Livy POV.
Huft... hari ini pelajaran berjalan dengan lancar sekaligus melelahkan, coba kalian pikirkan apa yang terjadi hari ini? Oh sangat amat menyenangkan!.
Pangeran—aku memutuskan untuk memanggilnya pangeran karna ia setampan pangeran dibuku dongeng— bermata biruku punya jadwal belajar dikelasku! Astaga! Astaga! Rasanya senyum pun tak lepas dari bibirku. Aku tahu dia terlalu banyak menyakiti perasaanku, tapi cinta tak membutuhkan rasa amarah dan dendam bukan? Aku selalu mencintainya dan akan selalu memaafkannya.
Sepanjang pelajaran perhatianku tak lepas darinya yang selalu fokus, yap! Mr. Bennet sungguh beruntung diperhatikan pangeran bermata biru-Ku. Dan apa lagi ya? Oh ya pangeran bermata biruku sung-
BRUK
-guh, Ya Tuhan apa yang kulakukan menabrak gadis secantik dirinya, dengan sigap aku menolongnya, aku salah melamunkan pangeranku—walau aku sanksi dia juga memikirkanku— dan tak melihat ada gadis cantik di hadapanku.
"Kau tak apa-apa?" Tanyaku dan Oh! Wajahnya manis sekali... mirip pangeran, tapi matanya berwarna hitam kelam sekelam malam dan dalam sedalam blackhole.
"Ah terimakasih, telah membantuku" ucapnya dan tersenyum. Aku jadi kikuk sendiri.
"T-tidak apa-apa kok, maaf aku yang menabrakmu. Mmm... kalau begitu aku per-"
"Tunggu dulu!" Ucapnya dan memegang lenganku mencegah aku pergi.
"Ya?" Aku menaikkan alis tanda bertanya kenapa.
"Sebagai rasa terima kasihku, aku ingin membelikanmu ice cream dan dilarang membantah, sekaligus bantu aku mengelilingi seluk beluk kampus ini, kau mau?" Ucapnya dengan mimik pengharapan dan karna aku baik aku mengangguk pasrah, dengan semangat dia menyeretku.
°
°
°
Hari ini sungguh menyenangkan. Entah datang dari mana gadis itu, tapi es krim ini seolah mengatakan, gadis cantik yang berada di sebelahku ini amat baik, buktinya ia membelikanku es krim. Aku terus menjilati es krimku lalu dia terkekeh membuatku memalingkan wajah kearahnya dan dia tertawa terbahak-bahak. Ok aku tak tau ia cantik tapi gila atau adakah yang membuatnya lucu?.
"Ahahaha demi apa? Kau lucu sekali nona" ucapnya disela tawanya. Aku mengerutkan alis dan tersenyum menampakkan deretan gigiku.
"Ehehe kenapa ya?" Wajar bukan aku bertanya.
"Hahaha bukan kenapa-napa" dia mengambil sesuatu ditasnya dan menyodorkan tisu kearahku, aku memandangnya bertanya, seakan tahu kenapa ia berkata lagi, "Wajahmu penuh es krim nona, kau harus membersihkannya" jelasnya dan aku terkekeh, betapa bodohnya diriku.
"Ya semua orang tahu kau memang bodoh" cemooh Alice. Serigala durhaka ini sungguh tidak sopan pada human-nya sendiri.
"Diamlah Alice, kau sungguh mood destroyer" Tak sadar aku memutar bola mataku dan berdecak, membuat Nona cantik di sebelahku bingung.
"Kenapa?" Tanyanya dan aku hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Nghhh... ngomong-ngomong namamu siapa?" Tanyanya.
Aku tersedak mendengar pertanyaannya, sebelum ini aku tak pernah mendapatkan seseorang yang ingin tahu namaku. Tak ada yang peduli bahkan menganggap keberadaanku saja mereka tak mau, dan sekarang ada yang mau menanyakannya? Memang menurut kalian itu hal sepele tapi bagiku yang selalu dianggap tak ada—kecuali keluargaku dan si kembar nakal— itu adalah hal yang paling manis di dalam hidupku. Dan kurasa aku harus merayakannya.
"Hei mengapa kau diam?" Tanyanya lagi membuatku kembali kedunia nyata dan pedih ini.
"Eh tidak apa-apa kok, namaku Livy dan kau?" Tanyaku balik dan dia tersenyum lebar.
"Namaku Eryn, namamu indah" pujiannya membuatku merona.
"K-kau juga" aku hanya tertunduk tak berani menatapnya, ia kemudian terkekeh.
"Kau kesini ada apa?" Tanyaku, kalau kulihat-lihat tampilannya beda sekali.
"Oh aku sedang mencari kakakku namanya Ernand, apa kau tahu?" Tanyanya dan aku hanya menggeleng.
