Kelana datang ke rumah sakit keesokan pagi bersama nenek. Sebelum memasuki kamar, ia mencuci tangan dan mendengarkan aturan: tidak menyentuh wajah bayi, tidak mengambil Nara tanpa bantuan, dan boleh keluar kapan saja jika suara tangis terlalu keras.
'Mama sakit?' tanyanya dari pintu.
'Masih capek dan agak sakit,' jawab Gea jujur. 'Tapi dokter bilang keadaan Mama dipantau baik.'
Kelana mendekat ke tempat tidur. Nara sedang dibedong dengan selimut rumah sakit, bukan selimut lama Kelana. Wajahnya merah dan jauh lebih kecil daripada bayangan anak itu.
'Kok jelek?'
Deni menahan tawa. 'Bayi baru lahir memang masih menyesuaikan.'
'Titik punya hidung.'
'Namanya Nara,' ingat Gea.
'Kalau Kelana kesal boleh panggil Titik.'
'Selama bukan mengejek.'
Kelana meminta memegang tangannya. Dengan bantuan Deni, satu jari kecil Nara menyentuh telunjuk Kelana. Bayi itu kemudian menangis. Kelana langsung menutup telinga dan mundur.
'Berisik!'
'Kelana boleh keluar sebentar sama Nenek,' kata Gea.
'Mama marah?'
'Nggak. Telinga Kelana butuh tenang.'
Anak itu memilih berdiri dekat pintu, bukan keluar. Ia melihat Deni membantu Gea mengatur posisi, memanggil perawat ketika dibutuhkan, dan tidak menyerahkan semua urusan bayi kepada istrinya.
Setelah Nara tenang, Kelana memberikan gambar empat lingkaran. Ia menambahkan nama Nara di bawah tulisan Bayi, tetapi tetap membiarkan kata Titik di dalamnya.
'Ini buat Nara tahu jalan pulang,' katanya.
Gea menaruh gambar di meja. 'Terima kasih.'
Kunjungan hanya berlangsung dua puluh menit. Kelana pulang bersama nenek tanpa diminta menjaga Mama. Deni mengirim satu foto yang disetujui Gea kepada keluarga setelah wajah serta kondisi kamar diperiksa. Tidak ada lokasi yang dibagikan ke orang luar.
Dua hari kemudian, Gea dan Nara diperbolehkan pulang. Rumah yang telah disiapkan tetap terasa asing karena suara bayi mengubah setiap jam. Malam pertama, Nara terbangun berkali-kali. Deni salah memasang kain bedong, Gea menangis karena lelah, dan Kelana berdiri di lorong sambil menutup telinga.
Keesokan paginya petugas kesehatan memeriksa Gea dan bayi sesuai jadwal. Gea menyampaikan rasa sakit, kesulitan tidur, serta kekhawatirannya tanpa menyembunyikan agar terlihat mampu. Deni mencatat instruksi, tetapi memastikan pertanyaan pertama tetap dijawab Gea sendiri.
Mereka diberi pengingat tanda bahaya bagi ibu dan bayi, pola makan, serta siapa yang harus dihubungi. Bantuan keluarga disusun untuk makanan dan pekerjaan rumah, bukan mengambil semua waktu bersama Nara.
Kelana ikut mendengar bagian yang sesuai usianya. Ia hanya diberi satu tugas: memanggil orang dewasa bila melihat Mama atau bayi membutuhkan bantuan. Ia tidak diminta menjaga Nara, memeriksa napas, atau memastikan Gea minum obat.
'Kelana benci suara Nara,' katanya.
'Boleh benci suaranya,' jawab Deni sambil menggendong bayi. 'Kelana mau pakai tanda merah di pintu?'
Kelana mengangguk dan kembali ke kamar. Tidak ada yang mengatakan kakak baik harus membantu.
Pada pagi hari, Gea meminta maaf karena jadwal cerita terlewat. Kelana terlihat ingin marah, lalu mengeluarkan buku dan meminta Deni membacakan. Waktu khusus bersama Gea dipindah ke siang ketika Nara tidur. Janji diganti, bukan dihapus.
Keluarga datang bergiliran sesuai jadwal. Mama Deni sempat ingin tinggal seminggu, tetapi Gea hanya mengizinkan beberapa jam sehari. Ibunya sendiri membantu makanan tanpa mengambil Nara dari pelukan Gea. Reno datang membawa buku untuk Kelana dan popok untuk bayi, lalu pulang sebelum malam.
