasan naik.
'Aku takut sesuatu terjadi, terus Kelana kehilangan Mama lagi,' katanya.
'Ketakutan itu datang dari pengalaman kehilangan Arman,' jawab terapis. 'Hari ini kita belum menerima kabar buruk.'
Ia membaca kartu tanggal dan menunggu informasi, tidak mengemas tas.
Menjelang sore, dokter menjelaskan satu perubahan pada rencana persalinan karena kemajuan dan kondisi yang dipantau. Gea mendengarkan, bertanya tentang risiko serta pilihan, lalu menyetujui tindakan yang direkomendasikan. Deni menandatangani hanya bagian yang memang menjadi tanggung jawabnya.
Sebelum tindakan dimulai, tenaga medis mengulang persetujuan dan memastikan Gea masih memahami. Deni diminta menunggu pada posisi yang ditentukan agar tidak mengganggu. Ia mematuhi meski ingin terus berada paling dekat.
Gea memusatkan pandangan pada satu titik di dinding. Ia memikirkan Kelana di rumah, ibu yang menunggu di apartemen, dan Nara yang belum dikenalnya. Namun, keputusan saat itu tidak dibuat demi menenangkan mereka. Ia memilih berdasarkan tubuhnya dan penjelasan dokter.
'Kamu takut?' bisiknya.
'Iya. Jangan bilang semuanya pasti baik.'
'Aku di sini. Dokter juga.'
Jawaban itu cukup. Gea tidak membutuhkan janji yang tidak dapat diberikan.
Ketika akhirnya diminta mendorong, waktu seolah berhenti terbagi menjadi napas dan rasa sakit. Deni menangis lebih dulu. Ia tetap memegang tangan Gea sampai suara tangis bayi memenuhi ruangan.
Gea menutup mata karena lega dan lelah. Tenaga medis memeriksa bayi sesuai prosedur sebelum mendekatkannya. Deni tidak mengambil foto sampai Gea mengangguk.
'Nara,' bisik Gea ketika wajah kecil itu diletakkan dekat dadanya.
'Halo, Nara,' kata Deni dengan suara patah.
Bayi mereka lahir selamat, tetapi momen tersebut tidak membuat semua kecemasan langsung hilang. Gea masih harus dipantau, Nara menjalani pemeriksaan, dan Deni mengikuti instruksi sambil berkali-kali menghapus air mata.
Kabar pertama dikirim hanya kepada nenek yang menjaga Kelana. Pesannya menyatakan Gea dan bayi sedang ditangani dengan baik dan mereka akan menelepon setelah cukup istirahat. Tidak ada foto.
Kelana mendengar lalu menangis karena lega. Ia ingin melihat Nara saat itu juga. Nenek mengingatkan bahwa Mama yang baru melahirkan perlu memilih waktu.
'Kelana kan keluarganya,' protesnya.
'Iya. Keluarga tetap perlu izin masuk kamar.'
Anak itu merekam pesan: 'Mama, Kelana mau lihat Nara, tapi Kelana tunggu Mama bilang boleh.'
Gea mendengar rekaman beberapa jam kemudian. Ia tersenyum dan meminta kunjungan Kelana dilakukan besok pagi jika kondisinya serta bayi tetap baik. Hanya Kelana dan nenek yang boleh datang lebih dahulu. Keluarga lain menunggu.
Ibu Kelana menerima kabar kelahiran melalui dokter malam itu. Ia menangis lama, lalu bertanya apakah Gea selamat dan apakah Kelana sudah bertemu bayi. Setelah tahu pertemuan baru besok, ia tidak meminta giliran.
'Tolong sampaikan selamat kalau Gea mau menerima,' katanya. 'Aku akan tunggu sampai dia siap.'
Dokter mengirim pesan tersebut tanpa menambahkan permintaan kunjungan. Gea membacanya di ranjang sambil melihat Nara tidur.
'Kakak bilang apa?' tanya Deni.
'Dia nunggu.'
Deni mencium kening Gea. Di dalam tas, gambar empat lingkaran masih terlipat. Nara telah tiba, tetapi jalannya menuju keluarga tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat memasuki kamar. Untuk malam pertama, dunianya cukup berisi tubuh Mama, suara Ayah, dan orang-orang yang bersedia menunggu di luar batas.