"Maaf aku tak tahu, aku tak punya teman di sini sekadar untuk memberi tahu seputar sekolah" Ucapku dengan lirih.
"Maafkan aku" cicitnya dan aku hanya menggeleng maklum, cukup lama kami terdiam tak melakukan apa pun karna es krimku dan dia sudah habis, sampai dia terpekik.
"Hey! Aku bisa jadi teman pertamamu" Pekiknya dengan mata berbinar. Aku hanya tertawa kecil cukup kaget juga sih, sungguh dia sangat lucu sekali sampai aku terisak.
"Hey kau kenapa?" Tanyanya. Mungkin terkejut dengan perilaku anehku, semoga ia tak mengurungkan niatnya berteman denganku.
"Ak-ku hanya ter... haru s-saja karna k-kau mau berteman denganku hiks" Aku menangis menahan isakan dipelukannya.
"Iya iya sudahlah, lebih baik ajak aku bertemu kakakku. Ayo!" Kamipun memulai pencarian kecil-kecilan kami mencari kakaknya.
°
°
°
"Cukup sudah Al, aku sangat minder jalan bersamanya" aduku pasrah pada Alice.
"Kenapa? Kenapa kau minder?" Dia terlihat bingung di dalam pikiranku.
"Semua mata tertuju padanya, dan... aku? Tapi pandangan mereka bagaikan memusuhiku, mereka melihatku aneh Al, kau harus tahu itu" sungutku.
MoonGoddes aku lebih memilih sendirian di dalam lapangan basket in door—Sonya yang mengurungku di sana, salah satu wujud pembullyannya— dari pada di sini, dan lihat! Alice hanya mendengkur tertidur. Lain kali aku harus lebih keras padanya, tapi dayaku apa? Kurasa tak ada, biarkanlah dia.
"Hey mengapa kau melamun?" Eryn melihatku dengan pandangan bertanya.
"Ah tidak ada, h-hanya saja banyak yang..." aku mengecilkan volume suaraku, "yang menatapmu".
Dia terkekeh, "Tidak Liv, bukan aku tapi kita, kita kan teman" Teman? Aku dan Eryn berteman? Goddes aku tak tahu kalau teman itu sangat menyenangkan. Berbagi tawa, tangis, suka maupun duka bersama. Sungguh manis sekali sampai aku tak layak menerimanya.
Kami tiba dilorong sepi, sampai sekarang tanda-tanda kakak laki-lakinya Eryn belum terlihat aku sungguh penasaran sekali bagaimana batang hidungnya.
Kami terus berbincang-bincang sampai dikelas yang tak terpakai Eryn berhenti—juga aku. Dia mengisyaratkan kami untuk menguping dan karena aku werewolf, suara sangat sensitif bagiku.
Aku mendengar suara desahan, kecapan dan gumaman yang mendominasi kelas kosong ini, kalian pasti bingungkan bagaimana bisa di kelas kosong bisa ada suara-suara seperti itu? Sama, aku juga bingung itu apa.
"Psttt Er itu suara apa?" Bisikku. Tapi Eryn hanya menggeram marah, matanya berubah menjadi coklat terang jangan bilang kalau...
Eryn juga werewolf?!
"Er kau werewolf?" Cicitku lagi dan dia hanya menggeram terlihat amat marah. Dengan tergesa-gesa dia mendobrak pintu.
BRAKKK
"Ernand!!!!" Aku mengejar Eryn ke dalam kelas itu karna ia berteriak. Aku mengejarnya hingga pemandang itu terlihat, seharusnya aku tahu aku tidak usah kesini.
Rasa sakitku terus terkoyak setelah sedikit mengering tadi pagi, aku tak seharusnya aku berjalan kesini, dan aku tahu tak seharusnya aku membawa Eryn ke tempat ini, dan aku tahu berbagai kata 'aku tahu' takkan pernah menolongku jika penyesalan yang terjadi.
Sekali lagi. Ke sekian kali. Sering kali. Sampai aku tak bisa menghitungnya dengan jari. Bahwa harapan yang selalu kutanam untukmu selalu kau sia-siakan bahkan hancurkan. KecewaKecewa padamu bukan berarti aku tak mampu memaafkanmu, tapi karena aku tak mampu bertahan lagi untukmu setidaknya menantikan dirimu berpaling padaku dengan tatapanmu itu.
Haruskah sampai sini penantianku karna melihatmu b******u dengan wanitamu itu? Kumohon tolong aku... rasa sakit ini sampai ke seluruh tubuhku dan gelap itu datang... datang bersama rasa perih yang dahsyat.
Kumohon jangan lagi kau sakiti aku.
Tapi kurasa itu hanya angan-anganku yang tak pernah tercapai.
ARTICULATE.