Ibu Kelana tetap menunggu. Selama sepuluh hari pertama, ia hanya menerima satu kabar singkat melalui pendamping. Ia mengalami dua malam sulit karena membayangkan Kelana memilih keluarga baru sepenuhnya. Ia menggunakan nomor bantuan dan tidak datang mendadak.
Pada hari kesebelas, Gea merasa cukup pulih untuk membahas kunjungan. Ia tidak ingin pergi ke tempat netral karena perjalanan dengan bayi masih melelahkan. Setelah berdiskusi dengan dokter dan pendamping, ia menawarkan pertemuan dua puluh menit di rumah, dengan ibu Kelana datang bersama petugas.
Deni langsung khawatir. 'Kamu yakin mau Kakak masuk sekarang?'
'Aku yang menawarkan. Kalau hari itu aku nggak sanggup, kita pindah jadwal.'
'Kelana gimana?'
'Pendamping tanya dulu. Ini juga rumah dia.'
Kelana setuju dengan syarat pertemuan dilakukan siang hari dan Ibu tidak masuk ke kamarnya. Ia ingin memperlihatkan Nara, tetapi tidak mau dipaksa menyerahkan bayi atau selimut.
Ibu Kelana menerima seluruh syarat. Ia membawa selimut putih bergaris hijau dalam tas tertutup. Tidak ada bunga, balon, atau hadiah mahal.
Saat hari kunjungan tiba, ia berhenti di depan pintu rumah Deni. Napasnya memburu karena tempat itu pernah ia bayangkan sebagai rumah yang harus dimasuki bersama Kelana. Petugas mengingatkan bahwa ia datang sebagai tamu dan boleh pulang tanpa masuk jika belum siap.
'Aku masuk dua puluh menit,' katanya.
Gea membuka pintu didampingi Deni. Perempuan itu melihat perut Gea yang kini mengempis, wajah lelah, dan bayi dalam gendongan. Ia tidak langsung mendekat.
'Selamat, Gea,' katanya akhirnya.
'Terima kasih.'
Kelana datang dari ruang keluarga dan menggenggam tangan ibunya. 'Ini Nara. Dulu Titik.'
'Ibu tahu.'
Gea duduk. Setelah memastikan Nara tenang, ia bertanya apakah perempuan itu ingin melihat lebih dekat. Ibu Kelana mendekat satu langkah dan menangis.
'Dia kecil sekali.'
'Sekarang memang masih kecil.'
'Aku boleh kasih selimutnya?'
Kelana mengambil tas, memeriksa selimut, lalu menyerahkannya kepada Deni untuk dicuci lagi sebelum dipakai. Ibu tidak tersinggung karena benda lama tetap mengikuti aturan kesehatan rumah ini.
Nara terbangun dan menangis. Ibu Kelana refleks mengulurkan tangan, kemudian berhenti.
'Aku hampir ambil,' katanya.
'Terima kasih sudah berhenti,' jawab Gea sambil menenangkan bayi.
Kelana menutup telinga, tetapi tetap berdiri di samping ibunya. Perempuan itu tidak menyuruh anak membantu atau mendekati Nara.
Ketika tangis mereda, pengatur waktu menunjukkan kunjungan hampir selesai. Ibu Kelana memandang foto keluarga di dinding. Ada Deni, Gea, dan Kelana. Foto Nara belum dicetak, sedangkan foto Arman tersimpan dalam album khusus Kelana.
'Aku dulu takut rumah ini membuktikan aku nggak punya tempat,' katanya.
Gea tidak menyangkal rasa sakit itu. 'Tempat Ibu ada di hubungan sama Kelana. Bukan di kamar rumah ini.'
'Aku mulai ngerti.'
Waktu selesai. Ibu Kelana memeluk Kelana, mengucapkan selamat tinggal kepada Gea, dan tidak meminta menggendong Nara. Sebelum keluar, ia melihat gambar empat lingkaran yang kini dipajang di meja.
'Garisnya sudah sampai semua,' katanya.
'Punya Kelana sudah,' jawab anak itu. 'Punya Ibu belum.'
'Punya Ibu masih dikerjakan.'
Pintu ditutup setelah ia pergi. Gea menangis karena lelah dan lega, lalu menyerahkan Nara kepada Deni untuk beristirahat. Kunjungan itu tidak mengubah mereka menjadi keluarga tanpa batas. Justru setiap orang dapat bertahan karena batasnya terlihat.
Di apartemen, ibu Kelana menambahkan garis dari namanya menuju lingkaran bertuliskan Gea. Garis itu tipis dan belum lurus. Ia tidak menggambar garis ke Nara dulu. Seperti yang dipelajarinya dari anaknya, satu gambar tidak harus diselesaikan pada hari yang sama.