Livy Point of view.
"Hey kau! Tahu diri dong! Kau itu bukan siapa-siapa di sini, jangan sok hebat. Berani sekali menyenggolku. Memangnya pangkat kau apa hah?!" Hardik Sonya.
Aku yang tersungkur akibat dorongannya, dengan pelan aku mengambil buku-buku dan makalah yang telah kusiapkan dari semalam, dan membersihkan rokku dari debu dilantai.
Biar kujelaskan, karena aku menyenggol minumannya dia mem bullyku, ada lagi? Ya, ketika aku menghalangi jalannya, dia akan mem bullyku dan banyak lagi dan sayangnya aku lelah untuk memberikan seputar pengalamanku dengannya.
Aku menatapnya membuat orang yang ada di sana terpekik, oh jangan lagi Alice kumohon. Akh dasar!
"Hey aku harus membuat mereka menyesal karna mem bullymu! Jangan ganggu aku!" Alice itu sungguh aneh. Marah sesukanya, tak mementingkan kepalaku yang pusing dibuatnya, lihat sekarang dia mendengus.
Mereka terpekik pasti karena mataku berubah (memutar bola mata). Iya, kalau warnanya sama di kedua retina tidak apa, tapi Alice adalah serigala unik dan MoonGoddes memberikannya anugerah, warna matanya akan berbeda tergantung perasaannya dan setiap warna mata akan punya satu kelebihan dan kekurangan dan rata-rata kekurangannya pasti membuatku pusing dan demam.
Dasar serigala nakal.
Dan aku tahu sekarang matanya oh maksudku mataku berwarna merah seperti vampir.
"Jangan ganggu aku! Atau kusobek kulit wajahmu yang jelek itu!" Desis Alice dan dengan cepat aku pergi dari kerumunan dan lihatlah Sonya sudah berkeringat dingin.
"Alice kubilang jangan suka buat onar!" Wolfku ini kalau tidak dimarahi akan sesuka hatinya.
"Tapi Livy mereka keterlaluan, kalau aku tak memberi pelajaran pada mereka, mereka akan te--" aku segera memblok pikiranku dari Alice dan di dalam pikiranku dia memberengut, ah manisnya wolfku ini.
Mate! Mate! Mate!
Alice berjingkrak-jingkrak dan mengaung membuat rasa peningku bertambah dasar Wolf durhaka! Dan aroma ini... ya Tuhan! Astaga! Astaga! Harum Mint-Rose(?) Bercampur dengan kayu jati ini, astaga mate! Dia datang!!!.
Dengan cepat aku langsung ke tempat di mana aku dapat melihatnya tanpa dia tahu aku melihatnya. Aku sendiri tak tahu apa nama tempatku ini karna selalu berpindah mengikuti posisinya'. Jujur saya, aku terlihat seperti mata-mata amatir!
Kau. Pangeranku. Mateku. Apa kabar?.
°
°
°
Ernand POV.
Aku keluar dari mobilku dan harum ini, harum dari orang yang paling kubenci tapi harum ini menjadi candu bagiku.
Ironi sekali bukan?
Harum bunga-bunga berpadu rempah membuatku nyaman, aneh memang tapi aku suka, apa lagi matanya... Ah! Dasar bitchy!!! Kau membuatku tersiksa.
Tapi tak apa tunggu setelah aku merejectmu kau akan tahu rasa sakitnya dan membuatmu pergi teratur dari hadapanku.
Dengan gaya cool aku membukakan pintu untuk gadisku, siapa lagi kalau bukan Kayle, dia dengan pakaian seksinya mampu membuatku b*******h, tapi sadarlah Ernand, ini di kampus dan bila kau tidak dapat menahan gairah bejatmu itu maka kau ak-
"Mate. Mate! Sadarlah Ern kita sudah mempunyai mate! Lupakanlah dendammu itu, yang bersalah ayahnya bukan anaknya!!!" Ck. Dasar Eros! Aku memblok pikiranku darinya dan melingkarkan tanganku di pinggang Kayle yang... sudah Ernand sabar, nanti kau akan dapat jatah darinya.
Aku dapat melihat dari ekor mataku dia sembunyi, dasar gadis bodoh! Kau sungguh naif sekali girl, aku bisa mencium aromamu dari sini dan kau mencoba untuk bersembunyi? Mungkinkah dia tak tahu aku seorang werewolf, huh biarkan saja, tidak apa, lagian siapa yang akan peduli dengannya?
Dan dengan senang hati aku mencium pipi Kayle membuatnya merona, astaga kurasa tak ada yang lebih manis darinya bahkan gadis itu sekalipun. Aku terkekeh dan Kayle hanya mengerucutkan bibirnya kesal .
"Bodoh kau Ern! Kau menyakiti perasaan mateku!" Bentak Eros dan memutuskan mindlink-nya, pergi kebagian terdalam diriku.
Aku melihat lagi dari ekor mataku, dia tetap melihat tapi air matanya mengalir. Ukh! Apa peduliku? Iya, sekalipun dia menangis darah aku takkan peduli, ini baru permulaan saja, kau akan mendapatkan yang lebih lebih-lebih dari ini girl.
°
°
°
Livy POV.
MoonGoddes apa salahku? Mengapa ia tega melakukan itu padaku? Saat ia mencium gadis cantik itu. Ya gadis itu sangat cantik, tak seperti kau Liv yang tak bisa dibandingkan dengan gadis semoleknya -gadis dalam pelukan mateku- oh God adakah keringanan untuk hamba-Mu ini agar tetap kuat? Menahan rasa perih dihati.
Kulihat ia tertawa membuatku merasakan sakit. Seharusnya aku yang membuatnya bahagia dan tertawa seperti it-
"Livy apa yang kau bisa? Menatapnya saja kau harus mengumpulkan keberanian tiga hari tiga malam" sarkah Alice memutar bola matanya.
"Ugh diamlah Al aku sedang memikirkan caranya, kalau kau ingin bantulah aku" dengkusku.
"Begini saja, coba kau berakting tak sengaja menyenggolnya, lalu kau minta maaf, terus kenalan, terus minta Email dan bla bla bla dan akhirnya kalian berkenalan!"
Mengapa wolfku ini sangat cerdas?
"Kau bercanda ya? Aku mana punya Email Al, handphone saja hitam putih" ucapku dan dia menepuk jidatnya di pikiranku membuatku terkekeh.
Poor Alice.
◇◇◇
Aku sudah siap dengan bawaanku. Ya kami sepakat untuk melakukan rencana Alice dan dengan berat hati aku hanya ingin mengetahui namanya saja, tak apakan?.
Dan mari dimulai akting.
One two go. Action!!!.
Aku berjalan menunduk dan mempercepat langkahku, aku sudah tahu dia akan berjalan ke mana dan pasti kami saling menabrak.
BRAKKK
Nah apa kataku?.
"Awh!" Rintihku berhasil menabraknya, dia kuat sekali sampai-sampai tak sempoyongan. Ah mateku memang hebat!.
Dengan perlahan (lagi dalam hari ini) aku membereskan buku-buku dan beberapa makalah ke pelukanku.
Please apakah ia tak mau membantu? Oh Goddes malangnya nasibku dengan tanpa malunya harus menabrak 'dia' si mata biru di tempat umum dan dia tak membantuku?
Kudongakkan wajahku dan... dia tak ada. Seharusnya kutahu dia tidak akan pernah peduli padaku apa pun itu. Tak sadar air mataku jatuh untuk ke sekian kalinya, di hari ini. Nasib beruntung benar-benar tak berada dipihakku saat ini.
ARTICULATE.